Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 831 - Gelandang


__ADS_3

Legenda yang sedang memegang Grimoire itu masuk ke dalam kuil, ya, satu-satunya kuil dengan berkah angin terbesar bernama Temple of Wind, ia melihat patung Erion di hadapannya yang sedang memegang buku.


Hanya saja buku itu sudah didapatkan oleh Legenda tersebut, hari ini ia rasa bahwa dirinya ingin berbicara secara langsung dengan Dewa itu, ia langsung menempati buku tersebut kembali di atas tangan patung itu.


"Dengan menyebut nama dewa kebebasan... angin yang membawa keberkahan dan kedamaian, saya sebagai kandidatnya ingin berkomunikasi dengan dirinya."


"Hidup abadi Dewa Erion... semoga angin bisa memberkati kami semua dari segala bahaya dan peperangan, menyatukan semua Legenda untuk menyembah para Dewa dan Anda."


Legenda itu langsung berlutut sehingga patung itu langsung memancarkan cahaya hijau melalui kedua matanya sampai ia mulai membuka mulutnya lebar.


Mulutnya yang terbuka itu melepaskan angin yang langsung menyelimuti tubuhnya dan memutarinya karena pusaran angin itu, ia langsung menyentuh mata kanannya.


"Sudah lama sekali ya... kenapa kau memanggil diriku...? Kandidatku yang sering menyembah diriku sampai kepercayaan itu dapat aku rasakan."


Dewa itu berbicara melalui tubuh Legenda tersebut, mata kanannya sempat memancarkan cahaya hijau muda, itu artinya alam sadar dari Dewa itu berpindah ke dalam tubuhnya untuk berkomunikasi.


"Beval, tidak di sangka kau akan tetap mempercayai diriku, sudah bertahun-tahun lamanya tetapi kau memutuskan untuk membebaskan diriku dari Realm of Wind ya?"


"Bukannya kesabaran memiliki batasan...? Mengumpulkan banyak orang yang mau menyembah diriku sudah cukup karena aku menerima banyak kekuatanku kembali di masa kuno."


"Segel yang menutup rapat Realm ini bisa terbuka lebih lebar jika kau mau mengubah sudut pandang seseorang tentang Dewa Angin Erion, ya... itu adalah aku yang menyukai kebebasan."


"Bukan hanya Legenda saja yang percaya tetapi masih banyak ras... mereka semua menyembah dewa yang berbeda, aku tidak begitu iri karena aku hanya butuh mereka yang benar-benar ingin menyembah diriku."


"Proses yang kau berikan padaku... melihatnya dari Grimoire of Wind, bangsa Legenda mulai menyembah dewa di bandingkan raja dan kaisar ya...?"


"Sepertinya aku memang harus memberkahi planet Lemia dengan angin yang menyingkirkan semua kejahatan dan peperangan..."


"...zaman seperti ini cukup sulit, aku tahu itu. Tapi... sayang sekali ya jika tidak mempercayai diriku sebagai Dewa angin yang dapat membawakan kedamaian dengan mudah."


"Itu benar, Dewa Erion... Anda sungguh mulia karena sudah melindungi negara Mitch dari segala peperangan."


"Rasanya kebebasan ini membuat kita bisa bertambah kuat setiap angin menghembus tubuh kita, banyak sekali pengunjung berdatangan dan kami langsung mengajak mereka menuju kepercayaan angin."


"Dengar, Beval. Aku ingin sekali keluar dari wilayah yang membosankan ini, merasakan atmosfer Touriverse mungkin akan cukup mengejutkan."


"Rasanya perubahan banyak terjadi sampai diriku ingin melihatnya secara langsung... jika aku sudah bebas maka diriku dapat menampakkan kekuatan angin maha kuasaku kepada mereka semua."


Erion langsung berubah menjadi angin dan keluar melalui mulut Beval, ia masih berhadapan dengan dirinya karena ia melihat Beval sangat cocok untuk dijadikan kandidat bahkan tubuhnya bisa menjadi cawan yang pas.


"Beval... sebagai Dewa Angin, aku memuji dirimu karena sudah setia selalu padaku di masa apapun, Grimoire of Wind memang tidak salah soal dirimu..."


"...semoga angin dapat memberkati dirimu dan tentunya aku ingin kau mengumpulkan lebih banyak pengikut yang mempercayai Dewa angin Erion!"


"Jangan melupakan soal utusan yang kedua... dia saat ini masih kecil... namun, kau dapat menciptakan hubungan yang baik dengan dirinya."


"Dia adalah seorang Saint Legenda, kunci untuk membebaskan diriku juga dari wilayah angin, dengan bantuan dari Saint seperti dirinya maka ajaran dan kepercayaan angin dapat berkembang pesat."


"Ingat itu, Beval. Aku mengandalkan dirimu... Dewa lainnya pasti akan merasa iri ketika mengetahui diriku memiliki kandidat yang sungguh hebat dan penuh kepercayaan."


"Baiklah, Dewa Erion... pujian Anda saya terima dengan sepenuh hati demi bisa melanjutkan tujuan untuk mengumpulkan pengikut..."


"...mereka yang tidak mau menerima ajaran dan kepercayaan itu maka berhak merasakan neraka yang akan kau berikan." Beval kembali bangkit lalu melihat angin itu masuk ke dalam patung tersebut sampai ia menerima kembali Grimoire tersebut.


Beval langsung menggenggam tangannya sampai Grimoire tersebut berubah menjadi angin yang mengelilinginya tubuhnya, ia merasakan keberadaan para pendeta di belakang dirinya.


"Beval yang maha agung... kami masih belum menemukan jejak tentang Saint Wind, saat ini dia masih menjadi seorang gelandang yang mengelilingi negara elemen berbeda."


"Begitu ya... sayang sekali, aku sudah berniat untuk mengajarkan tentang berbagai macam hal kepada dirinya." Beval langsung memegang dagunya lalu berjalan keluar dari kuil itu.


"Dewa Erion... tunggu saja... persentase dari Legenda yang memiliki banyak kepercayaan tidak akan berkurang melainkan terus bertambah sampai sempurna."


"Dengan itu... aku bisa membanggakan dirinya juga dengan membunuh banyak sekali raja dan kaisar yang menganggap diri mereka sebagai Dewa itu sendiri." Beval mengepalkan tinju kanannya.


"Hidup dewa Erion! Semoga angin memberkati semua kehidupan yang mempercayai dirinya..." Beval menghembus nafasnya pelan lalu berjalan pergi untuk melaksanakan ritual angin lainnya.


***


Hinoka, Ako, dan Konomi saat ini berada di dalam penginapan dengan satu piring donat yang sedang mereka makan, Koizumi dan Shinobu mengunjungi berbagai macam toko untuk membeli oleh-oleh.


"Ahh~ rasanya enak sekali... donat~" Kata Hinoka selagi menepuk perutnya.


"Hidup memang indah~ keindahan itu setengahnya berasal dari makanan yang kita makan." Hinoka berbaring di atas lantai dengan tatapan yang terlihat puas.


"Kau yang bilang... setiap setengahnya penuh dengan kebahagiaan." Kata Konomi yang ikut berbaring di atas lantai..


"Lalu yang setengahnya apa?" Tanya Hinoka.


"Apa itu masalah?"

__ADS_1


"Tidak begitu."


"Oh... kita masih punya donat." Kata Ako yang melihat bungkus donat itu masih tersisa satu..


Hinoka dan Konomi langsung bangkit selagi menatap isi dari bungkus itu, hanya tersisa satu donat rasa coklat. Mereka langsung menatap satu sama lain karena ketiga gadis itu tentunya masih ingin menikmati satu donat yang lezat dan manis.


"Baiklah! Kita main gunting batu kertas untuk itu!" Hinoka langsung mengepalkan tinju kanannya.


""Tentu.""


"Oke!"


""Kertas...""


""...gunting...""


""...batu!""


Konomi dan Ako memilih gunting lebih cepat sehingga Hinoka melambatkan pergerakannya dengan sengaja lalu memilih batu untuk mengalahkan mereka berdua agar bisa merebut donat coklat yang lezat itu.


"Te-he~" Hinoka bangkit dari atas lantai untuk mengambil minum dan cabai yang ia simpan dalam tasnya.


"Kau hanya menunggu kami dulu." Kata Konomi yang menyadari Hinoka memilih batu sangat lambat sampai dirinya dapat menang seperti itu.


"Tidak dong~ waktunya mencoba eksperimen dengan menggabung donat serta cabai~"


"Sesat sekali...! Kau tidak bisa menggabungkan hal yang manis dengan pedas!" Kata Konomi yang melihat Hinoka keluar dari kamar itu untuk mengambil sesuatu.


Ako dan Konomi menatap satu sama lain, tidak lama kemudian Hinoka datang dengan satu cangkir susu coklat dan cabai yang langsung ia simpan di atas piringnya.


Kebetulan ia berjalan dengan kedua mata tertutup karena merasa senang, ia juga bisa merasakan donatnya hilang entah kemana dari atas piringnya sampai ia mulai tersenyum lalu mengambilnya.


"Sekarang untuk donatku..."


Hinoka melihat piringnya kosong, yang tersisa hanya cabai di atasnya sampai ia langsung tersenyum dengan kedua mata tertutup sambil menunjukkan piring itu kepada mereka berdua.


"Ohh~?"


"Kemana donat kecilku ya...? Kok bisa menghilang~?"


"Konomi, kau tahu dimana~?"


"Aku dari tadi mengerjakan tugas." Kata Konomi sambil menulis di dalam catatannya itu.


"Bagaimana denganmu, Ako~?"


"Tidak tahu... aku dari tadi sedang membaca buku ini."


"Begitu ya~"


"Tidak! Tunggu, kalian pasti berbohong!"


"Salah satu dari kalian pasti memakannya...!" Hinoka menunjuk mereka berdua dengan tatapan serius karena keduanya sama-sama curiga dan mungkin merencanakan sesuatu.


"Mustahil. Jika salah satu dari kita memakannya, yang satunya pasti akan mengatakannya kepadamu." Kata Ako.


"Benar..."


"It-Itu artinya..." Hinoka memasang tatapan kaget.


"Itu artinya donatnya memang tak pernah berada di sana." Kata Konomi.


"Tak pernah ada...?!" Ungkap Hinoka sambil menatap piring tersebut dengan ekspresi khawatir.


"Semua itu hanya ilusi...?"


Hinoka langsung menjilat piring tersebut sehingga ia memasang tatapan yang terlihat curiga karena ia berhasil memecahkan masalahnya dengan mudah.


"Rasa dari bubuk gula... dan bekas dari coklat... sudah jelas ada donat di sini." Hinoka mengerutkan dahinya sampai Ako dan Konomi langsung memasang tatapan sedikit takut karena ia terlihat begitu serius.


"Itu bukan ilusi..."


"Ako! Konomi! Donat kalian tadi tidak ada bubuk gulanya dan noda dari coklat..."


"Apa... yang kau coba katakan?" Tanya Konomi.


"Siapa saja yang makan donat terakhir pasti ada sisa bubuk gula di sekitar bibirnya... atau tidak noda dari coklat." Hinoka untuk pertama kalinya bersikap seperti orang pintar ketika kepemilikannya menghilang.


Ako dan Konomi langsung menutup bibir mereka untuk memastikan tidak ada noda coklat di sana dan syukurlah mereka tidak merasakan apapun kecuali bibir lembut itu.

__ADS_1


Hinoka bangkit dari atas lantai lalu mengangkat kedua lengannya, "Ada solusi lain...!!! Sekarang, aku akan merasakan bibir kalian satu per satu."


Hinoka menjilat bibirnya sendiri sampai mengejutkan kedua saudara itu sampai mereka memasang tatapan yang terlihat ketakutan karena sikap aneh Hinoka mulai kambuh karena ia ingin merasakan bibir seorang gadis.


Ako dan Konomi langsung saling berpelukan, ""Maafkan kami!!! Kami berdua memakannya!!!""


"Wah, mudah sekali membuat kalian mengatakannya." Hinoka menurunkan kedua lengannya.


"Tetapi... sekarang itu tidak peduli, akan kurasakan untuk memastikannya!" Hinoka langsung menggerakkan jari-jarinya selagi memasang tatapan yang terlihat menakutkan.


""Tidaaaaaakkkk!!!""


***


"Rasanya tiga hari ini cukup menyenangkan ya... sudah lama sekali kita tidak bersama seperti ini tanpa gangguan apapun." Kata Koizumi selagi mengelus kepala Shinobu yang sedang makan ikan bakar.


"Mm~ semoga saja kita bisa merayakan tahun baru dan natal bersama ya... Koneko masih ingin menghabiskan banyak waktu dengan kalian..." Shinobu menghabiskan ikan bakar itu dengan satu gigitan bersamaan dengan durinya.


Shinobu langsung berhenti langkahnya ketika melihat seseorang yang sangat menarik perhatiannya, Koizumi juga ikut berhenti lalu menatap Shinobu yang melirik kepada seorang kaki-laki berumur sama sepertinya.


"... ...!" Ketika melihatnya lebih teliti, Koizumi langsung melihat matanya tertutup oleh sebuah perban bahkan tubuhnya sangat kotor, di tambah lagi ia memiliki pakaian yang sudah robek.


Sikap baik dan halus Shinobu tentunya akan menyeret dirinya untuk mendekati lelaki itu lalu menyapanya pelan-pelan sampai lelaki itu langsung terlihat kaget.


"Anu... boleh aku berbicara dengan---"


"A-Ahh...! Apa yang Anda bu-butuhkan dari saya? maaf... saya tidak memiliki uang untuk membeli apapun..."


"...dan tentunya... saya juga seorang pengikut Dewa Erion..." Kata lelaki itu selagi menunjuk Insignia kotor di saku bajunya sampai Koizumi langsung memasang tatapan serius.


"... ..." Koizumi mulai berbisik kepada Shinobu secepat mungkin untuk memastikan dirinya ingin membantu seorang anak gelandangan yang memiliki kepercayaan terhadap Dewa.


"Kau ingin membantu dirinya...? Tadi dia bilang dirinya mempercayai Dewa."


"Hal seperti itu tidak masalah bagiku... aku lebih melihat mereka dari dalam dan luar... dia cukup menyedihkan karena tidak memiliki keluarga dan tempat untuk tinggal..."


"...bukannya aneh? Negeri kebebasan tetapi masih ada gelandang semalang dirinya, mengingatkan diriku yang dulunya lemah dan tidak bisa apa-apa." Kata Shinobu yang mengeluarkan satu kantung berlian dari sakunya.


"Tidak perlu khawatir... saya sebenarnya tidak membutuhkan bantuan apapun, mengandalkan diri sendiri jauh lebih baik."


"Saya yakin bahwa Dewa Erion akan melindungi saya untuk selamanya... angin juga pasti akan memberkati diriku menuju kehidupan yang lebih baik, hanya menunggu proses."


"Tidak boleh seperti itu... kamu terlihat begitu kurus... aku juga bisa mendengar suara perutmu yang kelaparan." Shinobu langsung memegang tangan lelaki itu lalu memberi dirinya kantung itu.


"Kantung itu berisi banyak sekali berlian... anu... aku harap kamu dapat memenuhi kebutuhanmu dengan itu." Kata Shinobu dengan tatapan yang terlihat khawatir dan sedih karena kemalangan dirinya.


"Sudah saya bilang kan...? Akan sangat disayangkan jika Anda memberikan berlian sebanyak ini kepadaku."


"Saya juga sudah sepenuhnya mampu dan kebutuhan itu sudah terpenuhi, yang bisa saya lakukan hanya mengembara dan menikmati makanan yang bisa aku dapatkan."


"Aku sudah tidak memiliki dua mata... penglihatanku begitu gelap karena saya dilahirkan pada masa perang... Ahh... seharusnya saya tidak perlu bercerita tentang itu."


"Tidak kok... anu... aku sendiri sudah tahu." Kata Shinobu yang mulai membuka perban tersebut sampai ia melihat banyak sekali luka di kedua matanya itu.


Lelaki itu benar-benar mengingatkan Shinobu kepada dirinya sendiri sampai ia langsung memancarkan cahaya melalui tapak kanannya untuk menciptakan dua mata teknologi yang dapat melihat, sama seperti mata kanannya.


"Golden Alchemist!" Shinobu berhasil menciptakannya sampai mengejutkan Koizumi seketika karena ia bersedia membantu seorang lelaki yang mempercayai Dewa dan omong kosong dari angin itu sendiri.


"Ini... kebutuhanmu sudah pasti akan bertambah dengan ini." Shinobu memasang kedua mata itu kepada lelaki tersebut sehingga penglihatannya yang begitu gelap langsung melihat cahaya.


"A-Ahh...?!" Lelaki itu memasang tatapan kaget sampai ia berlutut di atas tanah karena dikejutkan dengan cahaya itu sehingga ia dapat melihat dengan jelas, kedua kaki Shinobu.


"Saya... saya... bisa melihat...?" Lelaki itu menatap kedua tapaknya lalu melirik kepada Shinobu yang menatap dirinya dengan tatapan khawatir.


Apa yang ia lihat itu seperti matahari terbit dari timur, terlihat begitu indah sampai ia tidak bisa berkata-kata. Perasaannya sampai campur aduk dipenuhi dengan rasa bersyukur dan sedih.


"Indahnya..."


"Ehh...?" Shinobu memasang tatapan canggung seketika sampai pipinya mulai memerah.


"Tampang Anda indah sekali... sungguh cantik sampai saya... tidak percaya... saya dapat melihat... berkat Anda... cahaya ini..." Lelaki itu langsung mengeluarkan beberapa oli melalui kedua matanya sebagai pengganti air matanya.


"Te... Terima kasih..." Lelaki itu langsung memeluk Shinobu dengan sangat erat.


"Fueehhh...!?"


"...semua ini berkat dirimu... ternyata Dewa Erion menjatuhkan bidadari langsung dari atas langit untuk membantuku..." Lelaki itu tersenyum penuh rasa bersyukur.


"...terima kasih."

__ADS_1


__ADS_2