
Kou memperhatikan Minami dan Shuan yang sedang mencari beberapa dedaunan emas, mereka mengincar daun yang memiliki tulisan tentang kemampuan atau pengendalian lainnya.
Minami sudah hampir membaca semuanya sampai ia menemukan beberapa daun itu, ia mengumpulkannya dan membiarkan Shuan mencarinya sendiri karena ia sudah besar.
Kemandirian adalah salah satu latihan yang cukup manjur dalam menguasai cahayanya, Minami melihat Shuan mengalami kendala ketika angin emas mulai menghempas semua dedaunan itu.
"Sialan..." Shuan mencoba untuk menggunakan kekuatannya tetapi kepalanya kena terkena serangan oleh ekor Minami.
"Tidak boleh curang, kau ambil sendiri tanpa menggunakan apapun, itu adalah latihan dari ritualnya, Shucchi." Minami terkekeh, membuat Shuan merasa malas karena ia lebih memilih untuk berlatih menjadi bapak rumah tangga saja.
"Bagaimana caranya aku bisa menguasai Golden Neutron jika aku terus menghabiskan waktu seperti ini." Shuan menatap Minami yang memiliki jumlah banyak sekali.
"Apa? Aku tidak dengar... kau hanya manja saja." Kata Minami.
"Kau sendiri curang menggunakan Golden Minami."
"Golden Minami adalah hasil dari latihanku, jika kau ia menciptakan kekuatan yang sama seperti Golden Shucchi maka lakukan apa yang aku sedang lakukan." Minami sudah mengumpulkan banyak sekali daun emas.
"Ugghh... Aku tidak ingin memiliki kemampuan yang sama denganmu, Shining Justice hanyalah sebuah pengecualian!" Shuan menyilangkan kedua lengannya lalu menatap arah.
Ia sempat melihat Kou yang sedang bekerja di dalam kuil itu menggunakan kacamatanya yang dapat memunculkan layar virtual, dimana pun tempatnya, ia pasti akan bekerja dan mengurusi sesuatu.
Kou sempat melihat Shuan dan ia langsung melambaikan tangannya, "Semangat~"
Shuan mengangguk, mendapatkan motivasi tinggi untuk mengumpulkan semua dedaunan yang mengandung tulisan tentang cara untuk menguasai dan memunculkan kemampuan cahaya baru.
"Jadi... Kakak, apakah kita akan mempelajari kemampuan cahaya yang baru?" Shuan memulai topik pembicaraan.
"Sepertinya ada kesalahpahaman, kita tidak dapat menampung banyak kemampuan cahaya jika salah satu kemampuan cahaya kita yang lain belum di kuasai." Jawab Minami.
"Apa?"
"Itu lah kenapa aku ingin memulai latihan baru dari tahap nol kembali, walaupun aku seorang guru... sejarah sendiri pernah mengatakan bahwa pengalaman dan latihan adalah guru yang terbaik." Minami terkekeh.
"Untuk sekarang aku ingin memaksimalkan studiku kepada satu hal yang utama, inti dari segala kemampuan cahaya, dari situlah kemampuan cahaya kita yang lainnya dapat di kuasai." Kata Minami.
Minami sudah berada di tahapan terakhir dalam mempelajari kemampuan baru, hanya menghabiskan dua hari saja ia sudah menghafal semua tulisan yang terkandung di pepohonan dan dedaunan emas.
"Dan itu...?"
"Pengendalian Golden Spirit." Minami menatap Shuan dengan tatapan yang terlihat bersemangat karena ia akhirnya menemukan sesuatu yang pantas untuk dipelajari terlebih dahulu.
"Artinya?"
"Ketenangan dalam jiwa kita, Shucchi. Bukan hanya jiwa tetapi keseluruhan agar kita bisa benar-benar bersatu dengan cahaya sehingga kita dapat melakukan apapun dengan cahaya."
"Contohnya Golden Spirit itu... seperti Golden Minami yang aku lepaskan." Minami mengembalikan semua Golden Minami ke dalam tubuhnya lalu ia mengubah ukurannya menjadi besar dan kecil.
"Golden Nature itu adalah salah satu dari kemampuan yang aku maksud sebagai Golden Spirit, aku sudah berada di tahapan paling atas sekarang..."
"...dan kau sendiri tahu bahwa cahaya itu tidak dapat di hitung dan tidak memiliki batasan apapun." Minami mengangkat jarinya, mencoba kembali menjadi guru yang melatih adiknya ketika di akademi permohonan.
"Golden Spirit dapat membuat semua jalan menuju kekuatan dari cahaya akan terbuka lebar, hanya perlu melaksanakan proses dengan latihan."
__ADS_1
"Jika kau sudah membuka Golden Spirit dan terus menguasainya maka kau dapat dengan mudah memiliki kekuatan cahaya yang cukup hebat." Perkataan Minami menarik perhatian Kou seketika.
"Itu artinya kemampuan dan sihir cahaya tidak memiliki batasan apapun...? Tidak ada tingkatan atau batas terakhir yang menghalangi?" Tanya Kou dari jauh.
"Pertanyaan yang bagus. Intinya kemampuan cahaya tidak memiliki pembatas yang dapat menghentikannya, proses dan tahapannya akan selalu ada sehingga naik terus tanpa tujuan selesai." Minami tersenyum.
Shuan merasa tertarik sekarang, ternyata sihir cahaya memang kuat hanya saja latihan yang harus di lakukan cukup sulit karena bisa saja mempertaruhkan nyawa.
"Golden Spirit dapat membantumu untuk merubah, membagi, dan menumbuhkan Spirit seseorang atau energi sihir mereka." Minami mulai mendekati Shuan, mencoba untuk menjalankan sedikit demi sedikit.
"Golden Spirit yang Papa miliki jauh lebih hebat di bandingkan diriku karena setiap ia berdagang, dia pasti akan menyempatkan diri dalam latihan di wilayah yang berbeda." Kata Minami.
"Belajarlah bagaimana Golden Spirit berfungsi dan jalan akan terbuka lebar untukmu sampai kau dapat memasuki tahapan cahaya yang terus naik ke atas." Minami menepuk punggung Shuan.
Shuan mendapatkan motivasi yang cukup untuk mengubah pola pikirannya soal kekuatan dan kemampuan cahaya sampai ia mencoba untuk bangkit kembali dengan mengibarkan sayapnya.
"Baiklah, Kakak..."
"...ajari aku tentang Golden Spirit ini!" Ucap Shuan dengan tatapan seriusnya, ia mulai mengepalkan kedua tinjunya dengan erat agar ia bisa merasakan semangat untuk bertambah kuat.
Beberapa menit kemudian, Shuan terpental ke belakang ketika ia menerima satu serangan yang Minami lepaskan menggunakan jarinya.
Minami langsung menyadari kekuatannya yang memiliki perbedaan besar dengan Shuan sekarang, ternyata Golden Spirit memang mempengaruhi batas terhadap kekuatan.
"Aw... sialan ini, tidak bekerja." Kata Shuan sampai mengelus kepalanya yang menerima satu sentuhan dari Minami.
"Aku harus mengosongkan hati dan pikiranku untuk bisa menguasai Golden Spirit, tetapi ketika aku bertarung emosiku malah meluap." Kata Shuan.
"Ini tidak sesederhana itu, Shucchi!" Minami melesat maju ke arah Shuan lalu melancarkan jutaan serangan yang berhasil Shuan hindari dengan kecepatan cahayanya.
"Kemarahan, kesedihan, kesenangan, dan hal lainnya... emosi kuat itu bisa diubah menjadi kekuatan yang luar biasa! Sama seperti perubahan Neko Beast Legenda kita." Kata Minami sambil menyerang Shuan lagi dan lagi.
"Ya, perubahan kita terpicu oleh kemarahan." Ucap Shuan.
"Tapi kemampuan Golden Spirit yang harus kau kuasai itu adalah kebalikannya. Banyak sekali jalan alternatif yang dapat membawa kita menunjuk tahapan kemampuan cahaya berbeda, Shucchi..."
"...tetapi aku ingin menyarankan sesuatu seperti Golden Spirit terlebih dahulu karena kemampuan itu berada di paling tengah sehingga bisa bercabang dan membuka berbagai macam jalan terhadap kemampuan cahaya baru!"
"Itu akan aktif ketika kau mendapatkan pengendalian diri penuh... di depan guncangan emosimu!" Kata Minami, tubuh Shuan terasa lumpuh seketika.
"A-Apa ini...!?" Shuan terjatuh di atas tanah, kesadarannya mulai hilang dan Minami langsung menendang wajahnya sampai ia mendapatkan pemulihan yang cukup besar.
"Apa...?" Shuan menatap kedua tapak tangannya.
"Dengan Golden Spirit, seranganku juga dapat memulihkan seseorang, sebesar-besarnya aku melepaskan serangan maka terdapat dua kemungkinan..."
"...aku dapat membuat musuh yang aku serang merasakan kesakitan atau merasakan pemulihan yang sangat besar." Minami tersenyum serius.
"Hampir seperti terbalik ya..."
"Itu benar~ Masih banyak lagi jadi semangat lah!" Minami memeluk Shuan erat karena rasa rindunya karena sudah lama sekali tidak berlatih dengan adiknya.
***
__ADS_1
Zoiru duduk di atas tubuh Bamushi, menghabiskan beberapa jam dengan melakukan meditasi yang ia anggap sebagai istirahat.
Dua jam telah terlewati dan ia membuka kedua matanya kembali, mungkin sudah saatnya untuk melanjutkan rencananya dalam mengisi perut Bamushi sampai ia tidak dapat menampung apapun lagi.
"Masih belum cukup... semesta palsu itu hampir saja membuat Bamushi kenyang secara keseluruhan." Zoiru bangkit di atas tubuh Bamushi.
Zoiru membuka tapak tangannya untuk mengeluarkan aura Oath, "Aku bersumpah... kepada takdir... berikan neraka kepadaku."
Sihir itu langsung melesat ke atas langit, Zoiru mulai menepuk kepala Bamushi untuk membangunkan dirinya agar ia mau mengikuti aura yang dapat membantu dirinya untuk masuk ke dalam neraka.
Bamushi dengan kecepatan penuh langsung mengejarnya, tujuan Zoiru selanjutnya adalah neraka karena di dalam sana terdapat banyak esensi lezat yang dapat Bamushi nikmati.
Ia juga memiliki tujuan lain dan itu adalah mengurangi populasi penghuni neraka yang terus di siksa habis-habisan, sebagian dari mereka juga sudah bebas dari penyiksaan.
Mereka yang bebas dari penyiksaan itu akan melanjutkan kehidupan biasa di dalam neraka seperti berlatih dan beristirahat di atas kasur yang memiliki duri tajam.
Bamushi bisa melihat sihirnya memasuki wilayah Zuusuatouri, ia bersama Bamushi mulai menyelimuti tubuh mereka masing-masing menggunakan sihir Oath untuk menyembunyikan penampilan dan keberadaannya.
Zoiru bisa melihat wilayah yang dipenuhi dengan banyak sekali tengkorak dan kobaran api hitam, ternyata ritual untuk memasuki neraka terjadi di semesta Zuusuatouri.
Ia bersama Bamushi mendarat di atas pasir hitam itu lalu ia melihat sekeliling untuk mencari sumber kekuatan yang menarik perhatiannya, ia tidak menemukan apapun melainkan sesuatu yang besar di dalam pasir itu.
"Neraka... sama dengan istilahnya Underworld ya?" Zoiru menghampiri sebuah kerangka besar di hadapannya yang melepaskan aroma tidak sedap.
"Pintu menuju neraka..." Zoiru menjentikkan jarinya sehingga Bamushi memuntahkan beberapa mayat sampai membuat tengkorak itu bangkit.
Kedua matanya memancarkan cahaya merah dan mulutnya terbuka lebar sampai melepaskan sumber kegelapan yang mampu menyengat tubuh Zoiru.
Mulut kerangka itu mengeluarkan beberapa tangan hitam yang menarik semua mayat itu sehingga Zoiru bisa melihat pintu merah muncul tepat di dalam mulut kerangka itu.
"Bamushi, kembali!" Kata Zoiru sehingga Bamushi mulai merasuki tubuhnya, ia kemudian maju ke depan untuk melewati pintu merah itu.
"Pintu menuju neraka... aku tidak sabar untuk melihat beberapa penghuni neraka yang aku kenal, mungkin mereka akan menjadi makanan yang lezat." Zoiru tersenyum serius.
Ia memasuki pintu neraka yang terbuka lebar itu lalu pintu tersebut tertutup rapat dan menghilang begitu sampai mulut kerangka itu tertutup rapat dan menunggu mayat lainnya yang siap untuk di santap.
Persyaratan untuk memasuki neraka lebih cepat terdapat di semesta Zuusuatouri, wilayah yang cukup berbahaya dan tidak diketahui, kerangka itu bisa di sebut sebagai penjaga pintu jalan pintas menuju neraka.
Jika pintu jalan pintas menuju neraka ada maka surga juga sama, hanya saja tidak ada yang mengetahui lokasinya kecuali Kou yang sempat mencari tahu menggunakan kemampuan The Mind.
***
Kediaman Haruka, sesosok misterius yang mengenakan jubah merah mulai mendarat di pulau pribadi milik Haruka dan Rokuro.
Sesosok itu dapat melihat Rokuro yang sedang membangun sebuah bangunan baru, ia tidak dapat merasakan keberadaan sesosok misterius itu bahkan melihatnya saja tidak.
Sosok itu menghampiri rumah Haruka lalu menekan tombol bel, Haruka yang sedang berada di ruang tamu mendengarnya dengan jelas dan ia mulai menghampiri pintu keluar.
"Sebentar." Haruka memegang gagang pintu di hadapannya lalu ia membukanya sehingga sesosok misterius itu mulai mencekik lehernya dan mendorongnya menuju tembok di belakangnya.
"Ack...!!!" Punggung Haruka menabrak dengan tembok dan ia tidak sempat untuk menyerang atau melindungi dirinya sendiri.
"Haruka..."
__ADS_1