
Spesial Chapter I yang akan dibagi menjadi beberapa chapter biasa akan dimulai, jangan sampai kelupaan alur ya~
"Menikahlah dengan-ku, Mortal...!"
Terdengar seorang pria berambut merah dengan baju Kisetsu-nya yang hitam dengan motif api merah baru saja melamar seorang gadis yang ada di depannya.
"E-Ehh...? M-Menikah...?"
Gadis yang memiliki rambut pirang panjang sebahu menatap pria itu dengan terkejut, ia tidak menyangka bahwa dirinya akan dilamar di tempat yang sangat sepi dimana hanya terdapat sebuah pohon besar dan mereka berdua di tempat itu.
"Kau tidak mau ya...?" Pria itu terlihat takut.
Gadis itu segera menggelengkan kepala-nya karena ia tidak mau membuat pria itu sedih atau kecewa.
"Tidak kok...! Hanya saja, ini terlalu mendadak... A-Aku tidak menyangka bahwa kau akan melamar-ku, Alvin..." Gadis itu tersipu dan tersenyum malu.
"Kau hanyalah gadis satu-satunya yang aku pilih. Takdir mempertemukan kita dan itu artinya aku harus menjalankan takdir untuk bersama denganmu selamanya." Alvin mengeluarkan sebuah cincin dengan kristal merah [Crimson] di atasnya.
"Korrina... Jadilah istriku... Tetaplah bersamaku sampai akhir waktu...! Aku akan melindungi-mu...! Aku akan menjadikanmu gadis yang akan merasakan kebahagiaan abadi...!!!"
Kedua mata Korrina mulai berkaca-kaca sampai mengeluarkan air msta yang mulai berjatuhan dan membuat Alvin secara refleks menghapus air mata itu, Korrina hanya bisa menangis bahagia sambil tersenyum senang.
"Hm...! Aku menerima-nya...! Jadikanlah diriku sebagai istrimu, Alvin!"
Korrina memeluk lengan kanan Alvin, masih dengan air mata-nya yang terus berjatuhan. Alvin merasa cukup lega bahwa Korrina mau menjadi pendamping hidup-nya sampir akhir waktu nanti.
Mereka merasakan perasaan bahagia yang tidak biasa, pernikahan mereka sudah dekat karena mereka setuju akan menikah beberapa hari lagi, mereka menatap satu sama lain dengan senyuman lalu melanjutkannya dengan kecupan di masing-masing kening.
""Aku mencintaimu...""
***
Pernikahan Alvin dan Korrina berada di desa yang bernama [Ghisaru] dimana beberapa Legenda datang untuk melihat pernikahan mereka berdua, tidak ada satupun orang yang Alvin kenal datang karena ia menikah dengan diam-diam agar tidak di siksa oleh para dewa dan dewi.
Korrina mengenal banyak sekali Legenda yang datang, semua Legenda yang pernah mencintai-nya merasa sedih karena mereka kalah oleh seorang pria yang terlebih dahulu mendapatkan hati Korrina.
Pernikahan berjalan cukup lancar, pesta pernikahannya juga meriah berkat Korrina yang menyewa banyak sekali hal yang dapat membuat pesta menjadi lebih meriah. Alvin beruntung bisa menikahi seorang Mortal kaya sepertinya.
Cincin merah terpasang di bagian jari manis Korrina, membuatnya meneteskan beberapa air mata suci serta senyuman yang terpasang di wajahnya mampu membuat Alvin yang datar tersenyum. Dengan cincin itu terpasang maka mereka sudah sah menjadi suami dan istri.
Tidak lama kemudian, Alvin hanya menghabiskan waktu bersama Korrina selama beberapa hari, tidak hampir seminggu karena ia selalu menerima panggilan mendadak dari dewa yang berasal dari [Crimson Realm] atau tempat dimana terdapat banyak sekali sihir kuno Crimson.
__ADS_1
Korrina di tinggal dalam waktu yang cukup lama, tidak ada satupun kabar yang ia dapatkan dari Alvin karena sudah lima bulan Korrina di tinggal sendirian.
Korrina hanya bisa menjalankan hidup-nya sendirian, tidak sendirian karena ia memiliki beberapa teman dan kenalan yang dapat membuat dirinya tentang dalam memikirkan Alvin dari hal-hal negatif.
"Alvin... Kemana ya...?" Korrina menghela nafasnya panjang.
Dalam waktu yang singkat, Alvin kembali dengan beberapa luka di dalam tubuhnya. Korrina yang mengharapkan Alvin pulang membawa sesuatu ternyata salah, sepertinya tugasnya sebagai Dewa memanglah berat.
Lima bulan yang ia alami itu hanyalah penyiksaan dan penderitaan, tidak lama kemudian Alvin memutuskan untuk memiliki seorang anak yang dapat menggantikan dirinya sebagai seorang Dewa.
Kehamilan Korrina mampu membuat dirinya bersama Alvin senang, tetapi Alvin tidak dapat menemani Korrina lagi karena ia mendapatkan panggilan.
Korrina tidak menyangka bahwa Alvin akan meninggalkannya dalam waktu yang cukup lama, contohnya seperti kelahiran anak pertama yang bernama [Rina Ghifari], Alvin tidak hadir karena masih sibuk di wilayah Crimson.
Alvin hanya datang ketika Rina berusia empat tahun, hal itu membuat Rina kesal dan bingung siapa pria yang dipenuhi luka ini datang. Datang hanya untuk membuat Korrina menangis karena tidak tahan di tinggal selama beberapa tahun.
Alvin sudah menjelaskan semuanya akan baik-baik saja, Korrina masih bisa mengerti tentang penjelasannya tetapi Rina tidak karena pikiran-nya sudah bisa mengerti berkat sel dewa yang dimiliki oleh Alvin.
Beberapa tahun sudah terlewati dan Alvin tidak kembali sejak kelahiran dari anak kelima yaitu [Haruka Ghifari], anak-anak Alvin mulai membenci dirinya termasuk Rina yang sudah meninggalkan dirinya dan Korrina karena dia ingin menjelajahi seluruh dunia untuk mencari dimana Alvin berada.
Korrina tidak pernah merasa benci atau dendam terhadap Alvin yang tidak pernah kembali, ia merasakan sesuatu yang tidak baik dari awal. Sepertinya Alvin tertangkap basah oleh para dewa bahwa ia memiliki istri Mortal dan anak-anaknya juga setengah mortal-dewa.
"... ..."
"Setidaknya aku melindungi kalian... Keluarga bukan...?"
Alvin tersenyum pahit melihat gambar yang menunjukkan gambar Korrina bersama anak-anaknya, ia mencoba sekuat mungkin untuk berdiri dengan kedua kakinya yang terus bergetar.
"Lelah..." Kedua mata Alvin mulai kabur ketika ia memaksakan dirinya untuk berdiri dan berjalan pergi.
Alvin menggelengkan kepalanya pelan, "Aku akan pulang..."
"Tunggu aku, Korrina..."
***
Rexa dan Agfi mulai merasa kesal sampai marah-marah karena Alvin tidak datang untuk merayakan ulang tahun Haruka, setiap hari Alvin tidak pernah datang ketika hari-hari spesial seperti ulang tahun dan hal-hal penting lainnya.
Korrina tersenyum pahit melihat kedua putrinya mulai mengambil beberapa gambar Alvin dan membuangnya, mereka sepertinya sudah lelah bahwa Alvin tidak pernah datang akhir-akhir ini, mereka menyangka bahwa Alvin sudah tidak memperdulikan keluarganya yang berada di Yuusuatouri.
"Mungkin Papa sibuk---"
__ADS_1
"Sibuk darimananya!? Dia tidak pernah datang mengunjungi kita...!!!" Teriak mereka berdua dengan beberapa air mata yang mengalir di pipi mereka.
"Papa waktu itu pernah datang membawa kalian hadiah bukan...? Kalian membuangnya."
"Hadiah!? Ayah seperti apa yang memberikan anaknya sendiri hadiah yang tidak berharga seperti batu merah dan boneka saja?!"
"Tidak boleh begitu, waktu itu Papa pulang membawa kalian hadiah ulang tahun, tetapi kalian tidak menerimanya sampai-sampai kalian mengabaikan Papa yang sedang berada di rumah..."
"Lebih lama Papa yang sudah mengabaikan kami semua...! Termasuk Kak Rina dan Yuuki dimana mereka berdua sudah pergi, untuk mengurusi urusan mereka masing-masing...!"
Korrina hanya bisa diam melihat kedua putri-nya yang sudah muak dengan Alvin, hal itu membuat dirinya langsung menundukkan kepalanya.
"Maaf..." Ucap Korrina pelan.
"Kenapa Mama tidak mencari Papa baru untuk kita saja?" Tanya Rexa.
"Tidak usah... Lebih baik Mama sendiri saja yang merawatkan kalian sampai dewasa." Korrina tersenyum pahit.
Setelah membicarakan sesuatu yang hanya membuat Korrina patah hati, Agfi dan Rexa pergi meninggalkan rumah untuk membelikan hadiah sebanyak-banyaknya agar Haruka bisa mengalami pesta ulang tahun yang menyenangkan berbeda dari mereka berdua.
"... ..." Korrina melanjutkan pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga yaitu membuat makan malam dan kue untuk pesta ulang tahun.
Air mata mengalir deras di pipi Korrina, bukan karena memotong bawang, tetapi karena sering mendengar omongan anak-anaknya yang terus menghina Alvin dan tidak pernah mengerti situasi yang ia alami saat ini. Berkat dirinya Korrina bersama anak-anak masih selamat dan hidup.
"... ..."
Tubuh Korrina bergetar karena rasa kesedihan yang ia alami saat ini, ia melepas pisau yang ia pegang dan mulai mengusap air mata-nya yang terus mengalir.
"Aku tidak dapat membuat mereka berhenti mengejek Papa mereka sendiri... Sesosok yang sudah melindungi mereka dari kecil..." Ucap Korrina dengan nada yang lemah lembut sambil menghapus air mata yang terus mengalir.
"Mama...!"
Haruka menarik-narik ujung celana Korrina, membuat Korrina segera mengalihkan pandangannya ke bawah melihat Haruka yang datang dengan senyuman lebar.
Haruka duduk sambil menunjukkan bunga putih yang ia bawa, hal itu membuat Korrina sedikit merasa tenang sampai ia tersenyum kecil.
Korrina berlutut di depan Haruka dan mengambil bunga putih tersebut lalu menghirup aroma yang dimiliki bunga tersebut.
"Wangi... Seperti Haruka." Korrina mengelus pipi Haruka dengan jari telunjuk-nya.
"Ehehehe~" Haruka bertepuk tangan sambil tersenyum.
__ADS_1