
Shinobu maju ke depan, Aerith langsung menggambar sebuah karya yang membentuk Legenda, Shinobu langsung melancarkan beberapa pukulan dan tebasan menuju arah Kesatria tinta yang langsung menahannya.
Kesatria itu melompat lalu menyerang balik tetapi Shinobu langsung menahannya menggunakan kedua perisai emas yang muncul melalui pergelangan tangannya.
Shinobu mulai menghantam semua pasukan Kesatria tinta itu menggunakan pukulan dan tebasannya, ia mencoba untuk mendekati Aerith yang terlihat ***** ketika melihat Shinobu berhasil mengalahkan pasukannya.
Kedua kaki Shinobu tertendang sampai ia terjatuh tetapi ia langsung melancarkan satu tendangan yang mengenai wajah Kesatria itu, kesatria tersebut terpental sampai mengenai Aerith.
"Hyan~"
"Teruslah menciptakan banyak karya yang mencoba untuk menyerang diriku..."
"...semua talenta itu rasanya sia-sia jika kau tidak gunakan sebagai sumber pengumpulan penghasilan, hanya karena karyamu kurang bagus seharusnya kamu menerima kritik mereka."
"Tidak mendapatkan sesuatu dengan cara paksa atau instan, kau tidak lulus kelas seni mungkin karena karyamu masih membutuhkan improvisasi." Shinobu melihat Aerith yang berbaring di atas tanah dengan tubuh ternodai tinta.
"Aku tidak membutuhkan kritik...!!! Kritik membutuhkan diriku...!!!" Seru Aerith yang langsung mengayunkan tongkat sihirnya sampai melepaskan garis tinta yang bergerak cepat sampai menusuk dada Shinobu.
"Hugghhh...!!!"
"Koneko...!" Anastasia langsung menyelamatkan dirinya dengan memainkan musik merdu di dalam telinganya sampai menerima pemulihan yang menahan serangan itu.
Shinobu terdorong ke belakang lalu ia menyentuh daratan sampai menumbuhkan tumbuhan yang menjatuhkan daun emas untuk ia makan sebagai pemulihan.
"Aku tidak akan membiarkan otak besar itu menghentikan diriku... dengan maha karya dan tentunya kreatif melalui tinta aku akan membunuhmu terlebih dahulu!"
Shinobu melihat banyak sekali tinta yang dikeluarkan melalui tongkat itu sampai membentuk garis yang melaju cepat menuju arah dirinya, tetapi Shinobu langsung menciptakan tembok daun emas yang besar.
Shinobu mulai mendekati Aerith selagi menumbuhkan banyak sekali tumbuhan agar bisa menjatuhkan banyak sekali daun emas demi melindungi dirinya dari serangan garis tinta itu.
Aerith tersenyum puas lalu ia menggambar sebuah daun yang menyamar dengan salah satu daun emas itu, Shinobu tidak dapat melihatnya karena semua daun yang ia jadikan sebagai pertahanan sudah menghitam.
Ketika Shinobu mencoba untuk mendekati dirinya lagi, punggungnya menerima tusukan dari tinta berbentuk daun itu sampai luka di punggungnya mengeluarkan banyak sekali darah.
"Mengecewakan sekali... aku kira daun itu akan memotong lehermu dan menghabiskan nyawamu lagi." Aerith mulai mengangkat jempolnya lalu menunjuk Shinobu agar bisa mencari posisi yang pas untuk membunuhnya.
"Aku akan menjadikan dirimu sebagai maha karya seni yang hebat... hargamu bisa di bilang cukup untuk mendapatkan alam semesta yang berisi seni."
"Jika semua itu berhasil aku gapai maka aku dapat menunjukkan maha karya itu kepada mereka yang melakukan kritik terhadap karya hebat yang aku ciptakan menggunakan tinta." Aerith mengangkat tongkat sihirnya.
"Garis tinta ini akan selalu mencari karya yang perlu di gambar, contohnya dirimu yang pas menjadi kanvas untuk semua garis tinta tersebut."
"Mereka melihat dan menganggap dirimu sebagai kanvas yang perlu dijadikan sebagai karya, karya patung yang menunjukkan peristiwa kematian seperti apa." Aerith menjilat bibirnya sendiri lalu bersiap menggunakan sihir tinta lagi.
"Kau tidak akan bisa lari dari seni dan maha karya, Shinobu Koneko!"
"Sejak awal... aku memang tidak memiliki niat untuk melarikan diri." Shinobu mengeluarkan daun emas untuk membalut luka tersebut.
"Aku akan tetap melawan dirimu... tidak tahu terima kasih karena sudah menerima banyak berlian karena jurnalku sendiri."
"Jurnalmu atau kutukanmu yang kau berikan padaku, Shinobu?"
"Kutukan untuk menghapus semua sampah yang percaya bahwa kau menciptakan jurnal tersebut, mereka yang tidak percaya berhak diam..." Shinobu memasang tatapan yang lebih serius untuk pertama kalinya.
__ADS_1
Shinobu langsung mengejar Aerith sampai ia segera melepaskan sihir tinta yang berhasil dirinya lewati berkat bantuan Light of Hope yang ia tingkatkan semaksimal mungkin.
Aerith tercengang ketika melihat tubuh Shinobu menipis seperti cahaya matahari yang terhalang dengan awan, kecepatannya meningkat secara drastis sampai ia langsung berubah menjadi tinta.
Perubahannya itu ia lakukan dalam waktu yang tepat karena kecepatannya masih bisa mengimbangi Shinobu, ia melihat Aerith berada di arah lain dengan tatapan ***** karena tidak sabar di pukul.
"AERITH!!!" Seru Shinobu keras karena ia melihat penyihir itu bersikap seperti pengecut karena terus menjaga jarak dengan dirinya sendiri.
"Hahaha~ jangan rusuh seperti itu, kau tidak bisa mempercepat maha karya!" Kata Aerith selagi menunjuk Shinobu menggunakan jempolnya sendiri.
"Shinobu Koneko, sekarang aku tidak sabar untuk menjadikan dirimu sebagai sumber penghasilan yang besar, setiap anggota tubuhmu itu sangat berharga!"
Aerith langsung menggambar banyak sekali karya yang menyerang Shinobu dari arah yang berbeda dengan kecepatan penuh karena ia sempat memasukkan kata di dalamnya 'memiliki kecepatan cahaya'.
Shinobu langsung melakukan pertahanan tetapi tubuhnya terus menerima kesakitan oleh karya tinta itu sampai sebagai dari kulitnya robek lalu mengeluarkan banyak sisa daging dan darah.
Kedua lengan dan kakinya hancur tetapi ia berhasil menciptakannya kembali menggunakan Golden Alchemist sampai Anastasia merasa malang melihat Shinobu terus tersiksa dengan serangan tinta itu.
"Nrrgghhh...!"
"Nyawamu adalah hambatan yang harus aku lewati, ada-ada saja... kenapa kucing rumahan bisa memiliki nyawa sebanyak itu?" Tanya Aerith sambil mengeluarkan kanvas.
Aerith tersenyum puas lalu ia menciptakan sebuah kotak melalui jari-jarinya seperti melihat sebuah pemandangan yang pas untuk ia gambar ke dalam kanvas tersebut.
Shinobu mulai melepaskan Light of Hope tingkatkan seratus untuk melepaskan dorongan cahaya yang menghancurkan semua karya itu sampai kembali menjadi cairan tinta yang membentuk senjata.
Semua itu menyerang Shinobu secara bersamaan tetapi ia langsung melepaskan banyak sekali Golden Repulsor sampai menghancurkannya tanpa sisa karena sebagainya di serap oleh daun emasnya.
Shinobu langsung melepaskan banyak sekali daun emas ke depan sampai menghancurkan sihir tinta di hadapannya, Aerith yang sedang sibuk menggambar langsing menggerakkan tongkatnya.
"Hyan~ Telanjangi aku~" Desah Aerith yang kembali menggambar dengan berbagai macam peralatan keluar melalui tongkat sihirnya itu.
"Koneko... jika seperti ini maka kamu tidak akan bertahan lama melawan sihir tinta yang sudah dikuasai oleh adikku sendiri." Anastasia memberi dirinya peringatan.
"Sejak kecil... adikku sangat terobsesi dengan seni dan karya sampai seorang Magus melatih sihirnya berdasarkan hobi yang ia sukai yaitu menggambar."
"Tinta berasal dari cumi... adikku sejak kecil sering memakan cumi sebagai sarapan, makan siang, dan malam sampai sekarang sehingga ia dapat menghasilkan cairan tinta itu sendiri."
"Sebuah kebiasaan... dia juga memburu cumi lalu memakannya sampai rela menjadikan tubuhnya mainan tentakel gurita demi bersatu dengan tinta yang mereka hasilkan."
"Penyihir Legenda memiliki Lenergy dan sihir yang sangat sempurna sampai kita sendiri memiliki sumber yang tak terbatas terhadap sihir yang sempurna..."
"...efeknya akan bertambah semakin kuat jika terus dilepaskan, terutama lagi tongkat sihir yang ia ciptakan melalui sketsa sampai mengubahnya menjadi kenyataan."
"Dia sudah berjuang sejak kecil... demi bisa menjadi seorang penyihir gambar yang menunjukkan semua maha karyanya kepada dunia demi bisa mendapatkan banyak pujian dan penghasilan."
"Koneko... tidak akan menyerah." Kata Shinobu, perkataannya tadi berhasil ia ketahui bahwa Anastasia meminta dirinya untuk mundur lalu merancang strategi.
"Merancang strategi bisa di lakukan selagi bertarung, kemunduran sama saja dengan melarikan diri... Mama tidak pernah mengajariku tentang menyerah." Kata Shinobu.
"Aku adalah seorang Shiratori... melarikan diri sama saja dengan mati bagiku." Shinobu memasang tatapan penuh tekad, mencoba untuk berbuat sebisa mungkin tanpa kenaifan.
"Menyebalkan sekalian... selama ini bertarung melawan keturunan yang pernah menyelamatkan alam semesta memang keras kepala soal menyerah."
__ADS_1
"Setidaknya aku akan menjadi yang pertama untuk menciptakan sebuah seni dan maha karya tentang Shinobu Koneko, seorang Shiratori yang lahir tidak normal." Kata Aerith selagi menggambar.
"Aku akan membantu dirimu melihat pemandangan indah yang tidak ada habisnya, Aerith." Shinobu mengangkat Keris di tangan kirinya lalu ia menatap Aerith dengan tatapan tajam.
Mata kiri Shinobu langsung menunjukkan banyak sekali pola serangan yang dilakukan oleh garis-garis tinta tersebut sampai ia berhasil menghindarinya lalu menyerangnya balik.
Anastasia melihat Shinobu terus fokus menahan semua gambaran tinta itu sampai ia tidak memperhatikan apa yang sedang Anastasia lihat saat ini.
"Shinobu...!!! Di belakangmu...! sebuah tinta yang mengubah warnanya menjadi pemandangan... atau bisa di bilang kamuflase!" Peringat Anastasia sampai Shinobu melirik ke belakang.
Shinobu mengubah pandangan mata kanannya menjadi pandangan yang di lihat oleh matahari berposisi di atasnya, matahari itu bisa di bilang bagaikan matanya sendiri sampai ia mengarahkan sinar itu kepada Aerith.
Shinobu mengeluarkan daun emas dari dalam sakunya lalu ia melemparnya menuju arah Aerith yang masih fokus menggambar, "Satu nyawa saja... tidak apa..."
Aerith tersenyum puas lalu ia mencoret leher Shinobu di dalam kanvas tersebut sampai tinta yang memiliki warna pemandangan untuk menyembunyikan keberadaannya dari Shinobu yang terus menatap ke belakang.
Tinta itu berubah menjadi garis yang sangat panjang dan tajam sampai merobek leher Shinobu lalu mengeluarkan tulang di dalamnya sampai tulang bagian bawahnya ikut keluar.
"Koneko...!!!" Seru Anastasia keras, ia mencoba untuk memulihkan dirinya tetapi terlambat karena serangan tadi bergerak cukup cepat.
Aerith mengangkat tongkat sihirnya lalu menangkis daun itu sampai terpental ke atas langit lalu berputar kembali sampai mengarah menuju tanda yang ditandai oleh sinar matahari yang sempat Shinobu pancarkan.
Shinobu yang sudah mati di atas daratan kembali bangkit dengan enam nyawa tersisa, "Lock-on...!!!"
Shinobu menaikkan suaranya sampai daun yang bergerak mengarah tanda sinar itu berhasil merobek punggung Aerith sampai memberi dirinya luka yang cukup fatal.
"Hyaaannn~ sakit~ aahhhhh~" Aerith terdorong ke depan sampai terjatuh di atas tanah dengan punggung yang mengeluarkan banyak sekali cairan tinta untuk menggantikan darahnya sendiri.
Shinobu melihat banyak sekali tinta membentuk sebuah tangan yang membawa dirinya pergi dari jarak aman agar ia bisa membawa kanvas tersebut lalu memperbaiki sesuatu.
"Itu---" Leher Shinobu langsung robek sampai sebuah tinta masuk ke dalam luka tersebut lalu mengeluarkan isi perutnya sampai ia telah kehilangan nyawa lagi.
"Koneko...! Lagi...!" Seru Anastasia yang mulai memainkan lagu melalui biolanya sampai Shinobu kembali bangkit lalu terbang tinggi ke atas langit dengan lima nyawa tersisa.
Aerith yang berlindung di balik pohon mulai tersenyum puas terhadap karya yang ia gambar di dalam kanvas tersebut, karya itu adalah Shinobu Koneko yang berhasil ia gambar dengan sempurna.
Gambaran itu sudah bersatu dengan Shinobu yang saat ini mencoba untuk mencari lokasi Aerith, dengan satu tambahan dari tinta melalui tongkat seperti menggambarkan garis di bagian perutnya maka...
ZBAAASSSHHHH!!!
Shinobu melebarkan matanya ketika melihat perutnya putus sampai menjatuhkan tubuh bagian bawahnya bersama isi perut di dalamnya, sejujurnya ia tidak bisa melihat atau merasakan serangan itu.
Shinobu memasang tatapan kosong karena ia sudah mati karena Aerith yang menggambar sebuah garis di bagian perut Shinobu, gambar yang ia lihat hancur tetapi ketika Shinobu hidup lagi maka gambaran itu kembali seperti semula.
"Kanvas yang dia pegang---" Shinobu mengeluarkan banyak sekali organ di dalam tubuhnya karena garis yang Aerith gambar dari bawah Shinobu sampai ujung kepalanya..
Nyawanya telah hilang kembali, hanya tersisa tiga sampai Aerith langsung mengeluarkan suling yang ia mainkan sampai nota lagu keluar dari dalam suling tersebut lalu bergerak ke depan untuk mencari Aerith.
"Kanvas itu..."
"...sama dengan ilmu hitam yang aku---" Kepala Shinobu jatuh dari tubuhnya karena Aerith yang menggambar sebuah garis kecil di bagian lehernya..
"Ini adalah...!!!"
__ADS_1
"...maha karya~"