Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 779 - Rasanya Sepi Sekali


__ADS_3

"Aku akan belajar...!" Seru Shinobu.


Enam bulan kemudian...


"Masih belum cukup...!!! Aku akan belajar lebih giat lagi...!!!"


Enam bulan kemudian... lagi...


"Tidak ada kata cukup...! Ayo lagi...!"


Enam bulan kemudian... lagi... lagi...


"Sinar matahari menyertai diriku!!!" Teriak Shinobu keras selagi mengangkat semua tumpukan buku yang berjumlah jutaan.


Enam bulan kemudian... dalam arti dua tahun belajar dan berlatih...


"Ahhhhh...! Sulit sekali... mustahil...! Koneko tidak bisa...!"


Shinobu mulai mengacak-acak rambutnya yang sudah panjang karena ia menghabiskan waktu hampir dua tahun lebih di dalam ruangan itu.


Mempelajari cara untuk mengubah daunnya serta sinar matahari menjadi apapun yang ia inginkan asalkan berkaitan dengan material dan bahan-bahan.


"Putri kecil, seperti biasanya... Anda sudah bekerja cukup baik."


"Hm, masih belum cukup!" Shinobu memancarkan cahaya yang begitu cerah melalui tubuhnya karena dua tahun ini, ia juga tidak melupakan latihan sihir.


Intinya semua pekerjaan dapat ia lakukan dalam sekali cobaan tanpa mengkhawatirkan tentang konsentrasi dan fokus yang akan hancur berantakan seketika.


Tech sebenarnya merasa khawatir kepada Shinobu karena dua tahun lamanya ia mengalami sesuatu yang sulit, tentunya ia pasti akan di datangi oleh beberapa warga bahwa dirinya perlu membayar hutang atas kerugian kehancuran dari Co. Corp.


Kou sudah meninggal, itu artinya semua tanggung jawab itu harus Shinobu tanggung sampai ia menerima semuanya dengan ikhlas bahkan sampai rela tidak makan dalam waktu yang lama.


"... ..." Shinobu bisa merasakan kesakitan di dalam perutnya karena sudah lama tidak makan, setiap hari ia mengisi perutnya dengan air yang d ambil dari sungai.


"Anda lapar, putri kecil? Maukah saya ambilkan ikan agar bisa di bakar?"


"Tidak perlu, ahahaha.. ikan di sungai memiliki kehidupannya sendiri, aku sedang tidak ingin memakannya." Shinobu terkekeh pelan lalu ia bangkit dari atas kursi.


Shinobu mulai melenturkan tubuhnya seperti kucing lalu melepaskan suara kucing kecil karena ia telah menghabiskan waktu cukup lama.


"Meow..." Shinobu melenturkan kembali tubuhnya lalu mengangkat kedua lengannya selagi menggerakkan ekornya sampai ia mulai menatap dirinya di depan cermin.


"Dua tahun lamanya Anda tidak merawat rambut emas itu, putri kecil." Kata Tech.


"Tech, berikan aku sebuah potongan rambut pendek lagi..." Perintah Shinobu sampai Tech dengan senang hati akan melakukannya sampai ia mulai membawa dirinya ke dalam kamar mandi untuk cukur rambut.


Tech melakukan pekerjaan dengan baik sebagai tukang cukur, rambut Shinobu terlihat lebih rapi seketika sampai ia terlihat sangat jelas seperti Kou tetapi memiliki warna rambut yang sama seperti Shuan.


"Aku ingin menjual beberapa jurnal yang aku tulis... sekarang sudah jilid ke seribu, aku harap semua orang mau membeli dan membacanya sebentar saja."


"Aku menuangkan semua hatiku ke dalamnya... jurnal kehidupan, pelajaran hidup, dan yang lainnya... semoga saja bisa membantu."


Tech terus mendengar perkataan lembut Shinobu yang terasa menyakitkan, sistem seperti dirinya terus merasakan perasaan hampa bahwa setiap Shinobu mencoba untuk menghasilkan uang dengan berjualan


Hasilnya ia akan pulang dengan beberapa luka di wajahnya sampai tidak mendapatkan penghasilan apapun kecuali kualitas bukunya yang hancur berantakan karena semua orang yang mengganggu dirinya.


Sejak dirinya berumur empat tahun sampai sekarang yaitu lima tahun yang akan menginjak enam tahun, tubuhnya juga tidak mendapatkan cukup gizi dan energi karena makan selalu saja telat dan tidak pernah sama sekali.


"Tech, apakah kamu dengar...?"

__ADS_1


"Ah, iya, putri kecil... apa yang harus saya lakukan nanti?" Tanya Tech.


"Menjaga rumah, istirahat juga boleh karena Tech selalu memperhatikan diriku ketika bekerja." Shinobu tersenyum lembut, ia memiliki rasa peduli yang begitu besar kepada Android tak berperasaan sepertinya.


"Anda terlalu baik, putri kecil... kelahiran saya memiliki tujuan juga, untuk melayani dirimu dengan berbagai macam pekerjaan."


"Hm, itu pekerjaan yang aku berikan... istirahat saja dan menunggu diriku untuk pulang." Shinobu menatap cermin di hadapannya.


Rambutnya telah kembali pendek dan terlihat sangat rapi sampai ia menyukainya karena itu terlihat hampir mirip seperti Ibunya, mengingat Kou membuat dirinya tersenyum pahit.


"Rasanya sepi sekali ya... tanpa Papa dan Mama..." Kata Shinobu, ekspresi tidak menunjukkan kesedihan apapun karena The Mind membantu dirinya untuk menahan perasaan negatif apapun.


"Saya di sini akan menemani Anda selalu."


"Hm, terima kasih... potongan rambutku yang baru juga terlihat indah, terima kasih." Shinobu terkekeh.


"Rambutmu ini terlihat sangat cocok dan pantas untukmu, imut sekali bagi putri kecil yang mencalonkan diri sebagai ratu Touriverse."


Shinobu tersipu merah lalu ia menolak bahwa dirinya imut, entah kenapa pujian imut hanya membuat dirinya malu dan merasa tidak menerimanya karena semua orang memperlakukan dirinya hina.


"Aku tidak imut, hahaha... yang ikut itu Kak Koizumi, Kak Hinoka, Konomi, dan Ako. Aku bukan tandingannya untuk mereka."


"Aku soalnya lahir tidak begitu normal sampai bisa di bilang cacat karena pernikahan silang, tentunya aku tidak menyesal dan mengeluh karena setiap kehidupan memiliki artinya." Shinobu mengusap rambutnya.


Tech tidak bisa berkata-lagi, dua tahun menderita seperti itu tetapi ia masih bisa bersikap ceria dan seperti biasanya sampai sikapnya juga tetap sama di hadapan teman dan sepupunya yaitu malu-malu.


Shinobu hanya terbuka kepada Tech yang sedia untuk mendengarkan curhatanku dan ceritanya karena ia ada untuk itu karena di ciptakan oleh Korrina yang bertujuan untuk menemani dirinya, Kou, dan Shinobu.


"Hm, sudah pas. Terima kasih, Tech. Sekarang keluar dulu, aku ingin mandi."


Tech mengangguk lalu ia berjalan pergi meninggalkan kamar mandi itu dan membiarkan Shinobu membersihkan semua sisa rambut yang menempel di tubuhnya.


***


"Ehh? Besok Shinobu ulang tahun ya... cepat sekali, aku tidak menyangka dia akan menginjak umur enam tahun begitu cepat." Kata Koizumi yang sedang melakukan pull-up.


"Itu benar, ulang tahun kelimanya kita tidak sempat rayakan karena dirinya yang menghabiskan waktu tidur sepanjang hari, entah ia mengingat ulang tahunya atau tidak." Ucap Konomi.


"Aku ingin merayakan hari istimewanya, Shinobu tidak pernah makan enak lagi bukan...?" Tanya Ako.


Mereka semua terdiam seketika, Koizumi turun dari atas pohon lalu memasang tatapan kesal, "Jika saja dunia tidak memperlakukan dirinya seperti itu..."


"...aku akan memasak banyak hidangan untuk pesta ulang tahunnya, di tambah dengan kue. Kentang goreng juga adalah prioritas utama."


"Kalau begitu, bikinkan aku makanan pedas ya~" Kata Hinoka.


"Kamu tidak berulang tahun, lebih baik ciptakan hidangan pedas itu sendirian karena kau juga harus bisa bersikap seperti gadis yang dapat memasak."


"Te-he~ Hinoka tidak ingin menjadi gadis yang jago memasak melainkan idola~" Ucap Hinoka selagi menjulurkan lidahnya.


Koizumi menyentil kening Hinoka lalu ia kembali membahas tentang topik ulang tahun itu, mereka setidaknya perlu memberikan Shinobu rasa kenyamanan lagi.


"Seingatku, Ibuku pernah bilang bahwa Shinobu tidak begitu sering merayakan ulang tahunnya dengan meriah karena ia selalu melakukannya dengan Ibunya."


"Shinobu yang malang... ulang tahunnya kemarin mungkin ia rayakan sendirian... atau Tech bisa saja menemani dirinya..." Kata Ako.


"Ingat saja... kita perlu merayakan pesta ini sangat meriah, kita lakukan di restoran Shimatsu, bagaimana?" Tanya Konomi kepada Koizumi yang langsung mengangguk.


"Awalnya aku bertujuan seperti itu karena Nenekku sempat mengajak diriku untuk membujuk Shinobu datang ke restoran itu agar menikmati makanan gratis."

__ADS_1


Koizumi menyilangkan kedua lengannya lalu mengingat semua sikap ikhlas Shinobu, ia hanya menerima barang gratis dan ikhlas di hari tertentu yang spesial, salah satunya adalah ulang tahun.


Hari biasa akan pasti ia tolak sampai dirinya akan memberikan pemberian itu kepada orang yang jauh lebih membutuhkannya, "Hadiah ulang tahun sudah pasti akan ia terima."


"Mari kita kumpulkan banyak makanan, berlian, dan material yang di butuhkan sesuai kewajibannya sendiri." Kata Koizumi yang ingin membantu sepupu kecilnya.


""Ayo!!!""


***


Shinobu mulai memasang ikat kepalanya yang berwarna merah, setelah itu merapihkan rambutnya dan mengubah ekornya menjadi sebuah sabuk untuk perutnya.


Ia juga tidak lupa untuk mengenakan sebuah jubah emas karena musim salju tidak lama lagi akan turun dan suhu udara sudah pasti akan terasa sangat dingin.


"Tech, aku pergi dulu." Kata Tech yang mulai memegang erat tas yang belum ia gendong, ia sempat menatap dirinya terlebih dahulu di hadapan cermin.


...


...


"Baiklah, terlihat baik..." Shinobu berjalan pergi lalu menggendong tas besarnya untuk pergi berjualan, ia juga membawa sebuah kantung berisi bekal salad yang baru saja ia buat melalui hasil panennya sendiri.


Tech melambaikan tangannya kepada Shinobu, melihat dirinya pergi menuju dunia yang begitu kejam bagi dirinya sampai ia berharap bahwa Shinobu dapat pulang dengan selamat tanpa terluka lagi.


Shinobu mulai terbang menggunakan kedua pembakaran yang melepaskan dorongan untuk membantu dirinya melayang, ia mencoba untuk mencari lokasi yang pas untuk berjualan agar beberapa orang bisa melihat dan membelinya.


Seperti biasanya Shinobu pergi dengan senyuman yang tertera di wajahnya, merasa bagian dan menantikan hari cerah yang menunggu dirinya.


Shinobu sempat melihat beberapa Legenda berpakaian kotor dan robek datang dari arah barat selagi mengangkat beberapa beban yang begitu berat.


Dengan melihat dari penampilannya saja Shinobu tahu bahwa mereka adalah Legenda yang di jadikan sandera untuk di kerjakan secara paksa, pikiran mereka juga dipenuhi rasa lelah dan takut untuk mati.


Perut mereka lapar karena belum makan dalam waktu yang cukup lama selagi bekerja, Shinobu hanya bisa diam selagi menatap kantung berisi bekalnya itu.


"... ..."


Shinobu mulai melesat maju lebih depan dari mereka semua lalu menyimpan kantung berisi makanan tersebut di sebelah pohon besar yang pas untuk di jadikan sebagai tempat berteduh, ia juga memasang sebuah tulisan bahwa semua itu untuk mereka.


Shinobu segera pergi dari lokasi itu karena ia tidak ingin mereka mengerjakan dirinya yang sudah memberikan semua makanan itu.


Shinobu belajar dari kesalahannya sendiri bahwa bantuannya hanya akan menyebabkan keburukan dan kesialan yang jauh lebih besar, sama seperti keturunan Comi yaitu dipenuhi dengan kutukan apapun.


Kesialan mungkin salah satunya sampai Shinobu hanya bisa memperhatikan kantung itu di sadari oleh semua sandera itu, Shinobu berdiri di atas pohon dan kedua pandangannya melihat mereka semua berhenti seketika mencium aroma yang begitu wangi.


"Hei, lihat ini..." Salah satu dari sandera mengambil sebuah surat yang memiliki sebuah tulisan.


[Tolong nikmati makanan ini atas kerja keras kalian karena sudah mau bertahan, semoga saja berkat ini bisa mencukupi isi perut kalian.]


"Ini pasti... berkah... berkah dari dewa kehidupan yang merasa malang kepada kita semua...!"


"I-Itu benar... astaga... sudah lama sekali aku tidak makan." Legenda itu mengeluarkan sebuah kotak yang berisi salad lezat di dalamnya.


""Terima kasih atas makanannya...""


Mereka semua menikmati makanan itu dengan senyuman penuh rasa bersyukur karena mereka pasti bisa bertahan melanjutkan pekerjaan mereka tanpa imbalan apapun dengan isi perut yang cukup.


Shinobu tersenyum lembut lalu ia terbang pergi meninggalkan mereka semua untuk menjual semua bukunya.


"Mungkin itu yang bisa aku lakukan..."

__ADS_1


__ADS_2