Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 657 - Ikatan Bayi


__ADS_3

"Tunggu sebentar, tolong kamu urus soal itu, Tech." Kata Kou karena prioritas utamanya adalah keluarga dan itu kedua mertuanya yang saat ini masih belum menerima kepergian dari Minami.


"Shiratori... Ayah... Shira..." Kou langsung salah tingkah karena pikirannya dipenuhi tugas yang bermunculan sampai ia memanggil nama Shira dengan cara yang berbeda.


"Maksudku, Ayah... dan ibu... bukannya sudah waktunya untuk melanjutkan hidup seperti biasanya? Jika kalian terus sedih seperti ini..."


"...maka Minami akan sedih di surga, yang ia harapkan adalah seorang Ayah yang hebat dan seorang ibu yang dapat di andalkan." Kou mencoba untuk membangkitkan semangat hidup mereka.


Shira hanya bisa diam karena ia sendiri tidak mengerti lagi soal siklus masalah ini, jika Zoiru sang dewa agung Oath sekuat itu maka musuh yang jauh lebih kuat akan menanti dirinya.


Bukan kehilangan semangat atau motivasi melainkan rasa trauma yang ia rasakan sungguh besar karena sudah melihat Ibunya terbunuh di hadapannya, tidak bisa menyelamatkan Kakaknya karena selamat.


Bahkan ia sendiri tidak cukup kuat untuk bertahan hidup sampai harus mengerahkan harapan itu kepada Minami, dan Minami menggunakannya untuk menyelamatkan seluruh alam semesta dengan bayaran nyawanya.


Kou melihat Megumi yang terlihat lebih sedih karena ia sendiri tahu kasih sayang seorang ibu kepada anak tidak memiliki batasan apapun, pasti rasanya cukup menyakitkan.


Mengetahui Minami menjadi pahlawan dengan mengorbankan dirinya itu, rasa bangga memang muncul tetapi Megumi terlihat seperti ingin berbicara dengan Minami untuk terakhir kalinya.


"Ayah... Ibu... bagaimana jika mencoba untuk berlatih di dalam kuil cahaya? Mungkin akan membantu kalian memasuki berbagai macam tahap cahaya."


Tatapan Shira langsung tertarik ketika mendengarnya, melihat Shira kembali bersemangat ketika mendengar kuil itu membuat Megumi tersenyum.


"Shira... apa yang Kou katakan benar, tidak baik jika terus depresi dan bersedih seperti ini, kedua hal itu tidak akan mengembalikan putri kita." Megumi menggenggam tangan Shira.


Shira terdiam sebentar, "Ya... kau benar... masih ada banyak kesempatan dan aku sendiri belum terlambat untuk menghentikan ancaman selanjutnya."


"Memang tidak ada yang namanya abadi, semuanya akan berubah pada waktunya. Aku harus bersiap..." Shira mengepalkan kedua tinjunya lalu menatap Kou dengan tatapan serius.


"Kou... terima kasih... kamu memang sudah melakukan banyak hal kepada kami? Aku mungkin berhutang banyak kepada dirimu dan Korrina." Shira menunjukkan senyuman lembutnya lagi.


"Syukurlah! Ayo! Ayo! Semangat kembali...! Melanjutkan kehidupan untuk melihat masa depan yang menanti kita semua...!" Kou mulai melompat-lompat.


"Ya...! Baiklah... Minami, lihatlah ayahmu di atas sana. Golden Spirit, aku akan menguasainya agar bisa memasuki semua tahap dan jalan cahaya." Shira kembali bersemangat seperti biasanya.


Dirinya yang sebentar lagi akan menjadi Kakek masih menunjukkan jiwa pemudanya sampai ia tidak sabar untuk mengunjungi kuil itu dan tinggal di Neko Isle.


"Kuil itu kalau tidak salah---" Kou melebarkan matanya ketika mulutnya merasa mual, fase hamil pertamanya telah di mulai dan ia mencari tempat untuk muntah sebentar.


Shira dan Megumi bisa melihat, tiba-tiba mereka terpikirkan tentang sesuatu melihat perut Kou sedikit berkembang, berbeda dengan sebelumnya yang sangat kurus seperti gadis berumur 4 tahun.


"Ugghh..." Kou mulai mengelus perutnya dan segera pergi menghampiri Shira untuk memberitahu lokasi dari kuil cahaya.


"Kou... k-kamu jangan-jangan... sedang hamil...?" Tanya Megumi, Kou tersipu seketika dan ia langsung menjawabnya dengan anggukan sampai mengejutkan Megumi dan Shira.


"Kamu benar-benar hamil...!? T-Tidak mungkin...!!! Itu artinya Shuan... kau...  aku akan mendapatkan cucu pertamaku!!!" Shira merasa lebih bersemangat dan tidak sabar untuk melihat generasi baru.


"Uwahhhhh~ Selamat, Kou. Seharusnya kamu memberitahu kami soal ini..." Megumi tersenyum dan mengelus kepala Kou selagi menggerakkan ekornya dengan cepat.


"Aku akan menjadi seorang Kakek... hahaha, sungguh keajaiban hidup sebagai bangsa Legenda dengan umur abadi yang tidak akan pernah menumbuhkan rambut putih atau keriput."


Kou terlihat senang melihat kedua mertuanya kembali memiliki semangat yang seharusnya ditunjuk setiap hari, Megumi mulai memeluk Kou sebagai ucapan selamat atas kerja keras.


"Jika kamu hamil seperti ini maka sudah waktunya untuk bekerja dengan pelan-pelan, jangan terlalu memaksakan dirimu."


"Hm! Tentu saja!"


"Garis keturunan Comi dan Shiratori... aku tidak sabar untuk melihat cucuku sekuat apa, mulai dari sekarang aku harus terus bertambah kuat!" Shira menepuk wajahnya dengan tatapan serius.


Mereka berbincang sebentar, Kou tidak lupa untuk memberikan lokasi kuil itu kepada Shira dan Megumi, ia juga sudah membeli semua kediaman yang mewah untuk mereka di pulau.

__ADS_1


Untuk sekarang, Kou menyarankan kedua mertuanya menjalankan hidup seperti biasanya dan akan lebih baik lagi jika Shira melanjutkan latihan dengan memulai dari nol yaitu Golden Spirit.


Shira dan Megumi pergi meninggalkan Kou sendirian, ia juga akan berkunjung lagi setelah menyelesaikan soal kedua desa yang saat ini sedang menyebabkan keributan.


"Baiklah... selanjutnya." Kou merasa lega bahwa Shira dan Megumi tidak menanyakan soal Shuan begitu banyak karena kondisinya sekarang semakin buruk.


Depresi yang di alami oleh Shuan cukup sulit karena kutukan Crimson yang ia miliki, sebagian dari tubuhnya dipenuhi dengan garis merah bahkan rambutnya sudah setengahnya menjadi merah.


"Gwaahhhhhh!"


Kou mendengar suara Koizumi, ia menoleh ke belakang dan melihat Haruka mendarat tepat di belakangnya karena ia harus membantu Kou meringankan pekerjaannya.


"Kou, aku akan membantu." Haruka tersenyum.


"Ehh...? Tapi, Rokuro menunggu loh."


"Tidak mungkin kita menghabiskan waktu yang cukup lama kok." Haruka melihat Koizumi melayang lalu mendarat di atas kepala untuk bermain dengan tantenya.


"Ahh, Koizumi, kenapa kamu bahagia sekali hari ini?" Tanya Kou yang mulai mengangkat tubuh Koizumi.


"Arata membuatkan banyak kentang goreng dengan hal-hal yang berbeda... dia menjadi lebih bersemangat sekarang." Haruka mengelus kepala Koizumi lalu ia mengambil kacamata Kou sebentar untuk melihat semua tugas itu.


"Ahh... dia memang sudah memiliki sikap kecanduan dari ibunya, kamu menyukai Vodka dan Koizumi menyukai kentang goreng."


"Lihatlah siapa yang berbicara, kamu sendiri kecanduan dengan madu."


"Hahaha, kita keturunan Comi memang pasti memiliki kecanduan terhadap sesuatu yang lezat... Kakak Honoka bahkan sudah kecanduan dengan pir itu." Kou mulai bermain dengan Koizumi.


"Kou sepertinya memang sulit... semuanya menjadi kacau seketika, sudah lama sekali tidak ada keributan dan kekacauan terhadap dua desa yang tinggal berdekatan." Kata Haruka, ia sudah mengetahui semua informasi itu.


"Sejak kedatangan Rxeonal dan kehancurannya... semuanya berjalan lancar karena kita bangsa Legenda sejak itu bersatu untuk mengatasi tujuan yang sama."


"Sudah, sudah... jangan berpikir negatif seperti itu. Jika kita memikirkan yang tidak-tidak maka kesempatan terjadi akan bertambah besar." Kou menempati Koizumi di atas kepalanya.


"Kalau begitu, pergi?" Tanya Kou.


"Baiklah, aku sendiri tidak memiliki pekerjaan kecuali menjaga Koizumi... Rokuro juga sedang sibuk mengurusi hidangan baru." Haruka mengangguk lalu ia mengangkat Koizumi.


"Sebenar ya, anakku, tantemu tidak bisa menggendong dirimu jika ia menggunakan Super Tech." Kata Haruka, Kou mulai terkekeh dan segera terbang ke atas.


Haruka mulai mengikutinya, kedua saudara itu seperti biasanya bekerja dan mengurusi sesuatu yang janggal, tidak menghabiskan waktu lama karena perkataan Kou sudah cukup untuk memenangkan mereka semua.


Mereka lebih mempercayai ratu Touriverse jadi masalah seperti itu sudah tidak bisa di bilang berat, Kou berharap dirinya bisa bertemu dengan kedua sepupunya itu untuk membicarakan tentang sesuatu.


"Kakak."


"Iya?"


"Semua pekerjaan sudah selesai, terima kasih karena sudah membantu dan maaf selalu merepotkan." Kou terkekeh.


"Santai saja... kamu juga harus membutuhkan banyak bantuan setiap hari berlalu, perutmu itu akan terus bertambah besar lagi dan lagi loh."


"Iya juga, semoga saja anakku bisa menurut di dalam perutku ya karena... aku merasakan firasat yang tidak baik." Kou memasang ekspresi yang terlihat khawatir.


"Tenang saja, adik kecilku. Kamu tidak sendirian..." Haruka mengelus kepala Kou dan Koizumi mulai menyentuh pipi Kou.


"Hehehe, terima kasih. Ahh...! Bagaimana jika kita mengadakan pesta lagi...? Semua orang menghadapi waktu yang sulit, lebih baik kita menciptakan sebuah kesenangan."


"Terdengar menarik, boleh juga!"

__ADS_1


"Aku juga ingin mempertemukan Koizumi dengan Hinoka agar hubungan sepupu mereka bisa semakin ketat."


Kou mulai menghubungi semua teman dan keluarga untuk berkumpul di rumahnya, bisa di bilang reuni antar keluarga dekat karena ia ingin semua orang bisa merasakan kebahagiaan besar bersama.


Rencananya itu terdengar cukup menarik bagi mereka sehingga Kou mulai menjadwalkan pesta itu besok pagi sampai malam agar bisa memuaskan jiwa dan mental penuh dengan rasa kebahagiaan.


"Selesai... jangan lupa bawa Koizumi ya." Kou menatap Haruka.


"Tentu saja, anak ini selalu mengikuti diriku, bukannya begitu, Koizumi?" Haruka menatap Koizumi yang sedang memainkan waktu seperti biasanya.


"He-Hei! Jangan mempercepat waktu sampai besok...! Nakal!" Haruka mulai menutup kedua mata Koizumi dan menghentikan pengendalian waktunya itu yang cukup menyusahkan.


BAM! BAM! BAM!


"Su-Suara apa itu?!" Kou terkejut mendengar suara ledakan yang berasal dari gunung di hadapannya.


Haruka memasang tatapan datar karena ia baru saja memasuki wilayah desa dimana Honoka tinggal, lokasinya hampir dekat dengan Comi's Corporation dan kebetulan mereka bertemu dengan gadis onar itu.


"Hinoka..."


"Ehh...?" Kou belum mengetahui kekuatan Hinoka tetapi mengetahui suami dari Honoka ia sekarang mengerti kekuatan Hinoka.


"Mengontrol realitas menjadi ledakan?" Tanya Kou.


"Iya, apapun itu... tidak ada yang bisa ia ubah menjadi ledakan, berbeda dengan Honoka yang dapat mengubah apapun, Hinoka hanya bisa mengubah sesuatu menjadi ledakan."


"I-Itu sangat berbahaya! Lebih nakal dari Koizumi." Kata Kou sehingga Koizumi mengembungkan pipinya lalu mengendalikan waktu untuk memperbaiki semua kehancuran itu.


Honoka yang sedang memperhatikan Hinoka meledakkan sesuatu menyadari sihir waktu itu sehingga ia melihat kedua saudaranya mendarat selagi memasang tatapan marah.


"Apa yang kamu ajarkan kepada anakmu, Honoka?" Tanya Haruka.


"Tidak ada... dia belajar sendiri, aku sudah tidak bisa menghentikan dirinya."  Honoka menghela nafasnya.


Kou mulai menghampiri Hinoka yang saat ini sedang berguling-guling di atas, "Hinoka, sama Tante sini~"


"Hahaha! Tante...?" Honoka mulai tertawa melihat Kou baru saja memanggil dirinya dengan sebutan Tante.


"Huh! Aku memang seorang Tante! Hanya saja fisikku tidak..." Kou menggendong Hinoka dan membawa dirinya kepada Honoka.


"Kakak, kau harus membuat dirinya mengontrol kekuatan realitas itu, jika tidak maka dia bisa saja meledakkan seseorang." Kata Kou.


"Sudah kok, Hinoka tadi sedang meledakkan wilayah untuk pembangunan desa ini jadi semua penduduk desa terbantu karenanya." Jawab Honoka.


Koizumi mulai Haruka turunkan karena ia ingin dia bermain dengan gadis seumuran dirinya, Hinoka mulai turun dari pangkuan Kou lalu menghampiri Koizumi dengan senyuman lebar.


"Hinoka, apa yang harus kamu lakukan ketika bertemu dengan teman?" Tanya Honoka.


"Gwahhh... chuuu..." Hinoka mulai memeluk Koizumi erat sampai ketiga saudara itu merasakan atmosfer yang begitu berbeda melihat kedua bayi saling rukun.


""Awwww~""


"Uuu... gwahh..." Koizumi mencoba untuk menjauh dari Hinoka karena ia terlalu dekat, sikap dingin Rokuro telah terlihat.


"Muuuu..." Hinoka sendiri menunjukkan sikap Honoka yang selalu menggoda dan menyukai seorang gadis.


"Uwu... Chuuu..." Hinoka mencium bibir Koizumi sampai mengejutkan Haruka dan Kou.


"Bagus, Hinoka! Putriku memang mirip sepertiku ya, sudah bisa menyambut temannya dengan ciuman." Honoka tertawa.

__ADS_1


""Apa yang kamu coba ajarkan kepada putrimu!?""


__ADS_2