
"Meledak lah...!" Hinoka menyentuh gelembung tersebut lalu meledakkannya tanpa sisa sampai Koizumi berhasil di selamatkan oleh sepupunya.
Sebodoh-bodohnya Hinoka, ia tetap bisa di andalkan dalam keadaan seperti ini, Hinoka menghantam daratan lalu mengambil batu-batu kecil untuk mengubah menjadi benda yang dapat meledak.
Bentuknya tidak berubah, hanya efek saja sudah cukup untuk melakukan hal yang sama seperti granat yaitu meledak, Hinoka melempar semua batu kecil itu ke depan.
Hinoka menjentikkan jarinya sehingga terjadi ledakan dahsyat di hadapannya, ia mulai menarik lengan Koizumi lalu melarikan diri untuk berlindung di tempat yang sangat aman dari katak berbahaya itu.
"Gemu... Apakah kamu sudah mengendalikan peraturan dunia ini lagi? Tidak ada yang namanya ledakan sebesar itu..." Kata Gumi.
"Sedang aku kerjakan... aku lupa untuk mengurangi durasi, daya kekuatan, dan semua efek berbahaya dari ledakan tersebut." Gemu mulai mengendalikan peraturan di dalam dunia itu.
Hinoka dan Koizumi bersembunyi di balik bangunan rusak selagi menatap ke belakang untuk melihat gelembungnya dan katak tersebut.
"Jika aku tidak bisa menggunakan tumpukan kemampuan waktu maka dunia ini memang berada di dalam kendali seseorang, aku juga tidak menyangka durasi dari penghentian waktu itu akan berakhir sebelum satu detik."
"Mimpi ini di kendalikan oleh seseorang dan aku yakin dia dekat... katak itu... jika kita membiarkannya saja maka titik lengah kita akan berjumlah sangat banyak." Koizumi melihat beberapa paku di bangunan itu.
Semua paku itu langsung ia ambil satu per satu sampai ia memberikannya kepada Hinoka untuk membunuh katak itu dari jarak yang jauh agar gelembung itu tidak menyentuh mereka ketika menyerang dari jarak yang sangat dekat.
"Lemparan batu kecil bagaikan granat tadi tidak buruk juga, bisa aku beri nilai 50 pas..."
"Heh?! Lima puluh!?"
"Kau tidak mengenai dirinya..." Koizumi melihat dari jarak jauh bahwa katak itu mulai melompat-lompat ke atas bangunan agar bisa mencari kedua gadis itu.
Gemu dan Gumi juga kehilangan arah terhadap kedua gadis itu karena mereka hanya bisa melihat Koizumi dan Hinoka melalui pandangan katak tersebut jika tidak ingin tertangkap basah.
Dunia mimpi juga terbatas bagi mereka, karena belum di kuasai cukup kuat maka mereka tidak bisa menjadi dewa dari segalanya di dalam dunia mimpi itu seperti maha melihat dan maha apapun itu.
"Sebelum kita membunuh katak itu, aku berikan satu---"
"Kenapa kita harus membunuh katak itu? Lebih baik lari saja bukan?" Tanya Hinoka yang mulai menusuk harga diri Koizumi seketika.
"Melarikan diri...? Apakah kau melupakan harga diri kita sebagai bangsa Legenda?"
"Percuma saja jika kita lari, Hinoka... aku sempat melarikan diri selagi memikirkan sebuah rencana, aku bertujuan untuk kembali tetapi pelarian diri yang aku lakukan hanya akan mengembalikan diriku ke tempat asal."
"Semisalnya kita pergi lebih jauh dari lokasi ini maka kita akan tiba kembali di jalan itu, sudah pasti katak tersebut akan menyambut kita menggunakan gelembung brengsek itu."
Koizumi berpikir cepat dengan situasi sulit ini, pikiran dan otaknya juga sama cerdasnya dengan Shinobu karena ia juga termasuk keturunan terpintar yaitu Comi.
"Aku juga ingat... hiu yang mencoba untuk mengejar diriku melompat ke arahku... kebetulan aku menghindar dan hiu tersebut malah tertusuk oleh batu tajam yang membunuh dirinya perlahan-lahan." Kata Hinoka.
"Sekarang kau mengerti bukan? Kita hanya bisa pergi dan mencari jalan keluar hanya dengan mengalahkan hewan tersebut..."
"...seperti tantangan yang harus di selesaikan jika tidak maka kita akan menerima hukum yaitu kematian." Koizumi kembali mengintip dan ia melihat katak itu mulai melepaskan beberapa gelembung.
Semua gelembung itu mengenai beberapa bangunan yang mampu mengubah semua itu menjadi cairan hitam yang meleleh sampai Koizumi dan Hinoka tidak memiliki kesempatan untuk terus sembunyi.
"Ingat Hinoka... ketenangan itu lebih penting di bandingkan kecepatan. Jika kau melesat maka katak itu akan menandakan gelembung tersebut itu padamu."
__ADS_1
"Aku tidak bisa menyelamatkan dirimu tentunya dan aku yakin sihir ledakan itu sudah mengalami pengurangan karena peraturan di dunia itu atau kendali seorang kesatria..."
Hinoka mencoba untuk meledakkan sesuatu, efeknya sangat kecil sehingga ia tercengang ketika melihatnya, ia mencoba untuk mengerahkan semua ledakan dalam daya kekuatan yang besar tetapi efeknya berakhir sangat kecil.
"K-Kau benar..."
"Lempar dan kenai katak itu ketika kau merasa yakin akan kena..." Koizumi mendekati wajahnya kepada Hinoka selagi menyiapkan sentilan kepada keningnya.
"Aku bukannya ingin memberimu tekanan loh, mengerti tidak?"
"S-Siap, Koizumi..." Hinoka mengangguk dengan ekspresi takut dan gugup karena perkataannya itu mengandung banyak ancaman.
"Aku malah tertekan jika kau mengatakannya seperti itu... dasar bodoh..." Ungkap Hinoka.
Koizumi menggenggam erat tangan Hinoka lalu ia melemparnya ke arah bangunan satunya lagi sampai ia mendarat di atas atap paling tinggi, Koizumi muncul di sebelahnya lalu ia menatap ke depan.
"Jejak katak itu juga sudah hilang..." Koizumi mencoba untuk mencari katak itu sedangkan Hinoka sudah memegang paku itu untuk menusuknya dari jarak yang jauh.
"Dia tadi menyerang kanan di arah kita... itu artinya si katak sudah jelas akan memeriksa arah kanan terlebih dahulu untuk melelehkan semua bangunan yang ia lihat demi mencari kita."
Koizumi mulai berlutut lalu merangkak ke depan pelan-pelan sehingga ia melihat beberapa cairan hijau di lantai, prediksi yang ia katakan tadi benar bahwa katak tersebut pergi ke arah kanan untuk memusnahkan semua bangunan.
"Lompatan katak tadi itu cukup cepat... jika ia melihat targetnya yaitu kita maka mulutnya akan meluncurkan gelembung yang bergerak secepat suara." Peringat Koizumi.
"Karena itulah kita harus waspada dan tetap menjaga keberadaan kita agar tidak di lihat... kita juga perlu membunuhnya dalam satu lemparan."
"Kalau begitu kita perlu mencarinya... sebelum kita kehabisan tempat untuk bersembunyi, ayo... berpencar tetapi jangan terlalu jauh!" Koizumi melompat ke atap bangunan lainnya.
"Itu dia...!" Ungkap Hinoka yang melihat katak tersebut mulai mengeluarkan gelembung yang berukuran besar agar bisa mempercepat pekerjaannya.
"Koi---"
Hinoka menoleh ke belakang dan sadar bahwa dirinya saat ini sendirian karena mereka terpaksa berpisah untuk mencari letak katak itu sebelum ia melelehkan lebih banyak tempat persembunyian.
"Gawat... dia berada di arah lain, aku lupa... sepertinya tadi aku terlalu mengandalkan dirinya--- Ahhh!!!" Hinoka menatap kembali katak itu tetapi pandangan mereka mulai saling bertemu.
"Bagus sekali... mata kita saling bertemu..." Ungkap Hinoka yang mencoba untuk tidak bergerak karena katak tersebut bisa saja menyerang dirinya yang panik.
"Dimana Koizumi...!? Kenapa dia masih belum kembali dan menemukan katak ini--- Tidak... aku harus bekerja sendirian."
Hinoka menggerakkan tapak kanannya pelan-pelan lalu ia mengambil sebuah paku di dalam sakunya, "Saat menghadapi makhluk hidup..."
"... ketenangan itu lebih penting di bandingkan kecepatan, 'kan? Koneko dan Koizumi sempat mengatakannya kepada diriku."
"Kau tidak mati dengan sekali lemparan maka dia akan melarikan diri dan menandakan gelembung itu untuk terus mengejar diriku sampai aku mati."
"Itu 'kan...? Itu yang Koizumi katakan... si-sial... ini benar-benar tindakan tidak imut bagiku, buuuu..." Hinoka mengembungkan pipinya karena situasi yang ia hadapi cukup menyulitkan.
"Aku benar-benar tertekan jika seperti ini..."
Hinoka melihat katak itu membuka mulutnya dan ia langsung melempar paku itu sekuat tenaga sampai menusuk perut katak tersebut, serangan tadi masih belum cukup kuat untuk menghentikannya.
__ADS_1
"A-Apa...?! Menerima tusukan paku dari kecepatan seperti itu seharusnya sudah mati... katak ini sudah jelas terlindungi oleh Lenergy." Hinoka merapatkan giginya lalu ia melihat gelembung itu melesat ke arahnya.
Hinoka memukul daratan lalu menciptakan sebuah granat di dalam daratan itu sampai meledak dan mengeluarkan tanah yang berhasil menahan gelembung tersebut sampai pecah dan mengubah batu tersebut menjadi cairan hitam yang meleleh.
Hinoka melebarkan matanya ketika melihat katak itu melompat cukup tinggi dan cepat ke arah lain agar bisa menyerang Hinoka di titik yang lemah bagi dirinya.
"Dia melarikan diri lagi...!" Hinoka mengeluarkan satu paku lalu ia melemparnya ke arah katak tersebut tetapi melesat.
"Koizumi!? Dimana kau...!?" Tanya Hinoka yang terlihat ketakutan.
Katak itu mengeluarkan gelembung yang cukup besar lalu melepaskannya kepada Hinoka, kali ini kecepatannya mampu membuat Hinoka lengah seketika sehingga ia langsung melarikan diri dan melepaskan beberapa ledakan kecil di belakangnya.
"Gawat...! Itu terus mengejar...!" Hinoka melepaskan ledakan penuh tenaga melalui tapak kirinya yang membantu dirinya untuk bergerak dan menghindari gelembung tersebut.
Namun, gelembung itu berbelok ke arah dirinya sehingga Hinoka terjatuh di atas tanah dengan ekspresi yang terlihat panik, "Gawat...!"
"Terlambat...!"
"KO-KOIZUMI!!!" Teriak Hinoka keras yang mulai menangis.
ZWOSSHHH!!!
Koizumi datang dalam waktu yang tepat untuk menghisap gelembung tersebut menggunakan tato di lehernya, Gemu langsung mengurangi durasi dan efek dari tato Greed itu secepat mungkin.
"Astaga... kenapa kau bisa berada di situasi panik seperti ini? Menangis tidak akan mengubah apapun." Koizumi menghela nafasnya lalu ia membantu Hinoka berdiri selagi menatap katak itu.
"Kemampuan Greed ku sudah pasti menerima pengurangan atau efek yang tidak menguntungkan lagi..." Kata Koizumi yang baru saja menunjukkan kemampuan Greed di hadapan mereka.
"Aku kira... hiks... aku kira paku yang menusuk tubuhnya akan meledakkan bom waktu yang aku pasang..." Hinoka menghapus air matanya.
BAMMMM!!!
Paku yang berada di dalam tubuh katak itu meledak karena bentuk dari paku tersebut berumah menjadi bom waktu dengan waktu yang habis sampai menyebabkan ledakan yang begitu besar.
Melihatnya saja membuat Hinoka kembali senang bahwa rencananya berhasil dan kemampuan pengubahan benda menjadi bom apapun masih belum di kurangi oleh mereka.
"Yey!!!"
"Tidak buruk juga, Hinoka..." Koizumi tersenyum serius.
Gumi dan Gemu tersenyum ketika melihat mereka semua merasa senang begitu cepat, ledakan tadi itu sudah membunuh katak tersebut tetapi semua daging itu mulai meleleh menjadi cairan hitam.
Cairan hitam katak tersebut mulai terkumpul sampai membentuk gelembung besar yang meledak, ledakan memiliki ukuran yang sangat besar sehingga mengenai Koizumi dan Hinoka lalu menjatuhkan mereka.
Tubuh mereka langsung meleleh satu per satu dan merasakan kesakitan yang begitu dahsyat, Hinoka mulai panik sedangkan Koizumi berpikir keras untuk menyembuhkan semua luka itu.
"S-Sakit sekali...!"
"Katak itu memiliki kemampuan yang aktif di kematiannya... urghh...!" Koizumi berlutut kesakitan dan melihat kedua kembar itu muncul di hadapan mereka dengan ekspresi senyum.
"Aku harap kalian menyukai mimpi indah ini ya~"
__ADS_1
"Selamat tinggal~"