
Selvia maju ke depan sambil menyilangkan kedua lengan-nya semua pasukan Zangetsu yang mencoba untuk menghalang dan melawan-nya langsung terbunuh dengan diikat oleh rantai Void yang muncul di belakang punggung-nya serta di sekitarnya yang terdapat beberapa portal hitam yang mengeluarkan rantai-rantai tersebut.
Selvia terus maju ke depan dengan perlindungan di sekitar-nya yaitu rantai-nya sendiri, tujuan utama-nya hanyalah menahan dimensi Void dan juga dewi kuno Void yang beranama Selene, ia masih tidak ingin turun tangan untuk menyerang semua pasukan itu karena ia saat ini terus ditahan sehingga kesabaran-nya telah habis, ia langsung melebarkan kedua sayap-nya lalu terbang menghampiri Selene yang sedang membunuh beberapa pasukan Reaoum.
"Nenek...!!!" Seru Selvia keras, Selena tersenyum lebar lalu ia menatap Selvia dengan ekspresi yang dipenuhi dengan kebencian.
"Selvia...!"
"Nenek..."
"Hohhh... Kau menghampiri---" Selvia langsung meluncurkan beberapa rantai ke arah diri-nya sehingga Selene dikejutkan dengan beberapa serangan yang mendadak dari Selvia, ia tidak senang ketika melihat nenek moyang-nya sendiri karena ibu-nya sendiri pernah memberitahu betapa kejam-nya Selene dulu-nya.
Tidak berhasil melukai Selene, Selvia mulai melihat diri-nya yang mengeluarkan beberapa ular yang dapat menyerap kekuatan dan tenaga-nya sampai habis, Selvia mengeluarkan Moirai Arma-nya lalu melakukan formasi serangan yang mampu menebas semua ular itu sampai habis. Selene tersenyum jahat ketika melihat Selvia yang memiliki banyak peningkatan dan perkembangan dalam sikap dan kekuatan-nya.
"Sungguh menyenangkan untuk melihat cucu kecil-ku memiliki kekuatan yang sama seperti-ku... iblis berhati murni seperti memiliki sihir Void dan bahkan kau sendiri menjadi seorang ratu yang menggantikan ayah-mu sendiri!? Pffft... Sungguh lucu sekali!!!" Selene mengangkat kedua lengan-nya sehingga Selvia mulai dikepung dengan ular yang mengeluarkan senjata dari mulut mereka, ia mulai menyelimuti tubuh-nya dengan rantai void-nya untuk menahan semua serangan itu.
Selvia menghancurkan rantai yang menyelimuti-nya agar ia diberi celah untuk bisa mendekat Selene, ia maju ke depan lalu mempersiapkan formasi serangan selanjut-nya menggunakan kedua senjata Moirai Arma-nya itu. Pada dasar-nya kedua senjata yang Selvia pegang itu memiliki kerusakan besar tetapi juga memiliki resiko untuk membuat tubuh-nya terasa berat sehinga Selene sempat untuk melarikan diri dan menjaga jarak-nya dengannya.
Selvia mulai mencari cara agar ia bisa mendekati Selene lalu melayangkan beberapa serangan fatal yang langsung membunuh diri-nya, Selene hanya bisa menyerang dari jauh dan bahkan ia dapat menggunakan sihir berkali-kali tanpa jeda... saat ini Selvia menghindari semua serangan itu sambil mengayunkan kedua pedang-nya.
"... ..." Selvia menoleh kepada Arisu yang sedang bertarung melawan dewi Abyss yang bernama [Abysnia], jika sihir-nya dapat menyerap kekuatan atau sihir lalu mengubah-nya menjadi miliknya untuk beberapa saat maka ia harus menipu pandangan Selene menggunakan sihir ilusi, ia yakin bahwa Arisu memiliki-nya karena ia sendiri adalah keturunan Comi juga.
__ADS_1
Selvia melesat menuju arah Selene lalu ia mengadukan semua serangan-nya itu menggunakan rantai-nya yang muncul di belakang punggung-nya, sayap-nya berkibar sehingga melepaskan beberapa sihir Void yang berbentuk belati ke arah diri-nya, Selene menciptakan dua portal hitam di sebelah kiri dan kanan-nya lalu ia melayangkan beberapa pukulan yang masuk ke dalam portal tersebut.
Selvia mengerutkan dahi-nya sehingga ia melihat semua serangan belati-nya itu terlempar ke arah yang berlawanan karena serangkaian dari serangan Selene, Selvia mencoba untuk menghilang lalu muncul dekat dengan Selene tetapi sebuah rantai hitam mulai mengikat perut-nya sehingga ia tertarik ke belakang untuk menjaga jarak dengan Selene.
"Kemampuan-mu lari dan lari ya?" Tanya Selvia sambil tersenyum.
"Jika aku tidak lari maka aku tidak bisa melakukan serangan sihir yang bertubi-tubi ini..." Kedua mata Selvia mulai bertambah tajam ketika kecepatan sihir Selene mulai meningkat, ia menghindari semua serangan itu dan bahkan beberapa serangan sihir Void itu mampu mengenai diri-nya sehingga satu ulur berhasil menggigit bahu-nya dan menyerap seluruh kekuatan-nya.
"Aaaccckkkk....!!! G-Gghhh... hah... hah... hah..." Tubuh Selvia langsung lemas ketika ia menerima serangan tersebut, tubuh-nya dipenuhi dengan keringat dingin dan suhu tubuh-nya bertambah panas sehingga tulang yang ada di dalam tubuh-nya mulai meleleh.
"Kau masih belum juga menyempurnakan sihir Void-mu 'kah...? Sungguh memalukan melihat cucu-ku menggunakan sihir Void-nya lalu menggunakan-nya di pertarungan jarak yang sangat dekat." Selene mulai menepuk wajah-nya beberapa kali lalu ia menatap ke depan dan melihat Selvia tersenyum lalu berubah menjadi partikel putih.
Ketika Selene melirik ke belakang ia melihat Selvia tersenyum di belakang-nya, dengan cepat tubuh Selene langsung terikat dengan rantai tetapi Selvia berhasil menghancurkan rantai tersebut lalu ia melanjutkan serangan-nya dengan melakukan formasi serangan yang mampu menebas tubuh Selene beberapa kali menggunakan kedua katana yang ia pegang.
Selene tidak menyangka bahwa Selvia akan memiliki sihir ilusi... tidak, itu tidak mungkin sehingga Selene sadar dengan kesalahan-nya sendiri bahwa belati yang baru saja ia tangkis tadi mengenai salah satu teman Selvia yang sedang bertarung melawan Abysnia, ia menoleh ke kiri dan melihat Arisu tersenyum lebar sambil menghajar Abysnia habis-habisan.
"T-Tidak mungkin!!!" Selvia mengakhiri-nya serangan-nya dengan menusuk dada Selene sampai ia menghancurkan jantung yang ada di dalam-nya, "U... Uck... bagaimana... bisa kau...? Bagaimana bisa kau menggunakan sihir Void itu untuk mencuri sihir dan kemampuan seseorang?!"
"Aku membuang kemampuan Void-ku yang dapat melakukan serangan sihir bertubi-tubi demi membuka jalur sihir Void yang baru... jalur yang dapat membantu-ku untuk bertarung dalam jarak yang dekat maupun jauh, belati tadi itu sebenar-nya alat yang dapat menyerap dan menggunakan sedikit kekuatan dari mereka yang sudah tertusuk." Selvia mundur beberapa langkah sambil menatap Selene dengan ekspresi yang terlihat serius.
"Pfft... aku tidak menyangka, iblis seperti-mu memang terlalu lembut... kau sama sekali tidak mirip dengan ayah atau ibu-mu." Tubuh Selene mulai bersinar sehingga perlahan-lahan arwah-nya mulai keluar dari tubuh-nya itu.
__ADS_1
Zangetsu sontak kaget ketika melihat seorang dewi kuno yang dihidupkan dengan Necromancer bisa langsung terbunuh dan bebas seperti itu, sesuatu pasti terjadi kepada Komi dan buku sihir-nya itu sampai efek pembangkitan-nya tidak terus bertahan. Jika Selene bisa terbunuh oleh Selvia seperti itu maka dia akan terus hidup lagi dan lagi.
"Berbicara-lah semau-mu, setidaknya aku melanjutkan mimpi ayah-ku yang awal-nya ingin menjadi seorang raja iblis. Tetapi aku menggunakan cara yang benar, aku sungguh senang bisa melihat leluhur seperti-mu... mungkin lain kali aku akan berlatih agar bisa menggunakan kemampuan ular itu." Selvia memasukkan kedua katana-nya ke dalam sarung-nya sehingga tubuh Selene langsung hancur menjadi kepingan daging kecil dan berubah menjadi debu.
Arwah Selene perlahan-lahan terbang ke atas, ia menunjukkan senyuman terakhir-nya kepada Selvia, "Benar-benar iblis yang aneh..." Selene langsung menghilang.
Walaupun Zangetsu saat ini sedang bertarung melawan Alvin dan Shitori, ia bisa melihat seluruh pertarungan yang terjadi di medan perang itu... salah satu-nya adalah Selene yang bisa kalah dengan mudah, sebelum-nya ketika pasukan Touriverse menyerang, ia dapat menggunakan buku sihir-nya tetapi sekarang ia malah tidak menggunakan-nya.
"Apa yang sebenarnya... TERJADI!?" Seru Zangetsu keras sehingga mendorong semua orang yang ada di dalam medan perang itu ke belakang, amarah-nya terbakar besar sehingga Alvin dan Shitori sampai tidak bisa bergerak untuk sesaat.
"Tekanan yang hebat sekali...!"
***
"K... Korrina...!? A... APA YANG KAU LAKUKAN KEPADA-KU!?" Tanya Komi yang sedang berlutut di atas lantai sambil memegang dada-nya, "U-Uck..." Mulut Komi mulai mengalirkan darah yang deras karena Korrina baru saja melayangkan satu pukulan yang mengenai dada-nya.
"Aku hanya menyegel sihir Necromancer yang ada di dalam-mu itu agar pasukan Touriverse bisa menang melawan kalian semua tanpa harus khawatir dengan mereka yang terus bangkit karena efek dari sihir Necromancer..." Korrina menatap kedua tangan-nya yang tadi-nya dipenuhi dengan garis merah sekarang hilang.
"S-Sial... sihir Crimson apa itu...?! Tekanan dan kekuatan yang omong kosong...!" Komi mencoba untuk bangkit tetapi tubuh-nya masih terasa lemas ketika ia menerima satu pukulan tersebut, "Aku pernah bilang sebelum-nya bukan? Aku dapat mengumpulkan semua kesakitan yang kau berikan kepada-ku sehingga garis-garis merah yang ada di kedua tinju-ku ini mampu memberikan-ku serangan fatal..."
"...kelemahan-mu ternyata meremehkan ya?"
__ADS_1