
"Duar! Duar! Duar!" Hinoka menembak beberapa planet tak berpenghuni menggunakan jari-jarinya yang melepaskan gumpalan Crimson sampai meledakkan planet itu secara instan.
Shizen dan Bakuzen hanya bisa memperhatikan Hinoka yang berlatih sendirian tanpa memerlukan pemandu apapun karena ia sendiri sudah menguasai berbagai macam ledakan.
"Kakek, mau menjadi tikus percobaan dimana aku mengubah salah satu dari anggota tubuhmu itu seperti titik kelemahan?" Tanya Hinoka yang mulai mengedipkan matanya.
"Tidak sama sekali...! Sepertinya kau memang tidak membutuhkan latihan apapun dari Kakek jika bisa mengubah realitas menjadi ledakan!" Shizen merasa sedikit kecewa karena tidak bisa membuat putrinya kagum.
"Anakku, apakah kau bisa meledakkan seluruh pasukan Kountraverse hanya menggunakan sihir pengubahan realitas menjadi ledakan?" Tanya Bakuzen.
"Sayang sekali, aku hanya bisa melakukannya kepada satu orang secara bertahap, itu juga membutuhkan konsentrasi penuh agar bisa menghapus jiwanya juga."
Hinoka mulai melesat menuju arah Shizen untuk melanjutkan pertarungan mereka yang penuh ledakan selagi membicarakan topik tentang sihir realitasnya yang bisa dibilang sangat kuat.
"Mungkin aku bisa menyerahkan kekuatan ledakan sejati kepada dirimu, Hinoka." Shizen terus menahan semua pukulan Hinoka yang akan memicu ledakan tanpa henti.
Karena mereka berdua memiliki serangan yang berkaitan dengan ledakan maka luka tidak ada satupun luka yang diterima karena mereka benar-benar kebal dengan serangan ledakan.
Shizen dan Hinoka melancarkan satu pukulan ke depan sehingga terjadi ledakan besar yang mendorong mereka berdua ke belakang, "Kakek tidak pernah mengecewakan diriku tentang daya ledakan itu ya~"
"Kau juga... sepertinya latihan dari Ayahmu memang melahirkan seorang Legenda yang sangat hebat dalam menggunakan kemampuan ledakan." Shizen dan Hinoka terus melancarkan beberapa pukulan ledakan menuju arah satu sama lain.
Bakuzen hanya bisa memperhatikan dari jauh selagi memasang tatapan bangga ketika melihat Hinoka memang sudah berkembang, tetapi perkembangan yang belum ia alami adalah sifatnya sendiri.
Sampai sekarang ia bisa melihat Hinoka terus bertarung selagi melakukan gaya dan menari, bisa dibilang ia telah menemukan gaya bertarung sendiri yaitu [Dance Fight].
"Maaf untuk mengganggu." Seseorang mulai mendarat di sebelah Bakuzen sampai mengejutkan dirinya seketika sehingga ia segara refleks langsung menunduk kepada orang tersebut.
"Me-Mertua...!" Bakuzen mengulurkan lengannya kepada seseorang yang ia panggil Mertua atau Korrina.
"Ahh... ternyata kamu yang menikahi Honoka dan menjadi Ayah dari Hinoka ya, sekarang aku mengerti kenapa ia cukup hebat dalam menggunakan ledakan." Korrina membantu Bakuzen untuk mengangkat kepalanya.
"Tidak perlu formal pada diriku, jika kamu sudah melihat sebuah persetujuan maka tidak perlu menanggapi diriku sebagai orang penting." Korrina mendatangi Hinoka yang membutuhkan bimbingan darinya.
"Shizen, sudah cukup... kau tidak akan memberikan pelajaran yang lebih luas untuk Hinoka jika latih tanding kalian tidak menumpahkan darah apapun."
Shizen dan Hinoka langsung menatap Korrina sampai mereka memasang ekspresi kaget ketika seorang Dewi Touriverse mendatangi mereka mungkin hanya untuk melihat latihan.
"Me-Mengapa kamu datang ke sini...!?" Tanya Shizen yang terlihat gugup karena ia khawatir dirinya sebagai Kakek tidak bisa memandu cucunya dengan baik dan benar.
__ADS_1
"Tidak perlu gugup ketika berbicara dengan teman lama, aku datang untuk membantu dirimu juga dalam memandu Hinoka agar ia bisa menjadi kunci kemenangan dalam peperangan."
Korrina menatap Hinoka yang langsung menoleh ke arah lain karena ia sendiri bisa dibilang tidak begitu dekat dengan Neneknya sendiri, "Apakah kamu masih membenci diriku?"
"Tidak juga~ aku hanya menantikan latihan darimu, Nenek." Hinoka mengulurkan lengan kanannya untuk menjabat tangan Korrina.
"Kalau begitu aku akan serahkan sisanya padamu ya, Shizen..."
"...kamu hanya perlu berlatih lagi dan lagi agar bisa bertahan hidup dalam perang karena ledakan itu, kalian akan menjadi petarung yang cukup hebat untuk mengacaukan formasi musuh dengan ledakan."
"Kau benar, aku memang sudah berniat seperti itu sejak awal... sebisa mungkin menjaga jarak agar dapat melepaskan ledakan untuk mengacaukan formasi musuh." Shizen mengangguk lalu ia menepuk kepala Hinoka.
"Cobalah untuk tidak memperlihatkan apapun yang dapat membuatku malu..."
"Tenang saja, justru sudah saatnya aku memperlihatkan sisi kehebatanku di hadapan Nenek." Hinoka mengatakannya selagi menepuk lengannya.
Korrina mulai menepuk tapaknya sebanyak dua kali sampai mereka mengalami perpindahan menuju ruangan yang begitu putih atau bisa dibilang sebagai surga di lapisan paling rendah.
"Dengan ini kita bisa melihat potensi ledakanmu yang asli itu." Korrina mulai menunjuk ke depan untuk memunculkan sebuah alam semesta yang dijadikan sebagai percobaan.
"Baiklah, sebuah pekerjaan yang mudah!" Hinoka mulai menunjuk alam semesta itu tetapi wajahnya langsung menerima satu pukulan dari Korrina sampai menjatuhkan dirinya.
"Aww...! Kenapa Nenek melakukan itu?!" Tanya Hinoka dengan ekspresi yang kesal tetapi Korrina langsung membantu dirinya.
"...perang Ragnarok akan dipenuhi dengan jumlah pasukan yang tidak terhitung, atau bisa disebut sebagai jumlah banyak sampai kita tidak memiliki waktu atau niat untuk menghitungnya."
"Jangan berharap kau akan berhasil meledakkan musuhmu dengan mudah tanpa perlawanan apapun." Korrina ingin melatih konsentrasi Hinoka dalam medan perang.
Terutama lagi memberikan dirinya sebuah tantangan agar tubuhnya bisa fokus melindungi dirinya sendiri tetapi pandangannya tetap fokus kepada sesuatu yang perlu ia ledakan.
Hinoka mencoba untuk meledakkan alam semesta itu tetapi Korrina melancarkan satu pukulan yang berhasil Hinoka hindari lalu ia menyerang balik dengan menendang perut Korrina sampai menyebabkan ledakan yang mendorongnya ke belakang.
Korrina tersenyum serius ketika melihat Hinoka telah berpikir cukup cerdik sehingga ia berhasil meledakkan alam semesta itu tanpa masalah apapun, "Kamu telah lulus..."
"Kalau begitu." Korrina menatap Shizen lalu ia melakukan latihan yang sama kepada dirinya sampai ia menerima banyak sekali luka karena latihan yang diberikan oleh Korrina.
"Apakah kamu tidak akan memperlihatkan sisi kerenmu di hadapan Hinoka yang berhasil melakukannya?"
"Mudah untukmu berbicara seperti itu tetapi pergerakan dan gaya bertarungmu jauh lebih rumit dibandingkan sebelumnya sampai aku membutuhkan waktu untuk terbiasa."
__ADS_1
Mereka terus melakukan berbagai macam latihan berbeda berkat bantuan Korrina yang mencoba untuk memperbaiki kelemahan besar mereka, ia juga mulai menduplikasi tubuhnya dengan ilusi.
"Apakah kamu bisa meledakkan semuanya sekaligus?" Tanya Korrina yang terus menduplikasi dirinya sendiri dengan ilusi sampai Hinoka dikepung dengan jutaan ilusi Korrina di sekitarnya.
"Ti-Tidak bisa... keberadaan sejuta..."
"Kalau begitu aku hanya perlu melatih dirimu karena itu..." Korrina mendekati Hinoka lalu ia mencoba untuk menyerang dirinya tetapi tubuhnya langsung meledak.
"Bagus sekali refleksmu... ternyata kamu memang memiliki sihir realitas yang berjalan secara pasif bukan? Jika musuhmu mencoba untuk menyerang titik lemahmu maka tubuh mereka akan meledak."
"Hanya saja ledakan itu hanya bertepatan pada tubuh, tidak langsung dengan jiwa atau eksistensinya sendiri..."
"...mungkin jika kamu dapat melakukan semua itu maka kau bisa mengalahkan kedua sepupumu dengan mudah termasuk teman-temanmu." Korrina mencoba untuk menyemangati Hinoka.
"Dibandingkan dengan Koneko dan Koizumi, aku hanya sekedar pelengkap di belakang mereka..." Hinoka terkekeh pelan karena ia tidak begitu mahir dalam pertarungan bela diri.
"Tidak semua pelengkap buruk, kau masih bisa mendukung dan menjaga mereka dari belakang dengan melepaskan pengubahan ledakan itu terutama lagi kau tidak akan terkalahkan jika bisa bertarung dari jarak dekat."
Korrina menjentikkan jarinya sampai seluruh ilusi mulai menyerang Hinoka secara bersamaan tetapi ia langsung memejamkan kedua matanya untuk melepaskan ledakan yang sangat besar sehingga menghapus semua ilusi itu sekaligus.
Tetapi masih terdapat ilusi lainnya yang terus menyerang Hinoka tanpa henti sehingga ia mencoba sebisa mungkin melakukan seni bela diri tetapi lima detik kemudian ia sudah dihajar habis-habisan.
"Kelemahanmu besar sekali ya... terutama lagi dalam perang besar ini kau bisa saja mati ketika dikepung oleh musuhmu sendiri." Korrina menyalakan rokoknya lalu ia mendekati Hinoka.
"Kalau begitu aku akan membantu dirimu sebisa mungkin agar dapat bertahan dalam medan perang serta pertarungan satu lawan satu..."
"Potensi ledakan dan realitas akan sangat sia-sia jika tidak digunakan dengan cara yang benar karena semua itu bisa dibilang kombinasi mematikan."
"Mungkin jika kau terus berkembang lebih jauh lagi maka konsep atau takdir sendiri bisa kau hancurkan, tetapi sayang sekali kekuatanku terbatas dengan jarak."
"Teruslah berusaha keras... kau pasti bisa mencapai apa yang dirimu inginkan, Hinoka."
"Aku ingin menjadi Idol yang dikenal oleh seluruh penghuni layer, te---" Kepala Hinoka menerima sebuah tepukan dari Korrina lalu ia mendekati rokok itu.
"Tolong nyalakan."
"Ehh? B-Baik..." Hinoka menyentuh puntung rokok tersebut sampai tidak sengaja meledakkan rokok itu menjadi nuklir yang mendorong Shizen dan Bakuzen.
"Uhh..."
__ADS_1
"...maaf."
"Uhuk."