
"Pesawat model apa itu...? Kenapa bentuknya terlihat seperti kucing?" Tanya Wilhelm dengan tatapan kebingungan sampai Andrian dan Aditya langsung mengingat satu-satunya orang.
"Bangsa Legenda... tidak mungkin, kenapa mereka mencoba untuk membantu kita semua?" Tanya Andrian, ia bisa melihat perut bagian pesawat itu terbuka lebar sampai menjatuhkan beberapa gadis yang sudah memegang senjata api.
"Cyber, amankan pesawat ini ke markas mereka... untuk sekarang kita akan mengamankan sumber daya Manusia." Perintah Shinobu, ia bisa melihat ketiga Manusia itu tertekan oleh manusia lainnya.
"Akan saya laksanakan, putri kecil. Semoga beruntung."
Shinobu melompat melangkah menuju lubang di hadapannya, ia melompat masuk ke dalamnya sampai mendarat di atas tanah lalu menyingkirkan semua tentara aliansi itu bernama mereka semua.
"Dengan bantuan mereka, aku yakin semuanya akan berjalan baik-baik saja, masih ada harapan untuk melindungi Indonesia dari perampasan semua sumber daya itu." Ucap Aditya.
Semua tentara itu terpaksa mundur ketika melihat bala bantuan memegang senapan api yang begitu kuat termasuk Shinobu yang dapat terbang menggunakan zirah teknologinya sampai melepaskan banyak sekali laser emas.
"Aku mengharapkan tantangan yang lebih sulit, tetapi senapan api ini cukup menyenangkan untuk digunakan." Kata Koizumi yang mulai mengisi ulang amunisi dari senapan tersebut.
"Untungnya kita datang tepat waktu, aku harap kau benar soal beberapa Manusia yang bisa kamu percayai, Shinobu." Ucap Konomi selagi membidik beberapa tentara yang sedang melarikan diri.
"Ya... mereka adalah kenalan Mama dan Nenekku."
Beberapa menit kemudian, mereka telah mengamankan lokasi tersebut dengan cepat, semua tentara itu dikejutkan dengan serangan bala bantuan seperti mereka yang memegang senjata kuat.
"Terima kasih karena sudah membantu kami, sungguh tidak ada yang bisa kami lakukan untuk membalas kebaikan kalian semua." Kata Aditya yang mulai menundukkan kepalanya kepada mereka.
"Kebetulan kami juga memiliki masalah dengan umat Manusia, tetapi untuk sekarang kami akan mengikuti apa yang kamu coba lakukan." Jawab Shinobu.
"Penjelasan masih bisa menunggu ketika semuanya sudah selesai." Aditya bersama kedua temannya mengangguk lalu bergegas menuju pusat bangunan dimana terdapat seorang Jenderal di sana yang mencoba untuk melarikan diri.
"Bangunan itu... di sana terdapat seorang Jenderal yang mungkin bisa memberikan kita jawaban tentang aliansi Manusia itu."
"Aliansi?"
"Ya... aliansi yang dibentuk oleh para pemerintahan dengan dinamakannya Extinction Order atau artinya kepunahan untuk semua umat dan bangsa asing seperti kalian..."
"...aliansi itu sudah ada sejak lama, selama ini kami berperang melawan mereka yang memiliki teknologi dan persenjataan lebih kuat sampai pasukannya terus bertambah dengan mengambil alih beberapa negara."
"Apa yang mereka inginkan adalah satu hal yaitu meraih kembali puncakĀ untuk umatnya sendiri sebagai makhluk yang sempurna, tetapi anehnya dia membunuh umatnya sendiri untuk kekuatan tambahan."
"Ck... dasar rendahan." Kata Shinobu yang mulai melepaskan rudal melalui kedua pergelangan tangannya sampai menghancurkan pertahanan di hadapannya.
Mereka semua langsung melihat banyak sekali tentara yang memegang sebuah perisai anti peluru, perisai itu juga menyediakan senjata otomatis yang dapat mereka gunakan di balik perisai itu untuk memberikan keuntungan besar.
"Aditya! Wilhelm! Kuatkan tubuh kalian dengan aliran---"
Andrian memasang tatapan kaget ketika melihat Shinobu menangkap semua peluru itu bersama teman-temannya, semua peluru yang di tangkap sempat diperkuat dengan Lenergy lalu dilempar ke depan sampai menembus perisai itu.
"Sudah aku duga... walaupun kita memiliki rupa yang sama, fisik kalian memang tidak bisa dibilang normal atau tertandingi." Kata Aditya yang terlihat puas melihat semua tentara aliansi itu tertekan.
__ADS_1
"Kak Aditya, lebih baik kalian amankan sisi lainnya... serahkan bagian depan kepada kita semua!" Peringat Shinobu sehingga mereka menyetujui rencananya lalu bergegas masuk melewati arah belakang.
Shinobu bisa mendengar suara kendaraan tepat di belakangnya, ia mulai menoleh ke belakang lalu melepaskan beberapa Golden Repulsor yang keluar melalui cahaya matahari yang ia serap menjadi tenaga.
Semua kendaraan yang mencoba untuk menabrak mereka langsung terpental ke belakang, Hinoka mengeluarkan banyak sekali granat yang langsung ia lempar ke depan.
Semua granat itu mulai Ako bidik menggunakan panah yang ia pegang sampai setiap pelepasan panah itu mampu menusuk beberapa granat sampai menempel pada salah satu anggota tubuh tentara itu.
"Banyak sekali... mereka tidak ada habisnya..." Kata Konomi yang mulai menghabiskan semua amunisi pelurunya untuk menjatuhkan beberapa tentara yang berdiri di atas bangunan itu.
Koizumi membidik beberapa tentara yang bersembunyi menggunakan sniper nya, sekali saja peluru tersebut lepas sampai mengenai kepala maka kerusakan yang diterima sama seperti balon pecah.
***
"Bersiaplah..." Aditya mendobrak pintu di depannya lalu ia membidik beberapa tentara menggunakan senapan apinya lalu menembak tubuh semua tentara itu sampai mereka tidak sempat untuk menembak.
"Oi! Dia melarikan diri...!" Wilhelm melihat Jenderal itu melarikan diri menggunakan Jetpack yang ia pakai bersamaan dengan pakaian anti peluru dan ledakan untuk bisa melarikan diri dengan aman.
Tetapi Jenderal tersebut langsung disambut oleh Shinobu yang mencekik lehernya lalu menjatuhkan dirinya di atas tanah dengan menghancurkan Jetpack tersebut lalu merusak pakaian itu.
"Kau perlu membuka mulutmu sekarang..." Shinobu mengancam Jenderal itu dengan menunjukkan tapak kanannya yang bersinar cerah karena dalam mode persiapan untuk melepaskan laser cahaya.
"Shinobu, ruangan ini kosong sekali... hanya dipenuhi dengan puntung rokok para tentara dan Jenderal itu." Kata Konomi yang sudah memeriksa beberapa ruangan.
Shinobu membaca pikiran Jenderal tersebut, "Sebagian dari mereka sudah melarikan diri..."
Shinobu menatap Aditya, "Apakah kamu sempat mengatakan sesuatu tentang teknologi canggih yang mereka pegang?"
"Benar... mereka sudah menekan semua umat Manusia di bumi dengan teknologi dan persenjataan mereka semua."
"Apakah kamu mau berbicara, Jenderal?" Tanya Shinobu yang mulai berbicara menggunakan Bahasa Perancis.
"Jenderal dari Negeri Perancis ya..." Kata Wilhelm yang mulai memotret wajahnya itu menggunakan alat komunikasi yang ia pegang agar bisa mencocokkan wajah Jenderal tersebut dengan gambar yang diambil oleh warga.
"Ya, cocok. Dia memang Jenderal ke delapan dari aliansi tersebut bernama Albert..." Ucap Wilhelm.
Shinobu mengangkat jarinya yang mulai memanas lalu ia menekannya dengan dahi Albert sampai ia meringis kesakitan, "Waktu berjalan, Jenderal..."
Shinobu tersenyum, "Akan lebih mudah untuk berbicara 'kan? Apakah kamu memang suka mati secara lambat dengan membiarkan jari panas ini masuk sampai menembus tengkorakmu?"
"Apa yang kau inginkan...? Melihat ekor dan telinga itu, termasuk dengan pakaian aneh ini... kau memang bangsa Legenda ya."
"Itu benar, beritahu kami tentang satu hal saja... dimana markas aliansi kepunahan itu? Apa yang kalian rencanakan...? Apa yang sudah kalian perbuat dengan konsep sihir?"
"Percuma saja menanyakan hal itu kepadaku... seseorang yang dapat mengetahui jawaban itu adalah pada Jenderal tingkat satu sampai lima..."
"Itu artinya kau hanya menumpang nama Jenderal bukannya begitu...? Sungguh menyedihkan, aku mengharapkan lebih banyak darimu." Shinobu menekan jari itu sampai menyentuh tulang tengkorak Albert.
__ADS_1
"Minyak yang kalian rampas itu, apa yang akan kalian perbuat dengan semua itu...?"
"Memperkuat persenjataan kami untuk memulai sebuah perang dimana kita umat Manusia akan menyebar di seluruh alam semesta untuk menyebabkan kepunahan bagi seluruh umat dan bangsa asing!"
"Dengar ya, bangsa Legenda... dan tentunya umat Manusia yang tidak mau bekerja sama dengan kami, kalian akan menerima penyesalan yang terbesar!"
"Setelah kami mempersiapkan semuanya... kami tidak akan turut diam lagi dengan yang namanya perbudakan, semua ini adalah perang terakhir kami sebagai umat Manusia!"
"Prajurit yang kalian lawan hanyalah sekedar pion... mereka semua tentara biasa yang tidak menerima persenjataan dari Jenderal pertama kami..."
"...selanjutnya kalian akan disambut dengan sesuatu yang lebih mengerikan!" Shinobu melebarkan matanya ketika mendengar suara di balik tubuh Albert.
Shinobu langsung melempar Albert ke atas langit sampai tubuhnya langsung meledak karena bom yang ia pasang dalam tubuhnya sendiri untuk melakukan pengorbanan yang dapat menjatuhkan mereka semua.
"Pikiran Jenderal tadi cukup untuk mengatakan sesuatu tentang kemenangan yang cocok..."
"...persenjataan kuat, Koneko perlu mengetahui secara keseluruhan tentang aliansi ini." Shinobu memegang dagunya lalu ia melihat semua temannya masih sibuk menghabiskan beberapa tentara yang masih hidup.
"Sultan Andrian, lebih baik kita mundur sekarang... sumber daya minyak sudah diamankan sekarang juga, kita gunakan waktu istirahat itu untuk menjelaskan sesuatu dan merancang rencana jika sempat."
"Baik... helikopter dalam perjalanan menuju Riau, kita akan kembali ke Jakarta untuk mempertemukan dirimu dengan tentara lainnya yang masih beristirahat."
"Dimengerti."
***
"Jenderal Mitler, saya ingin melapor tentang kondisi Riau... sumber daya minyak yang sudah kita sedot oleh mesin itu telah terkumpul cukup lebih dari yang kita kira."
"Hanya saja pengumpulan itu memerlukan pengorbanan seperti kejatuhan Jenderal Albert, apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Jika sumber daya minyak dari Indonesia sudah terkumpul jauh dari cukup maka kita hanya perlu fokus dengan negara lainnya terutama lagi menunggu panggilan dari luar."
"Teknologi dan persenjataan kita yang lebih kuat akan datang sebentar lagi..."
"Saya ingin memberikan berita buruk untuk Anda bahwa..."
"...terdapat bangsa Legenda yang sudah memasuki negara Indonesia sampai membantu tentara Indonesia untuk menjatuhkan Jenderal Albert bersama pasukannya."
Mitler memasang tatapan kaget tetapi ia mencoba untuk tetap tenang dalam situasi seperti ini, "Ternyata bangsa Legenda memang cukup cerdik untuk mengetahui penyerangan rudal itu berasal dari kami."
"Legenda yang membantu tentara Indonesia itu adalah anak dari seorang Legenda yang sempat membantu kita semua." Mitler menoleh ke belakang untuk melihat Jenderal yang memiliki kekuasaan lebih tinggi darinya.
"Kita harus menunggu..."
"...fokus dengan tujuan pengumpulan sumber daya itu tanpa memedulikan mereka."
"Itu yang aku pikirkan, Jenderal... lebih baik melakukan sedikit tes kepada mereka dengan menjatuhkan beberapa prajurit kita..."
__ADS_1
"...setelah menggunakan semua pion itu maka kita kerahkan kuda kita."