
"Ophilia, kamu sepertinya mengetahui soal makhluk sihir yang bernama Pegasus ini." Kata Arata sambil menatap Ophilia yang terlihat khawatir.
"Itu benar, aku pernah bertemu dengan beberapa kali, mungkin sejak kami kecil." Jawab Ophilia yang terus menatap Haruka.
Haruka menoleh ke belakang dan ia tidak melihat siapa pun, itu artinya Ophilia terus memperhatikan dirinya, "Ibu...? Apakah kamu membutuhkan sesuatu dariku?"
"Tidak, aku cukup terkejut kamu tidak pernah mengetahui Pegasus. Aku kira kamu sebagai gadis yang memiliki kemampuan waktu akan mengetahuinya." Ucap Ophilia yang mencoba untuk menjaga rahasia dari Pegasus.
"Tidak sama sekali... aku sendiri tidak pernah mengetahui sejarah soal makhluk sihir, apalagi Pegasus yang baru saja kamu katakan tadi.” jawab Haruka dengan tatapan bingung.
Valance mulai menatap Ophilia, "Berkat bantuan dari Pegasus, kami dapat menyegel semua makhluk sihir itu sampai kita semua bisa hidup damai."
"Apakah makhluk sihir ini bisa di kendali oleh seseorang?" Tanya Arata.
"Bisa, hanya orang yang tertentu seperti dewa dan Dewi agung. Itu lah alasan kenapa mereka mendukung dan membantu kami dalam menciptakan makhluk sihir itu." Valance mulai membantu Kirua.
"Aku harap makhluk sihir bisa punah secepatnya, walaupun merugikan atau menguntungkan... kalian seharusnya berhati-hati dalam bermain dengan sebuah ciptaan."
"Kami mengerti kok, hanya saja hasil yang kami lakukan berjalan jauh lebih baik. Sebagian dari makhluk sihir sudah kami jinakkan." Kata Kirua sambil menunjuk layar di sekitarnya.
Arata bisa melihat beberapa layar yang menunjukkan sebagian makhluk sihir dengan penampilan yang mirip hewan, semuanya terlihat biasa saja melainkan mereka semua sedang bersenang-senang di wilayah sihir itu.
"Apakah semua makhluk sihir ini memiliki tingkatan atau saingan... semacamnya...?" Tanya Rokuro yang mulai penasaran, ia duduk di atas kursi selagi memperhatikan semua layar itu.
"Setiap makhluk sihir memiliki tingkatan dan kemampuannya tersendiri, apa yang kami ketahui adalah Pegasus berada di tingkatan paling atas." Kata Valance.
"Kami juga tidak tahu makhluk sihir itu berdasarkan sihir apa... cukup misteri tetapi kami sempat merasakan kesucian di dalamnya." Lanjut Kirua.
"Pegasus ya... apakah kalian terus setiap harinya menghabiskan waktu bereksperimen mencari pegasus atau menciptakan makhluk sihir sepertinya?" Tanya Haruka.
"Tidak, kami juga tentunya memerlukan istirahat dan mengerjakan hal lainnya."
"...setiap makhluk sihir harus di beri makan jika tidak mereka akan mati kelaparan..."
"Sungguh menyenangkan ya memiliki pelihara seperti itu, nanti aku coba memelihara Tokiagaru saja." Kata Haruka karena ia sendiri ingin memiliki makhluk sihir yang dapat di ajak bermain.
"Jangan coba-coba, Haruka..." Ucap Rokuro, mencoba untuk menyadarkan istrinya yang bisa saja menghilang karena makhluk sihir waktu.
"Kalau begitu, jika kalian masih tetap ingin di sini silakan saja, kami tidak memiliki camilan atau kudapan yang bisa kalian nikmati." Ucap Valance yang mulai kembali bekerja.
Rokuro meraih tangan Haruka, "Mau pulang?"
"Hm, ayo." Haruka mengangguk lalu ia menatap Arata dan Ophilia.
"Ayah, Ibu, kami duluan ya." Ucap Haruka.
Arata dan Ophilia merasa kesepian seketika karena mereka tadi baru saja merasakan suasana yang begitu menghangatkan melihat kedua putra dan putri menantunya datang untuk mengunjungi.
__ADS_1
"Kalau begitu hati-hati di jalan, terima kasih karena sudah repot-repot datang, Haruka... Rokuro..." Ucap Arata yang mengeluarkan satu berlian lalu memberikannya kepada Haruka.
"Kami tidak membutuhkannya... simpan saja untuk membeli bahan masakan." Haruka terkekeh lalu memberikan kembali berlian itu.
"Tidak apa, kalian sebentar lagi akan mendapatkan anggota keluarga baru jadi terima saja." Kata Arata sampai mengejutkan Ophilia karena ia tadi baru saja mengatakan penambahan anggota keluarga baru.
"Mendapatkan anggota keluarga baru...!? Jangan-jangan...?!?!" Ophilia tersenyum lebar lalu ia menatap Haruka yang sedang tertawa pelan.
"Haruka, kamu hamil!?"
"Iya..." Haruka mengangguk dengan pipi yang merah.
"Aaaaaaa~ cucu pertamaku!" Ophilia mulai memeluk Haruka dengan sangat erat sehingga Valance dan Kirua ikut kaget juga senang karena garis keturunan Phoenix tetap berjalan.
Kali ini dengan tambahan darah Comi dan Shimatsu, mereka sudah tentunya akan menantikan kelahiran cucu mereka juga.
"Mendengar berita yang cukup membahagiakan itu, jangan lupa untuk menghubungi kami jika kamu sudah akan melahirkan ya, Haruka." Kata Valance sambil mengusap kepalanya.
Haruka mengangguk, "Iya... masih membutuhkan 9 bulan."
"Kami tidak akan mempercepatnya dengan waktumu itu?" Tanya Ophilia.
"Ahahaha... aku sendiri sadar bahwa mempercepat sesuatu tidak akan memberikan diriku sebuah kenangan dalam menggendong anakku di dalam perut ini." Kata Haruka.
"Intinya aku ingin membiarkan proses berjalan secara alami agar aku bisa merasakan apa yang Mamaku rasakan ketika mengandungku." Perkataan Haruka langsung disetujui oleh mereka semua.
"Aku sangat menantikan hari dimana cucu pertamaku lahir... aku sangat tidak sabar!" Ucap Ophilia yang merasa sangat senang bahkan ia terus mengeratkan pelukannya.
Kirua dan Arata mendekati Rokuro lalu mereka menepuk punggungnya secara bersamaan, "Sakit... apa yang kalian inginkan...?"
"Tetaplah jaga istrimu itu, jika dia sedang mengandung anak pertamamu maka perlakukan dirinya seperti seorang ratu." Kata Arata karena ia menginginkan cucunya lahir sehat dan kuat.
"Itu benar, Rokuro, jika anakmu sudah lahir maka jangan melupakan tata cara merawat dirinya dan tentunya melatih anakmu sejak kecil agar bisa tumbuh menjadi Legenda elite!" Kata Kirua.
"Aku mengerti, pak tua... sudahlah, jangan berlebihan seperti itu. Perut Haruka masih kecil dan kita tidak tahu jenis kelaminnya." Jawab Rokuro yang mulai menggenggam erat tangan Haruka.
"Kami akan pergi sekarang." Kata Rokuro.
Rokuro dan Haruka tidak lupa untuk pamit kepada mereka semua, setalah itu mereka berjalan pergi keluar dan melakukan perpindahan menggunakan sihir mereka masing-masing.
"Kalau begitu kami juga akan pulang..." Kata Arata, ia bisa melihat Ophilia terlihat baik-baik saja.
"Jaga diri kalian ya, jangan sampai melupakan istirahat ketika menjalani restoran yang begitu besar." Kata Valance.
""Kami mengerti.""
***
__ADS_1
Zoiru menarik semua sisa daging dan darah yang berserakan dimana-mana lalu ia menghisapnya sampai habis menggunakan taringnya juga karena ia adalah seorang Vampir, ia juga membutuhkan asupan darah.
"Apa sudah habis...?" Tanya Edgar yang melepaskan jasad tubuh di lengan kanannya.
"Mereka pasti akan mengumpulkan pasukan lainnya... mungkin bangsa Iblis sudah mengetahui soal kuil sihir itu dan mereka mengincar kuil Eternal untuk mendapatkan keabadian." Zoiru menatap ke atas.
"Mereka sendiri tidak mengetahui konsekuensi memasuki kuil sembarangan... sihir Eternal sendiri bukan berkaitan soal keabadian saja melainkan kepribadian ganda."
Bamushi muncul di belakang punggung Zoiru untuk memperingati dirinya bahwa ia mengendus esensi lezat yang berdatangan, kali ini mereka cukup berani untuk membawa pasukan yang jauh lebih kuat.
"Kita berada di kandang teman lamaku sejak itu... Rxeonal kalau tidak salah namanya, mungkin pasukannya akan terasa lezat bagi Bamushi." Zoiru menunjuk ke depan untuk menarik semua pasukan itu mendekat.
Semua pasukan itu tercengang ketika mengetahui penyusup itu adalah dewa agung, Zoiru mulai menghalang Edgar karena ia ingin menikmati semua hidangan itu sendirian.
"Lebih baik kau urus rencanamu di dalam kuil itu, kembali lah jika kau sudah mendapatkan hasil... sekarang pergi." Kata Zoiru, Edgar mengangguk lalu ia terbang memasuki kuil itu.
Zoiru menatap semua pasukan itu yang terlihat gugup dan ketakutan ketika menghadapinya, "Aku yakin salah satunya pasti akan mengenal diriku."
"Penyusup itu adalah kau...!?" Terdengar suara seorang gadis dari belakang pasukan, beberapa iblis yang sedang mengangkat takhta mulai menempati takhta tersebut di atas daratan.
Terlihat gadis iblis bangkit dari takhtanya dengan tatapan serius, "Kau pasti penyebab Ayahku memiliki pasukan Oather..."
"Sudah lama sekali kita tidak bertemu putri Rxeonal, Selvia. Sepertinya kau menggantikan posisi Ayahmu sebagai ratu bangsa Iblis ya." Zoiru mulai berjalan satu langkah sampai membuat seluruh pasukan bersiap siaga.
"Aku datang untuk mengambil semua hutang yang di sebabkan Ayahmu, mendapatkan banyak keuntungan untuk mengambil beberapa pasukan Oather dan hasil yang ia berikan padaku...?"
"Nol, cukup mengecewakan. Aku akan menjadikan planet ini sebagai hidangan pertengahan untuk Bamushi dan tentunya aku masih menyimpan hidangan utama lain!" Zoiru tersenyum jahat.
"Kau... Kau akan menghancurkan semua kedamaian ini dan menyebabkan konflik yang sama besarnya seperti Zangetsu!?" Tanya Selvia dengan tatapan kesal.
"Konflik...? Aku di sini tidak mencoba untuk menciptakan konflik apapun, aku hanya mencari makanan... apakah salah untukku mencari makanan? Anggap saja apa yang aku lakukan ini seperti rantai makanan berputar."
"Pandanganku sekarang hanya melihat keledai panggang yang sudah siap untuk di santap oleh Bamushi, kalian menghalangi maka itu sama saja kalian sudah menjadi hidangan siap saji." Zoiru memiringkan kepalanya ke kiri dan kanan.
Ia melakukan sedikit pemanasan dan semua pasukan iblis itu mulai meluncurkan beberapa sihir ke arah Zoiru.
Zoiru menembak beberapa laser ke atas yang mampu menyebabkan hujan laser untuk menghapus semua sihir itu.
"Lain kali ingat kata-kata ini, ratu badut. Jangan menghiraukan apa yang orang lain lakukan."
"Semua itu bukan urusanmu dan semua orang berhak melakukan apapun termasuk dewa agung sepertiku yang tidak memiliki niat untuk menghancurkan kedamaian atau menciptakan konflik." Zoiru tersenyum.
Selvia duduk kembali di atas takhtanya lalu ia menjentikkan jarinya untuk memperingati sebuah perang besar melawan dewa agung, semua pasukan mengeluarkan senjata mereka.
Iblis pelayan mulai mengangkat takhta itu lalu mundur karena Selvia ingin menguji seberapa kuat Zoiru dengan mengorbankan beberapa pasukan.
"Baiklah..." Zoiru melepas pakaiannya menunjukkan tubuh bagi bawahnya yang sudah bersatu dengan Bamushi bahkan semua orang terlihat ketakutan ketika melihat mulut bertaring di perut Zoiru.
__ADS_1
Ototnya mulai menonjol besar bersama dengan uratnya, "Aku membutuhkan ini untuk menyembuhkan Bamushigaru..."
"...dia harus bisa makan secepatnya sebelum mati."