
"Ahhh~ kenyang sekali~" Hinoka menepuk perutnya beberapa kali, bibirnya sangat merah karena memakan banyak sekali hidangan pedas.
"Koneko puas..." Shinobu mulai meregangkan tubuhnya seperti kucing lalu ia melihat penduduk di sekitarnya yang sedang menikmati kehidupan biasa.
Ini pertama kalinya mereka menikmati liburan tanpa menerima sial atau konflik apapun, biasanya bersantai selama beberapa menit selalu saja tertimpa dengan masalah.
Mungkin beristirahat dan bersantai dalam Planet Lemia bukanlah ide yang buruk, mereka hanya perlu menjauhi para Legenda yang fanatik, melihat masalah juga harus bisa dijauhi secepat mungkin.
Angin yang menghembus rambut mereka terasa lebih dingin, kristal es mulai turun dari atas langit yang menandakan bahwa musim sejuk sudah tiba, musim yang selalu di tunggu oleh bangsa Legenda.
Mendekati dengan musim salju dan tentunya hari natal, "Akhirnya... menikmati waktu yang cukup santai ya di musim ini, biasanya kerajaan juga merayakan pesta---"
Mereka menerima arus angin yang besar karena para penduduk bergegas pergi menuju aula dimana terdapat patung Erion di sana, mereka semua langsung merayakan sebuah pesta kecil di sekitar patung itu dan tidak lupa untuk bersujud di hadapannya.
"Siap-siap... kupingku pasti akan terasa sakit mendengar mereka menyanyikan lagu dewa bodoh itu atau mungkin jauh lebih buruk..." Koizumi menyilangkan kedua lengannya.
"Karena sedang liburan... bagaimana jika kita cek sedikit saja? Siapa tahu terdapat sesuatu yang menarik perhatian kita semua selain dewa atau angin." Konomi mendekati penduduk yang saat ini sedang berdansa di hadapan patung itu.
Mereka semua melihat patung itu mulai dipenuhi dengan lampu yang menyinari cahaya hijau, penduduk dari arah timur langsung menyediakan sebuah jalan untuk seseorang yang mengenakan pakaian aneh.
"Pfft... pakaian apa itu... seperti badut saja..." Koizumi mencoba untuk menahan tawanya ketika melihat seorang pria kekar mendatangi patung itu lalu memberikan semua kehormatan yang ia miliki.
"Musim sejuk telah resmi di mulai... semua ini berkat Dewa Erion yang melindungi kita dari segala bahaya dan peperangan yang terjadi di luar sana sampai kita kembali merasakan musim hebat ini!"
"Musim yang akan dipenuhi dengan berbagai macam festival dan tentunya keberkahan angin...! Semoga angin memberkati kalian semua...! Semoga Dewa Erion bisa datang secepat mungkin...!"
Shinobu langsung memegang dagunya ketika mendengar pria berpakaian aneh itu mengatakan sesuatu tentang kedatangan Erion.
"... ..."
"Kalian dengar tadi...?" Tanya Konomi.
"Kedatangan Erion... apa yang dia sebenarnya maksud...?" Ako terlihat kebingungan, ia melihat pria itu langsung melayang di atas langit dengan angin yang membawanya ke atas.
Pria berpakaian aneh itu langsung mengeluarkan sebuah buku yang menyebabkan Shinobu kaget seketika sampai mulutnya terbuka lebar karena buku itu adalah satu-satunya hal yang ia ingin baca.
"Tunggu itu...?" Koizumi sendiri menyadarinya melalui sampul dan bentuknya.
Pria itu mengeluarkan banyak sekali angin melalui buku tersebut sampai suara embusan tersebut mampu menciptakan melodi yang begitu tenang sampai festival berdansa atas pengingat kedatangan musim sejuk sudah di mulai.
"Grimoire... itu tidak salah lagi Grimoire." Kata Shinobu yang dapat mendeteksinya, sekarang ia mengerti soal pendeta dan tentunya pria berpakaian aneh itu.
"Pria itu pasti mendapatkan keberkahan dan perlakuan yang berbeda, Erion sendiri mungkin sudah menjadikan dirinya sebagai kandidat Dewa angin selanjutnya."
"Bawahan Dewa agung yaitu Dewa biasa... dengan memiliki Grimoire tersebut, mungkin dia memang berencana untuk membuka gerbang Realm of Wind yang sudah terkunci rapat."
"Begitu ya... aku kira Grimoire sudah hancur atau hilang... tetapi masih ada ya~ bukannya itu bagus untukmu, Koneko?" Tanya Hinoka.
"Mm! Mm! Banyak buku... buku yang bagus..." Shinobu terlihat begitu senang sampai tubuhnya secara refleks ikut berdansa mengikut aroma.
"Hahaha~ melodinya sungguh menenangkan sampai aku sendiri tidak tahan untuk berdansa juga~" Hinoka ikut berdansa dengan Shinobu.
Konomi dan Ako juga mulai melakukan hal yang sama untuk memperingati kedatangan musim sejuk tanpa kepercayaan apapun terhadap Dewa.
Koizumi hanya bisa diam lalu menatap pria itu sebagai kandidat Dewa selanjutnya atau kemungkinan utusan bagi Erion sendiri, melihatnya saja memberi dirinya sebuah tujuan untuk terus bertambah kuat.
"Harga diri Legenda... mereka tidak berhak menjadi seorang budak Dewa yang akan memanfaatkan mereka, percuma saja dewa itu baik... kita sebagai bangsa Legenda perlu percaya kepada harga diri kita masing-masing."
***
"Hwaahhh... air di kamar mandi juga tidak begitu buruk... hangat sekali..." Koizumi membaringkan tubuhnya di atas kasurnya.
"Semuanya terasa begitu nyaman ya, sayang sekali setengah dari penduduk tidak waras dan selalu mengaitkan apapun dengan kepercayaan itu." Kata Konomi selagi mengeringkan rambutnya.
"Anu... kalian mau memakan berapa mochi?" Tanya Shinobu yang kebetulan memesan camilan mochi untuk menikmati kedatangan musim sejuk.
""Lima!""
Beberapa menit kemudian, mereka duduk di atas langit selagi menikmati mangkuk yang dipenuhi dengan mochi serta manisan hangat yang cocok untuk dinikmati selagi melihat pemandangan turunnya kristal es di luar jendela.
"Shinobu, kamu banyak sekali memesan mochi...! Seratus!?" Koizumi tercengang ketika melihat mangkuk Shinobu sudah menciptakan gedung yang terbuat dari mochi.
"Koneko lapar... aummm..." Shinobu memasukkan sepuluh mochi langsung ke dalam mulutnya lalu mengunyahnya begitu cepat sampai mengejutkan mereka semua.
"Pelan-pelan, Nobu... mochi enaknya di makan dengan tenang..." Ako mencicipi mochi itu sedikit demi sedikit karena rasanya terlalu enak sampai terasa sayang jika dihabiskan begitu cepat.
"Koneko, apakah kamu tidak takut gemuk?"
"Tidak kok... lagi pula makanan yang Koneko cerna akan berubah menjadi energi dan cahaya yang menyegarkan tubuh ini." Shinobu tersenyum polos.
"Enak sekali... aku memilih makanan pedas agar bisa membakar apapun yang jelek di dalam tubuh ini~" Kata Hinoka.
"Kalau Koizumi sih... kebanyakan makan kentang goreng nanti ketika sudah besar pasti akan muncul dua tonjolan besar di dadanya."
"Tonjolan besar...?" Shinobu memiringkan kepalanya.
"Mmm... itu adalah simpanan karbohidrat miliknya, nanti juga kamu akan melihatnya ketika kita sudah remaja... sekitar umur 12 tahun..."
Koizumi memotong sumpitnya dengan tatapan kesal karena Hinoka mencoba untuk menodai pikiran Shinobu yang polos, "Jangan membahas hal itu dengan dirinya...!!!"
Hinoka seperti biasanya menerima sentilan, "Awwwweee....!"
Beberapa jam kemudian, hari sudah sangat malam dan mereka semua memutuskan untuk tidur dengan menggambar semua kasur itu berdekatan sampai sebagian dari mereka sudah tidur.
Tetapi...
"Apakah konserku nanti akan berjalan dengan lancar ketika sudah besar ya...?" Tanya Hinoka yang terus berbicara kepada Shinobu karena ia berbaring tepat di sebelahnya.
Hampir setengah jam Hinoka terus berbicara dengan dirinya sampai Shinobu tidak bisa tidur karena terus melayani dirinya agar ia bisa merasa puas dengan dongeng dan halunya itu.
"Tapi... misalnya jika aku memiliki banyak penggemar, apakah aku dapat memberikan mereka semua tanda tanganku tidak ya~?"
"Kakak... sampai kapan kita akan terus mengobrol...?" Tanya Shinobu dengan kedua matanya yang coba ia buka walaupun terasa sangat berat.
"Kita akan berhenti sampai ada yang tertidur."
"Apa Kakak sudah mengantuk?"
"Belum sama sekali!"
"Jadi, kau tahu..."
"Hahh... Koneko butuh toilet..." Shinobu bangkit dari atas kasur tetapi Hinoka langsung menangkap dirinya dengan menggenggam erat celana piamanya itu.
"Tunggu...!" Hinoka langsung tidak sengaja menjatuhkan Shinobu sampai celana langsung terbuka sehingga menunjukkan ****** ********.
"Uwah...!" Shinobu terjatuh sampai menyebabkan getaran yang langsung membangunkan Konomi dan Ako tetapi tidak untuk Koizumi yang masih tertidur dengan pulas.
__ADS_1
"Wah, garis merah mudanya indah juga." Kata Hinoka yang melihat motif ****** ********.
"Setidaknya dengarkan Kakak sampai selesai." Hinoka membantu Shinobu untuk duduk lalu membiarkan dirinya mengenakan celana itu lagi dengan wajah yang mengantuk.
"Kaulah orang yang tidak mau berhenti berbicara... Koneko... tidak bisa berjuang dari efek mengantuk ini..." Kata Shinobu yang terlihat lemas sampai kepalanya hampir saja terjatuh tetapi ia tetap menyeimbangkan tubuhnya.
"Aku kan mengantuk---" Hinoka langsung menepuk kepala Shinobu.
"Aduh...!"
"Kenapa Kakak menepuk kepalaku dengan kasar?!" Tanya Shinobu yang kembali bangun sampai kedua matanya terasa ringan ketika menerima tepukan itu.
"Tadi ada nyamuk yang sangat jahat di keningmu itu..."
"Mmmm..." Shinobu menatap Ako yang duduk di sebelah dirinya karena ia terbangun oleh mereka berdua yang menyebabkan keributan kecil.
"Ako... tidurmu tidak mau diam... kakimu selalu menimpa perutku..." Ucap Shinobu yang terlihat sedikit kesal.
"Ehh? Ahh, tidak sengaja... tidur memang tidak bisa di kendalikan, ahaha..."
Shinobu langsung menepuk kepala Ako, "Aw... kenapa...?! Sakit..."
"Ada nyamuk dengan mata yang mengancam..." Shinobu menangkapnya dengan jarinya lalu memakannya.
"Hmmm..." Ako menatap Konomi yang langsung melirik kepada dirinya dengan tatapan bingung karena ia bisa melihat ekspresi Ako seperti merencanakan sesuatu.
"Kenapa, Ako?"
"Apa di wajahku ada nyamuk juga?"
"T-Tidak... tidak ada... bukan Kakak kok." Ako menatap Hinoka yang memasang tatapan kebingungan kepada dirinya..
Ako langsung menepuk kepala Hinoka, "Awww...!"
"Oi! Kenapa kau menepuk diriku, Ako?!"
"Nyamuk jahat mencoba untuk menggigit kulitmu..." Hinoka langsung mengelus kepalanya lalu menatap Koizumi yang sedang tertidur.
Dirinya langsung mendekati Koizumi lalu mengangkat lengan kanannya, mencoba untuk menepuk kepalanya tetapi keningnya menerima satu sentilan yang mendorong dirinya ke belakang.
"Nekat sekali kamu, Hinoka... Koizumi itu galak ketika di ganggu dalam tidur tahu." Kata Konomi yang melihat kening Hinoka mulai memerah karena menerima serangan refleks tadi.
"Dia sepertinya berpura-pura tidur..."
"Kak Koizumi sedang tidur kok... tapi insting dirinya tetap menjaga tubuhnya dari segala bahaya." Kata Shinobu sambil berbaring di atas kasurnya.
***
"Panas... kenapa Koneko tidak bisa tidur... udaranya panas..." Kata Shinobu yang mulai menggerakkan ekornya secepat mungkin untuk menciptakan angin bagi dirinya.
"Kemana angin sejuk yang kita rasakan di pagi hari...? Semuanya terasa panas dan sesak..."
Hinoka menggenggam tangan Shinobu lalu mendekati wajahnya kepada dirinya, "Apakah kamu menikmati waktumu di negeri angin yang bernama Mitch ini?"
"Panas... menjauh..." Shinobu mendorong Hinoka karena ia membutuhkan sedikit ruangan untuk menyegarkan tubuhnya kembali dari suhu panas yang ia rasakan.
"Kalian berisik ya..." Ako kembali bangun, melihat kedua sepupu itu selalu saja mengeluarkan suara berisik yang membangunkan dirinya lagi dan lagi.
"Rasanya panas sekali... Ako... dinginkan aku..." Kata Shinobu yang langsung menerima suhu dingin melalui jari Ako yang mengeluarkan sihir es.
"Aku tidak bisa tidur...! Kalau begitu apa aku harus menceritakan kisah hantu yang menyeramkan...?" Tanya Hinoka.
"Hantu adalah... teman Koneko nyan..." Shinobu mengeluarkan suara kucing ketika ia merasa nyaman dan puas dengan apa yang ia rasakan saat ini..
"Kita tidak perlu cerita hantu... tidurlah..." Ako kembali berbaring di atas kasur dengan wajah yang tertutup oleh bantal.
"Kau takut ya...?" Tanya Hinoka.
"Aku tidak takut... ayo kita melakukannya, kita semua akan menceritakan kisah-kisah hantu." Ako menyalakan lampu lalu membangunkan Konomi sebagai pertahanan untuk dirinya.
"Sekarang apa lagi...?"
"Kita akan bercerita tentang kisah hantu~!" Seru Hinoka.
"Oke, ayo kita mulai dari Koneko~" Hinoka menunjuk Shinobu yang langsung memikirkan tentang cerita yang dapat menakutkan mereka semua.
"Anuu... Umm... Oh! Pada suatu waktu, di sebuah daratan yang jauh---"
"Itu dongeng!" Hinoka menepuk kepala Shinobu.
"Nobu... kau tidak bisa menakut-nakuti kami dengan cerita hantu yang buruk seperti itu..." Kata Ako yang mengakuinya karena Shinobu keseringan baca dongeng sampai tidak tahu cerita horor seperti apa.
"Apa...? Eh... Maaf..."
"Kalau begitu aku saja..." Konomi mengangkat lengannya sampai mereka menatap dirinya dengan tatapan bingung.
"Kalau begitu... pisau iblis...? Rumah iblis...? Penyedot iblis...? Apa yang mau kalian pilih?" Tanya Konomi.
"Kakak mau menakuti kami dengan alat atau mesin yang dirasuki...? Dan Kakak bahkan memberikan kita tiga pilihan... pintar..." Kata Ako.
"Aku akan mengambil penyedot iblis!" Kata Hinoka yang terlihat bersemangat untuk mendengar cerita tersebut dari Konomi.
"Baiklah... penyedot iblis yang menakutkan! Tunggu... bagaimana menceritakannya ya?" Tanya Konomi.
"Heh!? Kau sudah lupa...!?"
"Oh, aku tahu soal cerita itu kok." Kata Shinobu yang sempat membaca ringkasan ceritanya menggunakan The Mind sampai ia bersedih untuk menceritakannya kepada mereka.
"Baiklah! Kami serahkan padamu, Shinobu!"
"Koneko akan berjuang...!"
"Penyedot debu... mengerikan..."
Shinobu memasang tatapan yang terlihat mengerikan sampai ia akan menyimpan wajahnya yang dapat ia ubah menjadi hantu karena dirinya adalah setengah Astral sampai kemampuan itu dapat di gunakan saat malam hari.
"Tinggal lah sepasang pengantin baru..."
"...suatu hari, mereka membeli penyedot debu baru untuk apartemen mereka... tapi malam itu..."
"Istriku..."
"Istriku yang cantik..."
"Ah, istriku..."
"Ada apa, suamiku...?"
__ADS_1
"Jenis penyedot debu apa yang kita beli hari ini...?"
"Aku tidak bisa menahan rasa ingin tahuku..."
"Penyedot debu yang kita beli hari ini?"
"Semoga kau tidak akan menyesal menanyakan pertanyaan itu."
"Aku tidak akan menyesal."
"Sungguh...?"
"Sungguh."
"Biarkan aku menjelaskannya, penyedot debu yang kita beli hari ini... ternyata... penuh dengan mochi."
"Hah...!? Kita membeli penyedot debu yang penuh dengan mochi!?"
"Penyedot debu yang penuh dengan mochi...!"
"Penyedot debu mengerikan yang berisi mochi---"
"Itu hanya lelucon mengerikan!" Seru Hinoka yang tidak merasakan keseraman dari cerita tersebut.
"Kau mencampurnya dengan cerita dari Mochi yang mengerikan." Kata Konomi.
"Maksud Kakak itu yang tubuh putih dan besar...?" Tanya Ako.
"Hohhh..." Shinobu mengangguk.
"Apa yang terjadi dengan kisah hantu!?"
"Lalu bagaimana ceritanya?"
"Aku mengingatnya...!" Seru Konomi yang mencoba untuk melanjutkan ceritanya.
"Mereka mendapat penyedot debu itu dari seseorang..."
"Benarkah?"
"Oh, cerita itu?"
"Bukannya suara mengerang itu berasal dari penyedot debu?"
"Yah... kamu malah menceritakan intinya.'
"Bukannya masih ada inti ceritanya yang lain?"
"Tidak, suara mengerang itulah inti dari ceritanya."
"Tapi dalam cerita itu, pasangan tersebut sudah setengah baya kan?"
"Kita tidak bisa mendapatkan cerita yang benar..."
Mereka langsung memasang tatapan kaget ketika mendengar suara mengerang, entah itu dari mana tetapi suaranya terdengar begitu keras sampai tubuh mereka bergetar dan merinding sampai berkeringat dingin.
"A-Apa itu...?" Tanya Ako.
"Erangan...? Dari mana suara itu...?" Kata Ako..
"Katanya, hantu akan datang jika kita membicarakan mereka." Ucap Shinobu dengan ekspresi yang polos.
"Hiiii...!?"
"Itu pasti mitos..."
"Jangan-jangan itu adalah penyedot mengerikan!?" Tanya Hinoka.
Mereka langsung menoleh ke sebelah kanan lalu melihat kedua lengan putih yang bergerak sampai suara erangan itu bertambah semakin keras.
"HWAAAAAAAAGGGGGHHHH!!!"
""AAAHHHHHHHH!!!""
...
...
"Kau kenapa sih, Koizumi!?" Tanya Hinoka dengan tatapan kaget karena suara tadi itu berasal dari Koizumi yang baru saja bangun dari mimpi buruknya.
"Jangan menakuti kami seperti itu..."
"Aku kaget sekali..."
"Eh?" Koizumi memasang tatapan yang terlihat bingung sampai ia langsung menghela nafasnya lega bahwa semua yang ia rasakan tadi hanya sekedar mimpi mengerikan.
"Tadi itu mimpi ya... baguslah..."
"Jadi suara tadi berasal dari Kak Koizumi ya...?"
"Tadi bermimpi buruk apa?"
"Yah... itu sangat menakutkan... sesuatu yang berat seperti menimpa tubuhku sampai aku tidak bisa bernafas dan bergerak sama sekali." Kata Koizumi.
"Apa yang terjadi ya..."
"Baiklah!!!" Hinoka langsung bertepuk tangan.
"Cerita hantunya sudah cukup...! Ayo kita membahas soal tipe pria kita masing-masing!" Seru Hinoka.
"Kita tidak bisa melakukan itu, bodoh!" Ucap Koizumi.
Namun, Koizumi langsung berkata, "Jadi~ siapa yang pertama?"
Pikirannya berubah begitu cepat karena ia sendiri penasaran dengan tipe mereka seperti apa saja, "Yang paling tua saja!"
"Benar!" Kata Shinobu.
"Aku setuju..." Ako mengangguk.
"Kalian berdua lahir di hari yang sama bukan? Hanya saja berbeda satu jam, itu artinya salah satu dari kalian lahir lebih dahulu dari kita." Ucap Konomi.
"Itu tentunya Koizumi karena dia sering berbicara bahwa dirinya jauh lebih tua di banding kita." Kata Hinoka.
Mereka semua berhasil melakukan pemilihan begitu cepat sampai Koizumi tidak bisa beralasan apapun, Koizumi memasang tatapan penuh dengan penyesalan seketika.
"Heh...?"
__ADS_1