
Shira memperhatikan Shinobu yang mencoba untuk menggunakan Golden Spirit untuk mengubah pohon emas yang besar itu menjadi bibit emas biasa, hasilnya tidak membawa dirinya cukup jauh.
Kemampuan yang sulit untuk dikuasai karena Golden Spirit adalah puncak kemampuan dari segala cahaya emas dimana mereka yang sudah menguasainya dapat menggunakan seluruh kemampuan dan sihir cahaya tanpa penghambat yang kuat
"Memaksa dan mencobanya beberapa kali tidak akan pernah bisa memberikan hasil yang memuaskan, Shinobu." Perkataan Shira langsung menghentikan dirinya sampai ia terjatuh di atas dengan kondisi lelah.
"Su-Sulit sekali... aku sudah menggali kembali informasi tentang Golden Spirit tetapi ketika aku mencoba untuk melakukannya, rasanya sangat sulit sekali."
"Tentu saja, Golden Spirit adalah kemampuan yang sangat sulit untuk dikuasai..."
"...kekuasaannya juga memiliki tahapan masing-masing yang perlu kau khawatir sebelum mencobanya secara langsung kepada seseorang."
"Golden Spirit dapat menetralkan apapun secara mutlak sampai Minami sendiri, tantemu berhasil mengabaikan seluruh kemampuan dan hukuman yang diciptakan oleh Zoiru."
"Golden Spirit mengabaikan apapun jika kau berhasil menguasai setiap tahapannya, contohnya seperti Minami yang berhasil mengeluarkan semua kekuatan di dalam tubuh Bamushigaru."
"Karena Bamushigaru sudah melahap banyak sekali orang sehingga memberikan dirinya sebuah kekuatan yang tak terbatas, Minami dapat membebaskan semua itu sampai mengubah Bamushigaru bersama Zoiru menjadi nol."
Penjelasan Shira terus membuat Shinobu kagum sampai keinginannya bisa dibilang lebih besar dibandingkan kebutuhannya saat ini, dan itu adalah penghambat yang ia rasakan.
Shinji terus memperhatikan sepupunya menjelaskan Golden Spirit kepada Shinobu sampai ia juga ikut berbicara, "Ingat saja ini, Shinobu..."
"...semua orang memiliki awal, entah sehebat dan sekuat apapun mereka... maupun kau lebih berkuasa dari segalanya, mereka tetap akan memiliki sebuah awal." Ucap Shinji.
"Dengan Golden Spirit, kau dapat memaksa mereka untuk berubah kembali menjadi seseorang yang berada dalam titik nol sampai tidak bisa melakukan apapun."
"Bahkan jika kau ingin menggunakannya kepada benda juga, misalnya kau ingin mengubah semua senjata yang benar-benar mutlak sampai bisa memusnahkan apapun tanpa alasan..."
"...terutama lagi senjata yang memiliki kemampuan berkaitan seperti penghapusan konsep, hukum, atau semacamnya."
Ketertarikan Shinobu langsung berpindah kepada Shinji yang menjelaskan sesuatu menarik sampai ia hanya bisa tersenyum senang dan tidak sabar untuk menggunakan The Mind.
"Itu artinya aku bisa Golden Spirit memang sebuah kunci untuk mengeratkan hubungan dengan Eo..."
"... terutama lagi cocok dengan The Mind." Batin Shinobu.
"Intinya kau bisa menggunakan kreativitasmu sendiri untuk menggunakan Golden Spirit, dan tentunya kau tidak bisa memakainya secara berlebihan..." Shira memasang ekspresi kesal.
Shinobu yang begitu peka dapat merasakan Shira mulai mengingat kematian Minami dimana ia mengorbankan seluruh nyawanya hanya untuk menjalankan Golden Spirit tanpa hambatan apapun.
Hasilnya yaitu kedamaian untuk seluruh alam semesta tetapi tidak bagi dirinya sendiri yang sudah menerima konsekuensi dimana ia perlu mengorbankan sembilan nyawa itu untuk menggunakan Golden Spirit yang belum ia kuasai.
"...kau bisa saja berakhir menjadi Minami, aku mohon untuk tidak memaksa dirimu dalam menggunakan Golden Spirit." Shira mendekati Shinobu lalu memberinya sebuah pelukan.
"Aku janji, Kakek."
"Koneko akan menggunakannya dengan baik." Shinobu mengangguk lalu ia melihat Shira menatap dirinya dengan ekspresi yang terlihat sangat serius.
"Tetapi... kau benar-benar belum siap dengan kemampuan sulit dan mematikan seperti itu."
"Fueehhh...?!"
"Tetapi Koneko sudah sepenuhnya siap untuk menggunakan Golden Spirit agar bisa berkembang lebih jauh lagi dalam segi kemampuan cahaya emas." Kata Shinobu yang terlihat bersemangat.
Semangatnya itu masih belum memberikan Shira kepercayaan bahwa ia dapat melakukannya, walaupun ia belajar begitu cepat tetapi hal tersebut tidak akan bisa mengubah fakta bahwa Golden Spirit memang sulit dikuasai.
"Shinobu Koneko." Panggil Shira.
Shinobu menatap dirinya dengan ekspresi penasaran, "Mm...?"
"Singkirkan keinginanmu... gantilah dengan kebutuhan yang sebenarnya."
"... ..." Shinobu memperhatikan Shira dengan ekspresi polos seketika karena perkataan tadi kali ini menarik perhatiannya secara penuh.
"Kekuatan datang sebagai tanggapan atas kebutuhan, bukan keinginan. Kau harus menciptakan kebutuhan itu, nak!"
"Itu adalah salah satunya cara kau menguasai Golden Spirit... kemampuan yang menganggap kelayakan dan kesanggupan seseorang melalui kebutuhan!"
"Kebutuhan..." Shinobu menatap kedua tapaknya lalu ia mendapatkan motivasi yang sangat besar sampai ia tidak sabar untuk mencobanya lagi.
"Kalau begitu, Koneko..."
"...akan berjuang!" Shinobu memasang ekspresi serius.
__ADS_1
"Baiklah, mulai---" Shira langsung menerima sebuah panggilan telepati dari Megumi untuk beristirahat sebentar dan datang menuju kerajaan Ghisaru untuk membahas sesuatu.
"Megumi, ada apa?"
"Bisakah kamu berhenti latihan untuk sementara? Ini adalah urusan yang begitu sampai kau perlu datang secepatnya menuju kerajaan itu." Perintah Megumi.
"Baiklah."
"Sudah tiba ya..."
"Ada apa, Shinobu?"
"Fueh? Tidak apa-apa, Koneko akan berjuang untuk menguasai Golden Spirit!" Shinobu melangkah pergi menuju pohon emas itu untuk mengubahnya kembali menjadi bibit menggunakan Golden Spirit.
"Shinji, jaga dia untukku... berikan dia beberapa tahapan untuk bisa menguasai Golden Spirit." Suruh Shira lalu ia melihat Shinji mengangguk.
"Dengan senang hati, bukannya dia adalah keturunan Shiratori ya terakhir...? Akan sangat disayangkan untuk tidak dilatih dengan berbagai macam kemampuan emas."
"Jangan macam-macam dengannya." Ancam Shira yang langsung melakukan perpindahan.
"Masih memiliki keraguan tentang diriku ya, sayang sekali." Shinji melangkah maju menuju Shinobu yang memukul pohon emas itu beberapa kali.
...
...
"Tidak, Koizumi... kau tidak perlu menggunakan paksaan untuk bisa meniru benda dan sihir tersebut, lakukan dengan pelan-pelan atau sirkuit sihirmu akan meledak." Peringat Arata.
Koizumi mengalami kesulitan yang sama seperti Shinobu dimana ia masih belum menguasai kemampuan untuk meniru sihir, kekuatan, dan benda apapun.
"Kalau begitu, aku akan mencoba lagi!" Koizumi mengepalkan kedua tinjunya.
Arata menerima sebuah panggilan telepati juga dari Ophilia, "Arata, bisakah kamu datang sebentar ke sini karena kita perlu membahas tentang sesuatu yang penting."
"Urusan penting?"
"Ya, kau pasti akan terkejut... secepatnya sayang sekarang juga."
"Firasatku buruk..." Kuro berbicara seketika di dalam tubuh Arata sampai membuat dirinya ikut merasakan firasat buruk itu.
"Baiklah..." Jawab Koizumi yang masih memfokuskan seluruh Lenergynya ke dalam tubuhnya.
***
Haruki memperhatikan Konomi dan Ako yang saat ini sedang melakukan latih tanding yang dapat disebut sebagai pemanasan karena dirinya ingin melihat sejauh mana mereka berkembang.
Pertarungan yang ia lihat bisa dibilang cukup memuaskannya, awalnya ia ingin menghentikan latih tanding itu tetapi ia menerima sebuah panggilan dari Chloe.
"Haruki, bisakah kamu kembali sebentar...? Hanya membutuhkan beberapa menit saja untuk beristirahat, setelah itu kau bisa kembali melatih mereka."
"Jarang sekali kamu menghubungiku ketika aku berlatih, kalau begitu aku akan datang secepatnya." Haruki menatap kedua cucunya.
"Anak-anak, lanjutkan latih tanding itu karena aku memiliki sedikit urusan di luar sana..."
"...teruslah melakukan latih tanding sampai aku kembali ya." Haruki langsung berpindah menuju planet Legenia secepat mungkin agar ia bisa mengakhiri urusan dengan cepat.
***
Dalam waktu yang bersamaan, ketiga Legenda legendaris itu langsung saling berpapasan ketika berpindah kembali menuju planet Legenia.
"Apakah kalian dipanggil juga?" Tanya Shira.
"Begitulah, sepertinya mereka memiliki urusan dengan kita jika sampai dipanggil pada saat latihan?" Kata Haruki.
"Kalau begitu, kita langsung saja periksa..." Mereka bertiga melangkah maju menuju istana milik Shinobu yang tidak terlalu dipakai selain rapat seperti mengembangkan Touriverse.
Istri mereka bilang untuk masuk ke dalam istana karena di dalam sana terdapat urusan yang sangat penting sehingga mereka perlu mendiskusikan sesuatu.
Korrina dapat melihat mereka dengan jelas dari luar jendela sampai ia bisa melihat banyak sekali perubahan dari ketiga teman lamanya sejak turnamen permohonan.
"Aku dulu mengingat mereka masih sangat mudah... tetapi sekarang entah kenapa mereka terlihat lebih jantan dan mencolok seperti pria yang sepenuhnya tumbuh." Kata Korrina.
"Untuk Shira wajar sih, karena dia dulu masih berumur belasan tahun pada saat akademi." Jawab Megumi.
__ADS_1
"Arata juga masih muda sekali dulu..."
"Haruki juga..."
"Bisakah kita tidak membahas hal itu, aku hanya ingin bertemu dengan ketiga Legenda yang sudah mempercayai diriku sebagai pemimpin mereka."
"Bukannya kamu yang membahas perkembangan dari awal...?" Jawab Ophilia.
"Iya juga, yah... sudah lama sekali aku tidak melihat ketiga Legenda itu, apakah mereka tetap melaksanakan pekerjaannya dengan baik?" Tanya Korrina yang mulai mengeluarkan bungkus rokok.
"Mereka seperti biasanya tidak akan pernah berubah, Bamushigaru sempat dihentikan oleh mereka bertiga yang masuk ke dalam perutnya hanya untuk membebaskan kita."
"Shira juga berhasil mengalahkan Ayahnya sendiri dalam wujud Ancient Legenda... untuk Arata dan Haruki mungkin mereka melakukan pekerjaan yang sangat hebat untuk menghentikan Diablo."
"Begitu ya, itu artinya mereka sudah berkembang pesat dan sangat jauh ya... terakhir kali aku melihat mereka bertarung adalah ketika berhadap dengan Zangetsu."
"Ahh... sungguh kenangan yang indah, mungkin Ragnarok yang ketiga ini tetap akan memberikan kita semua harapan untuk menang karena jumlah petarung kuat terus bertambah."
"Mereka juga sudah pasti memiliki pengalaman luas soal peperangan... tetapi aku yakin mereka bertiga tidak akan mengetahui sejarah kelam dari perang akbar yang bernama Ragnarok." Ucap Korrina selagi menyalakan rokoknya.
"Kenapa kamu hanya ingin memanggil mereka saja...? Kenapa tidak sekalian dengan ketiga cucumu yang bisa dibilang kuat juga."
Korrina memasang ekspresi bersalah, "Aku..."
"Konsep sihir yang terhapus itu berhasil dikembalikan karena Shinobu loh." Kata Megumi.
"...aku hanya belum siap untuk berhadapan dengan cucuku sendiri, mereka sudah pasti akan membenciku karena meninggalkan Ibu mereka terlalu lama."
"Jangan menyalahkan dirimu seperti itu, mereka justru menantikan kedatangan dirimu demi Ibu mereka yang sudah beristirahat."
"Begitu ya, baiklah... mungkin setelah mendiskusikan tentang Ragnarok, aku ingin bertemu dengan ketiga cucu imut yang selalu kalian bahas." Korrina berjalan menuju lorong untuk menyambut mereka.
***
"Menurutmu mereka memanggil kita karena apa ya?"
"Urusan penting tentunya, dan aku sendiri tidak mengetahui jelas urusan apa yang mereka bukan."
"Benar juga, mereka bilang untuk datang secepat--- Oh, selamat siang." Shira menyambut Korrina lalu ia berjalan melewati dirinya.
"... ...?" Korrina berhenti melangkah lalu ia menoleh ke belakang dan melihat mereka semua pergi melewat dirinya.
"Oi!" Panggil Korrina.
Mereka langsung berhenti melangkah seketika mendengar sebuah panggilan dari gadis yang sedang merokok itu, "Apakah Anda membutuhkan urusan dengan kami, nyonya?"
"Shira, mungkin kau perlu menerima sebuah hukuman karena terlalu banyak bercanda."
"Ehh? Kau mengenal diriku..."
"... ..." Korrina menepuk wajahnya sendiri
"Shiratori Shira."
"Shimatsu Arata."
"Shichiro Haruki."
Mereka bertiga memasang ekspresi terkejut ketika Korrina mengetahui nama panjang mereka, "Sepertinya kau mengenali kami ya."
"Bukan seperti itu, Shira... apakah kau tidak asing dengan wajah dan rambut merah itu?" Tanya Arata yang mulai mengurutkan dahinya untuk mencari ingatan tentang gadis tersebut.
"Ini aku...! Korrina Comi!" Seru Korrina sampai mengejutkan mereka seketika karena pertemuan yang bisa dibilang mendadak.
""Apa...!?"" Sudah lama sekali mereka tidak mendengar nama dan wajahnya itu sampai mereka sendiri tidak menyangka akan bertemu dengannya tanpa sebuah aba-aba atau pemberitahuan apapun.
"Fuhhhh..." Korrina menghembus keluar asap rokok yang ia hisap sampai mengenai wajah mereka.
"Kalian memang kejam ya untuk melupakan seorang teman sepertiku..." Kata Korrina yang kembali menghisap rokoknya.
"Ratusan tahun lamanya..."
...
__ADS_1
...
"T-Tidak mungkin."