Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 937 - Pihak yang Sudah Pecah Belah


__ADS_3

"Akhirnya kau sudah bangun, Aditya..." Seorang pria di sebelahnya menunggu Aditya untuk bangun dari tidurnya yang lumayan lama ketika ia menerima sebuah pemulihan yang cukup.


"Maaf untuk membuatmu khawatir, Wilhelm..." Aditya duduk di atas kasurnya lalu ia menatap bekas luka di bagian perutnya yang sudah tertutup rapat dengan jahitan dan perban.


"Sekarang aku sudah siap untuk melanjutkan misiku untuk menjaga semua sumber daya alam di Indonesia." Aditya melihat kalung yang memiliki gambar keluarganya di atas meja itu.


"Tekadmu untuk tetap bertahan hidup... kau memang pria yang diberkahi dengan keberuntungan jika masih bisa hidup sejauh ini, Aditya." Wilhelm mengambil senapan api lalu ia memberikannya kepada Aditya.


"Kau sudah tidur terlalu lama sampai tidak mengetahui apa yang terjadi di luar sana saat ini... berita memberitahu kita bahwa semua bangsa dan ras asing tidak dapat menggunakan yang namanya sihir lagi."


"Sama halnya dengan kita ketika mencoba untuk menggunakan Mana untuk membangkitkan sihir, itu artinya kau tidak dapat memunculkan sebuah bambu runcing melalui daratan lagi."


Aditya memasang tatapan kaget ketika mendengar berita itu, bukan hanya itu saja yang membuat dirinya kaget melainkan Wilhelm memberitahu dirinya bahwa Manusia akan kembali menginjak puncak teratas sebagai makhluk hidup sempurna.


"Pemerintah itu sudah mengacaukan seluruh alam semesta... banyak sekali ledakan nuklir yang terjadi di setiap planet dan wilayah dalam alam semesta itu masing-masing."


"Semuanya hancur... tidak menyisakan apapun kecuali debu hitam bekas mayat dari mereka yang tidak selamat ketika menerima ledakan nuklir itu dari dekat atau jauh karena radiasinya itu."


"Ternyata mereka sudah mendapatkan keuntungan besar ya... mengetahui sihir mendadak menghilang seperti itu, mereka menggunakan semua amunisi nuklir itu untuk memusnahkan bangsa asing."


"Pemerintah itu hanya memedulikan satu hal yaitu kedamaian dan kebebasan yang mereka inginkan... sampai semuanya mereka anggap musuh ketika mencoba untuk menghalanginya."


"Satu-satunya hal yang mereka terima ialah persatuan... jika kita bangsa Manusia mau mengikut pemerintah kepenuhan maka keamanan kita akan terjaga dengan baik."


"Namun, apa yang mereka lakukan saat ini juga merugikan planet Bumi termasuk dengan semua negaranya karena sumber daya kita tidak lama lagi akan habis..."


"...semua manusia saling berperang satu sama lain hanya untuk melindungi persenjataan dan sumber daya alam, perang saudara dan perang antar alam semesta yang sudah mereka picu."


"Satelit yang Andrian lepaskan menangkap sesuatu dari planet Mars, di sana terdapat sebuah bangunan canggih yang berkemungkinan menjadi markas untuk aliansi pemerintah."


"Kalau begitu, kita hanya perlu menahan semua pasukan aliansi itu sebelum mereka membuat bumi menjadi mis---"


Wilhelm dan Aditya terpental ke belakang ketika sebuah helikopter nekat menembus tembok bangunan rumah sakit itu, "Oi...!!! Apakah para Manusia aliansi sudah kehilangan sel otak mereka!?"


"Tidak... helikopter tadi dikendalikan melalui layar kontrol, kita harus segera pergi dari tempat ini karena mereka juga mengincar semua Manusia pengguna Mana." Aditya mulai melakukan evakuasi keluar bersama Wilhelm yang mengikutinya dari belakang.


"Mereka terlihat seperti mengincar dirimu... aku melihat kau terluka di Medan peran, salah satu dari tentara itu tidak menghabisi dirimu karena mereka awalnya memutuskan untuk menculik dirimu."


"Ya... aku sudah di Bounty oleh Jenderal dari aliansi itu, salah satu yang membuat Manusia bersemangat adalah uang dan harta!" Aditya membidik ke depan menggunakan senapan pistol lalu menembak kepala tentara di depannya.


Satu peluru yang menerima aliran Mana sudah cukup untuk menghancurkan isi kepala semua tentara itu, kedua matanya mulai ia alirkan Mana agar tembakan yang dirinya lakukan dapat mengenai sasaran tertentu.


"Senang untuk melihat dirimu kembali seperti biasanya, Aditya."


"Ya... dimana cucuku?"


"Dia sedang menjalani misi bersama Andrian, tidak lama lagi mereka akan kembali untuk melapor situasi yang berada di Riau." Wilhelm melihat banyak sekali kedatangan Manusia aliansi yang dipenuhi senjata.


Tentara militer Indonesia terus menahan mereka semua, "Manusia aliansi itu bersatu... semua negara... kita harus berhati-hati dengan senjata yang mereka semua pegang."

__ADS_1


"Kita tidak perlu khawatir dengan namanya kemampuan Mana sekarang."


"Semua orang hanya mengandalkan senjata dan senapan mereka yang diperkuat oleh Mana itu sendiri!" Aditya melempar sebuah granat menuju arah pasukan aliansi itu.


Wilhelm dan Aditya terus menghabiskan semua peluru mereka untuk menjatuhkan para pasukan aliansi, setelah itu tatapan mereka langsung fokus terhadap helikopter di depan mereka yang tidak memiliki penumpang sama sekali.


"Wilhelm, apakah kau memiliki RPG?"


"Tidak sama sekali...!" Wilhelm melompat ke depan lalu ia mengeluarkan sebuah pisau untuk menusuk tembok bangunan itu yang membantu dirinya mendarat ke bawah dengan aman.


Aditya melakukan hal yang sama sehingga kedua Manusia itu berhasil menghindari rudal yang dilepaskan oleh helikopter tersebut, mereka memutuskan untuk pergi dari wilayah itu secepat mungkin.


Pintu keluar di hadapan mereka terbuka oleh seorang tentara aliansi tetapi Aditya menghantam wajahnya lalu menusuk lehernya cukup dalam untuk menjatuhkan dirinya.


"Sudah aman, maju..." Kata Aditya yang mulai meraih senjata tentara tersebut karena memiliki lampiran granat yang bisa ia tembak ke depan sampai menjatuhkan banyak tentara di depannya.


"Kau fokus dengan sinyal GPS yang dapat melacak Andrian... kita perlu membantu dirinya sebelum ia dikepung oleh pasukan aliansi yang mencoba untuk merebut sumber minyak di Riau."


"Roger!" Wilhelm mengeluarkan sebuah alat GPS untuk mencari keberadaan Andrian.


Sebuah titik merah terus berkedip cepat yang mengartikan jantung Andrian berdetak sangat cepat karena sedang tertekan dalam misinya.


"Itu kendaraan kita..." Aditya melihat helikopter milik Wilhelm lalu ia segera masuk ke dalam pengemudi dan menerbangkannya.


***


Andrian bersama pasukannya saat ini berada di dalam kapal selam milik pemerintah aliansi itu yang memegang hanya sekali rudal di dalamnya sebagai cadangan untuk menyerang pesawat milik mereka semua.


Andrian mendorong tentara di depannya lalu ia menusuk matanya menggunakan pisau yang ia pegang di tangan kirinya, setelah itu ia menjatuhkan tentara tersebut dan menembak kepalanya menggunakan pistol.


"Aman?"


"Aman!"


"Adit, persiapkan posisi di depan pintu itu." Perintah Andrian yang mulai menunjuk pintu besi di depannya sampai cucu Aditya yang bernama Adit mulai mendekati pintu itu.


"Indera, cepat pasang bom tempel itu untuk menghancurkan pintu tersebut agar kita memiliki keuntungan lebih untuk mengejutkan mereka..."


"Aku sedang melakukannya, Kakek..." Indera berhasil memasang semua bom tempel di pintu tersebut lalu mereka bertiga tidak lupa untuk mengisi ulang amunisi agar bisa menghabiskan semua tentara di balik pintu itu.


"Sekarang...!" Indera menekan tombol pemicu ledakan itu sampai pintu tersebut hancur lalu mereka bertiga membidik semua kepala tentara itu menggunakan senapan mereka lalu mengakhiri dengan tembakan yang menghabiskan amunisi dari senapan itu.


"Aman!" Seru Andrian yang mulai memeriksa setiap saku tentara itu untuk mencari kunci yang dapat membantu dirinya untuk melepaskan rudal itu kepada semua helikopter yang menyerang Riau.


"Aku menemukannya, kunci peluncuran." Kata Adit yang mulai melempar kunci itu kepada Andrian, ia berhasil menangkapnya lalu mendekati ruangan kendali untuk memasukkan kunci tersebut.


"Andrian... kami sudah dekat dengan Riau, aku bisa melihat banyak sekali helikopter dan kapal tempur di saja, ganti."


"Roger... apa yang kau lihat saat ini, semuanya akan musnah dengan putaran kunci, Aditya. Senang melihat dirimu baik-baik saja."

__ADS_1


"Aku memiliki kunci peluncuran itu, akan aku segera lepaskan semua rudal itu untuk menghancurkan kendaraan di atas langit."


Aditya mengeluarkan sebuah alat yang mengukur semua koordinat pesawat tempur dan helikopter itu lalu ia memberikannya kepada Andrian sampai ia mulai menekan semua tombol penuh dengan angka.


"Koordinat siap... amunisi rudal akan dihabiskan untuk menghancurkan semua pesawat tempur dan helikopter dalam 15 detik!"


"Indera, kendalikan konsol itu sekarang." Perintah Andrian, Indera segera mendekati konsol tersebut lalu ia melihat Kakeknya melempar sebuah kunci yang langsung ia tangkap dan masukkan ke dalam lubang kunci.


"Tiga!"


"Dua!"


"Satu!"


"Sekarang!" Andrian dan Indera memutar kunci tersebut sampai membuka penghalang di sebelah mereka yang menunjukkan tombol merah untuk melepaskan semua rudal tersebut.


Andrian dan Indera menekan tombol itu sampai kapal selam itu naik menuju permukaan lalu membuka semua bagian senjata yang menghalangi pelepasan rudal menuju langit-langit.


"Aditya... jaga jarakmu dengan rudal itu, rudal ini bergerak secara otomatis dan akan memusnahkan apapun yang menghalanginya! Peringat Andrian sampai Aditya mulai menjauhi helikopter itu dari lokasi.


"Ayo! Bergegas keluar sekarang...!" Seru Andrian selagi menaiki tangga yang membawa dirinya langsung menuju permukaan kapal selam itu, ia bisa melihat pasukannya sudah mempersiapkan perahu untuk mereka melarikan diri.


Adit dan Indera berada di perahu yang sama dengan Andrian, ia mulai menyalakan mesin perahu tersebut lalu mengendarainya kembali menuju pulau Riau untuk membersihkan sisanya di dalamnya.


"Rudal sudah terlepas!" Seru Indera yang melihat semua rudal dari kapal selam sebelumnya menghancurkan banyak sekali helikopter dan pesawat tempur di atas langit.


Ledakan mulai terjadi secara beruntun di atas langit sampai pesawat tempur yang mencoba untuk melarikan diri langsung kena oleh rudal canggih itu yang dapat menyesuaikan kecepatannya dengan pesawat itu.


"Itu burung kita...!" Andrian menunjuk helikopter milik Wilhelm dimana ia menjatuhkan tangga tali untuk mereka naiki.


"Aditya, misi selesai... kita hanya perlu membasmi sisanya di pulau Riau agar mereka bisa berhenti merebut sumber minyak kita semua."


"Ya, aku melihatnya... kerja bagus, kejadian tadi bisa saja masuk ke dalam buku sejarah baru."


"Wah... buku Sejarah bertambah semakin tebal..." Kata Adit.


***


Shinobu berhasil mengumpulkan semua Legenda yang bertahan hidup di planet Legenia, mereka semua terlihat baik-baik saja karena sudah menerima botol berisi pemulihan dari Konomi, Yuffie, dan Anastasia.


"Hari ini aku ingin menyampaikan sebuah pesan penting kepada kalian semua, soal gejala yang menyebabkan kita semua tidak bisa lagi terbang dan menggunakan sihir..."


"...soal ledakan nuklir yang disebabkan oleh umat Manusia, aku akan menjelaskannya secara langsung kepada kalian semua sekarang dan hari ini!" Seru Shinobu sampai mereka semua mau mendengarkan dirinya.


"Sekarang bukanlah saatnya untuk merasa sedih atau putus asa ketika kehilangan nilai tambah dari kita masing-masing yaitu sihir...!


"...tidak ada waktunya juga untuk mengkhawatirkan soal dunia kita yang sudah kacau dan hancur karena kita dapat memperbaiki semuanya setelah..."


 

__ADS_1


"...membalaskan dendam semua nyawa yang gugur karena ledakan dari umat Manusia!!!"


__ADS_2