
Pyro muncul di sebelah Admon dengan tatapan kesal karena ia baru saja gagal untuk merebut Grimoire of Flame, semua itu disebabkan oleh Hinoka dan Ako yang berhasil menipu dirinya.
"Biar aku tebak, kau pasti gagal."
"Jika aku gagal kenapa!? SIALAAAANN...!!! AKU SUDAH DEKAT SEKALI...!!!" Seru Pyro sampai rambutnya melepaskan api yang meletus sampai menyebabkan suhu ruangan bertambah panas.
"Kau memang memiliki masalah soal amarah ya... terus saja marah-marah tidak jelas seperti itu, amarahmu tidak akan mengubah kehancuran terhadap Grimoire itu." Kata Admon.
"Apa yang kau katakan tadi, Admon!? Brengsek kau...!!! Berani-beraninya kau berbicara seperti itu di hadapan kandidat api sepertiku...!!! Sialan!!!" Pyro mengatakannya tepat di hadapan Admon selagi mencengkeram kerah bajunya.
Kata demi kata ia keluarkan dengan suara yang keras sampai membasahi wajah Admon dengan air ludahnya itu, tidak salah lagi dia dikatakan sebagai kandidat api karena emosinya seperti kompor yang terbakar.
Admon langsung menyentuh leher Pyro lalu mencabut sebuah kubus yang terdapat pita suara di dalamnya, Pyro melebarkan kedua matanya lalu ia berlutut di atas tanah selagi menyentuh lehernya yang mengeluarkan banyak darah.
"Jika kau bersikap tidak sopan kepadaku maka aku bisa saja mengambil jantung itu dan menyimpannya dalam kubus batu." Peringat Admon.
"Admon, bagaimana tentang kerja sama itu? Kita sudah terasa seperti pecah belah karena ini, tetap fokus kepada satu ujian." Kata Lucia yang melihat kedua kandidat itu mulai bertengkar.
"Kau dengar dia, Pyro. Jangan sampai kita pecah belah, sama halnya dengan kegagalan yang para kandidat rasakan beberapa tahun lamanya." Admon memasukkan kembali kubus itu ke dalam leher Pyro untuk memperbaikinya.
"Ck!" Pyro membalikkan badannya selagi menyilangkan kedua tangannya.
Admon hanya bisa diam lalu meminta pengikutnya untuk memberinya satu cangkir teh agar bisa menjernihkan pikirannya, kelima pemberontak itu benar-benar lawan yang harus mereka hentikan.
"Selalu saja ada...!!! Yang mengacaukan segalanya!!! Beberapa tahun yang lalu, para pemberontak juga mengacaukan...!!!"
"Sialan...!!!" Teriak Pyro keras sampai kepalanya melepaskan pembakaran besar
...
...
Di saat Ako dan Hinoka yang mencoba untuk mencari Grimoire of Flame, mereka bisa melihat hutan kebakaran karena disebabkan oleh buku sihir itu yang aktif secara pasif dimana pun tempatnya itu.
Buku tersebut sudah pasti panas sampai menyentuh daratan saja sudah menciptakan api unggun yang perlahan-lahan membesar sedikit demi sedikit sampai menyebar luas, mengenai dedaunan sampai pohon.
"Ako! Hinoka! Aku menemukannya." Panggil Anastasia yang menemukan kebakaran hutan dari arah barat sampai ia mulai pergi duluan menggunakan sapu terbangnya.
Ketika Anastasia di hutan yang terbakar itu, ia bisa melihat seseorang dengan tubuh yang diselimuti zirah api mulai mengambil buku sihir itu dan mencoba untuk menyerap kembali semua api yang membakar hutan tersebut.
Namun, orang tersebut dapat merasakan keberadaan Anastasia dengan jelas sampai ia langsung meludah air ludah melalui mulutnya menuju arahnya.
Anastasia langsing memunculkan biolanya yang menciptakan perisai musik, tetapi ia bisa melihat perisai yang terkena serangan air lahar langsung membeku menjadi batu keras yang berhasil orang itu hancurkan.
"Gawat...!" Anastasia memasang tatapan kaget ketika melihat orang itu membuka kepala zirahnya, ia sudah mempersiapkan kedua tangannya untuk menahan, tetapi...
Pria api yang mencoba untuk memukul Anastasia langsung menangkap tembakan tanah yang berada di daratan, pria itu melihat Ako terus menembak banyak sekali panah air menuju arah dirinya.
__ADS_1
"Kalian akhirnya datang juga... gadis kecil naif yang mencoba untuk merebut Grimoire...!!!" Seru Pyro yang selama ini berada dalam zirah itu lalu menghilang begitu saja.
Hinoka yang sedang mengincar Grimoire itu berhasil menangkapnya sampai kedua tangannya terbakar tetapi tidak memberikan efek apapun, ia mulai membuka buku itu lalu melihat sebuah air lahar terlepas dari setiap halaman yang terbuka.
Semua air lahar itu langsung menghilang sampai memunculkan angin panas yang mengelilingi mereka semua, badai api telah terjadi di sekeliling mereka sampai menyebabkan tubuh mereka langsung berkeringat.
Anastasia yang berada di atas langit bisa melihat hutan itu diselimuti dengan pusaran angin api yang cukup panas sampai tubuhnya ikut berkeringat, Hinoka dan Ako langsung menyelimuti tubuh mereka dengan Lenergy agar tidak menerima efek pembakaran.
"Cepat hancurkan itu, Hinoka...!"
"Su-Sulit sekali...! Setiap halaman terbakar sampai aku tidak bisa membaca perkataan yang terkandung dalam halaman ini...!" Kata Hinoka selagi memegang buku sihir yang terbakar dengan api.
Pembakaran itu tidak mampu untuk menghancurkan bukunya tetapi Hinoka tidak bisa membacanya, Ako mulai mendekati dirinya tetapi ia bisa merasakan serangan di atasnya.
Secara refleks Ako melakukan backflip ke belakang dengan tambahan tiga panah yang ia lepas ke depan, Pyro berhasil membakarnya menjadi debu lalu ia menghilang kembali menjadi api yang membakar daratan.
"Hinoka...! Dia bisa mengubah dirinya menjadi ap--- Hugghhh...!!!" Leher Ako langsung tercekik dengan api yang sempat membentuk objek seperti tali yang mencekik lehernya.
Lehernya perlahan-lahan mulai terbakar tetapi Ako langsung mengerahkan Lenergynya melalui tapak kanannya untuk menciptakan lubang hitam kecil yang menyedot semua tali api itu sampai ia bebas.
"Ako! Cepat tembak buku ini dengan sihir air...!" Teriak Hinoka yang mulai kepanasan, Ako mencoba untuk membidik tetapi api yang membakar tubuh bagian kirinya mulai mengeras menjadi batu obsidian.
"Cobalah membuka buku itu dan menghancurkannya... kalian akan mati lebih cepat dengan api itu atau mungkin mengeras menjadi obsidian." Ungkap Pyro yang sedang menyamar dalam api.
"Kalian juga cukup nekat untuk berpisah seperti itu... dua orang belum cukup untuk mengalahkan diriku, terutama lagi penyihir itu."
"Aku yakin sisanya saat ini sedang sibuk mengurusi hal lainnya... aku hanya perlu menyingkirkan kalian sampai tidak menyisakan apapun kecuali debu...!"
Hinoka yang sudah mengarah buku itu kepada panah langsung dikejutkan dengan ledakan air lahar di hadapannya sampai membentuk batu obsidian yang mulai menahan semua panah air itu..
"Dia mengeluarkan air lahar dari inti bumi...!? Mengeras menjadi obsidian untuk menahan sihir air itu, aku tidak yakin sihir air kecil bisa menghentikannya...!" Ungkap Ako yang mulai menciptakan panah lainnya.
Ako melebarkan matanya ketika melihat kedua kakinya mengeras menjadi obsidian, Anastasia yang berada di atas langit mencoba untuk masuk tetapi ketika tubuhnya menerima api lahar.
Anggota tubuhnya ikut mengeras menjadi obsidian sampai ia segera bersiul, melepaskan nota musik yang menghancurkan semua obsidian itu agar ia dapat membantu Ako dan Hinoka yang sedang kesulitan.
"Nrggghhh...!!!" Hinoka melihat baju kanannya mengeras menjadi obsidian sampai tangannya tidak memiliki tenaga cukup untuk menahan kepanasan dari buku yang ia pegang.
"Semua badai api ini... menjatuhkan air hujan... yang diganti menjadi air lahar dengan pengerasan cukup cepat... atau mungkin semau penggunanya!" Peringat Hinoka yang melihat ke atas sampai banyak sekali tetesan lahar mulai berjatuhan.
"Wilayah kita telah menerima badai api dengan hujan lahar yang tercipta karena sihir kandidat api itu..."
"...hampir sama seperti terjebak dalam badai hujan dimana setiap tetesan hujan akan terasa sangat sakit karena menusuk, semuanya akan membeku jika menerima efek es sedangkan api ini."
"Dia bisa mengubahnya menjadi batu-batuan dan obsidian sesuai dengan keinginannya... akan sangat bahaya jika kita terjebak di dalam obsidian itu!" Peringat Hinoka yang langsung meledakkan obsidian di bahunya.
"BRENGSEK!!! KENAPA LAMA SEKALI PENGERASAN OBSIDIAN ITU!?" Teriak Pyro sampai menyebabkan daratan melepaskan lebih banyak air lahar yang mulai berjatuhan ke arah marah.
__ADS_1
Untungnya Anastasia datang dengan bersiul cukup keras sampai memunculkan nota lagu yang menahan semua lahar itu seperti payung, saat ini ia tidak bisa menggunakan alat musik karena semuanya akan terbakar hangus.
"DASAR GADIS BODOH...!!! MENGGANGGU SAJA...!!!" Seru Pyro dimana ia yang sedang berada dalam wujud api mulai berputar sampai membentuk cincin api yang terlepas ke arah mereka.
"Anastasia! Ako! Lindungi tubuh kalian dengan Lenergy...!" Hinoka mengangkat jarinya lalu ia menusuk daratan sampai menyebabkan ledakan besar yang menghancurkan daratan.
Mereka semua langsung terjatuh ke dalam lubang yang disebabkan karena ledakan Hinoka, Ako yang mengeras karena obsidian itu langsung masuk ke dalam lahar yang berada di batasan tanah paling dalam.
Pengerasan obsidian itu mulai hancur oleh Hinoka yang berhasil menyentuhnya lalu mengubahnya menjadi ledakan instan yang hanya menghancurkan objek sentuhan jarinya, tidak memberikan efek kepada Ako.
"Pemikiran yang cepat, Hinoka." Kata Anastasia yang langsung berenang menuju dasar air lahar untuk mengeluarkan siulan yang menciptakan nota lagu untuk menutup lubang tersebut.
"Cih... itu pasti keturunan Comi yang dapat mengendalikan Realita, namun dia tidak bisa mengubahnya menjadi sesuatu yang berguna melainkan ledakan."
Pyro membentuk tubuhnya kembali melalui api lalu memunculkan zirah yang terbakar sampai kedua tangannya menciptakan penggali otomatis yang membantu dirinya untuk masuk ke dalam tanah untuk mengejutkan mereka dari arah berbeda.
"Kalian tidak akan bisa lari...! Masuk ke dalam neraka itu sendiri adalah kesalahan TERBESAR!!!" Pyro berada di permukaan yang sama dengan Hinoka bersama yang lainnya.
Hinoka melempar Ako ke atas lalu ia melepaskan panas besar air yang langsung mengubah lahar itu menjadi batu dimana Hinoka terjebak di dalam batu tersebut dengan sengaja untuk melakukan sesuatu.
Ako langsung melepaskan panah air lainnya kepada Anastasia yang sedang memegang sebuah suling, suling itu berhasil ia raih lalu dimainkan sampai menciptakan nota lagu yang melindungi tubuhnya bersama Ako.
"Counter-Reality: Explosive!!!" Seru Hinoka yang berada di dalam batu itu sampai tubuhnya memancarkan yang merah lalu meledakkan tubuhnya sendiri sampai mengejutkan Pyro yang berada di jarak dekat dengan Hinoka.
"HWAAAAGGGHHHH!!!" Pyro menerima ledakan tersebut sehingga di kedalaman tersebut langsung memicu air lahar besar yang meledak sampai mementalkan Hinoka bersama dengan kedua temannya keluar dari dalam daratan.
Ako menutup daratan itu secepat mungkin dengan melepaskan air ke arah letusan lahar itu yang langsung mengeras menjadi obsidian, Hinoka saat ini masih memegang Grimoire yang terbakar itu.
Mereka bertiga mendarat di atas tanah lalu Anastasia mengeluarkan sapu terbang yang cukup panjang agar mereka bisa menungganginya lalu melarikan diri dari Pyro agar bisa menghancurkan Grimoire itu.
Anastasia langsung terbang pergi meninggalkan badai itu tetapi Ako melihat sapu tersebut memiliki sedikit api yang langsung menyebar sampai menciptakan tali yang Pyro genggam.
"Tidak mudah untuk lari dariku...!"
"Dia dapat memanipulasi api sekecil apapun sampai menciptakan objek seperti tali yang ia pegang!" Peringat Ako selagi melepaskan banyak sekali panah menuju arah Pyro.
Anastasia terus fokus ke depan, mengerahkan semua Lenergy yang ia miliki untuk dijadikan sebagai sumber kecepatan bagi sapu terbangnya sedangkan Hinoka sibuk membuka halaman yang terus membakar wajahnya.
"Hinoka, apakah kamu sudah---" Lengan kanan Ako berhasil diraih oleh Pyro yang perlahan-lahan membentuk tubuh bagian atasnya dari tali api yang dekat dengan Ako.
"Jangan rusuh seperti itu..." Tangannya yang menyentuh Ako mengeluarkan lahar yang langsung mengeras sampai ia tidak bisa menembak panah itu kembali padanya.
"Hancurlah!" Pyro yang mencoba untuk menghancurkan tangan Ako langsung menerima satu pukulan ledakan dari Hinoka yang meretakkan zirah kepalanya.
Hinoka melempar Grimoire itu ke depan lalu melancarkan pukulan ledakan bertubi-tubi kepada Pyro sampai pukulan terakhir yang mengenainya mulai melepaskan ledakan besar yang berhasil Pyro serap dengan tarikan nafasnya.
"Dia menyerap ledakan itu...!? Aku sudah mengendalikan realita untuk sihir dan dirinya yang pasti akan terefek oleh ledakan itu..." Ungkap Hinoka.
__ADS_1
"Anastasia!" Seru Hinoka sampai Anastasia langsung melepaskan kecepatan penuh yang membawa sapu itu bersama mereka menuju tengah lautan.
"Bersiap untuk menabrak lautan...!!!"