
"Selamat!!!" Korrina mulai bertepuk tangan selagi menjatuhkan beberapa Glitter kepada Rokuro sehingga ia tidak bisa berkata-kata tentang ekspresi Korrina yang berubah begitu cepat.
"Aku dengar kalian sudah berpacaran juga ya, selamat-selamat!" Korrina memunculkan berbagai macam kembang api.
"Ehh...?" Rokuro langsung terlihat kebingungan dengan sikap Korrina, terlihat Korrina seperti menyetujui hubungan dirinya bersama Haruka.
"Haruka sejak kecil jarang sekali memiliki ketertarikan dengan laki-laki, selama ini kau beruntung untuk mendapatkan kunci hatinya!" Korrina tersenyum.
"Melihat dirimu berhadapan secara langsung denganku di surga adalah hari yang sangat aku nantikan sejak itu!" Ekspresi Korrina berubah menjadi suram untuk sekejap bahkan senyumannya terlihat begitu pahit sampai ia menatap ke bawah murung.
"Hei... Apakah kau serius?"
"Maksudmu hubungan diriku bersama Haruka? Tentu saja aku serius, suatu saat nanti aku akan melamarnya, membuat keturunan dengannya, dan memberikan pelajaran kepada siapapun yang mengganggu dirinya!"
"...tapi Korrina, ujung-ujungnya aku hanya seorang Mortal biasa yang bisa melakukan kesalahan... Jika... Jika aku gagal melindungi Haruka, kau bisa memberikan hukuman apapun kepadaku."
Rokuro mengepalkan tinjunya dan merasa kesal karena ia belum cukup untuk bisa melindungi Haruka yang bisa di bilang jauh lebih kuat dibandingkan dirinya.
"Apakah kau benar-benar serius?"
"Kami... Keturunan Comi memiliki kutukan yang tidak bisa di hindari dengan mudah..."
"Kamu mendekati Haruka maka otomatis kau mendekati kutukan itu dari jarak yang begitu dekat."
"Terutama lagi jika kau menikah dengannya..." Korrina meneteskan air matanya, tidak bisa menjelaskan secara detail karena keberadaan Rokuro terbatas di dalam surga ini.
"Aku memberikan diriku kesempatan, kau bisa melupakan dirinya saja lalu meninggalkannya."
"Korrina, seorang pria dan Legenda sepertiku ini tidak akan pernah takluk dengan yang namanya kutukan!"
"Bahkan jika takdir mengatakan bahwa aku harus mendapatkan kutukan itu maka aku siap menerimanya, jika memang di perlukan aku akan mengubah takdir itu untuk melindungi keluarga baruku di masa depan!"
"Aku tahu... Kau benar-benar berbeda..."
"...itulah kenapa Haruka memilih dirimu, hm, aku setuju. Aku menerima dirimu sebagai suami Haruka, sebagai seorang penjaga dari anak surga." Korrina tersenyum kecil, ia menghapus air matanya yang masih mengalir keluar.
"Mulai dari sekarang... Surga menganggap dirimu sebagai pelindung bagi Haruka, aku tidak bisa melindungi dirinya karena aku sangat jauh."
"Aku bahkan tidak pernah kembali selama beberapa tahun lamanya..."
"Tidak bisa kembali? Bukannya kau menjalankan misi ditemani oleh Kakek dan Nenek?" Rokuro merasakan sesuatu yang janggal dengan perkataan Korrina, dia bisa merasakan sesuatu yang buruk.
"Sudah berapa tahun ini!?"
"Aku ingin melihat mereka...! Aku ingin berbicara dengan mereka...! Tetapi aku hanya bisa berbicara dengan pelindung mereka walaupun itu hanya sekali." Korrina mulai menggaruk-garuk rambutnya kesal.
"Itulah kenapa... Kau di sini, Rokuro...!"
"Surga... Aku sebagai pemiliknya, memercayai dirimu sebagai pelindung Haruka, bagi anakku sendiri."
Korrina meraih kedua tangan Rokuro, "Aku ingin kau membuat dirinya senang... bahagia... merasakan kedamaian yang selalu ia inginkan tanpa harus mengingat diriku...!"
"Tenang saja, Korrina, dengan ini, aku sebagai Legenda berjanji akan melindungi Korrina, bahkan jika yang aku lawan adalah Dewa atau anak dari sang pencipta, aku akan melindungi nya meskipun nyawaku taruhannya..."
"Lalu... Soal Haruka tidak mengingat dirimu saat aku mencoba untuk membuat dirinya bahagia, kurasa itu cukup mustahil bagiku."
"Aku tahu..."
"Tetapi... Kau harus menikah dengannya..."
"Setidaknya ia memiliki seseorang yang dapat membahagiakan dirinya agar aku bisa kembali suatu saat nanti..."
__ADS_1
"Haruka itu ceroboh, nakal, memiliki banyak sikap negatif. Maaf, asuhanku tidak cukup kuat untuk mengubah dirinya menjadi sesosok gadis yang sempurna."
"Aku menerima dirinya dengan penuh kasih sayang, Korrina..."
"Aku ingin dia bisa merasakan kebahagian bersamamu, dia mengalami banyak tekanan sejak bayi..."
"Ya, aku mengerti, apapun yang terjadi aku akan membahagiakan dirinya! Dan itu adalah tujuan yang harus aku laksanakan!" Rokuro mengepalkan kedua tinjunya, menunjukkan tekad yang ia miliki.
"Kau tidak perlu khawatir, Korrina, bahkan tidak hanya aku saja yang akan membuat Haruka bahagia tetapi teman-teman yang dia miliki. Terutama kedua saudaranya juga pasti akan berusaha untuk membahagiakannya."
"Kau tidak perlu khawatir, tenang saja." Untuk pertama kalinya, Rokuro menunjukkan senyuman tulus yang hanya di lihat oleh Korrina, kedua orang tuanya pun belum pernah melihat senyuman itu.
"Rokuro..." Korrina memeluk Rokuro.
"Terima kasih karena sudah menerima Haruka apa adanya."
Korrina memancarkan cahaya biru muda yang masuk ke dalam tubuh Rokuro.
"Korrina...?" Rokuro merasakan sesuatu yang masuk ke dalam tubuhnya.
"Aku merestui dirimu..." Korrina tersenyum.
Korrina menciptakan cincin berlian yang memiliki warna biru muda lalu ia meraih tangannya dan memberikan cincin itu kepada Rokuro.
"Terima ini sebagai hadiahku, maaf, tidak banyak." Korrina tersenyum pahit, tubuhnya perlahan-lahan melepaskan cahaya emas sehingga tubuhnya mulai transparan.
"Terima kasih, Korrina, aku akan memberikan cincin ini kepada Haruka bila memang sudah waktunya." Rokuro menyimpan cincin itu di dalam saku celananya dan melihat Korrina yang perlahan-lahan menghilang.
"Sebelum itu..." Korrina tersenyum.
"Apa sudah mulai berpikir untuk melanjutkan keturunan?" Korrina mengangkat jarinya, di lanjutkan dengan jari lainnya.
"Satu... Dua gitu...? Tiga juga... Ah, satu juga boleh sih."
"Soal itu... Aku akan membahasnya dengan Haruka, tenang saja, cucumu pasti akan miliki kekuatan yang jauh lebih besar di bandingkan kita semua." Rokuro tersenyum masam karena Korrina menanyakan hal yang sedikit sensitif baginya.
"Ada apa...?"
"Masih ada waktu, kamu bisa cerita kepada ibu mertuamu ini." Korrina tersenyum.
"Tidak, tidak ada yang ingin ku ceritakan lagi kepadamu, Korrina. Apa aku harus memanggilmu Ibu atau semacamnya sekarang?" Rokuro menggaruk-garuk kepalanya karena menanyakan hal yang konyol.
"Korrina saja. Apapun itu, tetap panggil diriku dengan nama. Tidak perlu panggilan lainnya..." Korrina tersenyum.
"Kalau benar kau menginginkan sebuah keturunan maka aku ingin kau berusaha keras karena memiliki seorang anak adalah latihan yang memiliki tekanan besar."
"Bisa di bilang latihan yang sangat sulit seumur hidupmu." Korrina terkekeh, mengingat kejadian dimana ia mengasuh seluruh anaknya sampai kelelahan.
"Aku harap anakku tidak mewarisi sikap dinginku ini." Rokuro sekarang sedikit mengerti pandangan orang tuanya terhadap dirinya karena membayangkan anaknya nanti bila mewarisi sikap dinginnya itu.
"Terdengar masuk akal, dingin dengan penuh energi itu mengerikan..."
"Haruka sejak bayi penuh dengan energi dan dia selalu memainkan waktu, jika kalian memiliki anak, sudah pasti akan lebih mengerikan bahwa kan?"
"The Greed dan The Time bergabung... Yeah... Latihan yang cukup berat sepertinya."
"Aku harus melatih kesabaranmu lagi jika sudah memiliki anak."
"Hahaha, aku tidak sahar... Sebelum itu, maukah kamu memenuhi kebutuhan terakhirku?"
"Dan itu...?"
__ADS_1
"Aku ingin kau merekam berbagai macam pengalaman yang begitu indah dengan Haruka terutama lagi ketika kalian punya anak..."
"Memiliki foto keluarga sepertinya bagus... Aku serahkan juga tempat tinggal kepadamu, Haruka tidak perlu lagi mengurusi Co. Corp."
"Hiduplah di tempat yang nyaman dan damai..."
"Baiklah, aku akan melakukannya. Apa aku juga boleh meminta sebuah permintaan yang cukup egois?"
"Silahkan..."
"Saat kau sudah menyelesaikan semua urusanmu di luar sana... Bisakah kau datang saat ulang tahun anakku?"
"Aku tidak peduli ulang tahun yang ke berapa, yang penting anakku nanti bisa melihat neneknya di saat hari yang berharganya itu."
"... ..." Korrina menahan air matanya lalu tersenyum kecil, ia menjawabnya dengan lembut selagi mengangguk.
"Aku akan mencobanya..."
"Terima kasih... Korrina..." Seperti biasanya Rokuro bisa mengetahui jelas ekspresi dan pikiran Korrina.
"Maaf..." Tubuh Korrina melepaskan asap emas.
"Apapun yang terjadi di Touriverse... Apapun yang terjadi denganmu dan Haruka, kau tidak perlu takut untuk mencoba melindungi sesuatu yang benar..."
"Jangan sampai kau hilang kendali, Rokuro... Kau tidak perlu lagi mengkhawatirkan diriku, tetaplah fokus kepada Haruka."
"Menceritakan semua kejadian yang kau lihat saat ini tidak ada gunanya, ini adalah rahasia di antara kita... Haruka tidak akan tahu, mengerti?"
"Semua ini terjadi karena takdir... Harus, sudah tertera di dalam batu takdir..."
"Baiklah, aku mengerti." Rokuro mengangguk.
Haruka yang berada di atas awan emas mulai turun lalu memeluk Rokuro dari belakang, ia sampai diselimuti dengan ketenangan yang mampu menenangkan jiwa dan pikirannya.
"Aku sungguh senang bisa memberitahumu tentang semua ini, sampai-sampai aku tidak menyangka akan berhadapan dengan calon suami Haruka..."
"Touriverse masih belum bisa di bilang aman dari ancaman tetapi dengan keberadaan dirimu dan temanmu yang lain..."
"Aku mempercayai kedamaian abadi itu tidaklah hal yang mustahil... Jika kedamaian terus berlanjut, bersyukurlah dan gunakan waktu damai itu dengan benar."
"Apapun yang terjadi, kau harus tetap fokus dengan tujuan yang ka incar, Legenda seperti dirimu masih muda dan memiliki banyak semangat untuk bertarung..."
"Kau adalah pemimpin... Karena sudah mau menemani Haruka bahkan sampai menikahi dirinya, Haruka akan mengikuti jalan yang kau tempuh setelah kau menjadi suaminya."
"Bimbinglah keluargamu, buatlah keturunan Comi baru yang bisa maju dan memiliki pandangan baik untuk semesta Touriverse."
"Kau sendiri adalah keturunan Phoenix dan Shimatsu... Sebuah kebanggan juga." Korrina perlahan-lahan melayang ke atas langit.
"Rokuro..." Korrina tersenyum
"Kepercayaan ku tidak akan pernah hilang... Aku percaya dengan pilihan anakku sendiri..." Korrina berbalik badan.
"Sungguh tidak bisa dipercaya, aku bisa melihatnya sampai titik ini, aku merasa bersyukur..." Korrina melirik ke belakang dan menatap Rokuro.
"Ya... Aku juga merasa bersyukur karena telah mencintai anakmu, Korrina. Legends never dies..." Rokuro melihat Korrina yang menghilang begitu sehingga ia terjatuh ke bawah dan bangun di atas kasur.
"Ahh...!" Rokuro duduk di atas kasur lalu ia melihat jendela yang masih terbuka, ia menatap jam dinding yang menunjukkan pukul sebelas.
"Apa tadi... Itu... Mimpi...?" Rokuro mencoba untuk mengelus kepalanya yang terasa lebih enteng sekarang terutama tubuhnya, ia juga dikejutkan dengan cincin yang ia pegang.
"Itu tadi asli...?"
__ADS_1
"Aku bertemu dengan---" Wajah Rokuro menerima satu tendangan Haruka yang masih tertidur.
"Bahkan ketika tidur... Masih liar..."