Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 727 - Sepupu Bagaikan Kakak


__ADS_3

"Enam ratus... sembilan puluh tujuh..." Kata Koizumi yang mencoba untuk mengumpulkan nafas selagi melakukan pull-up sebanyak 697, tiga lagi maka dirinya akan mencetak rekor baru.


Tubuhnya susah dipenuhi dengan keringat bahkan ia juga baru selesai menjalankan misi pemberontakan yang dilanjutkan dengan latihan agar ia bisa terus bertambah kuat lagi dan lagi.


"Enam... ratus... sembilan... puluh sembilan..." Kedua lengan Koizumi bergetar karena tidak bisa menahan beban lainnya tetapi ia tetap memaksanya agar bisa mencetak rekor terbaru yaitu 700.


Dengan beban yang ia gendong seperti tas di belakangnya, "Koizumi, kamu di dalam?"


"Y-Ya..." Koizumi melepaskan besi di atas ruangan latihan itu lalu ia melempar tasnya sampai membuat lantai retak karena beban yang terkandung di dalam cukup besar.


Haruka membuka pintu ruangan latihan itu lalu ia dikejutkan dengan Koizumi yang begitu basah karena keringat, pakaiannya bahkan sampai tembus sampai menunjukkan kulitnya yang begitu bening.


"Lagi-lagi kamu memaksakan dirimu untuk melakukan latihan sesulit itu..." Haruka menyilangkan kedua lengannya, melihat Koizumi tetap melanjutkan latihan dengan melakukan sit-up.


"Sudah-sudah, gunakan waktu istirahat untuk mandi, makan, dan berpakaian agar bisa bermain dengan Hinoka." Haruka mulai menepuk tangannya beberapa kali.


"Sebentar... biarkan aku menginjak angka 100 saja melakukan---" Koizumi melebarkan matanya ketika melihat Haruka memasang tatapan yang begitu menakutkan.


"Ugh, baiklah..." Koizumi bangkit dengan tubuh yang terasa pegal, ia segara melakukan pemanasan kecil agar menghilang semua rasa pegal itu.


"Hinoka datang?" Tanya Koizumi yang bisa merasakan keberadaannya begitu jelas sampai Haruka tersenyum bangga bahwa ia sudah dapat merasakan keberadaan seseorang di umur lima tahun.


"Benar, sebelum itu keringkan semua keringat yang terus mengalir itu... kau juga harus bisa bersikap lebih seperti seorang gadis dan memedulikan tentang tubuhmu yang akan tumbuh secantik Mama." Haruka melempar sebuah handuk kepada Koizumi.


Koizumi menangkapnya lalu ia mengusap semua keringat yang berjatuhan itu, ia mengambil sebuah ikat rambut untuk mengikat rambut panjangnya agar ia bisa merasa sedikit sejuk.


"Kamu tidak akan memotong rambutmu menjadi pendek?" Tanya Haruka selagi mengelus rambut panjangnya itu.


"Tidak mau... aku tidak begitu nyaman memiliki rambut pendek, setidaknya Mama juga perpanjang rambut itu lebih panjang lagi." Koizumi menatap Haruka selagi mengambil segelas air.


"Mama sedang mencoba, hehehe... lagian ciri khas seorang Ibu itu memiliki rambut panjang bukan?" Tanya Haruka.


"Nenek Korrina memiliki rambut pendek."


"Uhh... kenapa kamu harus membandingkan nenek denganku?" Haruka mengembungkan pipinya.


"Hanya saja... terasa cukup langka mengetahui Mama ingin memanjangkan rambutnya, apa mungkin karena iri dengan ini?" Koizumi menyentuh rambut panjangnya.


"Ugh... itu benar... entah kenapa kamu terlihat begitu cocok dengan rambut panjang seperti itu, rasanya Mama melahirkan seorang bidadari."


"Ibu melahirkan dewi kematian setengah bidadari." Koizumi mengeringkan kepalanya dengan perkataan yang mengejutkan Haruka bahwa putrinya memang kental sekali mirip dengan Rokuro.


"Mau mandi?" Tanya Haruka.


"Iya... rasanya gerah sekali." Koizumi membuka pakaiannya tanpa berpikir dua kali karena tidak ada seorang laki-laki di dalam rumahnya kecuali Hinoka dan Haruka.


"Kamu membuat Hinoka menunggu lama loh..."


"Aku tahu, tolong buatkan dia teh atau susu agar bisa menjaga untuk berada di posisi yang sama." Koizumi mengeringkan keringat lalu ia berjalan pergi menuju kamar mandi tetapi Haruka muncul di hadapannya.


"Dengar ya..."


"Mm?"


"Koizumi, kamu masih ingat apa yang Mama katakan sejak itu?" Tanya Haruka selagi menggenggam kedua lengannya itu.


Koizumi mengingat jelas semua peringatan dan penjelasannya, "Aku harus menjaga Hinoka dan Koneko... aku tahu kok..."


"Hinoka dan Koneko masih belum bisa bertarung karena tidak ada yang dapat memandu mereka dengan baik..."

__ADS_1


"...bahkan aku sendiri merasa malang dengan Hinoka yang sudah di tanggal oleh Tante bahkan Koneko yang harus hidup dengan bantuan teknologi agar ia bisa bertarung dan melakukan sesuatu layaknya seperti Legenda biasa."


Koizumi memasang tatapan kesal lalu ia mengepalkan tinjunya, "Hampir semua Legenda menganggap Koneko sebagai monster yang dapat mengancam kapan pun..."


"...semua itu terjadi karena insiden kehancuran dari Neko Isle sampai semua Legenda bertambah buta." Kata Koizumi dengan nada suara yang membesar karena dirinya sempat melihat Koneko hampir sering di lempar batu.


"Sudah-sudah... pikiranmu harus tenang jika tubuhmu menerima semua tekanan dan kelelahan yang kau hadapi ketika berlatih." Haruka mengelus kepala Koizumi.


Koizumi menghela nafasnya pelan lalu ia pergi menuju kamar mandi untuk mandi lalu berpakaian agar bisa menemui Hinoka yang sudah menunggu dirinya.


Koizumi melebarkan matanya ketika melihat Hinoka sedang melihat foto keluarga sampai pandangannya terkalihkan oleh tubuh sepupunya telanjang sampai dipenuhi keringat yang terus mengalir.


"Oh sial..." Koizumi melihat Hinoka tersenyum lebar kepada dirinya.


"Koi~ Zumi~" Hinoka mulai bergerak mendekati Koizumi selagi mengulurkan kedua lengannya.


"Menjauhlah...! Apakah kau tidak memiliki rasa malu untuk mendekati sepupumu yang telanjang dan dipenuhi keringat...!?" Koizumi mulai panik melihat Hinoka tidak berhenti bergerak.


"Tidak apa~ Aku sangat menyukai wangi dari keringatmu itu..."


"Gila...!" Koizumi menghentikan waktu selama lima detik lalu ia melarikan diri ke dalam kamar mandi untuk bersembunyi di dalam sana.


Hinoka yang mencoba untuk memeluk Koizumi malah menabrak tembok sampai Haruka melihatnya lalu ia menahan tawanya bahwa ia benar-benar mirip dengan Honoka ketika mencoba untuk memeluk Kou.


"Tadi itu hampir saja... jika ia memelukku maka rasanya akan sangat mengerikan..." Koizumi menyentuh dadanya yang berdetak cepat karena tadi adalah situasi hidup dan mati baginya.


Koizumi menghela nafasnya pelan lalu ia mengisi bak mandi dengan air dingin, setidaknya ia dapat menikmati waktu istirahatnya dengan tiduran di dalam bak itu selagi melupakan misi yang terjadi sebelumnya.


Terasa begitu menyulitkan bahwa ia sudah mengotorinya kedua lengannya dengan darah, tidak ada pilihan lain selain membayar semua kebutaan dan ketidakadilan itu dengan darah serta nyawa.


Koizumi masuk ke dalam mandi itu lalu ia menghembuskan nafas yang begitu lega, tubuhnya terasa begitu tenang sampai ia merasakan perasaan yang tenang karena air dingin.


"... ..." Koizumi mulai menatap refleksi diri dari air yang begitu jernih sampai ia bisa melihat dirinya sendiri.


"Hinoka..."


***


"Koi~ Zumi~ Koizumi! Koizumi!" Hinoka mulai menepuk punggung Koizumi yang sedang melakukan push-up, ia segera bangkit lalu menatap dirinya dengan tatapan kesal.


"Apa...? Hah...?"


"Ayo~ bermain~ bukannya terasa membosankan untuk melakukan latihan di hari libur?! Bahkan kamu masih belum beristirahat...!"


"Hahh... Baiklah-baiklah, apa yang kau inginkan? Dimana Koneko?" Tanya Koizumi yang melihat Koneko sedang menciptakan benteng pasir menggunakan lengan kanannya yang membentuk sebuah ember.


"Sebentar lagi... kalau tidak salah sudah mau menginjak hari Halloween---" Koizumi terkejut ketika melihat ekspresi Hinoka yang awalnya terlihat begitu ceria berubah menjadi suram.


Kedua matanya terlihat mati sampai ia melupakan sesuatu hal yang penting bahwa sepupunya memiliki ingatan trauma soal Honoka sampai mengatakan Halloween akan membangkitkan rasa trauma itu.


Honoka pernah mengatakan dirinya terlihat baik-baik saja dengan penuh darah tanpa anggota tubuh hingga akhirnya ia mengatakan dirinya melaksanakan hari Halloween yang dekat.


Sejak itu Hinoka memiliki rasa takut ketika melihat darah, sekali saja ia melihatnya maka dirinya akan terlihat murung sehingga Koizumi memeluk erat sepupunya yang merasa trauma itu.


"Maaf ya, Hinoka... aku tidak sengaja." Koizumi mengelus kepala Hinoka lalu memberikannya sebuah kecupan di pipi sampai menyadarkan dirinya kembali.


"Mm! Jadi... Apa yang akan kita mainkan sekarang...?!" Tanya Hinoka.


"Ya, itu..." Koizumi merasa canggung seketika karena ia perlu memilih kata yang benar agar tidak membangkitkan kembali traumanya.

__ADS_1


"Berlatih saja ya."


"Hehhh... membosankan..."


"Membosankan apanya?! Kau ini Legenda atau apa?!"


***


Koizumi terkekeh pelan, "Hinoka sepertinya masih belum memunculkan rasa untuk bertarung sebagai bangsa Legenda..."


"...apapun yang terjadi, setidaknya sebagai figuran Kakak baginya yang lebih tua, aku harus bisa membantu dirinya melawan rasa takut terhadap darah."


Koizumi mulai mengusap tubuhnya dengan sabun lalu mengingat sepupunya yang paling kecil, penuh dengan semangat untuk berjuang demi bisa memenuhi hobinya dan tujuannya.


"Sepupu kecilku... Koneko... dia cukup malang, aku tidak menyangka dirinya masih bisa menjalani hidup ketika sudah menghadapi banyak hal yang cukup menyakitkan bagi dirinya."


"Lahir tanpa lengan, kaki, dan mata pasti terdengar cukup menyedihkan... ia sendiri bahkan di anggap sebagai monster dan pembawa masalah bagi beberapa Legenda..."


"...aku sepertinya memiliki kehidupan aman dan tenang, tidak seperti mereka yang sudah menghadapi banyak hal. Tetap saja... aku merindukan Ayah yang selalu melihat perkembanganku." Koizumi memejamkan kedua matanya lalu ia menatap ke atas langit.


"Apakah aku sanggup menjaga kedua sepupuku dengan baik dan benar...? Melatih mereka juga agar bisa bertarung serta melindungi diri mereka masing-masing..."


"...aku hampir setiap hari melihat Koneko terluka karena terkena lemparan batu, tubuhnya lecet bahkan keningnya pernah berdarah." Koizumi mengepalkan tinjunya keras.


"Jika hal itu terjadi lagi... kepada kedua sepupuku yang harus aku jaga, aku bunuh saja mereka!" Koizumi menghantam air itu dengan ekspresi kesal.


"Hahhh... setelah ini, aku harus bermain dengan Hinoka." Koizumi merasa sedikit malas karena ia ingin melanjutkan latihannya.


"Tetapi bukannya aku tidak ingin bermain dengannya..."


"...setidaknya itu adalah tugasku sebagai kakak figur bagi mereka, ya, itu benar..."


"Apakah kamu tidak mau bermain denganku? Aku kesepian~"


"Hmph, jangan salah paham ya... sebenarnya aku tidak mau tetapi terpaksa---" Koizumi melebarkan matanya ketika mendengar suara Hinoka di sebelahnya sedang terkekeh.


Koizumi menoleh ke sebelah lalu melihat Hinoka berdiri dengan tubuh telanjangnya yang sudah siap untuk menjadi bersama sepupunya karena ia sendiri kabur dari rumah hanya untuk menikmati pemandian bersama.


"Hinoka!? Apa yang kau lakukan di sini...!?"


"Ummm... aku ingin mandi bersama denganmu! Apakah tidak boleh...? Oh boleh, yey!" Hinoka melompat ke dalam bak mandi sampai cipratan air itu mengenai wajah Koizumi.


"Oi! Aku belum menjaga dan kau sudah masuk...!" Koizumi memasang tatap kesal dengan pipi yang memerah sedikit, kemungkinan besar Hinoka mendengar perkataannya tadi.


"Koi~ Zumi~" Hinoka mulai memeluk erat Koizumi.


"Menjauh dariku!!! Mengerikan...!" Koizumi menghentikan waktu untuk melepas pukulan itu lalu ia keluar dari bak mandi untuk menjauh dari Hinoka yang mencoba untuk menyambut dirinya dengan ciuman.


"Hehhh... kamu menghentikan waktu lagi, tidak seru, buuuu..." Hinoka mengembungkan pipinya sampai membuat Koizumi menghancurkan sabun batang yang ia pegang.


"Apa maksudnya tidak seru...!? Kita ini sudah mau menginjak umur besar...! Kau tidak boleh mencium gadis di bibir...!"


"Hehhhh...! Tapi kita kan sepupu, sudah pasti memiliki hubungan darah juga, apa salahnya dengan ciuman sambutan sih? Itu adalah ciri khas yang menarik...!" Hinoka bangkit lalu menggerakkan kedua tapaknya.


"Apakah kamu sudah tidak mau menciumku lagi...? Koizumi membenciku...?" Tanya Hinoka dengan ekspresi yang memelas.


"Aku tidak bermaksud seperti itu... bukan artinya aku tidak mau tetapi... sambutan ciuman di dalam kamar mandi terasa---"


"Kalau begitu, sini~ sini~"

__ADS_1


Koizumi melempar sabun batang yang mengenai kening Hinoka sampai ia terjatuh di dalam bak, "Berisik...!"


"...cepat keluar!"


__ADS_2