
Permainan masih terus berlanjut, mereka semua baru saja menyelesaikan ronde pertama kecuali Honoka yang terus Haruka dorong dan tahan sampai ia tidak bisa mengamankan posisi terakhir yaitu 40.
Sejauh ini, mereka semua sebagai bangsa Legenda sangat menyukai hiburan Manusia yaitu video game, mungkin Kou juga akan membuat game sendiri tetapi berkaitan tentang sesuatu yang bermanfaat.
"Ugh... tidak adil, kenapa kau bisa mendorong atau menahan seseorang." Honoka masih merasa kesal karena Haruka yang mengkhianati dirinya.
"Bukannya tadi sudah di jelaskan? Tujuan utama video game ini adalah bertahan, tidak ada yang namanya bekerja sama karena semuanya musuh." Haruka terkekeh.
"Hahhhh..." Honoka menghela nafasnya lalu ia menggendong Hinoka dan bermain dengannya.
"Baiklah, ronde kedua akan di mulai! Rintangannya terlihat mudah, kalian hanya perlu menginjak lantai yang memiliki gambar buah berbeda." Arata mulai menjelaskan ronde kedua.
"Kita di beri waktu selama beberapa detik untuk mengingat semua lantai yang memiliki gambar buah itu, setelah itu kita akan bisa melihat layar besar di hadapan kita..."
"...jika layar itu menunjukkan gambar pisang maka kita harus berdiri tepat di atas lantai bergambar pisang."
"Apa yang terjadi jika kita tidak menginjak lantai bergambar pisang?" Tanya Yuuna.
"Kau akan jatuh, kalian hanya memiliki satu nyawa jadi setelah terjatuh maka kalian akan tereliminasi dari permainan."
Mereka semua mengerti dengan rintangan selanjutnya, arena itu terlihat tidak terlalu besar dan mereka bisa melihat beberapa lantai yang berpisah.
"Aku juga lupa untuk memberitahu kalian sesuatu... kalian perlu mengingatnya karena semua lantai ini akan menghilang semua gambar itu." Kata Arata.
***
[POV dalam Game]
"16 lantai dengan gambar ya?" Kou melihat semua lantai itu lalu ia berjalan-jalan sampai seseorang mencoba untuk mendorongnya tetapi ia melompat ke depan.
"Hati-hati, Kou. Manusia memang cukup menyebalkan untuk mengganggu hiburan video game, kau harus menjauh dari mereka semua."
"Iya... aku tadi hampir saja jatuh..."
Beberapa detik kemudian, semua lantai itu mulai memunculkan beberapa gambar buah yang berbeda-beda, mereka juga melihat layar di depan menunjukkan angka yang menghitung mundur.
"Aku berada di anggur..." Kata Shuan.
"Jangan mengatakannya terlalu keras, aku malah susah mengingat semua buah itu!" Seru Rokuro.
Layar itu menunjukkan gambar anggur dan mereka segera mengingat kembali lantai yang memiliki gambar anggur, sebagian dari mereka melompat menuju lantai dimana Shuan berada.
"Ternyata begini cara mainnya... seru juga!" Kata Asriel.
"Seiring permainan berjalan, semuanya terasa begitu cepat jadi kalian harus cepat dan mengingat semua gambar itu." Peringat Rokuro.
"Layar itu menunjukkan gambar anggur lagi, di sini!" Panggil Kou, mereka semua langsung melompat menuju lantai yang Kou injak.
Mereka semua selamat dan masih belum ada yang terjatuh, bekerja sama seperti biasanya tetapi salah satu dari mereka sudah merencanakan sesuatu yang licik.
"Aku harus jujur tentang ronde kedua ini... ternyata cukup gampang, kau hanya perlu mengingat semua gambar itu." Kata Haruka.
"Kau juga bisa mendorong semua pemain itu agar bisa mempercepat proses ronde kedua ini."
"Aku berdiri di jeruk dan pisang." Kata Kou.
"Aku baru saja melewati anggur, apel, dan jeruk." Kata Haruki.
"Kalau begitu aku akan berdiri di atas apel untuk berjaga-jaga." Shira berdiri di atas lantai apel yang baru saja ia lihat.
Gambar menunjukkan apel, mereka semua panik kecuali Shira yang hanya diam karena ia ingin mereka semua untuk jatuh agar dirinya bisa mendapatkan peringkat ke satu.
"Apel, ujung kanan!" Kou seperti biasanya membantu mereka sampai seluruh temannya mulai mengikuti dirinya menuju ujung lantai.
Semua lantai yang tidak memiliki gambar apel itu hilang dan ujung lantai terasa begitu sempit karena banyak sekali pemain menginjak lantai yang sama.
"Dorong! Dorong! Yang ujung dorong...!" Seru Shizen selagi menarik dan mendorong mereka tanpa henti.
"Jatuhkan...!!!" Seru Haruki keras selagi mendorong mereka semua satu per satu sampai pemain yang berada di ujung lantai terjatuh seketika.
"Yey! Kita mendapatkan kualifikasi! Berhasil...! Tidak ada yang terjatuh." Ucap Kou selagi melompat-lompat, mereka semua mulai merayakannya bersama.
"Mari kita lakukan tos dan adu tinju." Ajak Shira, mereka semua mulai melakukan tos dan adu tinju karena sudah melakukan yang terbaik di ronde kedua.
"Terlalu cepat untuk merayakannya, kita harus bisa fokus dan menantikan rintangan selanjutnya." Kata Arata.
"Haruka, apakah kau akan menipu seseorang seperti yang kau lakukan kepada Honoka lagi?" Tanya Yuuna.
__ADS_1
"Siapa tahu? Mungkin aku akan melakukannya..." Haruka tersenyum nakal.
Ronde ketiga, rintangan selanjutnya dipenuhi dengan buah dan batang kayu yang berjatuhan dari depan, mereka semua harus bisa berjalan maju ke depan dengan lantai yang terus mendorong mereka ke belakang.
Tujuan utama mereka untuk menginjak garis akhir yang berada di hadapan mereka semua, mereka tidak membutuhkan penjelasan apapun karena sudah mengerti dengan situasi.
"Jujur saja... ronde ketiga terlihat begitu sulit karena lantai terus membawa dirimu ke belakang bahkan banyak sekali buah yang menghalang." Ujar Haruka.
"Baiklah, jika kalian sudah menginjak jalan yang terus mendorong kalian ke belakang maka jangan coba-coba untuk melompat." Peringat Rokuro.
"Jangan melompat sama sekali ya..." Tanya Shira sehingga ia mulai berjalan ke depan.
Semua pemain berjalan ke depan, pergerakan mereka melambat karena di sebabkan oleh lantai yang terus mendorong mereka ke belakang bahkan banyak sekali halangan lain seperti buah dan kayu yang dapat mendorong mereka.
"Jangan melompat... intinya jangan melompat saja." Kata Rokuro.
"Kenapa?" Tanya Haruka yang berada di posisi terakhir karena di halangi banyak sekali buah yang mencoba untuk menjatuhkannya ke belakang.
"Jika kamu melompat maka dirimu malah akan terjatuh ke belakang." Ucap Haruki yang sudah mengerti apa yang Rokuro maksud.
"Astaga, terasa seperti nuklir yang mencoba untuk menjatuhkan kita." Kata Shizen yang terus menghindari semua buah itu.
Haruka melihat kayu yang berguling di hadapannya, ia mengingat perkataan Rokuro untuk tidak melompat jadi ia tidak memilih untuk melakukan itu melainkan mencoba mencari jalan lain.
Namun, kayu itu mendorong dirinya ke belakang sampai ia terjatuh, "Aku tidak mengerti..."
"...kenapa kau tidak boleh melompat?" Tanya Haruka yang sudah beberapa kali jatuh karena tidak melompat.
"Jangan melompat." Ucap Kou yang mulai melompat ke depan sampai ia mendapatkan peringkat kelima, hanya tersisa 13 peringkat lagi sebelum mereka melanjutkan ronde.
"Aku berhasil mendapatkan peringkat ketiga tanpa melompat." Kata Yuuna.
"Hindari semua buah-buah itu, Haruka. Jangan sampai di tabrak." Kata Arata yang berhasil mengamankan peringkat tujuh.
Haruka sudah jatuh beberapa kali sampai ia merasa frustrasi, "Kenapa kau tidak boleh melompat ketika berhadapan dengan kayu yang berguling itu?"
"Ah iya, kau harus melompat kayu itu lah!" Seru Rokuro karena ia bisa melihat Haruka berada di posisi paling belakang.
"Kenapa kau tidak melompat kayu yang berguling itu, Haruka?" Tanya Shira.
"Tidak, maksud aku jangan terus melompat seperti melompat lagi dan lagi." Ucap Rokuro.
"Jangan terus melompat..."
"Yahhhh, Kakak tidak akan bisa mengamankan peringkat terakhir." Kata Kou yang bisa melihat Haruka terus di tabrak oleh buah itu dan ia tidak bisa mengamankan peringkat terakhir.
Haruka telah di eliminasi, "Astaga, aku mendengarkan perkataan suamiku... Wah, ini lah yang terjadi jika kau terlalu mempercayai seseorang."
***
[POV Normal]
"Aku terlalu bodoh untuk mempercayai dirimu di permainan seperti ini."
Haruka langsung merasa kesal dan mengambek kepada Rokuro yang menipu dirinya, ia melepas alat virtual itu lalu berjalan keluar dari tabung.
"Kau seharusnya mengerti dengan tujuan ronde ketiga ini, Haruka." Rokuro melepas alat itu dan melihat Haruka yang sedang menatap lain dengan tatapan kesal.
"Tidak tahu... jangan berbicara denganku." Kata Haruka sambil mengusap kepala Koizumi.
"Kau ternyata memang marah..."
"Aku tidak marah, kesal! Suamiku membohongi diriku." Haruka mengembung kedua pipinya.
"Hahhh... hayo loh, membuat istri marah, tidak baik." Kata Haruki.
"Tanggung jawab, tanggung jawab." Kata Ophilia.
Rokuro menghela nafas panjang, tidak memiliki pilihan lain selain menawarkan sesuatu demi membuat mood Haruka kembali membaik.
"Baiklah... sebagai ucapan maaf... aku akan mengasuh Koizumi selama satu bulan penuh." Rokuro sudah siap untuk menerima hukuman yang cukup mengerikan.
"Hm~ Aku memaafkanmu, suamiku tercinta." Haruka tersenyum lebar dan memberi dirinya sebuah kecupan.
"Semoga beruntung di ronde selanjutnya!"
"Gwaahhhhhh~ Papaaaaa~"
__ADS_1
***
[POV dalam Game]
"Baiklah, ronde ketiga telah menanti kita!" Shira merasa bersemangat karena ia tidak menyangka hiburan seperti video game akan terus begitu menyenangkan.
"Kali ini rintangan menjadi semakin sulit... kita harus bertahan di atas lantai dan menghindari semua tembok yang bergerak sampai mencoba menjatuhkan kita." Kata Yuuna.
"Di sini kita harus bermain agresif atau ronde tiga akan berjalan lama, tetaplah di tengah dan cobalah untuk mendorong pemain lain." Peringat Arata.
Shuan langsung di dorong-dorong oleh Rokuro, "Oi! Oi! Apa yang kau lakukan kepadaku, hentikan...!"
"Tidak ada yang namanya bekerja sama atau pertemanan di sini, Shuan!" Rokuro tersenyum jahat tetapi Shuan berhasil melompat ke sebelah dan selamat.
"Cih."
Semua tembok itu bertambah semakin cepat sampai menjatuhkan dua pemain, seorang pemain mulai memegang Bakuzen erat sampai ia tidak bisa bergerak.
"Seseorang menahan diriku...! Aku tidak bisa bergerak!" Bakuzen melompat ke depan tetapi Asriel menghalang jalannya sampai tembok itu menabrak Bakuzen dan menjatuhkannya.
"Sialaaaaaannnn!"
"Ohh! Ternyata Bakuzen terjatuh, sisanya hanya beberapa orang---" Shuan melompat tetapi ia tidak sengaja mengenai tembok tipis sampai ia terjatuh di atas lantai lalu tergusur oleh tembok itu.
"Tidaaaaakkkk!!!" Teriak Shuan keras sehingga ia terjatuh, Rokuro dan Shira mulai menertawakan dirinya yang cukup ceroboh untuk tidak melihat tembok tipis itu.
Mereka semua bertahan cukup lama sama pemain terakhir terjatuh yang mengartikan mereka telah memenangkan ronde ketiga, hanya Bakuzen dan Shuan yang terjatuh.
"Sungguh menyenangkan! Benar-benar terasa seperti latihan..." Shira menatap semua temannya.
"...latihan menahan emosi untuk memukul wajah teman yang mencoba untuk menjatuhkanku." Shira tersenyum kesal selagi menatap Arata yang terus menjatuhkan dirinya.
"Hahaha! Kenapa kau terlihat kesal seperti itu, sudah peraturannya bukan?"
"Kau dan Haruki bekerja sama untuk menjatuhkan diriku yang sudah mendapatkan posisi aman dari semua tembok itu...!" Kata Shira.
Ronde keempat telah di mulai dan mereka semua harus melewati semua lantai kecil yang dapat menghilang ketika di injak, salah satu dari lantai itu akan tetap bertahan.
Mereka hanya perlu menginjak lantai yang benar jika tidak maka mereka akan terjatuh sampai muncul kembali di posisi paling belakang, tujuan yang simpel dan mereka langsung mengerti.
"Balap sampai garis akhir itu ya... hanya saja kau perlu mencari lantai yang benar." Kata Kou.
Mereka semua mulai maju ke depan sampai salah satunya terjatuh, Kou menemukan jalan yang benar sampai ia pelan-pelan maju ke depan untuk mencoba lantai di sebelah kirinya.
Shira lari ke depan dan dengan keberuntungan ia berhasil mengetahui semua lantai yang benar, ia langsung melompat ke depan dan mengamankan peringkat ke satu.
"Terima kasih, Kou!" Seru Shira yang merasa bersemangat, ia bisa melihat Kou mengamankan posisi kedua.
Dengan cepat mereka semua mulai melompat tetapi terjatuh karena terlalu cepat, Shizen tidak sengaja menabrak Yuuna sampai ia terjatuh dan kembali ke posisi awal.
"Shizen...!"
"Oops, tidak sengaja!" Shizen bisa melihat dirinya masih selamat, hanya perlu mengamankan posisi terakhir tetapi semua mimpi itu hilang ketika Haruki berdiri di hadapannya.
"Hayo! Hayo! Mau kemana!!!" Haruki mendorong Shizen sampai ia terjatuh dan dirinya langsung melompat ke belakang untuk mengamankan posisi terakhir.
"Haruki!!! Brengsek...! Kenapa kau menunggu di situ!?"
"Jika aku melompat lebih awal maka kau tidak akan bisa menang, jadi lebih baik untuk menjatuhkan diriku saja." Haruki tertawa.
Hanya Shira, Kou, Arata, Rokuro, Asriel, dan Haruki yang berhasil selamat sampai ronde terakhir. Salah satu dari mereka akan memenangkan permainan ini.
"Sekali lagi... kita semua adalah musuh sekarang!" Kata Rokuro.
"Aku tidak sabar untuk menjatuhkan dua orang brengsek yang tadi menghalang jalanku." Kata Shira dengan tatapan yang menyimpan dendam kepada Haruki dan Arata.
"Wah, Shira ternyata masih menyimpan dendam kepada kita..."
"Jelas! Jika tadi aku kalah...! Grrgghh! Frustrasi sudah!"
"Hahaha! Yang penting kita semua menikmati video game ini, cukup menghibur bagi kita." Kou mencoba untuk menenangkan mereka semua.
"Ronde terakhir sepertinya akan berjalan sulit... satu kincir angin yang berputar di lantai dan dua di atas juga tengah..."
"...kita harus menghindari semua itu dan jangan sampai terjatuh. Semua lantai itu juga akan jatuh satu per satu dan menyisakan dua."
"Bersiaplah!"
__ADS_1