Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 739 - Belajar Melalui Pengalaman dan Kesalahan


__ADS_3

Shinobu berbaring di atas lantai, memikirkan kembali latihan yang ia lakukan bersama seluruh teman dan sepupunya, mereka semua bertarung dengan baik sampai dirinya tidak melakukan proses apapun.


"Apakah aku memang tidak bisa bertarung ya...?" Tanya Shinobu kepada dirinya sendiri sampai Tech yang sedang melakukan modifikasi langsung mendengarnya.


"Jangan mengatakan sesuatu yang tidak-tidak, putri kecil. Kamu ini hebat dan tentunya... setiap Legenda membutuhkan proses untuk bertambah kuat."


"Saya yakin Anda sebentar lagi akan mempelajari kembali semuanya dari nol lalu mengolahnya pelan-pelan seperti Anda melakukan tes dengan mode baru dan ciptaan baru."


Shinobu mendapatkan motivasi seketika dari Tech, walaupun dia hanya sekedar sistem tetapi ia bersikap layaknya seperti guru yang mengajarkan dirinya berbagai macam hal karena Kou sendiri memiliki batasan untuk memberitahu sesuatu.


Bukan itu saja tetapi Shinobu tersenyum ketika melihat Tech terus mengatakan sesuatu yang mau membuat dirinya kembali bersemangat menjadi seorang Legenda petarung sehebat ayahnya yaitu Shuan.


"Jika Anda mencoba untuk menggunakan kekuatan melalui pikiran untuk melakukan Image dan Dream Training maka Anda memiliki waktu yang begitu panjang."


"Tech... terima kasih... walaupun kamu seorang sistem dan robot... k-kamu tetap anggota keluargaku juga." Shinobu tersenyum lalu ia mendekati Tech untuk memeluk tubuh robotnya yang keras.


Shinobu mulai menepuk pipinya pelan lalu kembali termotivasi sampai ia ingin berlatih selagi menciptakan sesuatu, ia juga perlu menyempatkan diri untuk menulis di dalam jurnal.


Di sore hari ini, latihan berakhir ketika mereka pergi ke restoran Shimatsu untuk menikmati makan siang, setelah itu mereka semua pulang untuk melakukan latihan sendirian.


Koizumi tidak bisa setiap hari melatih dirinya karena ia mendapatkan banyak tugas dan misi sebagai seorang pemberontak, ia hanya ingin melihat perkembangan dan hasil latihan yang mereka lakukan sendirian.


"Tech, nyalakan lagu..." Shinobu mulai berdiri di tengah ruangan latihan lalu Tech menyalakan sebuah musik yang mampu menenangkan pikirannya.


Pikirannya menunjukkan semua gambaran dari pergerakan bela diri yang berbeda-beda sampai ia terus melakukannya dengan pelan dan bertahap agar bisa menguasainya.


Latihan yang pertama adalah bela diri, ia terus melakukannya tanpa henti agar bisa berkembang menjadi Legenda yang Kou harapkan, Tech terus memperhatikan Shinobu yang melakukan gerakan bela diri berbeda.


Pikiran Shinobu terasa seperti membawa dirinya menuju dua lain, semua tubuhnya terlatih satu per satu sampai ia sudah mempelajari kemampuan ketenangan lebih cepat sejak kecil karena kepolosan dirinya.


Asuhan Kou bahkan cukup efektif untuk mengendalikan emosi Shinobu yang tidak pernah merasa kesal atau marah, ia hanya seorang gadis Legenda yang ingin bersikap positif demi memenuhi tujuan dan kehidupannya.


"Hyahhh!" Shinobu melancarkan satu pukulan ke arah samsak tinju di hadapannya lalu ia melepaskan tekanan besar menggunakan susunan atom di dalamnya.


Satu pukulan itu mampu mendorong samsak itu ke depan sampai membuat tembok di hadapannya retak, Shinobu tersenyum lebar karena latihan bela diri itu berhasil selama dua hari melakukannya tanpa henti.


Ketika ia tidur juga, mimpinya tetap menunjukkan dirinya berlatih dan belajar tanpa henti sehingga ia tidak pernah membuat tubuhnya merasa lelah berkat bantuan dari pikirannya itu.


Kou setiap hari datang untuk mengunjungi ruangan bawah tanah, ia bisa melihat Shinobu terus berusaha keras demi memenuhi tujuannya dan mimpi yang Kou selalu inginkan sebelum waktunya tiba.


Shinobu terlihat sedang membaca buku selagi melancarkan beberapa tendangan, ia juga bahkan menggunakan ekornya untuk memegang buku sedangkan tubuhnya terlatih bela diri.


Fokus dan ketenangannya terus terkendali sampai Kou merasa bangga melihat dirinya terlihat seperti Shuan.


Tidak salah lagi seorang Shiratori tidak akan pernah menyerah ketika ia memenuhi sesuatu seperti berlatih, bertambah pengalaman, dan kekuatan.


"B-Baiklah...! Sudah waktunya..." Shinobu baru saja selesai menelan beberapa tombol di ruangan pengendalian sampai ciptaan barunya telah berjalan dengan sempurna.


"Seperti biasanya, putri kecil... sungguh waktu yang sangat menyenangkan untuk melihat Anda bekerja dengan baik." Puji Tech.


"Fuuueehhhh...! J-Jangan membuat aku malu..."


Shinobu tersipu lalu ia melarikan diri menuju ruangan pelatihan yang sudah bertambah besar karena 1 Minggu yang lalu Tech melakukan peningkatan dan modifikasi baru untuk ruangan bahwa tanah.


Satu minggu latihan penuh tanpa henti, semuanya terasa begitu melelehkan bagi Shinobu sampai ia sekarang sudah siap untuk melakukan bela diri agar ia bisa bertarung ketika seseorang melukai sesuatu yang tidak dapat melindungi dirinya sendiri.

__ADS_1


Shinobu mulai meminta Tech untuk memunculkan tabung yang berisi robot Legenda di dalamnya, Tech mulai membuka lantai pintu sampai mengeluarkan beberapa tabung.


Robot Legenda yang berada di dalam itu telah mengalami banyak program tanpa henti oleh Tech dan Shinobu sehingga mereka bisa di bilang sebagai Legenda biasa yang memiliki pengalaman lebih tentang pertarungan.


Semua robot itu langsung memancarkan cahaya emas melalui kedua matanya yang mengartikan mereka sudah bangkit dan siap untuk menjadi musuh siapa pun yang ingin berlatih.


"Koneko... akan berjuang!" Shinobu mengangguk lalu memasang ekspresi serius sehingga Tech melihat perbedaan ukuran tubuh Shinobu yang begitu kecil dengan semua robot-robot itu.


Semua robot itu mengeluarkan beberapa senapan api yang menembakkan peluru mengandung cahaya di dalamnya, Shinobu melakukan refleks begitu cepat sampai berhasil menangkap peluru itu.


Ia maju ke depan lalu menghantam perut robot itu sampai hancur dan terpental ke atas, tubuhnya langsung berguling ke sebelah kanan untuk menghindari serangan robot lainnya.


Shinobu menunjuk ke sebelah kiri menggunakan tapaknya lalu melepaskan satu gelombang cahaya yang langsung menghancurkan robot itu sampai menembus ke belakang.


BAAMMM!!!


Shinobu berputar ke belakang lalu melepaskan gelombang cahaya lainnya sampai menyebabkan kehancuran lebih besar, hasil yang ia butuhkan akhirnya terlihat dengan jelas.


Semua robot yang sudah hancur itu kembali membentuk robot yang jauh lebih besar, Shinobu menunjuknya menggunakan kedua tapaknya lalu melepaskan gelombang emas itu secara bersamaan sampai menghancurkan robot besar itu.


Shinobu melirik ke sebelah kanan, melihat beberapa robot mulai memegang sebuah sandera yang terbuat dari robot juga, ia menggunakan mata kanannya untuk menandakan musuh itu.


"... ...!" Kedua lengan Shinobu mengeluarkan roket kecil yang meluncur secepat cahaya sampai menembus kepala robot jahat itu lalu meledak.


BAAMMMM!!!


Shinobu melepaskan dorongan besar melalui kedua tapaknya lalu ia terbang keluar dari dalam ruangan bawah tanah itu untuk melanjutkan latihan lainnya.


Wilayah rumahnya telah dipenuhi dengan berbagai macam rintangan dan robot yang dapat ia jadikan sebagai latihan, mata buatannya mulai menandakan beberapa target yang harus ia hancurkan.


Sebuah senapan besar mulai menandai Shinobu sebagai penyusup, tidak lama kemudian satu roket meluncur dengan kecepatan cahaya sampai mengenai tubuh Shinobu lalu menjatuhkan dirinya di atas daratan.


Tech awalnya mengira Shinobu terluka tetapi ia mulai bangkit dengan tubuhnya yang memancarkan cahaya emas, Tech bisa melihat kedua lengan dan kakinya mengeluarkan sebuah pelindung melalui sinar matahari yang sudah di serap.


Shinobu menunjuk ke depan lalu mengeluarkan sebuah roket melalui lengannya yang meluncur ke arah senapan besar itu sampai menghancurkannya tanpa sisa.


Shinobu melayang ke atas langit lalu melihat sebuah rumah yang ia ciptakan melalui teknologi juga, terdapat banyak sekali robot yang menyerang dirinya dengan gelombang cahaya juga.


Untungnya Shinobu berhasil menyerap semua itu menggunakan kedua lengannya sampai ia menyerang balik dengan melepaskan gelombang cahaya penuh tenaga sampai menyebabkan ledakan yang begitu besar.


BAAAMMMMMM!!!


Latihannya telah berjalan sesuai dengan yang ia inginkan, Shinobu mendarat di atas tanah lalu menunjukkan ekspresi yang terlihat begitu senang karena semua usahanya memberikan hasil yang sungguh menyenangkan.


"A-Aku berhasil... Aku berhasil..." Shinobu duduk di atas tanah selagi melihat asap hitam yang di sebabkan karena ledakan tadi.


"Tech... aku berhasil...!" Seru Shinobu keras dengan ekspresi yang terlihat begitu bahagia, untuk pertama kalinya ia mengeluarkan suara sekeras tadi.


"Selamat, putri kecil! Dengan ini Anda pasti diperbolehkan untuk mencari material dan bahan sendiri oleh nyonya Kou." Tech merayakannya dengan mengeluarkan kembang api melalui kedua bahunya.


"Mm!" Shinobu bangkit dengan tubuh yang dipenuhi keringat, dirinya sudah bekerja keras cukup lama sampai ia membutuhkan waktu istirahat yang begitu panjang.


"Hwaahhh... lelahnya..." Shinobu tersenyum lalu ia mendengar suara langkah di belakangnya yang mulai mendekati dirinya.


"Mama! Aku berhasil---" Mulut Shinobu langsung tertutup rapat dan seseorang mulai mengangkat tubuhnya lalu terbang tinggi ke atas untuk menculik dirinya.

__ADS_1


Tech terkejut ketika melihat tubuh Shinobu yang terangkat oleh sesuatu entah itu apa, ia tidak bisa melihatnya dengan jelas bahkan tubuh Shinobu perlahan-lahan mulai menghilang sampai Tech tidak dapat mendeteksinya.


"Putri kecil! Putri kecil...!!!" Tech terbang tinggi ke atas untuk mencari Shinobu tetapi ia tidak menemukan dirinya sama sekali bahwa alat pendeteksinya tidak membantu sama sekali.


Shinobu telah di culik oleh seseorang yang tidak dapat di lihat oleh kasat mata, Tech panik seketika karena ia diberikan tugas oleh Kou untuk tetap menjaganya tetapi ia membiarkan dirinya terculik oleh sesuatu yang tidak bisa di lihat.


Tech mulai mencari dirinya tanpa henti sampai ketemu karena itu tugas utamanya, ia tidak bisa kembali sampai menemukan atau membawa Shinobu pulang sebelum Kou pulang dari istana Ghisaru.


Matahari telah terbenam, malam hari telah tiba dan Tech masih belum menemukan Shinobu sama sekali bahkan ia tidak bisa menemukan tanda atau keberadaannya sehingga ia mulai panik.


Tech terpaksa untuk mundur dan memberitahu Kou tentang berita buruk yang terpaksa harus ia ketahui, Shinobu telah di culik oleh seseorang yang tak kasat mata.


Pada pukul sembilan malam, Kou baru saja pulang dari istana Ghisaru karena sudah mengurusi hal-hal penting yang perlu ia kerjakan, dirinya kembali pulang dengan sebuah oleh-oleh yang ia bawakan untuk putri kecilnya.


"Aku pulang~ Koneko, apakah kamu sudah menyelesaikan latihan itu?" Tanya Kou yang mulai mencari dirinya di setiap tempat sampai ia melihat Tech menunggu dirinya di ruangan bawah tanah selagi berlutut.


"Ahh, Tech, kamu sedang apa di sini...? Kemana Koneko? Dia pasti merasa lelah hari ini karena sudah melakukan latihan yang besar..."


"...aku pulang dan membawakannya hidangan marshmallow yang sangat ia sukai." Kata Kou sambil menunjukkan kotak berisi hidangan dari restoran Shimatsu.


"Maafkan saya, nyonya Kou..."


"...misi dan tugas saya telah gagal sepenuhnya sampai hancur, mungkin Anda bebas menghukum saya dengan melakukan program ulang."


"Putri kecil telah di culik... oleh sesuatu yang tak kasat mata."


Mendengar berita yang sangat amat buruk dari Tech menyebabkan jantung Kou di tusuk dengan berbagai macam perasaan khawatir dan ketakutan, ekspresinya yang terlihat begitu kaget sampai ia menjatuhkan hidangan itu.


"E-Ehh...?"


***


"Hah...! Hah...! Hah...!" Karung yang menghalang kepala Shinobu mulai di buka oleh seorang kesatria yang berhasil menculiknya tadi.


Shinobu membuka matanya pelan-pelan lalu melihat seorang kesatria yang berdiri di hadapannya sedang menyodorkan sebuah pisau tepat di lehernya yang begitu kecil.


Kesatria yang mengenakan zirah dengan warna luar angkasa bahkan Shinobu dapat melihat rasi bintang yang mengelilingi tubuhnya berlambang timbangan keseimbangan.


"Apakah kau sudah bangun?"


"... ..." Shinobu hanya bisa diam karena ia pikir semua yang dirinya lihat hanya sekedar mimpi tetapi perutnya langsung menerima satu pukulan dari Kesatria itu.


"Hueegghhhh...!" Shinobu langsung memuntahkan darah ketika menerima pukulan penuh tenaga itu sampai kesatria lainnya mulai menghentikan dirinya.


"Oi, Liberon, jangan bersikap kasar kepada gadis kecil sepertinya... walaupun dia musuh kita, kau harus menjaga sikapmu di hadapan seorang gadis kecil."


"Ck, aku tidak peduli... aku hanya ingin dirinya untuk secepatnya berbicara---"


BAAAAAMMMM!!!


"Sial... padahal aku sudah menantikan sesuatu yang menyenangkan dari bocah tengik ini tetapi para pemberontak sudah datang saja." Liberon berjalan keluar.


"Apa yang akan kau lakukan?"


"Membunuh mereka dengan menghilangkannya satu per satu..."

__ADS_1


__ADS_2