
"Haruka, maaf, aku tidak sengaja membuat makanan ini kebanyakan... jika kamu mau maka habiskan saja." Kata Rokuro sambil menempati sebuah mangkuk berisi kentang goreng di dalamnya yang melepaskan aroma lezat.
"Kentang goreng ya... kebetulan, aku sedang lapar sekali." Haruka mengambil mangkuk itu dan ia tidak lupa untuk pergi ke kulkas, mengambil satu botol Vodka karena ia akhirnya mendapatkan waktu istirahat.
Koizumi di sisi lainnya sedang bermain dengan kubus waktu, kubus itu sudah cukup untuk membuat dirinya senang sampai ia mempermainkan waktu tanpa henti di dalam sana.
"Koizumi, sebentar lagi makan bubur ya..."
"Mmmm..." Koizumi menggelengkan kepala.
"Kamu harus makan bubur untuk pertumbuhan dirimu loh, jika tidak makan maka akan terus kecil seperti itu." Kata Haruka, ia melihat Koizumi mencoba untuk tidak mendengarnya.
"Kamu nakal banget... gemas sekali...!!!" Haruka mencubit kedua pipi Koizumi sampai membuat dirinya tertawa.
"Mirip sekali dengan diriku sejak kecil... terus permainkan Papamu itu ya." Haruka mengacungkan jempolnya dan Koizumi mulai berguling-guling.
Haruka tersenyum melihat Koizumi kembali bermain dengan kubus waktu itu, ia mulai membuka tutup Vodka tersebut dan menikmati kentang goreng yang Rokuro buat.
Haruka juga mulai menatap layar virtual di hadapannya yang menunjukkan sebuah hiburan dan berita, ia merasa lebih tenang ketika mendapatkan banyak waktu istirahat.
Haruka tiba-tiba menyadari Koizumi yang sedang duduk selagi memperhatikan dirinya memakan kentang goreng itu, ia bisa melihat air liur Koizumi mulai berjatuhan dari mulutnya.
"Awww... imut nya... kamu lapar ya?" Haruka mengambil sapu tangan lalu membersihkan mulut Koizumi.
Tatapan Koizumi terus tertuju kepada Haruka yang sedang memegang kentang goreng itu, ia langsung menyadarinya sampai Haruka sekarang mengetahui senjata rahasia untuk menaklukkan putrinya sendiri.
"Hm?" Haruka mendekati kentang itu dan Koizumi mencoba untuk meraihnya.
Haruka langsung memakan kentang goreng itu selagi terkekeh pelan sampai Koizumi menggembungkan pipinya.
"Mau ya...?"
"Au... au... Au...!" Koizumi mulai merangkak kepada Haruka dan memeluk pahanya.
"Kamu masih belum memiliki gigi..." Haruka menyentuh mulut Koizumi untuk melihat dalaman mulutnya dan tidak ada satu pun gigi yang tumbuh.
"Sedikit saja ya... dengan syarat..." Haruka mengambil satu kentang yang ia potong kecil-kecil agar Koizumi bisa memakannya.
"Uuu...?"
"Kamu harus menurut ya, ikuti perintah yang Mama dan Papa katakan jika tidak maka..." Haruka memakan kentang goreng itu lagi.
"Auuuu... auuu... gaoooo...!" Koizumi menggigit paha Haruka.
"Aw...!" Haruka mengangkat Koizumi lalu menempati dirinya di atas kedua pahanya.
"Eits... kamu nakal loh tadi... tidak ada kentang goreng untukmu."
"Uuuuuu..." Kedua mata Koizumi langsung berkaca-kaca dan Haruka hanya bisa diam karena ia tidak akan terjatuh ke dalam perangkap yang sama.
"Hweeeeehhhhh..."
"Menangis bukan pilihan yang Mama mau." Haruka mulai memakan kentang goreng itu di hadapan Koizumi sehingga ia mengangguk dan menunjukkan kelingkingnya.
"Awwuuuu... Mama... Entwang... oweng..." Koizumi masih belum mahir dalam berbicara tetapi Haruka mengerti.
"Gadis pintar." Haruka tersenyum dan melakukan janji kelingking dengan anaknya sendiri lalu ia mendekat kentang goreng kecil itu kepada Koizumi.
"Ini, aahhhhh..."
"Aaaaaa... Ammm..." Koizumi mendapatkan kentang kecil itu dan ia langsung menyentuh kedua pipinya karena rasanya yang sangat lezat lebih dari apapun.
"Mmmmm..."
"Enak ya?" Haruka terkekeh karena ia bisa melihat ekspresi Koizumi berlebihan, kedua matanya terlihat berbinar-binar bahkan ia sampai mencoba untuk merebut mangkuk itu.
"Iya, iya, Mama suapi lagi..." Haruka mulai memotong kentang goreng itu kecil-kecil untuk Koizumi, dia baru saja mendapatkan makanan yang di sukai oleh dirinya.
"Koizumi suka kentang goreng?" Tanya Haruka.
Koizumi mengangguk dengan cepat lalu ia memeluk perut Haruka, putrinya bertambah semakin menurut sekarang sehingga ia mulai tersenyum nakal karena bisa mempermainkan Rokuro dengan anaknya.
"Koizumi."
__ADS_1
"Uwu...?"
"Bagaimana jika kita pergi jalan-jalan, kamu belum pernah melihat dunia luar sebelumnya bukan?" Tanya Haruka.
"Mmm..." Koizumi mengangguk.
"Mau?"
"Kwentwang... Woweng..."
"Iya, nanti Mama bikin lagi." Haruka mendiri dan menghabiskan Vodkanya lalu ia pergi menghampiri kamarnya untuk mengambil pakaian untuk Koizumi.
Beberapa menit kemudian, Rokuro yang sedang memasak melihat Haruka mengenakan topi musim panas mulai berjalan pergi dengan Koizumi yang ia gendong.
"Haruka, kau mau kemana...?"
"Koizumi ingin melihat dunia luar, boleh ya aku pergi ke kota sebentar." Haruka mendekati Rokuro lalu memberinya kecupan di bibir.
"Hati-hati... dan Koizumi, jangan nakal." Rokuro mencolek pipi Koizumi.
"Gwahhh~ Mmmmm..." Koizumi memberi Rokuro sebuah kecupan juga di pipi lalu Haruka berjalan pergi dan terbang ke atas meninggalkan pulau pribadinya.
Rokuro tersenyum kecil, rasa bahagianya terus bertambah ketika merasakan kehidupannya bersama keluarga barunya yang cukup menenangkan hati sampai ia melupakan kedua orang tuanya.
"Ayah dan Ibu sedang apa ya sekarang..." Rokuro kembali memotong bawang.
***
"Waahhhhh... Uwahhhhh..." Koizumi mulai menyentuh langit-langit karena tubuhnya menerima embusan angin yang sejuk sampai Haruka bisa melihat putrinya menikmati.
"Hari ini musim panas... jadi cocok untuk kita pergi berjalan-jalan agar kulitmu juga bisa terkena sinar itu." Haruka mulai mencubit pipi Koizumi.
"Gwuuu..."
Tujuan pertama Haruka adalah mengunjungi kedua mertuanya, ia mulai mendarat menuju daratan dan dikejutkan dengan bangunan yang belum ia kenal sebelumnya.
Seharusnya bangunan yang ia lihat adalah restoran dan rumah milik Arata tetapi semuanya sudah hilang sampai digantikan oleh bangunan seperti perusahaan.
"Ehh...?" Haruka melihat gedung itu dipenuhi banyak Legenda yang sedang bekerja bahkan ia sendiri tidak bisa melihat kedua mertuanya sama sekali.
Haruka mulai menghubungi Hana dan tidak ada jawaban lagi, otomatis dirinya bertambah panik sehingga Haruka mulai menggunakan kekuatan waktu untuk melihat sebuah Replay.
Replay itu berjalan cukup cepat sampai Haruka dikejutkan dengan restoran dan rumah Arata di serang oleh beberapa ras dengan sihir yang mampu menghancurkan restoran itu.
"Apa... yang terjadi...?"
Di dalam Replay itu Haruka juga bisa melihat Kou yang mulai melakukan pertanggung jawaban atas semuanya, ia sekarang sadar bahwa Kou tidak pernah membicarakan tentang ini.
"Kou..." Haruka mulai menyentuh alat itu untuk mencari lokasi Kou dan ia langsung menemukannya, dia bergegas terbang menghampiri dirinya untuk berbicara.
"Mama..."
"Hm?"
"Bwaik... Bwawik..." Koizumi mulai menyadarkan kepalanya di dada Haruka yang terasa seperti bantal baginya.
"Hm, baik-baik saja. Mama ingin mengantarmu ke restoran tetapi sudah tutup." Kata Haruka sambil mencolek pipinya beberapa kali.
Haruka mendarat di tengah pusat desa, ia bisa melihat banyak sekali orang yang sedang berkumpul dan berbaris di hadapan rumah.
Haruka bisa mendengar suara Kou dan ia segera mendekati dirinya tetapi ia bisa melihat Kou sedang sibuk memberikan makanan dan berlian kepada seluruh penduduk desa yang tidak mampu itu.
Haruka tidak memiliki pilihan lain selain menunggu sampai Kou menyelesaikan pekerjaannya itu, tidak lama kemudian ia bisa melihat semua penduduk mulai kembali melakukan aktivitas mereka masing-masing.
"Akhirnya pekerjaan ini sudah selesai... selanjutnya." Kou mulai menyentuh kacamatanya tetapi ia bisa mendengar Tech memperingati dirinya.
"Nyonya, nona Haruka berada dekat dengan kita." Kata Tech sampai Kou dikejutkan dengan Haruka di belakang dirinya.
"Ehh, Kakak? Kenapa kamu di sini?
"Kou, kenapa kamu tidak memberitahu diriku..."
"Memberitahumu... soal apa?"
__ADS_1
"Reputasi Phoenix dan Shimatsu yang sudah hancur..." Kata Haruka dengan tatapan yang terlihat sedih karena ia juga sudah terkait dengan masalah itu.
"Maaf, Kakak... Aku sendiri memiliki alasan untuk melakukannya agar Kakak bersama Rokuro bisa hidup bahagia tanpa memikirkan beban itu."
"Untuk sekarang masalah ya sudah terselesaikan, mereka hidup di pulau yang lumayan kecil tetapi kehidupan mereka masih tetap berlanjut."
"Reputasi yang sudah kacau ya... karena Ibu yang di segel oleh Zoiru dan menjadikan dirinya sebagai pemicu kebangkitan Bamushigaru.* Haruka menundukkan kepalanya.
"Masalahnya semakin rumit... sudah tidak bisa di perbaiki jika semua orang mengetahuinya, perselisihan akan muncul kembali."
"Jangan khawatir, Kakak... aku mohon untuk tidak bersedih atau memikirkannya terlalu keras karena tidak baik." Kou melihat Haruka yang sempat bersedih.
"Saat ini aku sedang menyelidiki seseorang yang menggali kembali sejarah gelap... sejarah yang seharusnya tertutup dan aib telah kembali di umbar oleh seseorang." Kata Kou.
"Kou... bisakah---"
"Tidak boleh, Kakak sudah menjadi ibu rumah tangga dan bahkan memiliki seorang putri." Kou tersenyum dan melihat Koizumi yang sedang mengulurkan lengan kanannya kepada dirinya.
"Selamat siang, Koizumi~" Kou mulai menyentuh tangan Koizumi sambil memasang senyuman lebar.
"Tapi... kamu kan sedang hamil."
"Iya, hamil tidak akan menghentikan tanggung jawab dan harga diriku sebagai seorang Legenda, aku akan melakukan hal yang terbaik!" Kou mengangguk.
"Kalau begitu... mau bertemu dengan Arata dan Ophilia?" Kou segera mengenakan Super Tech untuk pergi menuju pulang kecil itu.
"Hm! Ayo, mereka mungkin akan merasa lebih baik jika bertemu dengan cucu mereka."
Haruka dan Kou terbang tinggi ke atas lalu pergi menuju pulau kecil itu untuk bertemu dengan mereka berdua, Kou juga sempat memberitahu soal Hana yang sudah menjadi guru di Neko Island.
"Aku tidak akan lama di sana... karena sebentar lagi aku harus bertemu dengan mertua." Kata Kou.
"Ehh, Shira? Ahh..." Haruka langsung sadar bahwa Shira telah kehilangan putri kesayangannya.
"Ya... kamu sepertinya harus bertemu dengannya, dia sudah membuat semuanya menjadi keajaiban dan tolong sampaikan pesanku."
"Pesan?"
"Aku tidak bisa membantu seperti dulu... menggunakan waktu secara berlebihan hanya akan membuat eksistensi menghilang." Kata Haruka.
"Ahh... kejadian sejak itu ya, ketika Kakak sedang lumpuh. Aku mengerti kok..."
"Aku juga menyimpan Heaven's Time untuk membalas kebaikan seseorang." Haruka mulai memikirkan Mortem, ia janji untuk menciptakan dimensi alternatif yang sangat jauh untuk mereka.
"Hm...? Maksud Kakak?"
"Aku akan menggunakan Heaven's Time untuk menghidupkan kembali Shinra tetapi dia akan tinggal di dimensi lain, sangat jauh sampai tidak bisa kita kunjungi."
"Itu terdengar cukup bagus... asalkan tidak mengacaukan masa apapun."
"Iya, sayang sekali semuanya akan tergantikan, anggap saja seperti Universe reset dan mereka semua akan tergantikan kecuali Shinra dan sebagian temannya..." Kata Haruka.
Haruka dan Kou mendarat di hadapan restoran yang sedang ramai, mereka semua tentunya akan menyambut Kou lalu Haruka karena mereka adalah Legenda yang cukup spesial juga.
"Kalau begitu, kita lewat belakang saja." Kou berjalan menuju belakang restoran itu dan ia melihat Arata sedang membuang sampah.
"Oh, kebetulan." Kata Haruka sehingga Koizumi mulai menunjuk Arata menggunakan kedua tapaknya.
"Uuuuuu... muuuu..."
"Selamat siang, Arata." Kou mulai memanggil dirinya dan Arata menoleh ke belakang lalu melihat anak menantu bersama adiknya datang.
"Ahh, kalian ya... ada butuh--- Koizumi!!!" Arata langsung mendekati Haruka dan menggendong Koizumi selagi mengusap pipinya dengan pipi Koizumi.
"Ternyata cucuku datang untuk mengunjungiku ya... kamu imut sekali...!"
"Ahh... sungguh mengejutkan." Kou tidak menyangka akan melihat Arata bersikap bahagia seperti itu di hadapan Koizumi.
"Gahahaha~ eliiii...." Koizumi mulai terkekeh karena merasa geli.
"Ahh...!" Arata baru saja sadar bahwa dirinya bersikap terlalu berlebihan di hadapan mereka, ia mulai batuk pelan langsung memasang tatapan serius.
"Untuk sekarang, masuk dulu dan menikmati teh bersama."
__ADS_1
""Sikapnya berubah dengan cepat..."