
"Golden Sunshine!" Shinobu melesat maju menuju arah Aerith dengan tatapan serius.
"Mungkin ini pertama kalinya kita saling berhadapan seperti ini...! Jangan membuatku diriku kecewa dan lukai lah diriku tanpa menahan diri!" Aerith mengeluarkan tongkat sihir berbentuk kuas.
Kecepatan Shinobu tidak bisa di lihat oleh Aerith tetapi pergerakan tangannya ketika memegang tongkat sihirnya mampu menandingi pergerakannya sampai ia mulai menggambar sesuatu di langit.
Pergerakan Shinobu tertahan oleh gambaran yang Aerith gambar yaitu seorang Legenda dengan tinta hitam yang mewarnai tubuhnya, ia sempat melihat nama Magnus di perutnya itu.
"... ..." Shinobu mulai mengingat perkataan Anastasia bahwa adiknya sendiri oleh sesosok penyihir yang menguasai sihir gambar dimana ia dapat menggambar apapun secara asli.
Gambaran apapun itu, semuanya akan bersikap loyal kepada Aerith sendiri sampai semua hal yang ia gambar akan melaksanakan perintahnya maupun itu bertarung atau mempertahankan dirinya sendiri.
Jika Aerith menulis sebuah nama dalam gambaran tersebut maka sesuatu yang ia gambar misalnya makhluk hidup akan meniru nama dari yang ia tulis.
Shinobu dan gambaran Magnus mulai saling melancarkan serangan secara bersamaan sehingga Shinobu bertarung secara agresif karena rasa kesalnya ketika mengetahui Aerith sudah melampaui batas kesabarannya sendiri.
Shinobu mencakar wajah Magnus lalu ia mengeluarkan Keris menggunakan tapak kirinya, setelah itu ia berputar dan menebas lehernya sampai putus sehingga tubuhnya meledak menjadi tinta yang mengotori tubuhnya sendiri.
"Hahaha! Ternyata kau memang sudah bertambah kuat, Shinobu Koneko!!!" Aerith mulai menggambar sebuah objek seperti senapan yang mengeluarkan rudal besar menuju arah Shinobu.
Shinobu menciptakan perisai emas melalui kedua pergelangan tangannya untuk menahan serangan rudal yang melepaskan ledakan besar sampai mendorong dirinya bersama Beast yang mereka tunggangi ke belakang.
"Sihir menggambar... imajinasi yang ia gambar dapat ia tuangkan ke dalam apapun yang dirinya inginkan menggunakan tongkat sihir bagaikan luas." Ungkap Shinobu.
Koizumi melihat pertarungan Shinobu melawan Aerith, bisa di bilang berat sebelah karena Aerith hanya mengandalkan tongkat sihirnya yang dapat menciptakan bentuk dan makhluk apapun.
"Koizumi!" Panggil Konomi.
"Bagus! Sisanya kepadamu...!" Koizumi melompati waktu lalu ia menyambut Aerith dari belakang dengan satu ayunan belati yang mencoba untuk menebas tengkuknya.
Konomi dan Ako memasang tatapan datar melihat Koizumi selalu saja memberikan musuh yang menyulitkan kedua mereka berdua.
Serangan yang dilakukan Koizumi langsung tertahan oleh tinta yang muncul melalui lehernya, tinta tersebut bisa dibilang gambar Aerith yang dimasukkan dengan katakan 'lindungi diriku'.
"Shimatsu Koizumi...! Kau pasti mencoba untuk menyerang diriku secara diam-diam ya!? Lakukanlah dari depan dan lukai aku...!" Tinta yang menahan Koizumi langsung menarik belatinya.
Belati tersebut di tangkap oleh tinta itu lalu menyerupai bentuknya, tinta yang melindungi tubuh Aerith langsung membentuk belati yang sama dengan Koizumi sampai memiliki efek kerusakan yang sama.
"Apa...!?" Koizumi mencoba untuk menghindari serangan tersebut dengan menghentikan waktu tetapi belati tersebut sudah melukai pipinya karena dapat bergerak dalam penghentian waktu.
"Apa yang...!?" Koizumi mundur ke belakang sehingga Shinobu muncul di depan untuk menghapus tinta berbentuk belati itu dengan melepaskan Golden Repulsor.
Waktu kembali berjalan, "Kakak... kamu harus perlu berhati-hati dengan tinta yang dikeluarkan dari tongkat sihirnya..."
"...penyihir Aerith yang menguasai sihir gambar berdasarkan tinta, jika tinta tersebut menyelimuti sebuah benda atau sesuatu maka bentuknya akan menyerupainya."
"Inilah kenapa aku membenci penyihir, mereka semua selalu saja memiliki keunikan terhadap sihir mereka."
"Waktu itu lagu dan suara... sekarang apa? Gambar...? Apa selanjutnya cinta?" Tanya Koizumi dengan tatapan datar sehingga ia bersama Shinobu langsung menghindar serangan objek seperti peluru.
__ADS_1
"Kita perlu bekerja sama..." Saran Shinobu.
Koizumi mengangguk lalu ia bersama Shinobu melesat ke depan dan menghindari semua serangan dari jarak jauh yang disebabkan oleh gambaran Aerith termasuk tintanya itu.
Shinobu bergerak secepat cahaya sampai berhasil menendang punggung Aerith sampai ia terpental ke belakang, Aerith langsung berputar dan menggambar sesuatu di bulu Beast tersebut.
Pergerakan tangannya sangat cepat sampai melampaui kecepatan cahaya itu sendiri, gambaran yang di buat oleh Aerith berbentuk seperti hewan tinta hitam yang langsung keluar dan menyerang Shinobu secara berkoordinasi.
Shinobu langsung menghantam semua hewan tinta itu dengan kecepatan penuh sedangkan Koizumi saat ini sedang fokus memutuskan semua tinta yang berbentuk seperti pedang dan tajam ke arah dirinya.
Semua tinta itu melewati serangan dan tubuhnya sampai terkadang menyerang dirinya dari belakang dan arah yang buta bagi dirinya untuk lihat, beberapa tinta itu langsung merobek Kisetsu termasuk kulitnya sendiri.
Banyak sekali tinta keluar melalui tongkat sihir Aerith sampai menciptakan aura di sekelilingnya yang membentuk ekor dan pedang memanjang untuk menyerang Koizumi yang saat ini sedang memutuskan tinta lainnya.
Koizumi melompati waktu lalu ia memegang erat belatinya sampai sihir Greednya memancarkan cahaya yang begitu terang, belati dari pedangnya mengeluarkan aura Crimson yang ia lepaskan ke depan.
Semua tinta yang tajam itu langsung hancur dan meleleh, satu detik itu ia gunakan dengan mendekat sehingga waktu kembali berjalan tetapi wajah Aerith menerima satu tendangan dari Koizumi yang dilanjutkan dengan serangan belati.
Belati tersebut berhasil di tahan oleh tinta yang dikeluarkan melalui mulut Aerith, ia tersenyum puas ketika melihat Koizumi menginjak perangkap lubang hitam di atas bulu Beast tersebut.
Koizumi terpental ke atas langit dengan tinta yang membentuk naga kecil melesat menuju arah dirinya, Koizumi menutup mata kiri lalu melebarkan mata kanannya sampai menunjukkan jarum jam yang berjalan lambat.
Penglihatannya sekarang menunjukkan semua pergerakan naga yang lambat, ia langsung menyerang dengan dorongan penuh sampai mementalkan Aerith ke belakang.
Shinobu dari belakang melancarkan satu tendangan yang dibantu dengan pembakaran penuh, tendangannya mengenai punggung Aerith sampai ia terpental ke depan dan menginjak satu daun emas yang mengeluarkan daun lainnya.
Shinobu melebarkan kedua lengannya sampai semua daun yang berada di sekeliling Aerith langsung menjebak dirinya di dalam bungkusan daun yang berbentuk bulat.
Semua tinta di dalam tubuh Aerith langsung membentuk garis di sekelilingnya sampai semua garis itu melesat maju ke depan sampai menembus bahu Shinobu lalu masuk ke dalam untuk menusuk organ tubuhnya.
"Huegghh...!" Garis tinta itu keluar melalui kaki Shinobu, tinta itu yang berwarna hitam langsung berubah menjadi merah yang diselimuti dengan aura berwarna emas.
Shinobu memancarkan cahaya emas melalui mata kanannya sehingga cahaya itu langsung membutakan penglihatan Aerith dalam sekejap, Shinobu memegang erat garis tinta itu lalu menariknya sekuat tenaga.
Aerith tertarik menuju arah Shinobu sehingga ia langsung tersenyum penuh nikmat karena selanjutnya tubuhnya menerima hantaman dari kedua tinju Shinobu yang bergerak secepat cahaya.
Kecepatan yang cukup untuk menciptakan jutaan serangan selama tiga detik, Shinobu mengakhiri serangan dalam detik sepuluh yang diakhiri dengan tebasan Keris sampai membuka daging di bagian perutnya itu.
Aerith terjatuh di belakang dan menerima serangan lain dari Koizumi yang membakar menggunakan bilah belati dengan aura Crimson yang menyelimutinya.
Tubuh Aerith langsung terbakar sampai ia melepaskan ******* yang keras karena menikmati semua rasa sakit itu, Koizumi mendarat di sebelah Shinobu untuk menatap Aerith yang berguling-guling di atas Beast tersebut.
"Dia sudah kehilangan akal sehatnya... sungguh menyebalkan." Koizumi menyilangkan kedua lengannya sampai bulu Beast itu terbakar karena Aerith yang terus berputar.
"GROOAAAGGGHH!!!" Beast itu mengamuk seketika sampai terbang tinggi ke atas, meninggal Konomi dan Ako yang hampir saja membekukan kepalanya itu.
"Shinobu!" Koizumi menggendong tubuh kecil Shinobu, ia melakukannya dengan refleks karena dirinya adalah sepupunya yang paling kecil dan berhak untuk mendapatkan perlindungan.
Koizumi langsung menancap belati di atas daging Beast tersebut sehingga ia bertambah semakin mengamuk dan liar sampai berputar di atas langit lalu melesat penuh dengan kecepatan menuju daratan di bawah.
__ADS_1
BAAAMMMMMM!!!
Beast itu menabrak daratan sampai menyebabkan guncangan besar yang mampu membelah daratan menjadi beberapa bagian, Beast Neko Legenda lainnya langsung melepaskan gelombang sihir melalui mulut mereka secara bombardir.
Koizumi dan Shinobu terjatuh dengan selamat berkat sihir Crimson nya yang mampu melindungi tubuh mereka berdua, ia juga melihat Shinobu membungkus tubuh mereka berdua menggunakan daun emas.
"Kamu baik-baik saja?"
"Mm..."
Konomi dan Ako bergegas menuju dataran rendah, mereka berdua dikejutkan medan tempur yang begitu mengerikan karena banyak sekali Beast Neko Legenda menyerang ke arah berbeda untuk menyingkirkan para pasukan.
Semua pasukan dari berbagai macam kerajaan terus mengerahkan serangan dari jarak jauh terutama lagi pada kesatria yang menaiki seekor naga sampai mendapatkan banyak serangan yang pas.
"Ako!" Konomi melesat ke depan lalu ia melancarkan serangan tombak yang berhasil menghancurkan sihir api di depannya, ia melihat beberapa pasukan Legenda melayang di hadapannya.
""Bunuh mereka yang melindungi bangsa Neko Legenda...!!!"" Teriak semua pasukan yang menganut peraturan di kerajaan mereka dimana seseorang yang membela Neko Legenda akan mendapatkan hukuman mati.
Ako langsung membidik kepala mereka semua dan melepaskan panah yang membekukan kepala mereka sampai menghancurkannya menjadi kepingan kecil.
Konomi memunculkan perisai es yang besar di hadapan mereka untuk menahan satu serangan gelombangnya yang dilepaskan oleh salah satu Beast Neko Legenda.
Jumlah musuh mereka banyak sekali sampai mereka menyerang dari arah yang berbeda, bukan itu saja tetapi semua pemberontak perlu waspada agar tidak melukai para Beast Neko Legenda.
Anastasia muncul di belakang mereka lalu memunculkan nota lagu besar di hadapannya yang menyerang serangan para Beast Neko Legenda itu agar tidak melukai Konomi dan Ako secara diam-diam.
"Kalian perlu melawan semua pasukan Legenda itu..." Peringat Anastasia yang langsung membantu mereka dengan memainkan musik penyemangat yang memberikan mereka peningkatan besar.
Lagu yang dimainkan oleh Anastasia juga memberikan peningkatan besar kepada Shinobu dan Koizumi sampai tubuh mereka dilingkari dengan nota lagu berwarna merah.
Shinobu dan Koizumi menatap api Crimson yang mulai membesar di hadapan mereka, entah kenapa suara ******* Aerith masih bisa terdengar dari jarak yang sangat dekat.
"Hyaaaaaannnn~ panas~ panas~ lebih! Lebih panaskan diriku~~~" Aerith terus mendesah sampai ia mulai bangun dengan mengangkat kedua kakinya terlebih dahulu sampai tubuhnya ikut terangkat.
Shinobu dan Koizumi memasang tatapan yang terlihat sama yaitu kaget ketika melihat tubuh Aerith mengeluarkan banyak sekali cairan tinta bahkan Shinobu sempat memeriksa kembali bilah kerisnya yang ternodai oleh tinta.
"Kalian bodoh sekali ya... Hahahahaha~" Aerith memasukkan jarinya ke dalam kepalanya sendiri sampai banyak sekali tinta yang keluar.
"Aku sudah bersatu dengan tinta dan gambaran...!!!"
"... ...!!!" Noda tinta di bilah Keris Shinobu langsung bergerak dengan cepat sampai menusuk kening Shinobu lalu menghancurkan otaknya.
"Shinobu...!!!" Koizumi secara langsung melakukan pertahanan tetapi garis tinta itu menembus kedua lengannya sampai mengenai pipi bagian kanannya.
Koizumi dan Shinobu terjatuh di atas bulu Beast itu, salah satu dari mereka sudah tidak memiliki nyawa dan itu adalah Shinobu yang lengah dengan serangan noda tinta di bagian bilahnya itu.
"Ini adalah gambaran...!!! Sihir gambar dan tinta...!"
"Penyihir gambar... hyann~ lukai diriku lebih lanjut lagi kalian berdua~"
__ADS_1
"Biarkan aku menggambar kalian yang sedang terluka karena aku terangsang melihat seseorang terluka dan mati~"
"Mmmm~"