
"Kenapa!?"
"Kenapa kita harus meninggalkan anak kita yang paling kecil ke dunia asli!?"
"Dia bahkan tidak bisa melindungi dirinya sendiri, Shukaku...!"
"Sihir cahaya yang dapat ia gunakan hanya untuk menyinari ruangan yang gelap, bahkan dia ketakutan untuk melakukan sedikit pertarungan!"
"Dengan takdir yang Shira alami seperti ini... ia lahir menjadi Legenda lemah yang memiliki kekuatan sangat rendah, aku yakin dia bisa bertahan hidup di dunia asli."
"Setidaknya isi dari dunia asli tidak begitu buruk... tidak ada yang namanya sihir dan kekuatan, bahkan ancaman juga tidak sebesar seperti yang kita alami saat ini." Shukaku mengelus kepala Shira.
"Tetapi... masih terlalu cepat... aku tidak ingin dia merasa kesepian tanpa kita."
"Lebih baik dia hidup dengan damai tanpa merasakan penderitaan dan kesakitan yang disediakan oleh dunia ini, Shuri."
"Kita tidak memiliki banyak waktu..."
"Waktu...?"
"Regulus takut dengan Legenda lemah yang dapat menumbuhkan kekuatan besar karena motivasi yang mereka terima suatu saat nanti..."
"...yang lemah tidak mungkin terus diam seperti itu, mereka pasti akan berjuang untuk meraih kekuatan yang jauh lebih besar dari Legenda berbakat."
"Diablo juga sudah mulai turun tangan, ia ingin menaklukkan semesta Yuusuatouri untuk memusnahkan bangsa Legenda."
"Aku tidak ingin Shira merasakan semua penderitaan itu... lebih baik mementingkan keselamatan dan masa depannya di dunia asli itu, hidup sebagai seorang manusia."
"Perasaan cahayaku merasakan bahwa Shira..."
"...adalah kunci dari masa depan yang semua orang inginkan."
Shuri terkejut ketika Shukaku mengatakan hal itu, pikirannya yang awalnya menolak untuk memindahkan Shira menuju dunia lain hilang seketika sampai ia sebagai seorang ibu harus mengetahui apa yang terbaik untuk putranya sendiri.
Shira yang berada di balik tembok mendengar semuanya sehingga ia mendapat jawaban yang selalu ingin ia ketahui.
Beberapa menit kemudian, Shukaku dan Shuri terbang jauh meninggalkan kerajaan Legetsu untuk melakukan sebuah ritual perpindahan, Shira yang berumur empat tahun sudah bangun dan ia terus menangis.
Shira berada di dalam bintang emas yang Shukaku gendong karena ia membutuhkan bintang itu sebagai kunci untuk memindahkan Shira menuju dunia lain dimana ia bisa hidup dengan damai.
"Lupakan saja, Shukaku... lebih baik kita batalkan perpindahan itu." Kata Shuri yang merasa semakin khawatir ketika mendengar Shira terus menangis.
"Kalau begitu... bagaimana jika kita melarikan diri bersama-sama?" Tanya Shuri.
"Kita memiliki kekuatan yang besar... jika kita mencoba untuk melarikan diri menuju dunia asli maka para dewa dan dewi akan menghapus eksistensi kita."
"Tidak! Ini satu-satunya jalan yang benar... jika keadaan membaik maka aku akan mencoba untuk membawa Shira pulang." Jawab Shukaku.
"Kenapa kamu selalu saja terjatuh ke dalam masalah yang banyak sekali? Sungguh langka bagi Legenda berjenis kelamin pria untuk mengkhawatirkan anaknya sendiri..."
"...ada apa dengan dirimu? Apakah misi sebelumnya kamu tidak sengaja terkena serangan yang keras di bagian kepala?"
"Entahlah. Mungkin kehidupanku sejak awal memang berdasarkan pertarungan, kehancuran, dan aku ingin mencoba untuk menyelamatkan sesuatu untuk sekali saja."
"Apalagi menyelamatkan sesuatu yang membutuhkan perlindungan besar... anak ketiga kita yaitu Shiratori Shira lahir dengan kekuatan sangat rendah sampai ia tidak akan pernah bisa bertahan di dunia ini."
"Anak pertama kita Shinra lahir dengan potensi yang menjanjikan walaupun cahayanya masih lemah tetapi ia sejak kecil sudah bisa menyelesaikan masalah apapun..."
"...anak kedua kita memiliki kejahatan yang selalu aku lakukan sejak itu sehingga ia terlalu berbahaya untuk hidup sebagai bangsa Legenda, aku menyegel dirinya."
"Yang terakhir adalah Shira... semuanya terasa rendah dan penuh kekurangan, jarang sekali aku melihat Legenda cengeng dan penakut seperti dirinya itu." Shukaku terkekeh.
Shukaku membuat bintang itu melayang di hadapannya sampai memancarkan cahaya yang emas di sekelilingnya.
"Penduduk dunia asli tidak begitu berbahaya... aku yakin Shira dapat bertahan hidup di dunia seperti itu." Ucap Shukaku.
Shuri mulai mendekati bintang itu lalu menyentuhnya sehingga ia bisa melihat Shira yang terus menangis sampai dirinya sempat melihat ibunya sendiri.
Shira mulai menyentuh bintang, "Mamaaaa....!"
"Jika era kerajaan dan Diablo berhasil di kalahkan... tenang saja, Shira, kami akan datang untuk membawamu pulang." Ucap Shuri dengan nada yang terdengar sedih bahkan kedua matanya mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
Shukaku mulai menyentuh bintang itu, "Apa yang harus kau ingat adalah keselamatanmu sendiri, nak... jangan sampai kau lengah dengan apapun itu!"
"Bertahan hidup sampai kita menjemput dirimu!"
"Kita akan melihat dirimu nanti, Shira..." Kata Shuri.
Tapak Shukaku dan Shuri mulai menyentuh bintang itu sehingga Shira mulai menyentuh kedua tapak mereka selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat bersedih karena harus di tinggal sendirian.
"Sampai jumpa, putraku." Ucap Shukaku yang mulai mengalirkan Lenergynya ke dalam bintang itu.
Bintang tersebut mulai berputar dengan cepat sampai memancarkan cahaya yang lebih cerah lagi, bintang itu melayang ke atas langit lalu melesat ke luar angkasa.
"Jangan pernah melupakan kami, Shira!!!" Teriak Shuri.
Bintang itu menghilang dengan cepat, membawa Shira menuju dunia asli sehingga ia di temukan oleh kelompok manusia yang terlihat kaget karena menemukan seorang laki-laki berumur 4 tahun di tengah hutan.
"Hiks... Uggghhhhh... sampai jumpa... Shira..." Shuri mulai menangis selagi menutup wajahnya menggunakan kedua tapaknya itu.
Shukaku mulai mendekat lalu menyentuh bahu Shuri, "Aku yakin dia pasti akan hidup dengan tenang dan damai di sana..."
Ingatan Shira kembali secara proses sampai ia mengalami perpindahan lagi menuju kehidupan Shira ketika berada di dunia asli.
Ternyata jauh lebih buruk sesuai dengan harapannya, kedua orang tua yang mengadopsi dirinya menjadi Shira sebagai pelampiasan amarah dan masalah mereka.
Shira terus menerima pukulan dan tendangan dari kedua orang tuanya yang merasa stres karena masalah yang mereka alami.
Shira terdiam seketika sampai kepalanya terasa sakit karena semua ingatan buruknya di dunia asli mulai terkumpul sedikit demi sedikit sampai ia mengingat jelas bahwa dirinya menderita di dunia itu.
Shira bisa melihat dirinya sejak berumur empat sudah menjadi pelampiasan untuk kedua orang tuanya yang tiri karena masalah biaya dan kehidupan.
Setiap harinya, Shira akan menjadi pelampiasan amarah sampai ia terus di pukul untuk memuaskan perasaan susah dan stres mereka.
Sejak masuk SD, Shira juga bahkan di perlakukan buruk oleh seluruh temannya karena sikapnya yang penakut sehingga sering menuruti perintah apapun dari temannya.
Shira melakukan kesalahan sejak SD sampai SMA, ia tidak pernah menunjukkan keberanian sedikit pun sehingga ia menjadi korban, semua temannya terus mempermainkan dirinya bahkan sampai mengejeknya.
Setiap Shira menolak atau tidak ingin melakukan perintah mereka, apa yang ia dapatkan adalah sebuah pukulan dan tendangan yang sama, mereka juga menertawakan dan mengejek dirinya dengan sebutan [Anak Cahaya].
Bagian tubuh Shira kadang memancar sinar cahaya sehingga ia terlihat begitu aneh sampai semua orang mengejeknya, ia tidak bisa meminta bantu siapa pun karena semua guru menganggapnya sebagai candaan.
"Itu tidak boleh...! Kalian tidak boleh mencuri celana dalam perempuan...!" Seru Shira yang mencoba untuk menahan pukulan mereka tetapi ia terus menerima banyak serangan dari semua teman lakinya yang mengepungnya.
"Lakukan saja!"
"Jika kamu menolak maka kami bisa mengirim dirimu menuju rumah sakit!"
"Bukannya kamu ingin merasakan ketenangan!? Itulah kenapa kau harus mengikuti permintaan kami!"
Shira tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti perintah mereka, ia berhasil mencuri celana dalam itu tetapi tertangkap basah oleh para perempuan sehingga mereka semua melapornya kepada guru.
Shira tidak bisa mengaku karena semua laki-lakinya juga melakukan fitnah kepadanya hingga akhirnya, Shira di keluarkan dari sekolah sejak SMP karena melakukan pelecehan seksual.
Mendengar berita itu membuat ibu tiri Shira mengamuk sampai ia mengambil sebuah tongkat lalu memukul tubuh Shira beberapa kali tanpa henti.
"Dasar putra yang tidak berguna...!!! Apa maksudnya kau melakukan pelecehan seksual!? Siapa yang mengajarkan dirimu seperti itu!?"
"Aku sudah bekerja keras untuk membiayai sekolahmu tetapi kau seenaknya melakukan pelanggaran sampai menyebabkan dirimu di keluarkan!!!" Ibu tiri Shira terus menghantam kepalanya menggunakan tongkat itu.
"Kita hanya hidup berdua sekarang!!! Ayahmu yang brengsek itu pergi bersama gadis lain karena muak berurusan dengan dirimu...!!!"
"Dasar tidak berguna!!!" Ibu tiri Shira menghantamnya sampai ia terjatuh di atas lantai dengan darah yang terus mengucur.
Baginya itu tidak sakit karena dia adalah seorang Legenda, ketahuan tubuhnya jauh lebih kuat sehingga ia masih hidup dan mendapatkan Legend's Boost setiap luka yang ia terima dari orang tua dan temannya.
"Kau akan masuk ke SMP khusus... kau harus bisa menerimanya karena sudah melakukan pelecehan seksual!!!"
***
Shira berhasil masuk ke dalam SMP yang baru, di sesi perkenalannya, semua murid mulai melakukan gosip kepadanya karena ia memiliki rambut pirang alami bahkan tubuhnya juga dipenuhi dengan pernah bekas luka yang ia terima.
"Lihat... murid baru aneh itu memiliki rambut pirang... bukannya itu melanggar peraturan?"
__ADS_1
"Ia juga bahkan memiliki banyak perban yang terpasang... pasti dia seorang berandalan..."
Kehidupan sekolah Shira berjalan tidak begitu baik, ia tidak mendapatkan teman dan teman yang ia dapatkan selalu memanfaatkan dirinya.
Sejak Shira menerima semua pelampiasan itu sejak umur 7 tahun, ingatannya soal Shukaku dan Shuri sudah hilang karena kedua orang tuanya yang memperlakukan dirinya dengan tidak baik.
Di umur empat sampai enam tahun saja dia tidak mendapatkan kasih sayang yang cukup karena sering menyendiri di kamarnya selagi membaca buku dan melamun.
"Jangan mendekat, dasar aneh!"
"Kau pasti berandalan bukan!?"
"Temanku bilang bahwa kau melakukan pelecehan seksual di sekolah sebelumnya...!"
Rumor buruk tentang Shira terus menyebar sehingga ia bertambah menjadi pusat perhatian bagian para laki-laki, mereka terus melakukan fitnah kepada Shira sampai ia menjadi yang terburuk untuk mereka semua.
Shira berhasil bertahan hidup sampai menginjak umur 18 tahun dimana ia lulus SMA tanpa kemenangan baik apapun, ia berusaha untuk tidak melanjutkan pendidikan karena bisa melakukannya sendiri.
Ibu tirinya meninggalkan Shira karena menemukan pria lain sejak Shira berada di SMP kelas tiga, ia bisa masuk SMA karena melakukan kerja paruh yang berbeda.
Shira tidak memiliki pilihan untuk melakukan bunuh diri karena bantuan dari sihir cahayanya yang terus menyeimbangkan pikirannya itu.
Di saat itulah, waktunya tiba dimana suami Korrina datang untuk menjemput Shira karena habitat aslinya bukan di dunia asli melainkan di dunia lain yang cocok untuknya.
Semua ingatan Shira di dunia asli yang dipenuhi dengan keburukan hilang seketika karena sihir cahayanya itu yang mulai bangkit.
Tetapi...
...melihat kembali semua masa lalunya secara langsung membuat semua ingatan Shira yang hilang dan terlupakan kembali sehingga Akari bisa merasakan kedua tapaknya mulai basah.
Ingatan Shira telah kembali secara keseluruhan sehingga alam sadarnya kembali ke dalam tubuhnya yang asli, tanpa di sadari ia memang memiliki kehidupan yang sangat menderita.
"... ..." Shira hanya bisa diam dengan kedua matanya yang berkaca-kaca, Akari berhenti menutup matanya lalu ia menatap Shira yang terlihat murka.
"Shira... semuanya baik-baik saja...?"
"Aku tidak menyangka... akan hidup bahagia tanpa kesadaranku yang asli... tetapi sekarang kembali menderita..."
Pikiran Shira mulai campur aduk sehingga semua ingatan buruknya terus mengganggu dirinya, di mulai dari pelampiasan sampai kebencian terhadap semua orang kepadanya.
Shira juga mengingat kematian Kakaknya dan putrinya sampai ia juga mengingat dengan jelas bahwa ia hanya seorang laki-laki penakut yang di tinggalkan oleh kedua orang tuanya yang asli.
"Jangan melihat diriku...!" Shira mulai menghalang wajahnya dengan tapak kanannya sampai air matanya mengalir keluar sebagai pelampiasan kesedihan yang ia rasakan.
Semua penderitaan dan kesedihan itu bercampur menjadi satu sampai menghancurkan pikiran serta perasaan Shira karena telah kembali menyadarinya.
Kedua mata Shira terlihat mati karena ia mengingat semua penderitaan dan kesedihannya di dunia asli dan Touriverse, semuanya bercampur aduk sampai meruntuhkan mentalnya sendiri.
"AAAAHHHHHHHHH!!!"
Shira menjerit keras, melepaskan tangisannya yang begitu keras sehingga Megumi datang dalam waktu yang tepat karena ia bisa mendengar suaranya dengan jelas di dalam kuil itu.
"Shira!!!" Megumi masuk ke dalam ruangan cahaya itu lalu ia bisa melihat Shira mulai melukai dirinya sendiri selagi mengacak-acak rambutnya itu.
"Shira, ada apa...?!"
"Megumi...! Megumi...!!!" Shira kembali merasakan harapan besar ketika melihat Megumi datang dengan tatapan yang terlihat kebingungan.
"Shira, apa yang terjadi...?"
"Kenapa... kenapa aku bisa... merasakan semua kesedihan dan penderitaan yang menyakitkan ini...!" Shira memegang erat lengan Megumi yang begitu mengecil.
"Aku tidak mengerti... Aahhhhhhh...!!!" Shira terus menangis seperti anak kecil sampai membuat Megumi khawatir karena ini pertama kalinya ia melihat suaminya seperti itu.
"AAAHHHHHHHHH...!!!" Shira terus menjerit keras sehingga Akari mulai menunjuk keningnya sampai Shira jatuh tertidur.
"Shira..." Megumi menurun ekor dan telinganya ketika melihat Shira menunjukkan sesuatu yang membuatnya sangat khawatir.
"Megumi... hanya kamu harapan yang dapat membantu Shira untuk memperbaiki semua penderitaan itu..."
"Ehh, m-maksudmu?"
__ADS_1
"Kamu harus bisa menenangkan Shira..."
"...dia sangat membutuhkan bantuan dirimu!"