Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 850 - Seperti Bunga


__ADS_3

Koizumi melompati waktu untuk menyerang Lucia dari belakang tetapi tubuhnya langsung membeku, ia menemukan musuh yang lagi-lagi menyebalkan karena dapat menghentikan pergerakannya ketika menggunakan kemampuan waktu.


"Aku mengetahui jelas dirimu, Shimatsu Koizumi. Seorang pemberontak yang dilatih dari kecil, menghasilkan remaja yang begitu cantik dan mematikan." Lucia tersenyum lalu ia melepaskan suhu dingin yang besar melalui payungnya.


Koizumi langsung menahannya menggunakan api darahnya tetapi api itu langsung membeku menjadi merah sampai mengejutkan dirinya, Konomi langsung membantu dengan menyerang dari depan dengan melempar tombaknya itu.


Lucia langsung menangkisnya, ia membuka payungnya lebar lalu melakukan satu putaran sampai menyebabkan wilayah di sekeliling mereka membeku


Sebelum memulai keseriusannya dalam bertarungnya, Lucia membuka halaman seratus untuk mengeluarkan sebuah mantra mutlak, "Lepaskan badai es yang ekstrem, jangan sampai melepaskan mereka dalam kandang es itu!"


"Cage of Sheer Cold!" Lucia menyentuh Grimoire sampai mengeluarkan suhu yang sangat besar sampai membekukan kulit mereka lalu mengupasnya secara pelan.


Koizumi tetap maju untuk merebut Grimoire tersebut tetapi Lucia menyingkirkan buku tersebut menggunakan payungnya lalu menjaganya dengan aman.


"Dalam wilayah Sheer Cold, kalau pasti tidak akan bisa bertahan... sepanas apapun sihir kalian, tidak akan ada yang bisa mengalahkan kedinginan yang lebih mengerikan dari kepanasan."


"Anggap saja seperti mereka yang dingin, hanya saja jika kau terlalu lama maka kulitmu akan terkupas bahkan menjadikan daging kalian sebagai daging hewan yang membeku dam kulkas."


Koizumi mencoba untuk menghentikan waktu, ia awalnya mengira bahwa dirinya bisa me dekati Lucia tetapi karena cuaca dan suhu yang ia rasakan cukup menekan.


Dirinya hanya bisa bergerak sejauh satu meter sedangkan Lucia berada di atas langit dengan jarak dua puluh meter, melihat dirinya sebagai kandidat es membuat mereka yakin bahwa dirinya hanya berani melawan dari jauh.


"Burning Heavens...!" Konomi melepaskan kekuatan sihir yang dapat memanggil meteor berukuran besar ke arah lawan dan memiliki daya ledak yang besar.


Namun, serangan sepanas apapun itu jika terkena Sheer Cold akan tetap membeku sampa memberikan Lucia sebuah keuntungan bahwa dirinya dapat mengendalikan meteor kristal itu dengan melemparnya ke arah mereka.


Konomi dan Koizumi langsung terbang ke atas langit sampai suhu di atas terasa lebih ekstrem dibandingkan sebelumnya, mereka hanya perlu menahannya lalu merebut Grimoire tersebut untuk menghancurkannya.


"Koizumi, biarkan aku mengulur waktu lebih lama lagi untuk melawan Lucia."


"Kau tahu harus apa selanjutnya bukan?" Tanya Konomi sehingga Koizumi mengingat strategi yang sempat mereka buat sejak latihan.


Kelima gadis pemberontak yang sudah menghabiskan waktu bermain, berlatih, dan tentunya merancang strategi pasti bisa melakukan kerja sama yang sangat sempurna antar satu sama lain karena hubungan mereka yang sudah sangat dekat.


Konomi maju ke depan dengan menciptakan pelindung besar yang langsung menjebak dirinya dalam kristal tersebut, ia tetap maju lalu melancarkan satu serangan tombak.


Walaupun tubuhnya terus membeku sampai kulitnya terkupas, ia tetap maju dan membiarkan Koizumi berdiri di atas daratan selagi memejamkan kedua matanya untuk merencanakan sesuatu.


Lucia memasang tatapan yang terlihat tenang, ia perlu berhati-hati dengan mereka yang bisa disebut sebagai campuran keturunan yang berbahaya sampai generasi semakin maju akan semakin sulit untuk dilawan.


Koizumi melihat Konomi yang mencoba untuk mendekati Lucia tetapi ia tidak memiliki kesempatan yang pas karena suhu dari Sheer Cold bertambah semakin parah sehingga ia mulai menyentuh tato di lehernya.


"Phantom Dispresion!"


Konomi langsung menggunakan sihir dengan elemen kegelapan yang dapat menghancurkan maupun membatalkan serangan sihir lawan baik saat sihir belum diluncurkan maupun sudah diluncurkan.


Kemampuan ini memunculkan kabut gelap yang sangat tipis dan meluncur dengan sangat cepat, Lucia hanya bisa tersenyum lalu membalas serangan Konomi menggunakan payungnya itu.


Konomi terus melancarkan serangan tusukan yang bergerak cukup cepat tetapi Lucia menahannya menggunakan payungnya yang sudah terlebar, ia menarik kelar tongkat payung tersebut lalu menjadikan puncaknya sebagai perisai.


Tongkat payung itu sangat tajam sampai cukup untuk menebas pipi Konomi, Lucia bertarung dengan baik menggunakan payungnya sampai Konomi mulai terkekeh dan tidak bisa menggunakan sihir yang pasti akan membeku lagi.


Lucia menendang perut Konomi sampai ia terdorong ke belakang tetapi ia melihat Konomi menembak banyak sekali peluru energi menggunakan Railgun nya itu.


Lucia langsung menunjuk ke depan sampai membekukan semua serangan  itu menjadi kristal es yang langsung ia serang balik kepada Konomi, Koizumi melompati waktu dan berhasil menyentuh Grimoire tersebut.


"... ...!!!"


Koizumi mencoba untuk menariknya tetapi tangan kirinya langsung membeku sehingga Lucia menoleh ke belakang lalu mengayunkan pedang kristal esnya itu tetapi Koizumi secara refleks menangkap pergelangan tangannya menggunakan tapak kanannya.


Konomi mencoba untuk menyerang lagi, tombaknya menembus puncak dari payung tersebut tetapi tidak mampu mengenai wajah Lucia sama sekali sampai mereka bertiga berada di posisi yang cukup membahayakan.


"Kalian berdua memang sesuai dengan apa yang aku harapkan..." Lucia tersenyum dengan tatapannya yang terlihat tenang, mereka ternyata cukup menyenangkan juga untuk diajak bertarung.


"...tetapi, jangan mengira bahwa melawan seorang kandidat dewa akan semudah ini, gadis-gadis remaja."


***


Ritual perpindahan kepercayaan yang dilakukan oleh Shinobu telah berhasil, ia mulai menepuk dadanya sampai mengeluarkan lambang angin yang begitu besar, itu artinya dia sudah masuk ke dalam kepercayaan Erion dengan anginnya itu.


"Dengan ini, aku menyatakan dirimu sebagai pengikut kepercayaan angin yang bisa dibilang kuat." Erion memberikan Insignia itu kepada Shinobu yaitu sebuah kalung.


Shinobu mengenakannya lalu ia tersenyum polos dan melakukan sedikit kehormatan dengan menundukkan kepalanya itu, "Kalau begitu, segel gerbang sebentar lagi akan terbuka untuk diriku yang bisa menikmati kembali dunia."


Erion duduk di atas lambang tersebut, kedua matanya tertutup rapat sampai ia berhenti merasuki tubuh Beval yang kembali bangun dengan tatapan tenang seperti mengantuk.


"Baiklah, urusanku di sini sudah selesai." Erion menepuk punggung Keith sampai ia mulai salah tingkah lagi karena gurunya baru saja memberi dirinya sebuah kode untuk melakukan pergerakan pertama.


"Aku ingin memeriksa kondisi di luar sana, apakah kau bisa mengamankan Grimoire itu? Banyak sekali halaman yang sudah kau hafal dan sempurnakan karena lebih berbakat."


"Ehh... kenapa tidak Anda saja yang menyimpan dan mengamankannya?" Tanya Keith yang melihat Grimoire itu terletak pada patung dengan kedua tapaknya yang terbuka seperti memohon.


"Aku sudah mendapatkan berkah secara langsung dari Dewa Erion, aku tidak membutuhkan Grimoire itu lagi... kau yang lebih cocok karena kombinasi Grimoire dan seorang Saint Legenda itu mematikan."


"Kalau begitu, selamat bersenang-senang kalian berdua. Dan Shinobu, selamat datang di kepercayaan angin." Beval pergi meninggalkan mereka berdua sendirian.


Shinobu menatap Keith lalu tersenyum polos sehingga menyentuh hatinya seketika karena senyuman itu terlihat sangat jelas seperti bunga yang bermekaran.


Sekarang Shinobu sudah menjadi salah satu dari mereka yang mengartikan tidak ada jarak yang dapat memisahkan mereka berdua, Negeri angin dan tentunya kepercayaan angin semuanya bersangkut paut dengan kebebasan.


"Keith."


"Iya?"


"Anu... Ajak aku... ajak aku... mengelilingi kuil." Kata Shinobu selagi menyentuh kedua jarinya dengan tatapan yang terlihat malu.


Keith dengan senang hati akan membawa dirinya kemana saja, ia mendapatkan kesempatan yang bagus sekali karena bisa mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkannya secara langsung kepada Shinobu.


Pada akhirnya, mereka berdua pergi untuk mengunjungi setiap tempat dan ruangan yang berada di kuil itu, karena ukuran kuilnya yang sangat besar jadi mereka menghabiskan waktu yang lumayan lama dengan berbicara.


"Ahh... kamu berhasil menciptakan kedua lengan dan kaki baru yang asli ya...? Ternyata kamu memang genius." Kata Keith yang melihat kedua lengannya.


"Mm... Koneko sudah berjuang, setidaknya semua ini sudah cukup untuk memperluas batasan terhadap fisikku ketika aku mencoba untuk bertarung." Shinobu menggerakkan kedua lengannya itu.


"Namun, aku masih kurang... aku masih terlihat tidak begitu sempurna seperti Legenda lainnya, ahahaha..." Shinobu terkekeh pelan.


"Itu tidak benar!!!" Seru Keith yang langsung menggenggam erat kedua tangannya sampai wajah Shinobu memerah karena ia dapat merasa tangan seorang lelaki yang begitu berbeda.


Kasar dan besar sampai ia tidak sanggup merasakan perasaan tersebut, "Anu... Anu...! Fuehh!?"


Shinobu terlihat panik seketika, "Kamu adalah gadis sempurna yang aku kenal... sungguh indah, seperti bunga yang baru saja bermekaran dan tentunya sinar matahari yang selalu menyinari pagi hariku!"


"Fueeehhhh!?!?" Shinobu bertambah semakin malu, ia ingin melepaskan genggaman tersebut tetapi Keith menggunakan tenaganya agar membiarkan Shinobu seperti itu.


Sudah lama sekali ia menyimpan perasaan tersebut, sejak kecil dan tidak bisa melihat sampai sekarang yang sudah menjadi seorang Saint Wind dengan berkah dewa angin.


"Luka yang kamu miliki di pipi kiri itu terlihat sangat indah, Shinobu Koneko..."


"...kau adalah harapan bagiku, harapan yang sudah memberiku arti dari kehidupan yang sebenarnya sampai aku terus melanjutkannya."


"Aku ingin kita menahan semua kesakitan dan penderitaan yang kita rasakan... bersama-sama... bukan sebagai teman atau pengikut angin melainkan satu keluarga..."


Shinobu memasang tatapan yang terlihat sangat kaget karena pikiran Keith saat ini berisi tentang cinta pandangan pertama serta harapan yang memberi dirinya arti kehidupan untuk tetap lanjut dalam dunia yang pedih ini.


"Shinobu Koneko... aku mencintai dirimu... Aku sangat mencintai dirimu, tetaplah menjadi harapan yang terus bersinar untukku!" Seru Keith yang langsung menciptakan objek melalui angin yang lewat.


Angin itu menciptakan objek hijau menjadi sebuah logam yang terbentuk seperti cincin, "Angin adalah kebebasan... walaupun umur kita masih belum cukup, setidaknya terima cincin ini."


"Fuehhh!? Aku... Anu..." Shinobu langsung salah tingkah, kedua matanya menatap arah yang berbeda sehingga ia sempat melihat ekspresi Keith yang terlihat sedih jika ia menolaknya.

__ADS_1


"...mm, boleh... kalau begitu... ini cincin janji ya...?" Tanya Shinobu sehingga menyebabkan ekspresi Keith berubah menjadi sangat senang sampai cincin itu ia masukkan ke dalam jari manisnya.


Keith langsung memeluk Shinobu dengan sangat erat, tidak memiliki keberanian untuk memberinya sebuah kecupan atau apapun itu, mereka pasti tetap saja polos.


Namun, Keith mengetahui pernikahan itu dari Dewa Erion sendiri yang bilang bahwa ia akan memberkahi pasangan yang akan menikah dalam negara angin, dengan embusan angin yang membawa mereka menuju masa depan cerah.


Shinobu menepuk punggungnya pelan-pelan lalu ia bisa melihat jam di mata buatannya itu sudah menunjukkan pukul tiga sore.


"... ..." Kedua mata Shinobu sempat berubah menjadi merah sampai warna bola matanya yang putih berubah menjadi hitam, ia menumbuhkan kukunya sangat tajam.


"... ...!!!" Shinobu berubah kembali seperti semula lalu ia memeluk kembali selagi menunjukkan senyuman polos.


Setelah itu, mereka kembali ke dalam ruangan utama dari kuil tersebut. Mengetahui Shinobu yang suka belajar terutama lagi membaca buku, ia memberikan Grimoire itu kepada Shinobu yang saat ini sedang membaca.


Tidak membutuhkan tiga detik, Shinobu mengetahui isi dari Grimoire tersebut sampai mantra penghancur yang berada di halaman terakhir sudah ia hafalkan dalam pikirannya sendiri.


"Rasanya cukup hangat di dalam hatiku ini... memiliki seorang istri yang begitu cerdas, imut, dan penyayang." Kata Keith dengan pipi yang memerah.


"Negara kebebasan ya... angin yang berkaitan dengan kebebasan, apakah kita tidak perlu mengadakan rapat atau upacara semacamnya...?" Tanya Shinobu yang terlihat masih malu-malu.


"Oh benar juga ya... kalau begitu, aku akan mempersiapkan ritual pernikahan negara angin, tunggu sebentar ya."


"Mungkin aku bisa mencarinya dalam toko buku soal cara-cara." Keith terbang keluar dari dalam jendela itu untuk mengambil sebuah buku yang berisi tentang tahapan ritual.


Shinobu terdiam seketika, melihat buku yang ia pegang. Ia langsung menempatinya kembali di atas tangan patung tersebut lalu mengeluarkan lambang angin di dalam tubuhnya.


"... ..." Shinobu tersenyum jahat lalu ia menyentuh dadanya sendiri dan melepaskan gelombang cahaya yang cukup untuk membunuh dirinya sendiri sampai menghilangkan lambang kepercayaan.


Shinobu mengorbankan satu nyawanya hanya dengan alasan untuk menghancurkan lambang kepercayaan, dengan ini ia bisa bersikap apa yang dia Inginkan terhadap semua pengikut kepercayaan termasuk dengan Keith.


Beberapa menit kemudian, Keith kembali dengan sebuah buku yang langsung Shinobu berikan, ia mengambilnya lalu membacanya sebentar.


"Baiklah... kita harus melakukannya bersama-sama." Shinobu mengulurkan lengan kanannya lalu tersenyum polos sampai Keith juga ikut tersenyum untuk menggenggam tangannya.


""Aku bersumpah atas nama Dewa Erion dan angin...""


""...akan menjadikan pasangan ini sebagai pasangan yang bahagia, diberkahi dengan kebebasan dari angin yang membawa kedua pasangan menuju masa depan yang indah.""


Perkataan yang mereka sebutkan mendadak tidak berhasil, itu semua disebabkan oleh Shinobu yang sudah membunuh dirinya yang masih memiliki lambang kepercayaan itu.


Kedua pasangan tidak akan bisa melakukan ritual pernikahan tanpa sebuah kepercayaan terhadap angin itu sendiri, "Loh? Tidak berhasil..."


"Kalau begitu... kita coba sekali lagi..."


Shinobu dan Keith memejamkan kedua matanya, ""Aku bersumpah atas nama Dewa Erion dan angin...""


Karena Keith tidak membaca buku itu jadi ia hanya mengikuti perkataan Shinobu, ia dapat mengerti semua ucapannya dan mengeluarkan perkataan yang sama dengan kandungan cinta.


"Ulangi..."


"Baik."


""Aku bersumpah atas nama Dewa Erion dan angin...""


Shinobu langsung tersenyum jahat, "...bebaskan angin, dan hancurkan buku itu."


"Bebaskan angin, dan hancurkan buku itu..."


Keith membulatkan kedua matanya seketika karena sadar bahwa dirinya yang terbawa suasana dengan suara lembut Shinobu baru saja mengatakan mantra penghancur untuk buku itu.


"Tu-Tunggu apa...?" Mereka berdua langsung disambut dengan suara gemuruh angin yang keras sampai wajah mereka menerima embusan tersebut yang berasal dari Grimoire.


Keith menatap Grimoire itu yang terbuka lebar sampai mengeluarkan banyak angin, semua halaman mulai robek dengan sendirinya termasuk sampul dari buku tersebut sampai perlahan-lahan mulai hancur.


"Tunggu...!!! Apa yang...? Kamu mengucapkan mantra yang salah, Shinobu!" Keith terlihat kaget sampai buku itu langsung hancur dengan berubah menjadi angin yang keluar.


"M-Maksudmu---" Ketika Keith menatap Shinobu, dadanya menerima tembakan laser cahaya yang cukup tebal sampai meninggalkan lubang besar di dadanya yang langsung mengeluarkan darah seperti air terjun.


"A-A-Agghhh...!"


"Ritual membodohi seorang Saint sepertimu." Jawab Shinobu dengan tatapan yang mengancam.


"S-Sakit... Sakit sekali...!!! Aggghh...!!!" Keith menutup lubang lukanya itu lalu ia menatap Shinobu dengan tatapan sedih.


Dua kesakitan yang bisa ia rasakan yaitu perasaan tersakiti bersamaan dengan luka lubang di dadanya, Shinobu yang ia anggap sebagai bidadari dan seorang gadis yang polos ternyata hanya setan yang memakai topeng bidadari.


"Ke... Kenapa... kenapa... Shinobu...?" Keith memasang tatapan yang terlihat histeris karena ia baru saja ditusuk dari belakang oleh Shinobu.


"Mm~ aku yang kamu panggil Shinobu, seorang pemberontak... seorang keturunan Shiratori dan Comi."


"Aku membaca semua isi pikiranmu kok~ terima kasih karena sudah mencintai Koneko~ tetapi aku harus menolaknya karena kita adalah musuh." Shinobu berbicara seperti gadis polos sekarang.


"A... Apa...?"


"Aku tidak tertarik dengan yang namanya dewa... kedua mata yang kau gunakan adalah pemberian terakhir untuk dirimu karena aku pikir kita tidak akan berurusan lagi."


"Tetapi... kamu adalah seorang Saint Wind, seseorang yang dipilih oleh dewa dengan diberikan tugas paksaan... apakah kepercayaan perlu di lakukan dengan cara paksaan?"


"Intinya Koneko tidak begitu tertarik dengan yang namanya cinta, hehehe~ aku masih kecil... aku juga pembawa sial atas nama keturunanku yaitu Comi."


"Terkutuk... kau juga ikut terkutuk karena mencintai gadis sial sepertiku." Shinobu terkekeh pelan.


"Kenapa... kau harus melakukan ini... aku kira kau adalah bunga yang bermekaran..."


"Mmm~ Koneko adalah bunga, bunga yang cantik tetapi sangat mematikan dari dalam dan bagian tertentu." Shinobu mengangguk selagi memejamkan kedua matanya.


Keith masih terlihat sangat kaget dan histeris, harapannya untuk terus melanjutkan hidup terutama lagi melihat masa depan cerah bersama Shinobu hancur begitu saja, selama ini dia dimanfaatkan.


Semua ekspektasi dan mimpinya hancur sampai ia mulai menangis karena sakit hati, "Kau adalah harapanku... Shinobu... kenapa..."


"Kamu tidak mengerti ya?" Shinobu memasang tatapan jengkel sekarang, kedua matanya yang memancarkan cahaya merah.


"Harapanku tidak bisa dilihat terlalu lama oleh orang yang berbeda dan tidak mengerti soal pola pikiranku..."


"...harapan yang aku berikan dan tunjukkan akan terus bersinar secara abadi sampai menyebabkan kebutaan bagi mereka yang terus melihatnya tanpa mengetahui apa isi di dalamnya!"


"Kau salah satu orang yang tidak mengerti tentang hal itu... kau sudah buta karena harapanku... bagi manusia biasa, melihat cahaya terlalu lama akan menyebabkan gangguan bagi mata mereka yang berkemungkinan untuk membutakan!"


"Kau tidak memiliki kacamata itu... kacamata yang aku maksud adalah kepercayaan... aku merasakan kepercayaan cinta dan rasa sayang darimu..."


"...tetapi itu hanya kacamata berwarna putih... masih menyebabkan matamu untuk buta, lensa putih itu disebabkan karena kau percaya akan dewa elemen sampai semuanya selalu saja bersangkut paut dengan Erion!"


"Kau sendiri memaksa mereka... yang memiliki kepercayaan dengan pilihan mereka sendiri untuk masuk ke dalam kepercayaan angin... kebebasan dengan arti paksaan keras di awal!"


"Cinta berat sebelah itu tidak akan berjalan dengan baik... terutama lagi jika aku sendiri tidak percaya padamu, seorang Saint yang menyembah dewa!" Shinobu memasang tatapan jijik kepada Keith.


"Ternyata... pemberontak sepertimu... hanya mengincar dewa dan pengikut---"


"Apapun itu, mereka yang tidak bisa bertahan melihat harapanku akan mendapatkan kematian dariku sendiri."


"Aku bukanlah pengikut angin lagi karena diriku sudah bunuh diri... sekarang adalah nyawa yang ke delapan."


"Se-Sejauh itu... kau sampai... menghilangkan kepercayaan angin... dengan bunuh diri...? Kau tidak takut kematian...?"


"Kematian sudah menjadi sarapan bagiku diriku, maupun itu mereka yang aku lawan atau diriku sendiri. Aku sering merasakannya sampai menjadi hal yang biasa..."


"...bertahun-tahun aku mengorbankan nyawaku untuk melakukan sesuatu yang berguna bahkan..."


"...dewa dan dewi kematian ketakutan dengan eksistensiku--- tidak, Kematian sendiri takut dengan diriku." Kata Shinobu dengan tatapan yang terlihat sangat serius dan mengancam.

__ADS_1


"Ingatlah ini... aku hanyalah harapan yang menyebarkan harapan itu dengan caraku sendiri... melalui pola pikiran yang berada di dalam kepalaku."


"Maupun itu, ras... bangsa... raja... kaisar... dewa... dewa agung... semua yang berkuasa..."


"...mereka yang tidak pantas untuk melihat cahaya itu sampai akhir akan mati."


"Aku tidak segan untuk membunuh siapa pun itu... derajat apapun yang kalian miliki, aku tidak peduli."


"Aku, Shinobu Koneko, harapan yang terus bersinar akan terus memancarkan cahayanya untuk mengubah dunia..."


"...dengan itu aku ingin melakukannya secara bertahap dengan membunuh para ras tidak berguna... dan tentunya mereka yang memiliki julukan berbeda seperti kaisar atau dewa..."


"Mereka yang menghalangi akan aku bunuh juga... termasuk kau juga..."


"Tidak mungkin..."


"...kau..."


"... sialan---" Shinobu langsung menghancurkan kepala Keith dengan melepaskan gelombang cahaya, setelah itu ia terbang ke atas langit.


Shinobu mengangkat lengan kanannya ke atas lalu mengumpulkan cahaya di sekitarnya untuk membentuk matahari yang langsung ia lempar menuju kuil tersebut sampai menyebabkan ledakan besar.


"Koneko..." Shinobu yang tadinya memasang tatapan jahat kembali terlihat polos.


"...sudah berjuang~ hehehe~"


***


~Chapter Terakhir 2020 Selesai~


"Sudah satu tahun saja ya... waktu berjalan begitu cepat." Kata Shira sambil menikmati secangkir kopi.


"Mm... Kakek sudah ada sejak dua tahun yang lalu ya, 2019... awal mula 2020 itu ketika melawan raja Iblis yang bernama Rxeonal."


"Itu benar... terasa begitu cepat sampai sekarang aku melihat dirimu yang akan menggantikan diriku bersama dengan Ayah dan tantemu itu."


"Fuehhh!? K-Koneko baru saja melakukannya selama tiga bulan... aku tidak siap!" Kata Shinobu dengan tatapan yang terlihat malu.


"Hahaha... satu tahu ini cukup menyenangkan, banyak sekali musuh muat berdatangan dan tentunya setiap bulan yang berlalu saja kita menerima konflik sulit."


"Zaman dulu sulit sekali ya... ada Rxeonal... Komi... Kuharu... Redagon... Oskadon... Zoiru... Bam bam... Regulus... Diablo... Satori... Zodiac Crusaders... dan Aerith..." Kata Shinobu.


"Banyak sekali ya... apakah tahun selanjutnya musuh baru akan bermunculan?" Tanya Shinobu.


"Mungkin saja... semoga saja tidak ada korban yang berguguran lagi, kita sudah kehilangan banyak orang yang sangat penting di tahun ini." Shira memasang tatapan sedih sampai Shinobu langsung mengelus kepalanya.


"Fuehhh!? Kakek! Kakek! Sudah di mulai...! Mereka sedang membaca selagi tiduran di atas kasur sekarang!" Kata Shinobu selagi menunjuk kamu, (iya kamu yang sedang membaca :v).


"Ahh, kalian sudah sampai sini juga ya... Yo! Aku adalah Shiratori Shira, kalian pasti mengenal diriku sebagai Legenda yang berjuang keras bukan, hahaha..."


"...terima kasih karena sudah mencapai titik ini, satu tahun bersama Yuusuatouri dan tentunya semua orang yang berada di dunia tersebut."


"Satu tahun yang cukup panjang ya~ aku sampai sekarang masih ingat melawan Rxeonal... raja iblis yang sangat kuat sampai aku membutuhkan harapan semua orang untuk membunuhnya."


"Banyak sekali hal yang sudah terjadi, kita semua membuat kalian tertawa, merasa gembira, dan sampai membuat perasaan kalian sedih."


"Anu... singkatnya kami ingin berterima kasih kepada kalian semua... terima kasih karena sudah melihat perjuangan kami selama satu tahun penuh." Kata Shinobu.


"Di mulai dari bab 80 sampai bab 850... tahun selanjutnya adalah bagianku, Koneko akan berjuang!" Kata Shinobu selagi memasang tatapan penuh tekad.


"Itu benar... sekarang masih giliranmu ya, cucuku yang sudah mau berubah dan menangis."


"Fuehhh!? Jangan mengungkit masa lalu...!"


"Hahaha, maaf-maaf... di tahun selanjutnya yaitu 2021 pasti akan banyak sekali konflik dan musuh yang bermunculan sampai kamu harus siap ya, cucuku."


"Kakek tidak membantu?"


"Tentu saja tidak, aku hanya ingin menikmati kehidupan seorang Kakek yaitu menikmati kopi, baca koran, dan tentunya taruhan bersama temanku."


"Jangan kebanyakan kopi..."


"Ahahaha... rasanya pahit, seperti kehidupan kita semua."


"Benar juga ya..."


Shira dan Shinobu langsung minum air putih untuk mengatakan sebuah pengumuman untuk kalian... ya... kalian para pembaca.


"Yuusuatouri: A New Life Being a Legend! Bab 850 adalah chapter terakhir dari tahun ini yaitu 2020..."


"...hari pertama dari 2021 akan menjadi pembuka menuju Arc baru yang menceritakan tentang perjuangan kelima gadis pemberontak untuk melawan dewa berserta dengan kandidatnya!"


"Dengan ini, aku, Shiratori Shira menyatakan bahwa Yuusuatouri: A New Life Being Legend tidak akan tamat pada chapter 1000 karena tambahan Arc dan chapter lainnya...!"


"Nantikan ya!"


"A-Anu... Yuusuatouri akan memiliki cover baru di tahun 2021 dengan judul baru yang akan memperlihatkan bab 1000 dan seterusnya dengan judul..."


"Yuusuatouri: Boundless!"


"Jangan sampai tertinggal ya~ Koneko harap... anu... kalian bisa tetap semangat untuk menjalankan hidup di tahun selanjutnya!"


"Kamu sudah melakukan yang terbaik, Shinobu! Sungguh gadis yang baik..." Kata Shira sambil mengelus kepalanya pelan-pelan.


"Kalau begitu... tahun selanjutnya pasti akan berkaitan dengan cucuku yang menjadi penerus garis keturunan terakhir Shiratori." Shira bangkit dari kursinya lalu ia berjalan pergi.


"Shinobu... selanjutnya adalah kamu." Shira menatap ke belakang sehingga pandangan Shinobu melihat Kakeknya yang terluka tetapi dia tetap memasang tatapan serius padanya.


...


...


"Selanjutnya adalah dirimu..."


"...Shiratori Shinobu."


"Fueehhh? Kenapa Kakek jadi tidak pakai baju sampai terluka seperti itu...?"


"Ehh! Tunggu! Kakek, kita belum mengucap salam perpisahan!" Shinobu menatap kalian kembali lalu ia menoleh ke belakang dan melihat Shira sudah menghilang.


"Fueh...?"


"Kakek?"


"Kakekkkkk!"


"Kakek malah pergi duluan seperti itu... kalau begitu semuanya, terima kasih karena sudah membaca Yuusuatouri di tahun 2020 sampai akhir tahun 2020."


"Selamat tahun baru ya..."


"...semoga tahun selanjutnya bisa menjadi yang lebih baik, tanpa ada masalah seperti duniaku ini... huhhh... sedih sekali..."


"...dan..."


"...semoga kalian bisa menikmati Discord bersama Author tercinta ya."


"Hehehe."


"Sampai jumpa." Shinobu melambaikan tangannya.

__ADS_1


__ADS_2