
"Majiru, kerja bagus. Kau datang di waktu yang tepat." Ucap Sabrina yang perlahan-lahan mulai meregenerasi seluruh lukanya termasuk dengan lengan kirinya yang putus, ia menghentikan pendarahan tersebut lalu ia mulai menatap Arata yang kehilangan kesadarannya karena kekuatan dari iblis bernama Oni Majiru.
Sihirnya yang bernama Death Stare dan Death Sound mampu membuat seseorang yang melihat tatapan dan mendengar suaranya maka dia akan kehilangan kesadarannya sehingga berpotensi mati, iblis yang memiliki marga Oni maka mereka adalah iblis paling berbahaya dan mematikan, mereka juga termasuk iblis yang paling berdarah dingin di semesta Zuusuatouri.
"Bunuh... Graaaahhhh..." Majiru menjilat belatinya selagi beliuran darah di mulutnya, ia menghampiri Arata dengan langkahan yang terlihat tidak beraturan, "Tahan dulu, Majiru." Sabrina menghampiri Arata lalu ia meraba dadanya, "Tubuh yang indah... Sayang sekali pengguna Seven Deadly Sins tidak memiliki pemikiran keadilan yang sebenarnya."
Sabrina mulai mencoba untuk menyerap Lenergy-nya, tetapi ia langsung terpental ke belakang dengan sengatan yang besar di telapak tangan kanannya, "A-Apa ini...? Aku tidak bisa menyerap Lenergy-nya, dengan ini aku tidak bisa berubah wujud menjadi Arata."
"Hahaha... Bodoh..." Majiru menghampiri pedang Arata lalu ia mulai mencoba untuk mengangkatnya tetapi itu terlalu berat, "Grrrgghhh... Bajingan...!" Majiru terus mengangkat pedang itu sehingga beberapa urat muncul di kedua lengannya yang berotot itu.
"Apa yang kau lakukan, Majiru? Cepat ambil pedang itu---" Tiba-tiba Sabrina melihat celana Majiru langsung robek serta dengan bajunya karena ia terlalu memaksa untuk mengangkat pedang tujuh dosa besar, faktanya pedang itu sangatlah berat dan tidak bisa diangkat oleh siapapun kecuali dengan seseorang yang memiliki kekuatan Seven Deadly Sins.
"Wahhh... Kamu bodoh ya?" Tanya Sabrina dengan ekspresi datarnya, tiba-tiba Majiru dan Sabrina merasakan keberadaan yang menyengat di depan mereka, "Awas!!!" Teriak Sabrina sehingga mereka berdua melompat ke atas dan menghindari naga yang terbuat dari api hitam, "Dragon of Night's Blaze!" Naga api hitam itu berputar lalu meluncur kembali menuju arah Ophilia, naga itu masuk ke dalam lengan kanan Ophilia.
"Kalian tidak akan bisa membawa, pacarku." Ucap Ophilia yang mulai mengangkat Arata menggunakan tangan aura monster beruang di belakangnya, tangan itu mengangkat Arata tinggi lalu Ophilia menuju mereka sehingga dua naga api hitam mulai melesat menuju arah mereka dan hampir sama melahap mereka, "Cih!" Majiru melompat ke atas lalu ia mencoba untuk menyerang Ophilia menggunakan sihir Death Stare.
"... ..." Ophilia tersenyum kecil sehingga sebuah kayu tebal muncul di depan Ophilia sehingga menciptakan kayu besar yang melesat menuju arah Majiru dan menghanti seluruh tubuhnya, Majiru terpental ke belakang dan mengenai Sabrina, "Plant of Devastation!!!" Seorang Legenda yang berada di belakang Ophilia mulai menciptakan pohon di bawah mereka berdua sehingga seluruh tubub mereka langsung terjebak di dalam pohon.
"Kelas tiga sialan...!!! Kalian benar-benar harus disingkirkan secepatnya...!!! KELAS KALIAN ITU ADALAH KELAS HARAM---" Legenda yang berada di belakang Ophilia langsung menutup mulut Sabrina dengan menggunakan sihir kayu, mulutnya langsung terhalangi dengan kayu, "Sadarlah, kau melawan kelas yang salah. Kelas tiga adalah kelas yang memiliki hubungan kaitan terbesar dibandingkan kalian yang egois." Ucap Legenda tersebut.
"Mirai, terima kasih~ Sepertinya sihir Saint Wood memanglah hebat." Ophilia berjalan pergi bersama Mirai, "Sama-sama, kita harus mencari Korrina yang asli sebelum semuanya memburuk. Morgan dan pemandu lainnya entah pergi kemana di saat-saat seperti ini." Ucap Mirai.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, mereka berdua meninggalkan Sabrina dan Majiru sendiri di dalam pohon, "KEPARAT!!!" Teriak Sabrina sehingga ia membakar pohon itu menggunakan api sacred-nya, ia langsung menggunakan ilusinya untuk membersihkan aula agar Morgan atau pemandu lainnya tidak mencurigai aula yang terlihat kotor dan hancur karena sebuah pertarungan.
"Mari kita lanjutkan rencananya, Majiru. Tetapi, kita harus menandai Arata, Ophilia, dan Mirai." Ucap Sabrina sehingga ia berjalan pergi meninggalkan aula, ia juga tidak lupa untuk berubah wujud menjadi Korrina, "Cihhh... Kelas tiga memanglah hambatan kita, Sabrina..."
"Itu sebabnya kita harus mengalahkan mereka semua dan membuat mereka dikeluarkan dari akademi ini." Sabrina tersenyum sehingga ia dihentikan oleh Agfi yang berdiri di depan mereka selagi memegang sebuah tombak, "Yo, Mama." Agfi tersenyum sinis selagi menatap Sabrina dan Majiru, "A-Agfi?" Sabrina terkejut.
Sabrina dan Majiru mulai melirik ke belalang lalu melesat ke depan sehingga jalan mereka terhalang oleh Rexa, "Kalian mau kemana?" Tanya Rexa. Shira sendiri yang sebenarnya akan mencoba untuk menghentikkan Sabrina tiba-tiba berhenti bergerak karena ia tahu bahwa Agfi dan Rexa bisa mengurus masalah ini, selama ini Shira daritadi terus mengintai Sabrina di mulai dari ketika Arata melawan Sabrina, "Sepertinya aku tidak perlu ikut campur disini." Shira menghela nafasnya.
"Kami tahu itu kamu, Sabrina. Kau tidak akan pergi begitu saja, kau tidak pantas menjadi seorang penipu." Rexa tersenyum lalu ia mengeluarkan sabitnya, ia memunculkan aura crimson di sekitarnya lalu ia menatap wajah Sabrina yang terlihat panik, "Bersiaplah, kami tidak akan memberi kalian ampun."
"Cih, kita harus bertarung lagi sepertinya, Sabrina." Ucap Majiru yang mulai menatap Agfi, ia menunjukkan kuda-kuda bertarungnya. Sabrina menganggak lalu ia memunculkan api sacrednya di kedua lengannya selagi menatap Rexa.
Rexa dan Agfi tersenyum serius lalu Shira terus diam di tempat itu selagi menatap kondisi mereka, jika Agfi dan Rexa kalah maka ia akan bergerak menuju arah mereka dan menghentikan Sabrina.
Akina melakukan langkahan yang terdengar pelan ke depan dan ketika ia mendekati ruangan rahasia itu, kedua pendengarnya tiba-tiba mendengar suara desahan Korrina yang mulai terasa keras, hal itu membuat Akina terkejut sehingga wajahnya mulai memerah dan keringat mulai bermunculan di seluruh tubuhnya, Akina mengintip sedikit lalu sesuatu yang seharusnya ia tidak lihat mulai terlihat oleh Akina.
"AHH...!" Akina bersembunyi kembali karena ia melihat Korrina seperti melakukan hubungan intim dengan peserta dari kelas empat, Korrina dengan dua orang, Akina juga mendengar Korrina yang terdengar seperti memaksa Korrina. Sepertinya ini pemerkosaan tetapi terbalik, Akina juga bisa melihat beberapa darah di tubuh Korrina termasuk dengan kedua tinjunya.
Akina pergi meninggalkan tempat itu lalu ia menginjak beberapa genangan darah, "Ahh...!" Akina melirik ke bawah lalu ia menoleh ke kiri dimana ia melihat beberapa mayat lelaki yang telah busuk, hal itu membuat Akina yakin bahwa semua laki-laki yang Korrina perkosa langsung dibunuh olehnya.
"Akina, apa yang sedang kau lakukan disini?" Tanya Korrina, ia mulai menepuk bahu kiri Akina. Tepukan itu mampu membuat Akina secara refleks memanggil tombak tujuh kebajikan surgawi (Seven Heavenly Virtues), Akina memanggil Spear of Patientia yang artinya kesabaran.
__ADS_1
Akina memutar tombaknya lalu ia mengayunkannya ke arah ujung kepala Korrina sehingga Korrina langsung mundur ke belakang. Ujung tombak Akina menancap daratan sehingga itu membuat Korrina menunjukkan ekspresi yang terlihat terkejut, "A-Apa yang kau lakukan?! Ini aku!!!" Teriak Korrina selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat terkejut.
"JANGAN BERBOHONG!!! KAU PASTI ADALAH ILUSI YANG HARUKI BICARAKAN...! AKU SUDAH MUAK MELIHAT BANYAK SEKALI ILUSI YANG MENIRU SEORANG GADIS CANTIK YANG SANGAT AKU HORMATI!!!" Teriak Akina keras sehingga ia melesat ke depan dan mulai mengayunkan tombaknya beberapa kali, Korrina tidak memiliki katananya kecuali sihirnya.
Korrina mulai menahan serangan Akina menggunakan sihir api sacred-nya lalu Akina memanggil Spear of Castitas yang mengartikan kemurnian, Akina mulai menghantam api-api sacred itu menggunakan tombak murni-nya, "CASTITAS REQUIEM!!!" Tombak kemurniannya bersinar sehingga membuat api sacred Korrina berubah menjadi api biasa.
"O-Oi---" Akina tiba-tiba menebas wajah Korrina menggunakan kedua tombak itu sehingga membuatnya terdorong ke belakang, "Nrgh...!!! Keparat!!!" Korrina mulai menggunakan sihir lompatan waktunya, tetapi Akina meluncur ke depan dan membuat Korrina lengah. Ia menebas tubuh Korrina beberapa kali menggunakan kedua tombak itu lalu ia menendang kedua kaki Korrina sehingga ia terjatuh dan lengah.
Korrina tidak bisa menyerang balik karena saat ini Akina marah dan menyerang Korrina secara bertubi-tubi, Akina muncul di belakang lalu ia menusuk punggungnya sehingga ia terpental ke depan dan tergeletak di atas tanah, "Hah... Hah...!" Korrina menunjukkan ekspresi yang terlihat terkejut karena ia benar-benar belum siap dan tidak menyangka bahwa Akina akan menyerangnya.
"Akina... Hentikan...!" Ucap Korrina sehingga Akina mengayunkan tombaknya beberapa kali, tetapi Korrina menahan semua serangan itu menggunakan tongkat yang ia ciptakan melalui api sacred, "DASAR PALSU!!! JANGAN HARAP UNTUK BISA MENIPUKU!!!" Teriak Akina sehingga ia terus mengayunkan kedua tombaknya dan membuat Korrina lengah, tongkat itu patah dan semua api sacred Korrina terserap habis oleh tombak kemurnian yang Akina pegang.
"... ...!" Korrina membulatkan kedua matanya ketika ia melihat kedua tombak itu melesat menuju arah dadanya, ujung tombak itu seperti akan menusuk dada Korrina.
JLAAASSSHHH!!!
Ujung tombak itu benar-benar menusuk dada Korrina bersama dengan jantungnya yang tertusuk sampai hancur, Akina tidak memberi Korrina sedikit ampunan dan kesempatan apapun, ia juga menusuk dadanya tanpa keseganan apapun. "HUGGHH...!!!" Korrina memuntahkan banyak sekali darah di wajah Akina.
JBRAASSSHHH!!!
Darah mulai berlumuran dimana-dimana, kondisi Korrina sudah berada di ambang kematian dan ia sebentar lagi akan mati, tetapi kedua penglihatan Korrina masih normal sehingga ia melihat sebuah pedang tajam menembus perut Akina juga dan ujung pedang itu menyentuh dahi milik Korrina, "A-A... Kina...?"
__ADS_1
"HUEEGGHHH!!!" Akina memuntahkan banyak sekali darah melalui mulutnya dan darah itu mengenai wajah Korrina.