
"Aku tidak menyangka Shinobu Koneko akan melakukannya... sungguh gadis penerus yang luar biasa, dia mungkin akan menjadi ancaman yang sebenarnya."
Zangetsu yang selama ini memperhatikan pertarungan mereka mulai merasa sedikit lega karena Demetrio akhirnya sudah Shinobu kalahkan sampai ia tidak perlu mengurus Dewa seperti dirinya.
"Banyak sekali sisi yang mencoba untuk mengincar kita... tetapi sebagiannya saling membunuh satu sama lain demi bisa menginjak puncak yang paling atas."
"Anastasia, aku mengharapkan sesuatu yang besar darimu ketika sudah melihat semua kekacauan dan pertarungan itu..."
"...dengan senang hati aku akan menunggunya, banyak sekali ras dari berbagai macam alam semesta yang pasti akan panik sehingga mengadakan perang masal seperti pertarungan untuk bertahan hidup."
Zangetsu melihat Shinobu yang pergi mengunjungi setiap wilayah sihir hanya untuk menghancurkannya tanpa sisa, melihat semua Dewa elemen sudah mati tanpa menyisakan apapun sehingga memberikan Zenzaku Holy Corpse bagian lain.
"Waktu masih berjalan... teruslah berjalan sampai aku menikmati peperangan indah, sebentar lagi..." Zangetsu menyilangkan kedua lengannya selagi menepuk bisepsnya menggunakan jarinya.
***
Demetrio membuka kedua matanya, ia memasang tatapan yang terlihat kaget sampai tidak bisa berkata-kata lagi bahwa dirinya masih hidup tetapi tidak bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali.
Pandangan yang ia lihat saat ini cukup cerah sampai dirinya menoleh ke bawah lalu melihat daratan yang begitu emas termasuk lautannya itu, "Apa...? Kenapa bisa aku melihat semua ini?"
"Tidak mungkin, aku tidak pernah melihat neraka seindah ini... Gadis kerdil itu, dia pasti melakukan sesuatu kepadaku..." Demetrio memasang tatapan sedih karena ia sudah pasrah.
Semua perlawanan dan rencana yang ia lakukan gagal sampai memberikan dirinya kekalahan resmi sehingga ia lebih memilih untuk menyerang dibandingkan melawan lagi dan lagi, mungkin tempat ini bisa dibilang penyegelan dari Shinobu.
"Apakah takdirku juga sama dengan teman baikku yaitu Shinji---" Demetrio melebarkan matanya ketika Shinobu muncul tepat di hadapannya.
"Shinobu... Koneko...?" Demetrio memasang tatapan kaget ketika melihat Shinobu muncul dengan penampilan yang terlihat berbeda karena ia bisa menyadari luka bakar di pipinya itu sudah menghilang.
"Mm, ini aku, Shinobu Koneko."
Shinobu tersenyum lalu ia menjatuhkan Demetrio menuju daratan sampai tubuhnya tidak bisa bergerak sama sekali karena Shinobu yang memberikan satu kesempatan hidup menggunakan Golden Sunshine.
"Kamu menyadari luka bakarku yang sudah hilang ya... anu... mungkin karena pohon emas itu yang memberikan cahayanya padaku sampai aku menerima pemulihan yang sempurna."
"Semua bekas luka yang aku terima menghilang begitu saja, sayang sekali aku tidak bisa mengembalikan bukti dari perjuanganku sendiri." Shinobu menurunkan kedua telinganya.
Melihat Shinobu bersikap biasa saja dan lembut kepada Demetrio membuat dirinya merasa bersalah seketika bahwa dirinya memang lembut dan bersinar layaknya seperti matahari.
"Shinobu Koneko... kenapa kau tidak membunuhku?"
"Aku memang sudah membunuh dirimu, hanya saja aku menggunakan Golden Astral untuk berbicara denganmu... membicarakan sesuatu yang begitu penting."
"Golden Astral yang aku miliki dapat menghidupkan orang yang sudah aku bunuh untuk sementara dengan kendaliku sendiri." Shinobu mulai duduk di hadapan Demetrio yang terlihat kebingungan.
"Kamu masih menyimpan tujuh Grimoire elemen yang aku butuhkan untuk belajar." Shinobu menggerakkan kedua jarinya sampai tujuh buku sihir keluar dari dalam tubuhnya lalu melayang menujunya.
Semua buku sihir itu langsung menumpuk di belakang Shinobu sampai Demetrio entah kenapa merasa semakin bersalah dan sadar bahwa apa yang ia lakukan selama ini memang salah.
__ADS_1
Tidak memerlukan ceramah dari Shinobu sudah cukup bahwa apa yang ia lakukan demi menjaga kedamaian sudah dibilang salah karena harus memaksa banyak sekali orang untuk masuk ke dalam kepercayaan.
"Dengan ini semua urusanku sudah selesai..." Shinobu menunjuk Demetrio tetapi ia langsung membuka mulutnya untuk mencoba mengatakan sesuatu.
"Aku memang sudah kacau ya... semua yang aku lakukan memang mengaitkan penuh dengan kesalahan karena memaksa banyak orang yang tidak bersalah masuk ke dalam sebuah kepercayaan..."
"...padahal tujuanku menjadi Dewa hanya untuk melindungi semua penghuni Touriverse tetapi aku terpengaruh dengan kekuasaanku sendiri sampai harus membunuh banyak Mortal yang tidak bersalah."
Shinobu tersenyum ketika mendengar Demetrio mulai mengakui kesalahannya sendiri, "Apakah kamu sudah sadar sekarang...? Banyak sekali orang yang tidak bersalah terbunuh karena dirimu."
"Tetapi ada juga seseorang yang tidak berguna mati dalam tanganmu sendiri, itu adalah sesuatu hal yang paling penting..." Shinobu melihat Demetrio menundukkan kepalanya.
"Mungkin semua ini karena mimpi terakhir yang diinginkan oleh anakku sendiri, sayang sekali diriku tidak begitu kuat menahan kekuasaan yang aku terima dari kekuatan elemen itu."
Demetrio bisa menggerakkan tubuhnya sekarang, Shinobu melihat Demetrio mulai mengulurkan jarinya sampai ia menggambar tiga orang dari pasir emas itu.
Shinobu bisa melihat gambar itu dengan jelas, kedua orang tua bersama dengan satu anak yang terlihat begitu simpel sampai ia menatap Demetrio yang mulai mengangguk.
"Aku memiliki seorang istri dan anak... kami semua bisa dibilang lahir dari garis keturunan itu sendiri, aku adalah seorang Dewa yang sudah terangkat langsung karena lahir dari dua orang tuaku yaitu seorang Dewa kehidupan."
"Kekurangan yang dimiliki Dewa itu bisa dibilang kehausan dan harga diri yang begitu tebal setiap mereka menerima kekuatan hebat yang mengangkat dirinya ke puncak lebih tinggi..."
"...aku memang menciptakan berbagai macam planet sampai terangkat menjadi dewa tanah karena aku sering membangun dan menciptakan sesuatu menggunakan sihir tanahku."
"Di saat itulah, aku tidak sadar diriku akan menikah sampai memiliki seorang putri yang masih kecil." Kedua mata Demetrio mulai berkaca-kaca sampai membuat Shinobu kaget.
"Yang paling berkuasa adalah Zangetsu dan Zenzaku... aku mengingat dulu tidak memiliki pilihan lain ketika menerima sebuah perintah darinya."
Kedua matanya langsung mengalirkan air mata yang membuat Shinobu merasa bersalah, "Dia meminta diriku untuk membunuh istri dan putriku sendiri..."
"...Zangetsu selalu menerima banyak mimpi yang penuh dengan ketakutannya sendiri, dia mungkin melihat istriku dan anakku sebagai ancaman yang menakutinya."
"Aku tidak bisa menolak sama sekali... awalnya aku yang ingin mengorbankan diri tetapi anakku memberitahu diriku untuk tetap hidup dan menjaga Touriverse..."
"...mengamankan semua kedamaian itu sampai aku bisa menerima banyak sekali kepercayaan dari penghuni yang tinggal di dalamnya agar bisa menerima kekuatan yang mampu untuk menghentikan Zangetsu."
"Aku tidak memiliki pilihan lain... semua itu aku lakukan demi putriku sendiri sampai istriku menyetujui, mereka berdua mati di tanganku..."
"...aku sudah tidak bisa melakukan apapun karena Dewa tanah sepertiku tidak begitu hebat dalam segi kekuatan melainkan ciptaannya sampai seluruh mortal menganggap diriku sebagai mortal biasa."
"Aku sudah hidup panjang sampai menerima era yang aku tidak sengaja ciptakan karena rasa muak dan benciku... menunggu terlalu lama sampai tercapai..."
"...semakin waktu berjalan stres yang aku rasakan terus meminta diriku untuk memilih jalan pintas yang dapat mempercepat situasi, tetapi yang aku ketahui adalah..."
"...diriku sudah kacau, aku tidak bisa menepati apa yang putriku inginkan yaitu kedamaian abadi, aku melakukan semua itu secara paksa dengan terpengaruh oleh kehausan dan ego itu sendiri."
"Mungkin jika dia bisa melihat Korrina Comi dan Kou Comi yang mampu menjaga kedamaian cukup lama maka dia senang..."
__ADS_1
"...sejak itu aku ingin berbicara dengan mereka tetapi tidak sempat, aku hanya sempat berbicara dengan Kou yang membantu diriku memberikan banyak hal."
"Semuanya berlalu begitu cepat ketika kau merasa bahagia... aku memang salah, tindakanku saat ini bisa dibilang buruk bagi pandangan anakku sendiri."
Demetrio sudah menangis sejak awal, air matanya terus mengalir keluar tetapi ia masih bisa berbicara dengan tenang kepada Shinobu yang memasang tatapan kaget.
"Rasanya dulu sepi sekali... kebahagiaan yang dihilangkan begitu saja karena Zangetsu." Demetrio menatap ke atas langit bahwa ia tidak melakukan sesuatu yang berguna selama seumur hidupnya.
"Jika aku bertemu dengan anak atau istriku di kehidupan kematian maka aku tidak berani menghadapi mereka dengan wajah menyedihkan seperti ini... lebih baik aku mengasingkan diri saja."
"Itu tidak benar...! Aku tahu... dunia ini begitu kompleks akan segala hal tetapi apa yang kau lakukan sudah kau usahakan semampu dirimu!" Shinobu mulai berbicara.
"Aku yakin putrimu akan merasa bahagia melihat dirimu yang sudah berusaha keras dari ratusan tahun yang lalu sampai titik ini sudah dekat mengumpulkan banyak kepercayaan demi bisa menjaga kedamaian..."
"...sejak awal, apa yang dia inginkan itu keselamatan dirimu bukan?!" Ketika Shinobu berbicara seperti itu, Demetrio hanya bisa tersenyum sampai air matanya terus keluar.
"Kau memang aneh, Shinobu Koneko... tetapi kau menunjukkan kesamaan dengan putriku."
"Maafkan aku... sepertinya banyak sekali misteri yang disimpan oleh berbagai macam orang, kematianmu disebabkan oleh---"
"Tidak... justru apa yang kau lakukan membuatku sadar akan kehausan dan ego yang mempengaruhi diriku... kematian adalah salah satunya obat yang mampu menyembuhkan diriku." Jawab Demetrio.
"Aku merasa bersyukur bahwa semua itu selesai... tidak ada lagi perasaan stres yang aku rasakan melainkan sesuatu hal yang melegakan..."
"...kau memang mirip sekali dengan putriku, terutama lagi suara kerasmu sebelumnya yang memberitahu diriku bahwa aku tidak benar." Demetrio tersenyum penuh rasa bersyukur.
"Shinobu Koneko... bisakah kau mengabulkan permintaan terakhirku?"
"Aku bisa membantumu..."
"Aku tidak berniat untuk dihidupkan kembali atas semua dosa yang aku lakukan... biarkan aku mengasah kembali semua dosa itu dengan menerima kematian."
"Tapi..."
"Itulah permintaan yang aku inginkan... izinkan aku merasakan arti dari kematian dan kesadaran atas semua dosa yang aku buat."
"Aku akan membantu dirimu... suatu saat nanti jika aku membutuhkan dirimu atau kau membutuhkan diriku."
"Tidak perlu... Shinobu, sebelum kau membunuh diriku... maukah kau memeluk diriku?" Tanya Demetrio yang mulai mengulurkan kedua lengannya agar bisa merasakan pelukan hangat dari seorang gadis yang mirip dengan putrinya.
Shinobu tidak memiliki pilihan lain, ia mulai mendekati Demetrio lalu menggunakan The Mind yang mempengaruhi otaknya sampai pandangannya sendiri sehingga ia melihat Shinobu sebagai putrinya sekarang.
Shinobu hanya bisa memeluk Demetrio, mendengarkan semua perkataan dan tangisannya itu bahwa ia menyesal atas dosa serta kegagalan yang sudah ia alami selama seumur hidupnya.
"Tidak semua Dewa jahat... mereka memiliki alasannya tersendiri... termasuk dengan kelemahan yang mereka pendam..." Batin Shinobu.
"... dibalik semua itu terdapat seseorang yang berkuasa dan mengendalikan mereka layaknya seperti boneka... memperbudak mereka begitu saja..."
__ADS_1
"...aku tidak akan memaafkan mereka."