Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 830 - Cabai


__ADS_3

"Sudah kubilang, sebaiknya sup panas saja... kristal es mulai turun lagi dan lagi sampai menyebabkan daratan tertutup oleh salju yang begitu indah~" Kata Hinoka yang sedang menghangatkan tubuhnya.


Kebetulan ruangan itu terasa sangat hangat karena Koizumi yang melepaskan sihir api untuk mengendalikan suhu dingin dari luar menjadi suhu kehangatan yang pas untuk bersantai.


"Sup panas ya..." Koizumi mulai memikirkan tentang sup panas yang cocok untuk dinikmati pada malam hari yang pastinya akan terasa lebih dingin dari sekarang.


"Di luar dingin, tapi kalau langsung buat sup panas, tidak menarik lah." Ucap Konomi.


"Kenapa kita tidak pikirkan yang lainnya saja?"


"Kakak... aku juga ingin makan sup hangat itu... lagi pula tidak ribet membuatnya." Kata Ako sampai berhasil mengubah pikiran Konomi lebih cepat.


"Baiklah, sup panas memang yang terbaik untuk hari yang dingin seperti ini!"


Shinobu langsung membuka pintu kamar sampai menyebabkan semua angin sejuk masuk ke dalam sampai membuat tubuh mereka menggigil karena rasanya sangat dingin.


Shinobu langsung menutupnya lalu memancarkan cahaya hangat untuk mereka semua, "Kita main yuk... di luar banyak sekali salju..."


Shinobu seperti biasanya berkeliaran untuk mencari makanan, salju yang bertebaran di luar menarik perhatian dirinya untuk bisa bermain bersama kedua teman dan sepupunya dalam melempar bola salju.


"Saljunya menyenangkan... lebih bagus lagi kita bisa bermain perang bola salju." Shinobu terlihat begitu semangat karena ekornya yang bergerak cepat itu.


Mereka semua hanya diam, tidak me jawab apapun karena sebenarnya di luar sangat dingin sampai mereka memilih untuk bersantai di dalam ruangan yang sangat hangat selagi menikmati satu cangkir teh hangat.


"Ehh...? Ada banyak salju di luar loh..." Ajak Shinobu.


"Kami tahu... itulah kenapa kami lebih memilih untuk tetap berada di ruangan yang hangat ini." Kata Konomi yang mulai berbaring di atas tanah selagi memejamkan kedua matanya.


Mereka kembali beristirahat dengan tenang sampai Shinobu langsung menurunkan kedua telinga dan ekornya karena merasa sedih tidak bisa menghabiskan waktu libur mereka bersenang-senang di luar.


Shinobu langsung mendekati Hinoka dan mendorong-dorong tubuhnya, "Ayolah, keluar dari ruangan ini..."


"Hentikan... walaupun tidak kelihatan begitu, aku ini mudah kedinginan!" Kata Hinoka selagi memeluk erat bantalnya untuk menambahkan kehangatan.


Shinobu langsung menarik kedua lengan Ako agar ia mau keluar dari dalam selimutnya, "Ako juga ayo... kita bermain..."


"Aku memang tidak kelihatan begitu... tapi aku butuh persiapan untuk keluar dari selimut itu..." Kata Ako yang berhasil keluar dari dalam selimut karena Shinobu menariknya begitu cepat..


"Kakak, kamu sedang menulis apa?" Tanya Shinobu kepada Koizumi yang sedang menulis sesuatu dalam catatan.


"Ini, Hinoka." Koizumi memberikan kertas itu kepada Hinoka yang langsung mengambilnya dengan tatapan kebingungan.


"Hah? Apa ini...?"


"Karena kau keluar, aku sekalian titip itu ya."


Kertas itu berisi dengan barang belanjaan yang harus dibeli agar bisa menikmati sup hangat bersama-sama agar mereka dapat menikmati tidur dengan kehangatan yang akan terasa dalam perut mereka.


"Kurasa ini sudah pasti kalau dia tidak mau ikut." Ungkap Hinoka dengan tatapan yang terlihat malas.


"Walau tidak bisa dilihat dengan mata kalian... sebenarnya aku sangat sibuk..." Koizumi berbaring di atas kasur lalu menutup dirinya dengan selimut untuk menikmati kehangatan dari selimut dan ruangan.


"Tentu, sibuk menghangatkan badan di dalam selimut." Jawab Hinoka dengan tatapan datar.


"Baiklah, ayo kita berangkat!" Ajak Shinobu yang berhasil mengajak Hinoka, Ako, dan Konomi untuk bermain di luar agar bisa menikmati salju dan kristal es yang terus turun dari atas langit.


***


Mereka semua sudah mengenakan pakaian yang hangat untuk melihat pemandangan luar yang penuh dengan salju, musim sejuk dan salju sudah dekat jadi mereka perlu menikmatinya sebelum tahun baru di mulai.


"Wahhh~ Salju sampai menggunung!" Kata Hinoka.


"Benar."


Shinobu mengambil beberapa salju lalu membentuknya menjadi bola agar bisa di lempar kepada mereka karena perang akan di mulai sebentar lagi.


"Koneko, kenapa kamu membuat bola salju?" Tanya Hinoka.


"Fueh? Ada salju... jadi kita hanya perlu perang bola salju!" Shinobu menggerakkan ekornya dengan cepat karena tidak sabar untuk melemparnya kepada mereka.


"Kamu memang anak yang nakal ya." Kata Hinoka yang mencoba untuk menghindari perang bola salju karena rasanya pasti lebih dingin dari suhu dan embusan angin yang saat ini ia rasakan.


"Kenapa kita tidak putuskan mah main apa bersama-sama saja?" Tanya Hinoka.


"Tapi... Koneko sudah buat satu..."

__ADS_1


"Oh, walaupun begitu... ini adalah bola nasi. Kakak, mau?"


"Tidak, terima kasih, buanglah---" Hinoka menerima lemparan salju dari seseorang di sebelahnya, ia langsung menatap dirinya dan ternyata Ako yang melempar bola salju kepadanya.


Hinoka juga melihat Konomi yang sedang membuat bola salju, "Baiklah... kalian mau perang bola salju? Hanya itu?"


"Tidak ada masalah bagiku, perang bola salju dimulai! Biarkan aku melawan kalian semua!" Seru Hinoka selagi mengangkat kedua lengannya.


"Ayo! Serang aku!"


"Walau kelihatan begini, tanganku hebat loh!" Shinobu melempar bola salju itu kepada Hinoka sampai mengenai dadanya.


"Tidak cukup!"


"Walau tidak kelihatan begitu, tapi aku sering melempar sihir es!" Ako melempar bola salju menuju Hinoka sampai dirinya memasang tatapan tidak puas karena rasanya cukup lemah sekali.


"Aku sering melempar sihir ke arah sasaranku!" Konomi melempar bola saljunya ke arah Hinoka sampai mengenai kepala bagian belakangnya lalu menjatuhkan dirinya di atas tanah.


"Berani juga kalian!" Hinoka kembali bangkit.


"Sekarang giliran--- Ahh!" Wajah Hinoka menerima lemparan bola salju dari Shinobu lalu tubuhnya ikut terkena dengan bola lainnya dari Ako dan Konomi yang melempar secara bersamaan.


"Yang muda melawan yang tua!" Seru Konomi yang terus melempar bola salju itu kepada Hinoka, ia mulai tertekan sekarang karena mereka mengumpulkan salju itu lebih cepatnya.


"Itu curang! Hanya aku saja yang paling tua dibandingkan kalian semua---" Hinoka terus menerima lemparan salju itu sampai ia terjatuh di atas tahan dengan salju yang menghalang salah satu bagian tubuhnya.


***


"Kenapa aku berakhir seperti ini...!?" Hinoka kembali bangkit dari atas tanah lalu melihat ketiga gadis kecil itu sedang membangun naga menggunakan salju itu.


"Karena ini pertarungan antara yang tua dan yang muda." Kata Konomi.


"Tidak adil...! Buuuuu..." Hinoka mulai membersihkan semua salju yang terdapat di pakaiannya itu.


"Dan kau tahu, meski kelihatannya begitu, aku belum kalah!' seru Hinoka yang belum mengakui kekalahannya walaupun sudah diserbu oleh mereka semua dengan lemparan bola salju bertubi-tubi.


"Mengaku saja kalah..." Kata Ako.


"Hinoka." Panggil Koizumi yang datang menghampiri dirinya, Hinoka langsung menoleh kepada Koizumi dengan tatapan yang terlihat bingung karena ia akhirnya berhasil keluar dari ruangan hangat itu.


"Koizumi! Kau datang untuk perang bola salju?!"


"Dan ini... beli ini juga." Hinoka mengambil kertas tersebut dengan tatapan yang terlihat bingung, ia pikir Koizumi yang akan membelinya sendiri tetapi ia menyuruh dirinya lagi.


"Karena sudah di luar, kenapa tidak membelinya sendiri?"


"Walau kelihatannya seperti ini, aku sekarang sedang sangat sibuk." Koizumi berjalan pergi meninggalkan mereka semua untuk melanjutkan beristirahat di dalam ruangan yang sangat hangat.


"Dia mau kembali ke dalam kamarnya itu..." Hinoka menghela nafasnya lalu ia mengambil salju dan membentuknya menjadi bola agar bisa di lempar kepada Koizumi untuk mengajak dirinya.


"Koizumi keluar." Hinoka melempar bola salju itu kepada Koizumi sampai mengenai rambutnya, ia langsung berhenti bergerak seketika.


Koizumi langsung jongkok lalu mengumpulkan banyak sekali salju untuk menyerang balik Hinoka yang terlihat bingung karena ia tidak tahu Koizumi sudah merencanakan apa sekarang.


"AHH!" Hinoka menerima lemparan bola salju yang mengandung Lenergy itu sampai dirinya terdorong ke belakang sampai jatuh.


"Sakit sekali...! Kenapa harus memasukkan Lenergy ke dalam bola salju itu!?" Tanya Hinoka yang melihat Koizumi sudah menjauh dari mereka.


***


"Rasanya waktu berjalan cepat ya... kita sudah dua hari menghabiskan waktu istirahat kita di planet ini, mungkin orang tua kita sedang rindu kepada kita." Kata Ako selagi membaca buku dan mengemil kue di atas meja kecil itu.


"Benar juga ya, sudah lama sekali kita tidak menikmati liburan ini tanpa gangguan apapun. Rasanya aku terlalu khawatir dengan planet aneh ini." Ucap Koizumi.


"Koneko... boleh aku menyontek~? Nanti aku kasih camilan." Hinoka mulai menyogok Shinobu yang baru saja selesai mengerjakan tugas akademinya.


"Mm, boleh kok---" Shinobu melihat Koizumi menghentikan dirinya untuk memberi buku itu karena Hinoka sudah keseringan menyontek kepada Shinobu sampai terus mengandalkan dirinya.


"Kau tidak boleh mengandalkan Shinobu terus seperti itu, berusahalah sendiri dan terimalah nilai yang jelek!" Seru Koizumi sampai Hinoka langsung mengembungkan pipinya.


"Buuuuu... padahal jika nilaiku bagus, Ayahku dapat memberikan diriku alat untuk menyanyi." Hinoka menghela nafasnya sampai Shinobu juga ikut merasa kecewa tidak mendapatkan potongan kue milik Hinoka.


"Kalau begitu... biar aku ajarkan saja." Shinobu duduk di depan Hinoka sampai dirinya menerima pelukan dari Hinoka karena merasa terbantu oleh dirinya yang mau membantu.


"Yeyyy~ Koneko memang terbaik! Cepat beritahu aku cara yang cepat untuk bisa menyelesaikan rumus ini...!" Hinoka menunjuk semua pekerjaannya yang kosong.

__ADS_1


Mereka mengerjakan tugas di malam hari agar bisa bersantai di ke depan harinya tanpa tugas yang menumpuk, Shinobu bersama mereka jadi tidak ada satu pun soal yang sulit untuk dikerjakan karena akan ia bantu.


"Baiklah... semuanya sudah siap, aku akan mempersiapkan bak mandi hangat terlebih dahulu." Koizumi bangkit dari atas lantai lalu pergi menghampiri kamar mandi.


Beberapa menit kemudian, Koizumi menghampiri mereka dengan handuk yang ia pegang di atas kepalanya untuk mengeringkan rambutnya yang basah, "Silakan, siapa yang mau duluan?"


"Ahh! Itu curang, Koizumi! Kau malah duluan yang masuk..."


"Tidak apa kan, aku duluan yang memanaskannya... airnya tidak begitu hangat, mungkin kamu ingin menghangatkannya lebih lama lagi?" Tanya Koizumi sehingga Hinoka langsung masuk kamar mandi untuk memanaskannya.


"Oh... kecoak..." Shinobu menangkap kecoak yang berkeliaran di sisi lemari lalu ia membuka mulutnya untuk memakannya.


"Jangan di makan, Nobu!" Ako membekukan kecoak itu lalu ia merebutnya dan melemparnya keluar.


"Tapi itu makanan..." Shinobu menurunkan kedua telinganya.


"Hewan itu tidak selalu makanan..."


"Kecoak rasanya enak..."


"Kamu pernah memakannya!?"


"Mm..." Shinobu mengangguk dengan tatapan polos, Ako memasang tatapan kaget karena semua hewan kemungkinan besar ia makanan dan dalam waktu dekat dia juga bisa menganggap apapun sebagai makanan.


"Baiklah!!! Bak mandinya sekarang panas, aku mempersilahkan kalian terlebih dahulu karena aku masih ingin menyelesaikan tugasku bersama Koneko~" Hinoka duduk di sebelah Shinobu.


"Kalau begitu aku duluan ya." Konomi bangkit dari atas lantai lalu ia menghampiri kamar mandi untuk menikmati air yang dapat menghangatkan tubuhnya dari suhu dingin.


"Jika aku menikmati bak mandi hangat... bisa-bisa aku tertidur lagi, lebih baik pakai shower saja." Konomi menyalakan shower dan membiarkan bak mandi panas yang tertutup itu.


Beberapa menit kemudian, Konomi membuka pintu kamar mandi lalu membiarkan salah satu dari mereka masuk untuk menikmatinya.


"Bagaimana, Konomi? Rasanya hangat sekali kan?" Tanya Hinoka.


"Tentu saja... cukup menyegarkan." Konomi kembali duduk di atas lantai lalu melihat Ako bangkit dan masuk ke dalam kamar mandi karena sekarang gilirannya.


Ako melihat bak mandi itu yang masih tertutup, "Rasanya aku tidak ingin masuk ke dalam air hangat bekas Kakak... pasti rasanya nyaman sekali sampai aku bisa saja menghabiskan waktu satu jam."


"Shower saja."


Beberapa menit kemudian, Hinoka langsung menyambut Ako dari depan untuk menanyakan hal yang sama tentang bak mandi, jawaban yang ia berikan juga sama dengan Konomi yaitu hangat karena dia menekan tombol hangat untuk shower nya.


"Sekarang aku ya..." Shinobu menghampiri kamar mandi duluan karena Hinoka ingin mereka menikmati bak mandi hangat yang ia siapkan.


Shinobu melihat bak mandi itu dengan tatapan takut, "Bak mandi menakutkan... Koneko tidak mau mandi dalam bak..."


"Oh... Tikus...!" Shinobu menggerakkan ekornya lalu menangkap tikus yang baru saja keluar melalui saluran pembuangan, ia langsung memakannya dan menyalakan shower.


***


"Kak Hinoka, silakan." Kata Shinobu yang mulai mengeringkan tubuhnya menggunakan handuk.


"Dengan ini, semuanya selesai mandi! Baiklah, aku akan mandi juga lalu memuji diriku sendiri karena berhasil membuat kalian semua merasa kehangatan~" Hinoka berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


"Kali ini, sikap baikku berhasil membuat mereka semua senang ya... aku memang hebat~ te-he~" Hinoka melepas pakaiannya lalu membuka penutup bak mandi yang mengeluarkan banyak uap.


Sejak awal Hinoka memasukkan banyak cabai ke dalam bak itu untuk meningkatkan kehangatannya, ia mengambil salah satu dari cabai tersebut lalu memakannya.


"Kehangatan yang luar biasa...! Mandi cabai merah!" Hinoka masuk ke dalam bak mandi tersebut lalu melepaskan embusan nafas penuh rasa lega.


"Ahhhh~ ehh...?" Kulit Hinoka terasa sakit seketika karena air dari bak tersebut rasanya seperti menusuk-nusuk dirinya.


"Aduh!!! Awwwweee!!! Sa-Sa-Sakit...!!!"


...


...


Hinoka membuka kamar mandi dengan tatapan yang terlihat kesakitan, "Sebenarnya bak mandi itu hangat atau sakit...!?"


"Jujur! Bagaimana dengan mandinya tadi...!? Ahhhhhh...! Perih sekali kulitku...!!! Sakit! Sakit...!!!" Hinoka langsung masuk kembali ke dalam kamar mandi dan membasuh dirinya dengan air dingin.


"Sakiitttt!!!"


Mereka semua memasang tatapan bingung seketika karena Hinoka bersikap aneh soal bak mandi, "Apa maksudnya...!"

__ADS_1


"Entahlah, pasti dia merencanakan kebodohan lainnya."


"Benar juga ya..."


__ADS_2