Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 854 - Api dan Obsidian


__ADS_3

Mereka semua masuk ke dalam lautan, karena Grimoire itu berada di tangan Anastasia semua lautan langsung mengeras menjadi batu sampai mereka terjebak di dalam batu-batuan yang memiliki ruangan itu.


"Grimoire ini mengeras menjadi batu...!" Peringat Anastasia yang mulai menghancurkannya pelan-pelan sampai ia bisa melihat sedikit api keluar.


"Hinoka! Apakah kamu bisa menyerap api dan mengubahnya menjadi ledakan atau semacamnya...? Kamu bisa mengubah realitas apapun menjadi ledakan bukan...?" Tanya Ako dimana kedua kaki dan lengannya terjebak dalam batu.


"Tidak baik... jika aku mencoba untuk mengubah semua api yang berada dalam Grimoire itu menjadi ledakan maka kita semua akan terluka..."


"...kandidat api itu pasti bisa menggunakannya sebagai keuntungan terhadap serangan yang cukup untuk melukai kita." Hinoka menyentuh batu di atasnya lalu menghancurkannya sampai membuka sebuah jalan menuju permukaan.


"Kalau begitu, kita hanya perlu pergi secepatnya menuju permukaan---"


"Tidak semudah itu!!! Halaman lima puluh...!!! Dengan kobaran api yang besar...!!! Ubah kembali semua obsidian dan batu-batuan ini menjadi lahar yang menggantikan lautan...!!!"


Buku yang Anastasia pegang langsung terbuka lebar sampai halamannya bergerak menuju halaman yang Pyro sebutkan yaitu 50, semua batu-batuan seperti obsidian di sekitar mereka langsung meleleh menjadi air lahar.


Yang tadinya lautan, di ambil alih oleh lautan api yang sangat panas karena terbuat dari inti lahar paling bawah, semua itu disebabkan oleh Pyro yang memiliki kekuatan kandidat untuk mengendalikan Grimoire dari jarak apapun.


"Semua obsidian ini...!" Hinoka menyentuh lahar itu sampai lapisan Lenergy yang melindungi tubuhnya terus berkurang drastis karena pembakaran dari lahar itu.


Mereka hanya bisa bertahan di dalam lahar tersebut sesuai dengan kapasitas Lenergy yang dimiliki, walaupun bisa dibilang tak terbatas, mereka akan tetap mengalami luka bakar karena durabilitas yang berkurang juga.


Ako yang sudah berada di permukaan langsung tertarik oleh tekanan lahar itu agar ia tidak bisa melarikan diri dari panasnya air lahar yang melebihi neraka itu sendiri.


"Kita... kita sudah terjatuh ke dalam perangkapnya..." Ako mencoba untuk berenang ke atas tetapi ketika kepalanya keluar dari dalam lahar itu, ia bisa melihat letusan lahar yang membentuk tali serta tangan.


Kedua hal tersebut menarik dirinya ke dalam sampai ia bisa melihat Hinoka dan Anastasia yang berada di kedalaman berbeda dengannya karena mereka terus di tarik oleh sesuatu dari dasar lautan api.


"Ako! Tahan dia...!" Hinoka memperingati Ako melalui telepati karena mereka tidak bisa berbicara di dalam lautan api itu.


Pyro berenang dengan kecepatan penuh menuju arah Ako yang langsung menyelimuti panah dan busurnya dengan Lenergy agar bisa menahan kepanasan dari api itu.


"Lautan api ini adalah gambaran neraka bagi mereka yang tidak memiliki kepercayaan...!!! Ya!!! Itu adalah kalian para pendosa yang tidak memiliki rasa malu...!!!" Seru Pyro.


"Maupun kau mengajakku bertarung di tempat apapun...!!! Hawa panas akan selalu ada dan api neraka akan terus mengikuti kalian para pendosa sampai akhir hayat...!!!" Pergerakannya bertambah semakin cepat.


Ako memejamkan mata kirinya lalu membidik menuju arah kepala Pyro yang menciptakan kembali zirah terbuat dari obsidian yang terbakar dengan api lahar.


"Aku dapat menyingkirkan semua lautan lalu mengubahnya menjadi lautan api jika aku mau...!!!" Suara Pyro terdengar keras karena ia memiliki kepribadian untuk terus marah-marah.


Pyro melancarkan satu pukulan ke depan sampai menciptakan obsidian yang menjalar luas menuju arah Ako, "Ako...!!! Cepat keluar dari lautan api ini secepat mungkin!!!"


Ako tidak sempat untuk membidik pengerasan obsidian itu karena pergerakannya cukup rumit, hampir seperti zig-zag sampai pengerasan itu menabrak tubuh Ako lalu membawa dirinya keluar lautan api dengan tubuh yang mengeras menjadi obsidian.


"Ako...!!! Satukan Obsidian itu dengan tubuh kandidat itu...! Kau pasti bisa mengambil satu material itu dengan panahmu lalu menempelkannya kepada dia!" Peringat Hinoka.


Ako yang masih bisa menggerakkan kedua lengannya langsung bertingkah cepat dengan menusuk salah satu obsidian itu menggunakan panahnya sampai materialnya langsung menempel.


Dengan cepat ia mengarahkan busur itu kepada Pyro lalu melepaskan panah itu menuju arah dirinya sampai ia hanya bisa memasang tatapan kesal, "Menyerang diriku tidak ada artinya...!!!"


Panah itu menusuk zirah bagian kepala Pyro sampai material obsidian itu bergabung dengan zirahnya, Hinoka yang berada di jarak dekat dengan obsidian itu langsung mengubahnya menjadi ledakan yang menghitung mundur.


"Jadi begitu ya... kamu dapat mengubah material apapun menjadi ledakan dengan sentuhan dan jarak..." Ungkap Ako yang melihat material obsidian di panahnya sudah bergabung dengan zirah milik Pyro.


"...itu artinya dia pasti akan meledak dalam waktu yang dekat, kombinasi kita tidak buruk juga." Ako memasang tatapan penuh tekad sampai ia melihat Pyro mencoba untuk menyerang dirinya.


Pyro melancarkan satu pukulan lalu menerima jeda ketika ia mencium bau mesiu, kepalanya mulai mengeluarkan asap hitam dan terjadilah ledakan setara dengan granat.

__ADS_1


"A-Apaaaaa!?!?" Pyro terkejut ketika melihat zirah bagian kepalanya hancur menjadi kepingan kecil sehingga asap hitam lainnya keluar dari bagian tubuhnya yang berbeda.


Semua material obsidian yang sama dengan Pyro akan meledak dengan daya kekuatan serta ukuran yang sama, seperti granat karena kemampuan dari pengubahan realitas menjadi sebuah ledakan.


Walaupun ia berada di jarak dekat dengan pengerasan serangan obsidian yang membekukan tubuh Ako, material itu tetap memiliki kesamaan secara sempurna dengan ciptaan Pyro sampai mempengaruhi material yang menempel ditubuhnya itu.


Ako berhasil bebas, tetapi ledakan itu tidak melukainya karena Hinoka yang menguasai ledakan itu untuk tidak melukai temannya kecuali musuhnya, dia bisa melakukan itu karena sudah melatihnya sejak kecil.


Ako melihat celah yang sangat menguntungkan bagi dirinya, ia melepaskan panah yang mengandung sihir batu di dalamnya yang berhasil mengenai anggota tubuhnya sampai mengeraskannya menjadi batu.


Pyro telah terjebak di dalam batu yang masuk ke dalam lautan api dan tertarik menuju dasar laut paling dalam sampai melewati Hinoka dan Anastasia yang berenang menuju permukaan.


"Apakah... itu sudah cukup?" Tanya Ako yang dipenuhi keringat karena suhu panas di sekelilingnya.


"Tidak... tadi hanya sementara. Aku pikir kita harus segera melarikan diri dari tempat ini dan membaca halaman penghancur untuk buku sihir ini." Kata Anastasia.


"Intinya kita memiliki waktu... Ako, tangkap ini dan cepat padamkan menggunakan panah yang mengandung air di dalamnya!" Hinoka melepaskan dorongan aura penuh kepada buku sihir tersebut.


Ako melihat buku itu melesat menuju arah dirinya, dan ia berhasil menangkapnya, "Cepat pergi jauh-jauh dari tempat ini...!"


"Strategi yang sama tidak akan bisa mempengaruhi dirinya ketika dia berhasil mengejar dan melawan kita lagi!" Peringat Hinoka dimana ia tidak dapat menipu lawannya lagi dengan sihir realitas itu.


Ako melihat buku sihir yang terbakar dengan api itu, "Jika aku berhasil memadamkan semua itu maka aku harus segera membuka halaman penghancur..."


"...di dalamnya pasti terkandung banyak sekali tulisan rumit yang harus aku sebutkan demi bisa mengaktifkan mantra itu." Ungkap Ako yang mulai memadamkan api itu dengan cepat.


"Jika aku memiliki beberapa detik maka aku bisa... Nobu peringati kita untuk tidak bertarung dengan para kandidat sebelum kita menghancurkan sumber kekuatan permanen mereka yaitu buku ini."


"Kandidat ini cukup menyeramkan... manipulasi api dengan sempurna sampai bisa mengubah lautan yang begitu luas menjadi lautan api seperti neraka..."


"Buku ini juga panas...!!! Itu artinya aku bisa masuk ke dalam hawa panas apapun!!!" Kepala Pyro keluar dari dalam buku tersebut bersamaan dengan tinju apinya yang sudah ia kepalkan.


"Ako!!! Lepaskan buku itu!!!" Seru Hinoka yang kembali tertarik menuju dasar laut karena Pyro yang berhasil bangkit dari luka ledakan tadi.


Pyro menghantam wajah Ako sampai tengkoraknya retak, pukulan itu mementalkan dirinya kembali ke dalam lautan api sehingga ia berhasil mengambil Grimoire itu dengan tatapan yang sangat kesal.


"Sudah aku bilang bukan...!? Cuaca panas seperti ini, buku akan terasa hangat walaupun kau sudah memadamkannya... aku tetap bisa melakukan perpindahan ke dalam ruangan atau benda panas!"


Pyro terus mengeluarkan perkataan penuh amarah sampai ia tidak memperhatikan sapu terbang Anastasia yang terbang di belakangnya lalu menghantam tangan Pyro sampai buku itu terjatuh ke dalam lautan api.


"Apa!?!? Brengsek...!!!" Teriak Pyro yang mulai menembak sapu itu menggunakan kedua tapaknya tetapi sapu itu berhasil melarikan diri.


Perhatiannya mulai pecah sampai ia menunjukkan banyak sekali celah untuk Ako tembak menggunakan panahnya, panah air berhasil menusuk punggung Pyro sampai matanya mulai bergaris merah karena bertambah kesal.


"Sial... kondisi ini bertambah semakin buruk... jarak sihir ledakanku cukup jauh dari benda yang dekat dengan Ako... bahkan panahnya juga..." Ungkap Hinoka yang terus mengerahkan semua tenaganya untuk berenang ke atas.


"Dia pasti akan merasa bersalah dan ingin bertanggung jawab atas keterlambatannya untuk menghancurkan Grimoire itu..."


"...dia juga berada di jarak yang sangat dekat dengan Grimoire itu sampai mereka saat ini sedang bertarung siapa yang layak untuk merebut kembali buku sihir itu."


"Pertanggung jawabannya bisa saja memberikan bayaran besar atas nyawanya sendiri, tetapi mereka yang terjebak dalam kegelapan seperti ini akan menemukan jalan dengan resolusi."


"Kita perlu mengorbankan sesuatu... aku yakin resolusi kita bisa membuka jalan itu, maupun dia kandidat atau orang yang sudah mendapatkan berkah dewa..."


"...tujuan bangsa Legenda harus tetap diselesaikan." Kata Hinoka yang mulai menggigit pakaiannya untuk menarik sebuah senar dari kain bajunya yang robek.


"Resolusi tidak salah berkaitan dengan pengorbanan...!"

__ADS_1


"Maju, Shichiro Ako...!!! Lepaskan semua seranganmu itu yang tidak memiliki arti apapun!!!" Seru Pyro yang terbang menuju arahnya dengan kedua kakinya yang terbakar.


Ako langsung mengumpulkan semua panah yang ia miliki dan melepaskannya kepada Pyro sampai mengenai tubuhnya yang terbuat dari obsidian tetapi semua api itu membentuk tali yang melempar panah itu kembali kepada Ako sampai tubuhnya menerima tusukan itu.


"Nrgghh...!" Ako terus menembak panah itu kepada Pyro sampai mereka saling menyerang satu sama lain dengan luka yang diterima secara bersamaan.


Hinoka tersenyum serius, melihat Ako berhasil menahan Pyro sampai ia sudah mengumpulkan semua senar kain yang ia bentuk menjadi sebuah bola untuk di lempar dengan sekuat tenaga menuju permukaan laut.


Namun, lemparannya masih belum cukup sama sekali, untungnya Anastasia membantu dengan sapu terbang yang membawa bola kain itu menuju permukaan lautan api.


"Aku tidak banyak membantu karena sihirku berdasarkan suara... setidaknya sapu itu dapat membawakan kemenangan untuk kita!" Kata Anastasia.


Hinoka mengangguk lalu melihat bola kain itu sudah berada di jarak yang dekat dengan mereka berdua, sapu itu melesat keluar dari dalam lautan sampai mengejutkan Pyro dan Ako.


"Counter-Reality!!! Explosive...!!!" Hinoka langsung mengubah bola kain itu menjadi ledakan yang sangat besar sampai mementalkan mereka berdua, ledakan itu tidak melukai Ako sama sekali melainkan mendorongnya ke belakang untuk mengamankan dirinya.


Berbeda dengan Pyro yang menerima luka ledakan itu sampai lengan kanannya hancur karena mencoba untuk melakukan satu pukulan ke depan.


Ako tersenyum dengan rasa puas, ia meraih Grimoire itu yang ikut terpental bersamaan dengan dirinya menuju arah yang sama, ia mulai membukanya lalu memadamkan semua itu.


"Jangan pikir serangan itu sudah cukup untukku...!!!" Pyro melesat ke depan lalu ia memasang tatapan kaget ketika melihat Ako memasukkan Grimoire itu ke dalam lautan api dan melepaskan dorongan penuh kekuatan untuk memberikannya pada Hinoka.


Pyro masuk ke dalam lautan api lalu melihat Hinoka memegangnya dan mengangkat jarinya lalu menyentuh sampul itu, "Jika apinya tidak akan padam maka..."


"...kemutlakan akan aku ubah realitasnya menjadi sebuah ledakan yang besar!"


"Tunggguuuuuu!!!" Teriak Pyro keras sehingga Hinoka langsung menggunakan kekuatan penuh dari sihir realitasnya untuk mengubah buku itu menjadi ledakan yang sangat besar.


Ledakan itu mementalkan Pyro ke atas langit bersamaan dengan Anastasia dan Hinoka sampai ia melihat lautan api itu mulai meletus seperti gunung berapi yang mengamuk.


"Kita berhasil...!!!" Hinoka melihat banyak sekali asap hitam di sekelilingnya yang disebabkan oleh ledakan Grimoire itu.


"Brengsek...!!!" Pyro langsung berubah menjadi api dan padam seketika untuk melarikan diri menuju ruangan pertemuan.


"Bodoh sekali ya..." Hinoka tersenyum lalu menjentikkan jarinya sampai asap hitam itu membentuk kembali Grimoire.


"Aku menggunakan sihir ledakan sementara yang dapat memperbaiki sesuatu yang sudah dihancurkan menjadi benda yang lebih dibenarkan..."


"...seperti pemulihan, bisa digunakan untuk objek atau makhluk hidup. Ako yang mengulurkan waktu memberi diriku kesempatan untuk mengumpulkan kekuatan demi bisa melakukan [Restoration Explosive]."


Hinoka mendekati Ako yang sedang memulihkan tubuhnya sedikit demi sedikit lalu memadamkan api tersebut sampai Hinoka dapat membaca halaman penghancur.


"Dengan korban api yang terus menjalar... padamkan lah api sekarang juga, termasuk dengan buku ini... meletus lah seperti gunung berapi sampai padam!!!" Seru Hinoka yang melemparnya ke atas.


Grimoire itu terbuka lebar lalu berputar sangat cepat sampai mengeluarkan cincin api yang berputar, setelah itu terjadi letusan yang sangat besar sampai mengubah lautan api itu menjadi lautan biasa.


"Hahhh... lelah sekali..." Hinoka terjatuh ke dalam lautan dengan Lenergy dan tenaga yang sudah habis karena lapisan untuk melindungi dari lautan api dan tentunya tenaga untuk mengendalikan realitas.


"Ugh..." Ako juga mengalami kondisi yang sama dengan Hinoka, hanya Anastasia saja yang terlihat biasa saja karena ia dapat memulihkan semua Lenergy itu.


"Kerja yang bagus, anak-anak." Anastasia tersenyum, ia awalnya berpikir bahwa dirinya memiliki kesempatan untuk menghabisi mereka sekaligus.


Namun, mereka terlihat sangat lemah sampai ia juga berpikir bahwa menghabiskan mereka sekarang bisa saja memperlambat proses eksperimen itu, ia masih ingin dekat dengan kelima gadis pemberontak itu.


"Aku akan nyanyikan lagu yang dapat memulihkan kondisi kalian..."


""Terima kasih~""

__ADS_1


__ADS_2