
Korrina mulai duduk di depan Morgan selagi melihat beberapa kertas yang memperlihatkan data peserta, Morgan mulai menunjukkan ekspresi yang terlihat kesal karena Korrina dengan seenaknya bertingkah semaunya lagi, ia melihat semua kertas itu dengan seenaknya saja, seharusnya peserta yang akan ikut itu dirahasiakan.
"Sikap busuk-mu masih ada ternyata, Korrina. Tetapi gaya rambutmu berubah." Morgan sadar
"Cobalah untuk menghentikanku..." Korrina membaca semua data itu satu per satu dan Morgan tidak ingin berurusan dengan janda yang sedang PMS karena sepertinya Korrina terlihat kesal melihat semua data itu, sepertinya peserta yang akan mengikuti turnamen itu semuanya tangguh dan layak, hebat." Korrina tersenyum selagi berkeringat, ketika ia mencoba untuk mencari kertas berisi data itu, ia langsung membulatkan kedua matanya ketika melihat data Shira dan Megumi.
"Shira...? Megumi...?"
"Kau mengenal mereka ya...? Hmph, kedua Legenda seperti mereka itu sangat layak. Aku sudah melihat kemarahan Megumi dan kemenangan Shira melawan Rionald, aku mendapatkan semua informasi itu dari bawahanku dan aku dapat banyak informasi yang penting." Morgan mulai menunjukkan data milik Agfi, Rexa, dan Yuuki. Korrina mulai menunjukkan ekspresi yang terlihat terkejut karena ia melihat ketiga anaknya yang ternyata menjadi peserta juga.
"Tenang, Korrina. Peraturan turnamen saat ini aku ubah dengan beberapa tantangan." Morgan memegang dagunya lalu ia mulai bangkit dari kursinya dan setelah itu ia membuka tirai yang ada di belakangnya, di balik tirai itu terdapat sebuah papan yang menunjukkan seperti akademi yang berbentuk besar sekali, "Peserta yang aku daftarkan banyak sekali hingga turnamen itu tidak memiliki banyak kapasitas untuk ditempati jadi aku membuat peraturan yang berbeda dimana semua peserta harus belajar dan mengikuti penantang yang disediakan oleh Academic Solicitation."
"Semua peserta akan diberikan beberapa pelajaran dan tantangan berat, seseorang yang lulus dalam akademi itu maka mereka akan bisa berpartisipasi di Tournament of Solicitation!" Morgan mulai mengambil kubus biru dan kubus biru itu mulai menciptakan hologram, hologram itu mulai menunjukkan tempat akademi dan turnamen itu yang terletak di atas semesta Yuusuatouri dan Yuutouri, jadi bisa disebut ditengah-tengah semesta.
"Disitu 'kah...? Terasa aneh juga untuk seorang ibu sepertiku belajar di akademi lagi." Korrina menghela nafasnya lalu ia menepuk wajahnya, Morgan mulai merubah hologram itu menunjukkan banyak sekali peserta yang berjumlah lebih dari lima ratus, "Banyak sekali... Apakah mereka kuat...?"
"Mereka ini layak dan sangat kuat. Kau tidak boleh meremehkannya."
"Jika aku meremehkan musuh maka itu bukan aku melainkan itu adalah sampah yang harus disimpan di dalam tempat sampah yang busuk." Korrina menyilangkan kedua lengannya. Korrina mulai mengambil dua kertas yang menunjukkan data seorang mortal yang memiliki kekuatan Seven Deadly Sins dan Seven Heavenly Virtues, "Shimatsu Arata... Shimatsu Akina... Jadi mereka 'kah dua mortal yang memiliki kekuatan aneh itu...?"
Korrina tidak mengenal kedua Legenda itu, tetapi ketika ia melihatnya Korrina tidak bisa meremehkan kedua mortal itu karena dengan melihat data dan penampilan mereka, "Semesta Touri memang besar ya..."
"Semesta Touri saja sudah memiliki banyak petarung yang hebat seperti mereka dan aku yakin masih ada banyak lagi di Touri. Dan ingatlah... Masih ada dua inti semesta bernama Reaoum dan Palouce!" Ucap Morgan hingga membuat Korrina terdiam, ia mulai menghela nafasnya berat karena ia sebenarnya ingin bertemu dengan dewa atau dewi yang bertanggung jawab atas semua inti semesta itu, "Hahhhhh..."
__ADS_1
"Aku merasa tidak niat dan malas dalam mengikuti akademi ini, apakah kau akan menjelaskannya kepada mereka semua?" Tanya Korrina.
"Tentu saja..." Morgan mulai tersenyum jahil, "Kau tidak merasa niat karena kau ini seorang janda, hahaha---"
BUSSSSHHHH!!!
Semua kertas berisi data-data yang Morgan buat mulai terbakar oleh api sacred milik Korrina, "Sekarang~ Aku pamit, maaf karena sudah membunuh semua penjaga dan bawahanmu termasuk Johnsen." Korrina berjalan pergi meninggalkan Morgan yang terlihat terkejut, "EHHH!? AKU HARUS MENGULANGNYA LAGI...!!!" Morgan mulai mengacak-acak rambutnya. Morgan adalah manusia yang kuat tetapi dia ini tidak jahat dan tidak baik, dia ini hanya seorang manusia yang bertindak semaunya dan sangat menyukai melihat pertarungan antara petarung yang sama kuat dan layaknya, turnamen yang ke satu dan ketiga itu tidak merasa menyenangkan bagi Morgan karena Korrina yang terus membantai mereka dalam beberapa detik hingga ia terus menjadi pemenangan berturut-turut.
Agfi yang sedang berada di taman kastil rumahnya mulai melirik ke atas langit karena ia bisa merasakan keberadaan seseorang Legenda yang memiliki sihir Crimson, "Apa...?" Agfi mulai melihat sebuah kertas yang jatuh menuju arahnya, ia melompat ke atas lalu mengambil kertas tersebut.
"Tulisan dari darah... Kertas yang terbuat dari aura Crimson..." Agfi membulatkan kedua matanya ketika ia sadar bahwa kertas itu bisa saja dari ayahnya yang bernama Alvin Ghifari.
"Papa tertangkap basah oleh dewa agung... Dan Papa mencoba untuk melarikan diri dari mereka tetapi tidak bisa karena mereka sangatlah cepat dan kuat, kekuatan dewa Papa di ambil oleh Dewa agung sialan itu, jadi Papa tidak sanggup untuk melarikan diri atau bertahan melawan para prajurit Crimson itu. Papa disiksa habis-habisan hingga mereka bahkan memutuskan kedua lenganku... Papa sedang berada di penjara sekarang, papa sekali ingin mengucapkan minta maaf dan selamatkanlah Papa, sebelum Papa terbunuh. Papa sedang berada di Crimson Realm dan terletak di The Basement of Inferior Crimson. Rina sepertinya pergi entah kemana karena aku tiba-tiba tidak merasakannya dia Crimson Realm ini..."
"Kau tau apa yang akan kau lakukan selanjutnya... Agfi..." Agfi sudah membaca seluruh tulisan itu selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat sedih dan juga kesal bahwa seperti biasanya Alvin bersikap ceroboh. Agfi merobek-robek kertas itu lalu ia mulai terbang ke atas dan melesat menuju arah hutan dimana terdapat banyak sekali monster, sepertinya ia akan melakukan ritual untuk pergi ke Crimson Realm karena ia tidak tahu cara menggunakan sihir Crimson Gate.
Ritualnya bekerja ketika Agfi mengumpulkan darah dari makhluk apapun, dan ia harus menggambar lambang Crimson dengan darah-darah itu lalu ia berdiri di tengah lambang tersebut dan mulai menggunakan sihir Crimson-nya atau singkatnya mengeluarkan aura-aura Crimson. Di saat itulaha adalah tahap terakhir dimana Agfi harus mengucap semua mantra untuk membuka portal menuju Crimson Realm, Agfi mengingat mantra-nya karena ia pernah membaca Grimoire of Crimson yang Alvin berikan ketika ia masih berumur lima tahun.
Agfi berhasil membunuh banyak sekali monster di hutan labirin itu, ia mengumpul darah itu ke dalam botol besar, setelah ia pikir darah-darah yang ia kumpulkan cukup maka ia akan melakukan ritual itu di tengah-tengah hutan yang sudah ia tebang menggunakan belati-nya. Agfi sudah jelas bersiap seperti memakai Kisetsu-nya dan membawa beberapa botol berisi racun lainnya, ia mulai menuangkan darah-darah yang ia kumpulkan di dalam botol lalu ia mulai menggambar sebuah lambang Crimson di tengah tanah yang rata.
Itu memakan beberapa menit, setelah selesai Agfi langsung berdiri di tengah simbol itu selagi memejamkan kedua matanya, "Haaahhh...!!!" Agfi mulai mengepalkan kedua tinjunya hingga muncul-lah aura crimson yang mulai melumuri seluruh tubuhnya, "Di dalamnya terasa Lenergy yang luar biasa besarnya, dan... Darah yang mengalir di dalam dimensi itu akan menjadi kekuatan bagi dimensi itu sendiri... Sebuah dunia yang seluruhnya berwarna merah, karena itulah banyak yang hancur ketika seorang mortal biasa berada di dalam dimensi itu... Mereka yang bisa menggunakan sihir Crimson akan terlalu banyak menyerap Lenergy... Dan yang tidak bisa akan hancur karena tekanan-nya... Aku... Putri kedua dari Alvin Ghifari akan menjalankan misi untuk mengunjungi Crimson Realm!!!" Teriak Agfi hingga sebuah portal berwarna merah besar mulai muncul di depannya, ia tersenyum kecil lalu menunjukkan ekspresi yang terlihat serius bukan waktunya untuk senang karena bisa menggunakan sihir portal.
__ADS_1
Agfi melompat masuk ke dalam portal itu hingga portal tersebut langsung tertutup rapat dan Agfi tiba di Crimson Realm dimana ia melihat banyak sekali monster yang memiliki aura crimson dan warna Crimson. Ia membulatkan kedua matanya ketika melihat wilayah yang memiliki warna Crimson, ia merasa tekanan sihir Crimson yang lebih besar dari dirinya dan Alvin, "Aku tidak tahu bahwa tekanan wilayah ini akan sebesar ini... Apakah aku masih belum menyempurnakan sihir Crimson-ku?" Tanya Agfi.
Agfi mulai mengeluarkan ramuan yang mampu menghilangkan keberadaan-nya dari prajurit Crimson dan Dewa agung Crimson, Agfi meminum cairan putih itu sampai habis lalu ia melempar botol kosongnya ke bawah sampai pecah, "Aku membutuhkan beberapa menit untuk menyelamatkan Papa---" Agfi tiba-tiba merasakan keberadaan Alvin yang terasa jelas, ia berada di bawah daratan, "P-Papa...?"
"Agfi, ini Papa... Kau harus mendengar ucapan Papa-mu untuk hari ini saja... Papa mohon." Alvin mulai melakukan telepati kepada Agfi, "Papa..." Agfi mengangguk lalu ia mulai menunjukkan ekspresi yang terlihat serius.
"Di depan-mu, kau akan melihat beberapa lubang yang akan membawamu ke tempat Papa, Papa sarankan untuk memasuki lubang yang ada di tengah!" Suruh Alvin dan Agfi langsung bergegas ke depan, ia melihat tiga lubang di depannya, Agfi langsung masuk ke dalam lubang yang ada di tengah lalu ia merangkak masuk lebih dalam lagi. Agfi melihat sumber cahaya merah di depannya lalu ia mulai meluaskan lubang itu karena semakin Agfi bergerak maju maka semakin sempit ruangan yang ada di depannya, "Sebentar lagi kau akan menemukan sebuah portal dimana kau akan Papa transfer ke tempat Papa, setelah itu... Mari kita pulang." Ketika Agfi mendengar perkataan Alvin, ia langsung tersenyum lebar dan mulai mengangguk.
Agfi melihat portal besar di depannya lalu ia melesat ke depan hingga memasuki portal itu, di dalam sel penjaran Alvin, ia melihat portal yang ia ciptakan di atasnya mulai menunjukkan kedua kaki Agfi, "Agfi...!" Alvin membulatkan kedua matanya lalu ia tiba-tiba melihat Agfi terjatuh ke dalam portal yang ada di depannya, "Ahhh...!?" Alvin membulatkan kedua matanya ketika melihat itu terjadi, besi yang menghalang sel-nya mulai hancur oleh beberapa penjaga, Alvin melirik ke belakang lalu ia melesat ke depan sehingga melewati semua penjaga itu, "TANGKAP DIA!!!" Teriak penjaga itu hingga mereka semua mulai mengikuti Alvin dari belakang.
Alvin bisa merasakan keberadaan Agfi yang berada di kastil Crimson dimana terdapat Dewa agung disana, sepertinya Dewa Agung ini sangatlah cerdik hingga ia mampu mendeteksi portal yang Agfi ciptakan, itu artinya Agfi saat ini sedang berada di dalam kastil itu. Agfi terjatuh di atas lantai dengan ekspresi yang terlihat kesal dan terkejut, seluruh tubuhnya terasa berat karena dewa agung itu menunjuknya sehingga kedua telapak tangannya bersinar, itu artinya ia mengontrol tekanan aura Crimson milik Agfi, aura Crimson milik Agfi saat ini terasa berat hingga Agfi tidak bisa bangkit atau bergerak, "Siapa kau...? Dan apa mau-mu kesini...?" Tanya Dewa agung itu, Agfi menatap ke depan dimana ia melihat Dewa Agung itu dihalangi oleh jubah berwarna merah, Agfi hanya bisa melihat kedua matanya yang bersinar merah.
Agfi tidak bisa menjawab karena ia ingin menjaga identitas-nya kepada dewa itu, Alvin sudah memperingatinya untuk tidak menjelaskan identitas-nya kepada seorang Dewa, termasuk dengan semua dewa dan dewi karena jika mereka semua tahu bahwa Alvin menikahi seorang mortal atau melakukan hubungan intim dengan seorang mortal maka itu bisa disebut dengan melanggar pelaturan mutlak juga, Dewa itu menatap Agfi lalu ia mulai melakukan observasi seluruh tubuh termasuk dengan darah-darahnya menggunakan kedua matanya yang mampu mendeteksi DNA, "Jadi begitu ya..."
Dewa itu mulai tersenyum lalu menunjuk Agfi, seluruh tubuh Agfi tiba-tiba terbelit oleh rantai yang terbuat dari aura Crimson, "Aggghhh...!" Agfi tercekik oleh rantai itu lalu ia mulai menunjukkan ekspresi yang terlihat lebih kesal dari sebelumnya, "Sepertinya Alvin Ghifari itu tidak hanya melanggar satu pelanggaran mutlak melainkain ia melanggar dua pelanggaran mutlak... Menikahi seorang mortal dan memiliki seorang anak yang dijuluki sebagai mortal juga, dia ini memang hina dan penghianat... Aku yakin dia pasti akan melakukan ini dari awal---"
Alvin menghancurkan tembok kastil yang ada di depannya menggunakan kedua kakinya saja lalu ia menatap dewa agung itu dengan ekspresi yang terlihat kesal, sepertinya Alvin bertambah kuat karena ia tidak mau anak-nya terluka oleh siapapun, "Lepaskan anakku atau kau akan menanggung resiko-nya...! Dewa agung Crimson...!!!" Kedua kaki Alvin bersinar cerah lalu ia menendang ke depan hingga melepaskan gelombang crimson tajam yang mampu memotong rantai-rantai yang membelit Agfi.
"Ack..." Agfi berhasil terbebasi, tetapi Dewa Agung itu mulai merasa kesal karena Alvin terus mengangguk dan bersikap seperti dewa yang munafik, "DASAR MUNAFIIIIKKKK!!!!" Teriak dewa itu hingga meluncurkan dua petir Crimson melalui kedua telapak tangannya, Alvin muncul di sebelah Agfi lalu ia mendorongnya ke depan hingga muncul-lah portal di belakang Agfi dan menghisapnya masuk.
ZBAAASSHHH!!!
"AAAARRRRGGGHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!" Teriak Alvin kesakitan karena ia terkena sengat oleh petir Crimson itu, ia mulai menangis karena petir itu sangatlah kuat hingga mengenai tulang-tulangnya, "Inilah hukuman yang pantas untukmu, Alvin!!!" Dewa agung itu tersenyum jahat.
__ADS_1
"GRAAAAGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!" Teriak Alvin kesakitan.