
Haruka membuka kedua matanya, melihat dirinya mengenakan pakaian gadis surga yang mengartikan dirinya tidak terikat dengan apapun karena sudah masuk ke dalam surga sebagai tempat istirahat terakhirnya.
"Itu artinya... tadi adalah nyawaku yang terakhir ya..." Haruka menundukkan kepalanya, kedua matanya mengeluarkan banyak air mata karena ia masih ingin menghabiskan waktu lebih lama di Touriverse.
Banyak sekali hal yang selalu ingin ia lihat tetapi takdir kematian menghentikan dirinya, mempertemukan Haruka kembali dengan kedua adiknya yang sudah gugur terlebih dahulu darinya.
"Koizumi... maafkan Ibu... selamat tinggal, nak." Haruka menoleh ke belakang, melihat upacara pemakaman dirinya dan ia bisa melihat Koizumi berada di paling depan masih menangis dengan fotonya yang ia pegang.
"Kakak!"
Haruka melebarkan kedua matanya, mendengar suara yang sudah lama sekali tidak ia dengar. Suara itu hanya membuat air mata Haruka mengalir lebih cepat.
"Yo, Kakak... sudah lama sekali kita tidak bertemu ya."
Haruka hanya bisa tersenyum sambil menghapus air matanya, ia menoleh ke belakang lalu melihat kedua adik yang sangat ia cintai dan sayangi yaitu Honoka dan Kou.
"Honoka... Kou..."
"Aku merindukan kalian...!!! Hwaaahhhh...!!!" Haruka bergegas maju menuju arah Honoka dan Kou lalu memeluk dirinya dengan sangat erat selagi melepaskan tangisan rindu yang begitu keras.
"Kita sudah bersatu kembali ya... syukurlah, aku kira dalam kematian kita tidak akan pernah bisa bertemu lagi." Kata Honoka.
"Honoka... Kou... aku sangat merindukan kalian..." Haruka mengatakannya selagi memberikan mereka semua sebuah kecupan di pipi sampai ia melihat Korrina mendatangi dirinya.
"Mama..."
"Haruka..."
"Sudah waktunya untuk beristirahat, nak. Apa yang kamu lakukan sela masa hidupmu, dari titik nol sampai sekarang... semuanya akan diwariskan kepada putrimu yaitu Koizumi." Ucap Korrina.
Korrina mengulurkan kedua lengannya sehingga Haruka langsung memeluknya dengan sangat erat, "Walaupun aku tidak sempat bertemu dengan Mama di Touriverse..."
"...setidaknya aku... aku masih bisa merasakan perasaan ini, menerima pelukan dan kasih sayang seorang Ibu."
"Kamu sudah menjadi seorang Ibu, tetapi masih manja ya, hahaha."
Haruka langsung berhenti berpelukan dengan Korrina, "Sadar...! Aku harus sadar umur, itu benar..."
Haruka tiba-tiba mengingat seseorang yang bisa dibilang sebagai pendamping hidupnya dulu, "Rokuro... dimana Rokuro...?! Aku ingin bertemu denganmu."
"Tidak perlu bertanya soal itu, istriku... ternyata kamu terlihat lebih cantik setelah Koizumi sudah tumbuh dewasa ya."
"Rokuro...!" Haruka tersenyum senang lalu ia melesat maju menuju arah Rokuro sehingga Korrina langsung memindahkan mereka menuju ruangan surga lainnya agar bisa menikmati waktu privasi.
"Hahhhhh..." Korrina menghela nafasnya.
"...sudah berkumpul sebagai saudara surga sekarang, hanya tersisa Ibu mereka... yaitu aku, wadah dari tubuhku masih berkeliaran di luar Touriverse."
"Sebentar lagi dia sudah pulang... segel dari ketiga putrinya sudah hilang karena mereka telah kembali pulang."
"Sekarang hanya bisa mengharapkan sesuatu yang besar kepada generasi baru... semoga mereka dapat bertahan cukup lama ketika menerima perubahan konsep sihir yang akan dihapuskan."
***
Koizumi berdiri tepat di depan kuburan Haruka, upacara pemakaman telah selesai beberapa menit yang lalu dan semua orang sudah bepergian kecuali Arata yang berdiri di sebelahnya.
"Dia adalah gadis yang sangat hebat..."
__ADS_1
"Aku tahu..."
"Sejak dia masih bayi, akademi permohonan terasa lebih mudah karena bantuan dirinya sejak bangsa iblis menyerang."
"Di tambah lagi ia sudah menghidupkan Touriverse beberapa kali, dia adalah Legenda yang sangat layak sampai rasa hormatku kepadanya tidak akan pernah mati."
"Aku ingin bisa membuatnya bahagia... tetapi sudah terlambat... apa yang bisa aku tunjukkan hanyalah hasil ketika aku mengalahkan seorang Dewa..."
"...aku ingin Mama melihatku bertarung di turnamen... atau mungkin melihat diriku sudah tumbuh sangat dewasa agar bisa membuat kenangan lainnya."
Arata menepuk puncak kepala Koizumi lalu mengusapnya pelan-pelan, "Kamu sudah membuatnya bangga, nak... seorang Ibu ketika melihat putri bisa menjaga dirinya sendiri sudah jauh lebih dari kata membanggakan."
Koizumi hanya bisa menjawabnya dengan anggukan laku ia melihat sebuah gambar yang sudah ia simpan di atas batu nisan itu, sebuah foto yang ia ambil atas permintaan dirinya ketika rambutnya sudah tumbuh panjang.
...
...
Koizumi mengepalkan kedua tinjunya, menyimpan rasa dendam yang tidak akan bisa diperbaiki. Rasa bencinya kepada para dewa membesar sehingga ia berjanji akan membuat Dewa yang membunuh Haruka merasakan penderitaan tanpa batas.
Beberapa menit kemudian, semuanya sudah menghilang, hanya Koizumi yang masih berdiri di depan kuburan Haruka yang sudah dipenuhi dengan kelopak bunga sakura.
Teman-temannya tidak menemani Koizumi karena ia sudah pasti membutuhkan waktu sendirian, Shinobu juga meminta mereka semua untuk membiarkan dirinya beristirahat tenang sendirian.
Koizumi melangkah pergi dari kuburan itu lalu ia kembali masuk ke dalam rumahnya, membereskan semua pekerjaan hanya untuk beristirahat di kamarnya.
Ketika ia sampai di dalam kamarnya, Koizumi melihat kubus waktu yang Haruka ciptakan dalam embusan terakhirnya, sebuah pesan terakhir yang ia berikan kepada Koizumi agar ia mau mendengarnya.
Koizumi mengambil kubus tersebut lalu ia duduk di atas kasur, kubus itu langsung menunjukkan Haruka yang sedang berbaring di atas pahanya selagi menatap dirinya dengan sebuah senyuman.
"...kejadian ini terjadi... tanpa siaga apapun... ibumu tidak memiliki semangat bertarung sejak dulu... karena... ibumu memang lemah... sering melarikan diri dari kenyataan... dan realita itu sendiri..."
"Mulai dari sekarang sampai seterusnya... kamu lah... harapan ibu satu-satunya... kamu lah... yang akan... membalaskan dendam... kematian Ibu... orang tua Ibu di kehidupan pertama..."
"...semua orang yang sudah diperbudak... dimanfaatkan... oleh dirinya... Zangetsu... dia telah kembali... jauh lebih kuat..."
"...dia memang tidak akan pernah bisa mati... resolusi yang Shira berikan saja... masih belum cukup..."
"...mungkin takdir mengatakan lain... yang harus membunuhnya bukanlah Shira... melainkan dirimu... kamu... adalah keturunan terakhir dari... Jikanaru..."
"...ya... itu adalah kehidupan ibu... yang pertama... orang tuaku yang asli... tetapi aku mengetahui... perintah Zangetsu yang meminta kedua orang tuaku untuk membunuh diriku..."
"...itulah kenapa... ibu melarikan diri... menjelajahi setiap masa dan dimensi... mencoba untuk memulai kehidupan baru... tetapi semuanya... berakhir dengan aku yang gugur..."
"...sampai sekarang... reinkarnasi terakhirku... lahir dalam keturunan... yang sangat aku cintai yaitu Comi... ini adalah... kehidupanku yang terakhir..."
Haruka tersenyum ikhlas, "Jangan... biarkan amarah itu memengaruhi dirimu... jadikanlah amarah itu sebagai pengaruh yang dapat... menyediakan jalan menuju kekuatan untukmu."
"Kamu harus bisa... mempelajari berbagai macam hal tanpa batasan apapun... kamu tidak terikat dengan kutukan yang aku rasakan, nak..."
"...itulah kenapa... kamu masih bisa memperkuat kemampuan waktu itu... di tambah lagi... kekuatanmu bukan hanya berdasarkan waktu saja... melainkan tubuh dosa besar yang masih kamu kembangkan..."
"...selamat juga atas... kesuksesan dirimu karena sudah membunuh seorang Dewa... itu adalah kunci menuju jalan yang menyediakan kekuatan lainnya untuk dirimu yang akan berlatih dengan Arata..."
"...sungguh menyenangkan... bisa melihat semuanya kenyataan... ternyata usaha yang aku lakukan dengan melarikan diri... membuka kemungkinan seluas ini..."
__ADS_1
"...sejak awal... ibu tidak pernah mengharapkan sebuah keluarga... tetapi melihatnya sekarang... ibu bersyukur untuk bisa memiliki seorang putri yang hebat dan kuat..."
"...kelahiran dirimu... merubah ibu... menghapus semua rasa bersalah dan ketakutan yang ibu rasakan ketika mencoba untuk mengubah segalanya... dengan menjelajahi berbagai macam masa dan dunia..."
"...ahh... perjalanan yang begitu panjang... Koizumi... kamu tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri... kematian Ibu sudah tercatat sepertinya..."
"Jangan lupa untuk tetap makan sehat ya... walaupun kamu suka kentang goreng... makanlah sayur yang lain..."
"...jika kamu sedang datang bulan... lebih baik kamu tidak melakukan hal yang menyulitkan dirimu... tetaplah bersantai..."
"...jangan lupa untuk berdandan juga... kamu adalah gadis... lipstik mungkin sudah cocok untuk dirimu... asalkan jangan berlebihan..."
"...jangan terlalu berlebihan berlatih... Legenda membutuhkan istirahat yang cukup... bukan hanya latihan saja yang harus diterapkan untuk menjadi sesosok Legenda yang layak dan kuat..."
Haruka memejamkan matanya karena terasa begitu berat tetapi ia ingin untuk terakhir kalinya melihat wajah putri yang sudah ia lakukan dan asuh sampai menginjak masa dewasa, "... ..."
Haruka meneteskan air mata terakhirnya lalu ia menunjukkan senyuman terakhirnya sebelum menghembuskan nafas terakhir.
"Ibu... memberikan kehidupan ini... dengan semua hal yang ibu bisa..."
"...aku hidup... sebagai Legenda..." Haruka memejamkan matanya sehingga balok itu langsung berhenti berputar karena semua itu adalah pesan terakhir yang ia ingin berikan kepadanya.
Koizumi meneteskan banyak sekali air mata lalu ia bangkit dari atas lantai, menyimpan kubus waktu itu di atas meja belajarnya sampai ia mulai menatap dirinya di hadapan cermin selagi menghapus semua air matanya.
"Mama... lihatlah dari atas..."
"...aku akan bertambah kuat." Ucap Koizumi sehingga kedua pupilnya menunjukkan lambang dosa Wrath.
***
Anastasia memegang bola mata Haruka yang ia lempar ke dalam kristal itu sehingga aura hijau yang memunculkan banyak sekali lambang waktu mulai menyelimuti kristal tersebut.
"Dengan ini... skala dari penghapusan konsep sihir tidak memiliki batasan apapun, mereka semua terpaksa mengikuti cobaan ini dengan bertahan hidup tanpa sihir apapun."
"Menarik... aku hanya bisa menyimak dan melihat apa yang akan terjadi selanjutnya... atau kemungkinan besar aku memang harus membalaskan dendam keduaku dalam membunuh Shiratori Shira."
"Bersabarlah... kita belum tahu kristal kekacauan ini akan berhasil atau tidak... tetapi sentuhan terakhirnya adalah ini." Anastasia memegang daun pohon emas yang ia dapatkan dalam makam Minami.
"Sentuhan terakhir yang sebenarnya... kita harus menunggu lebih lama lagi, kristal ini masih bisa dicegah dengan serangan apapun... tetapi aku sudah menandakan sebuah lokasi dimana semua orang tidak dapat menempuh lokasi itu."
"Lokasi? Maksudmu...?"
"Pohon emas yang dijadikan sebagai pemakaman Shiratori Minami... jika aku melepaskan kristal kekacauan itu tepat di puncak pohon itu maka tidak ada satu pun orang yang dapat menempuhnya."
"Tetapi... orang yang berhasil menyentuh atau menghancurkan kristal ini bisa mendapatkan inti kristal yang berada di dalamnya, Eldritch itu tidak akan bisa keluar dari lapisan kristal yang ia ciptakan sendiri.
"Menarik... lakukan sekarang." Perintah Zangetsu.
"Aku memang akan melakukannya... hanya menunggu proses dan kristal ini akan membesar sampai melesat menuju pohon emas itu." Anastasia melempar daun emas itu menuju kristal.
Daun emas itu langsung menyatu dengan kristal yang berputar lebih cepat sekarang sampai menciptakan lapisan yang lebih banyak dan tanpa batasan sedikit pun.
"Baiklah..."
"...proses di mulai, aku sekarang akan menghubungi beberapa Manusia yang aku kenal." Anastasia berjalan pergi meninggalkan Zangetsu yang terus memperhatikan kristal di hadapannya.
"Menakjubkan.."
__ADS_1
"...aku tidak sabar dunia ini akan jatuh ke dalam kekacauan besar tanpa konsep sihir."