
Shuan telah mendapatkan persetujuan yang ia inginkan walaupun pada akhirnya mereka semua menertawai dirinya karena ingin menjadi bapak rumah tangga.
Bagi dirinya, itu adalah pilihan yang terbaik karena tidak ingin meninggalkan dirinya atau berada dari jarak yang sangat jauh dengan Kou yang setiap harinya sibuk dalam mengurusi pekerjaannya sendiri.
Hari masih malam dan ia memiliki banyak waktu untuk berbicara dengan Kou, ia mencoba untuk mencarinya dan kebetulan berpapasan secara langsung dengannya.
"Kou..."
"... ..." Kou menatap Shuan lalu ia mengalihkan pandangannya ke arah lain, mencoba untuk menetapkan perasaan marahnya tetapi tidak bisa.
Kou menghampiri Shuan lalu memeluknya erat, tidak bisa menahan rasa rindu untuk memberinya kasih sayang karena ia sendiri tidak bisa terus marah kepadanya.
"Aku kira kamu sedang marah padaku..."
"Aku tidak bisa marah begitu lama padamu..." Kou menatap ke atas lalu tersenyum, membuat Shuan tersipu seketika karena tidak bisa menahan dirinya ketika melihat tubuh kecil Kou terutama ekspresi lembutnya itu.
"Gadis kecil benar-benar hebat... aku bersyukur memiliki Kou..." Ungkap Shuan sambil memberikannya sebuah pelukan yang begitu erat.
"Kou."
"Mm?"
"Mau pergi ke hutan bersamaku? Mari kita mencari tempat sepi dengan pemandangan indah sambil melihat langit-langit yang dipenuhi dengan balon bersinar." Shuan meraih tangan Kou.
Kou mengangguk lalu ia mengikuti dirinya, Haruka sempat melihat kepergian adiknya dan ia mulai merasa khawatir tetapi Rokuro menghentikannya.
"Shuan sudah pasti berpikir lebih dewasa jadi kamu tidak harus mengkhawatir apapun soal dirinya." Kata Rokuro, Haruka langsung mengangguk dan membiarkan mereka pergi.
Beberapa menit kemudian, Shuan dan Kou tiba di sebuah dataran tinggi yang menyediakan pemandangan indah seperti desa yang dipenuhi dengan cahaya juga langit-langit hitam dengan cahaya yang berkelap-kelip.
"Semuanya terlihat begitu indah ya... pulau ini memang yang terbaik." Kata Kou sambil mengambil beberapa gambar menggunakan kacamata itu.
Shuan tersenyum ketika melihat Kou menikmati waktunya mengambil beberapa gambar dari setiap pemandangan yang ia lihat, terlihat jelas kepolosannya yang menginginkan sesuatu biasa.
"Pemandangan ini bisa kita lihat beberapa kali..." Kata Shuan, Kou mengangguk lalu ia menatap Shuan dengan sebuah senyuman.
"Maafkan aku, Shuan. Sepertinya aku membuatmu khawatir beberapa menit yang lalu..."
"Santai saja... aku sendiri yang salah karena tidak memberitahumu soal urusanku dengan Rokuro dan Haruka." Shuan menatap ke atas langit dan ia bisa melihat jelas pemandangan indah dari langit itu.
"Hei, hei, ke sini..." Kou mulai mengajak Shuan ke sebuah tempat yang cukup nyaman untuk melihat pemandangan desa dan langit.
"Hati-hati, kau bisa saja jatuh---"
Kou terpeleset tetapi ia berhasil menyeimbangkan tubuhnya kembali, dataran tinggi itu memiliki banyak batuan kecil jadi Kou tidak dapat melihatnya dengan mudah karena terlalu gelap.
"...aku baik-baik saja." Kou tersenyum lebar kepada Shuan yang hampir saja merasakan serangan jantung ketika melihat pacarnya yang tidak memiliki perlindungan apapun hampir terjatuh.
"Wahhhh..." Terdengar suara Kou mengandung banyak rasa bahagia di sebelah Shuan.
"Shuan, ayo kita tiduran dan melihat langit-langit lebih jelas lagi. Sangat menakjubkan loh!"
"Apa?" Shuan melakukan apa yang Kou inginkan, ia berbaring di atas tanah lalu menatap ke atas, langit hitam yang dipenuhi cahaya memenuhi kedua matanya.
Udara terasa begitu sejuk malam ini bahkan semua balon itu masih terlihat memancarkan cahaya yang berkelap-kelip.
"Terlihat sangat indah..."
"Hm!"
__ADS_1
Kedua mata Kou terbinar-binar ketika melihat pemandangan langit dan Shuan menggunakan kesempatan tersebut dengan menggenggam erat tangan kecil Kou.
Tapak tangannya diselimuti dengan tapak tangan Shuan yang jauh lebih besar, "Rasanya kita seperti tiduran di atas awan... saling bergandengan..."
Semua cahaya itu terus menyinari mereka berdua, "Aku yakin akan terasa lebih menyenangkan jika kita bisa berjalan di atas udara dan awan..."
"Mungkin Shuan bisa merasakannya tetapi aku tidak karena... aku tidak tahu cara untuk menggunakan Lenergy agar bisa terbang tinggi."
"Berada di dataran tinggi seperti ini rasakan aku dapat memegang bulan dan semua bintang yang memancarkan cahaya indahnya..." Kou mengangkat lengan kirinya ke atas, mencoba untuk menggapai bintang-bintang.
"Mungkin kamu tidak tahu soal ini, Shuan. Mamaku memberi diriku nama Kou karena mengandung makna kebahagiaan, cahaya, dan kedamaian." Kou tersenyum.
"Itulah kenapa aku sangat menyukai kebahagiaan, cahaya, dan juga kedamaian. Semua itu karena Mamaku yang mau memberi nama Kou kepadaku..."
"Hm... Korrina sepertinya memberimu nama yang begitu cocok denganmu."
"Itu lah kenapa aku sendiri sangat mencintai dirimu, kamu bagaikan kedamaian dan cahaya itu sendiri bagiku..." Jawab Shuan, membuat Kou terkekeh.
Ketika Shuan mendengarnya, entah ia merasa begitu tenang bahkan lengannya yang ia angkat terasa seperti memegang semua bintang yang dapat ia berikan kapan pun kepada Kou.
"Ketika perayaan pertama Neko Isle di mulai, bukannya terlihat begitu menyenangkan ketika melihat semua balon cahaya itu mulai beterbangan?"
"Hm~ Sangat menyenangkan..."
Melihat balon cahaya beterbangan itu memberikan Shuan harapan bahwa ia dapat bertahan hidup menahan kutukan yang ia ambil dari Kou secara paksa.
Semua bintang dan balon yang bercahaya itu terasa seperti melepaskan beberapa bubuk bintang yang begitu indah.
"Semua cahaya yang menyinari seluruh alam semesta... semuanya adalah harapan yang di inginkan oleh setiap penghuni semesta." Kou mulai berbicara lagi.
"Besok aku akan bekerja untuk mempersiapkan pernikahan Kakak." Suara Kou sekarang terdengar khawatir dan gugup.
"Apakah kamu merasa gugup?"
Kou mulai menggenggam erat tangan Shuan, "Waktu berjalan begitu cepat ya... tiga hari yang akan datang, aku akan sendirian di rumahku sendiri."
"Aku tidak menyangka semuanya berlalu begitu cepat dan aku harus menerima setiap perubahan yang akan terjadi di masa depan..."
"Kita harus bisa menerima apa yang akan terjadi selanjutnya."
"Itu benar sekali, setiap Legenda juga seharusnya tidak selalu mengandalkan mereka yang sudah dekat dengannya."
"Mungkin hari ini atau mungkin lusa nanti adalah hari terakhir bagimu untuk bersama Haruka?"
"Iya, aku harus memberikan sesuatu yang cocok untuknya agar ia juga tidak harus merasa khawatir soal kami." Kou tersenyum lalu ia mulai mendekati Shuan.
Kou mengangkat kepalanya lalu ia menyandarkannya dengan dada Shuan sehingga seluruh tubuhnya sekarang berada tepat di atas tubuh Shuan.
"Shuan... cium."
"Kenapa mendadak seperti itu? Topiknya tidak ada kaitan apapun soal ciuman atau semacamnya."
"Aku sudah lama tidak merasakan cintamu... jika aku tidak menerimanya maka aku tidak akan bisa tidur lagi." Kata Kou sambil memejamkan kedua matanya.
Shuan bisa melihatnya dengan jelas bahwa Kou terlihat begitu manja seperti anak kecil yang membutuhkan kasih sayang besar.
Dataran tinggi yang terlihat begitu sepi membuat Shuan merasa yakin bahwa tidak akan ada satu pun gangguan yang mungkin mengganggu dirinya bersama Kou.
Shuan memeluk tubuh kecilnya dengan erat lalu ia memberi Kou sebuah kecupan di bibir untuk sekian lamanya, merasa sensasi baru berciuman di tengah malam dengan cahaya yang bersinar di atas langit.
__ADS_1
Membuat Shuan merasa sedih dan khawatir seketika soal lambang Crimson yang tertera di dadanya, semua rasa manis yang ia dapatkan dari bibirnya hilang seketika.
Shuan merasa sangat takut bahwa Kou suatu saat nanti mengetahui rahasia dari permohonan yang ia minta, untuk sekarang terasa aman tetapi melihat dirinya yang senang membuat rasa khawatirnya bertambah.
Kou berhenti merasakan bibir Shuan dan ekspresinya terlihat kesepian, "Permohonan apa yang kamu bicarakan...?"
Shuan terkejut ketika Kou mulai membahas soal permohonan itu, sebesar apapun Shuan mencoba untuk menyembunyikan topik itu, Kou tetap bertanya karena sempat membaca pikirannya.
"Permohonan biasa... kubus emas itu."
"Aku merasakan sesuatu yang janggal... kamu tidak pernah menceritakan sesuatu soal permohonan itu yang menyebabkan diriku sembuh."
"Sudah aku bilang sejak itu bukan? Aku memohon kepada kubus itu untuk menyembuhkan dirimu."
"Bohong... aku merasakan rasa khawatir yang begitu besar darimu, kamu tidak bisa berbohong kepadaku." Ucap Kou dengan tatapan khawatirnya.
"Tentang apa..."
"Permohonan itu... sebenarnya apa yang kamu minta sampai membuat dirimu merasakan rasa khawatir yang besar...?" Tanya Kou.
Shuan terus di tekan sampai ia tidak bisa menahan rahasianya karena Kou sempat membaca pikirannya untuk kedua kalinya sehingga ia memasang tatapan sedih karena Shuan tidak ingin jujur kepada dirinya.
"Permohonan ku sebenarnya..."
"...aku memindahkan semua penyakit dan kutukan yang kau rasakan kepadaku karena aku tidak memiliki pilihan lain."
"Permohonan untuk menyembuhkan dirimu tidak dapat di laksanakan oleh kubus emas itu." Ucap Shuan dengan tatapan yang merasa bersalah.
Kou bangkit lalu ia berbalik badan, mencoba untuk tidak merasa sedih karena ia baru saja mendengar Shuan mengorbankan semuanya hanya demi kesembuhan dirinya.
Kutukan dari lambang Crimson itu masih cukup misterius bagi Kou yang memiliki kemampuan maha tahu, mendengarnya saja membuat Kou merasa tidak percaya tetapi semua perkataan Shuan itu adalah kebenaran.
"Hiks..." Tubuh Kou bergetar seketika.
Shuan bangkit, "Kou...?"
"Hiks... tidak apa..."
Shuan bisa mendengar jelas suara sedih Kou, ia langsung berkeringat dingin dan mencoba untuk menghadapinya secara langsung sampai ia dikejutkan dengan air mata deras yang mengalir melalui kedua mata Kou.
Air matanya terus berjatuhan seperti hujan deras, membasahi daratan sampai mengubah wajahnya yang terlihat begitu polos dan tak berdosa menjadi wajah dipenuhi rasa kesedihan karena sebuah penderitaan.
Kou menangis seperti anak kecil, "Tidak... tidak... semua itu pasti bohong... tidak..."
Kou terus mengulangi katanya lagi dan lagi, Shuan dikejutkan dengan rasa bersalah sampai ia tidak bisa mengatakan apapun, dadanya juga terasa sesak seketika.
"Kenapa harus meminta itu... sekarang penderitaan itu pindah kepada dirimu..."
"...seharusnya kutukan itu adalah tanggung jawabku sendiri."
"Shuan... kenapa kamu meminta itu tanpa izinku... jika kamu menerima Crimson Disease maka takdir akan memburuk untukmu..." Perasaan aslinya keluar dengan sikap kejujuran dari seorang anak kecil.
Dia terus menangis seperti bayi, tidak bisa berhenti, dia mengeluarkan kata-katanya bersamaan dengan suara tangisannya itu.
"Aku sudah terbiasa menderita... aku sudah merasa ikhlas untuk menerima semua kekurangan itu... tetapi kamu..."
"Kou." Shuan melihat Kou terus menangis, terlihat sangat jelas bahwa ia tidak ingin kehilangan siapa pun lagi terutama dirinya yang menerima kutukannya itu.
"Hiks... aku sudah berjanji untuk tidak merepotkan siapa pun lebih lanjut lagi... kutukan dan penyakitku adalah risikoku sendiri tetapi kamu merebutnya..."
__ADS_1
"selama bertahun-tahun aku tidak ingin merepotkan siapa pun dan kehilangan seseorang yang sangat penting bagiku..."
"...aku tidak mau kamu meninggalkanku karena penyakit itu."