Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 133 - Selamatkan Dunia Ini


__ADS_3

Shira dan Shuri terus menghabiskan waktu bersama selama beberapa menit, tetapi Shuri sudah tidak bisa melanjutkan pembicaraan itu lagi karena waktu-nya sebentar lagi akan habis dan sisi iblis-nya akan mengambil alih dirinya. Sihir yang ia miliki sudah tidak mampu menahan kutukan itu dalam waktu yang cukup lama.


"Sepertinya Ibu sudah tidak bisa lagi melanjutkan pembicaraan ini dengan-mu... Diriku sudah tidak bisa menahan-nya lebih lama lagi..." Shuri mulai menatap wajah Shira dengan tatapan yang terlihat tenang, Shira sempat tidak menerima-nya tetapi ia berpikir lebih dewasa lagi sampai air mata mengalir keluar.


"Hmm... Sepertinya takdir kematian memang tidak bisa diubah..." Shira tersenyum tipis, air matanya mulai menetes di wajah Shuri dan ia segera menghapus air mata itu.


"Hei... Ini bukan takdir kematian tetapi takdir yang dapat kau ubah dengan satu tindakan..." Jawab Shuri.


Shuri tiba-tiba mencabut kedua bola matanya dengan sangat cepat sampai membuat Shira terkejut karena ia bisa mendengar Shuri yang meringis kesakitan mencoba untuk mencabut kedua mata itu, "Tunggu... Apa yang kau lakukan, ibu!? Hentikan...!"


"Ssshhhh... Lebih baik aku mewariskan ini kepada dirimu yang jauh lebih membutuhkan-nya dari diriku dan saudara-mu..." Shuri memejamkan kedua matanya karena ia sudah tidak bisa melihat lagi, darah mengalir keluar dari kedua matanya dan ia mencoba untuk tidak membuka matanya karena pendarahan-nya akan semakin buruk.


Kedua bola mata yang Shuri genggam mulai diselimuti dengan sinar hitam sampai kedua bola mata itu menunjukkan simbol yang sama persis seperti gerhana matahari dan gerhana bulan. Shira hanya bisa diam karena ia sudah tidak bisa melakukan apapun untuk membuat Shuri mengubah pikiran-nya karena dia sudah memilih jalan ini untuk dirinya dan keluarga-nya.


"Tangan-mu..." Ucap Shuri, Shira segera mendekatkan telapak tangan kiri-nya dengan tangan Shuri dimana ia langsung menepatkan kedua bola itu di atas telapak tangan-nya. Bola-bola bercahaya itu sudah tidak bisa lagi disebut dengan bola mata Shuri karena seluruh sihir kuno-nya telah ia pindahkan ke dalam mata-nya sendiri untuk diberikan kepada Shira.


"Dekatkan kedua bola itu dengan mata-mu..." Shira mulai melakukan apa yang Shuri katakan, ia segera mendekatkan kedua bola bercahaya itu dengan kedua matanya sampai bola-bola itu masuk ke dalam kedua matanya. Kedua bola matanya memancarkan cahaya hitam untuk beberapa detik lalu menghilang yang mengartikan Shira sudah bisa menggunakan sihir gerhana matahari dan bulan.


"Hehehe... Selamat, sekarang kamu bisa menjadi sesosok Legenda layak dan kuat... Bukan-nya itu tujuan pertama-mu ketika masuk ke dunia ini...? Dengan sihir cahaya-mu yang sudah mendekati ambang kesempurnaan maka kau bisa terus berlatih untuk menjadi yang terkuat." Shuri tersenyum lebar.


"Gerhana matahari dan gerhana bulan... Kedua sihir kuno yang aku dapatkan ketika dipindahkan ke dimensi Touriverse yang palsu. Kau sekarang dapat menggunakan sihir bulan dan matahari di dalam tingkat yang berbeda serta kau bisa terus bertambah kuat dengan hanya merasakan dan disinari cahaya... Di dalam gelap juga kau akan bertambah kuat berkat sihir gerhana bulan..."


Shuri tersenyum tipis, tangannya yang gemetar berusaha meraih wajah Shira. Sementara Shira langsung meraih tangan itu dan mendekatkan-nya dengan wajahnya. Shira membalasnya dengan senyuman sambil menggenggam erat tangan-nya, Shuri sepertinya sudah tidak bisa lagi melihat wajah anak-nya.

__ADS_1


"Aku tidak bisa melihatmu... tetapi aku bisa merasakan-mu..." Shira mencoba sekuat mungkin untuk tidak menangis lagi.


"Dengan sihir gerhana matahari dan gerhana bulan itu... Aku yakin kedua sihir kuno itu akan melindungi-mu... ketika kau membutuhkannya..." 


Shuri bisa merasakan tetesan air mata yang menyentuh dirinya, tetapi ia tidak mendengar suara tangisan-nya karena Shira meneteskan air mata itu sambil menunjukkan ekspresi yang terlihat tenang. Shira sempat tersenyum agar Shuri tidak mengkhawatirkan tentang dirinya lagi.


"Terima kasih, ibu... Sepertinya ibu sudah memberikan sesuatu yang pantas aku jaga... Aku janji untuk memenuhi tujuan-mu dan Ayah... Aku juga janji ketika diriku berhasil menjadi seorang Legenda yang sangat layak maka... Aku akan mencoba segala cara untuk bisa masuk ke dalam dunia dimana dirimu tinggal..." Kata Shira.


"Ibu... Keluarga Shiratori akan terus hidup dan menciptakan sejarah yang menakjubkan!" Bisik Shira di telinga kanan Shuri sampai membuat dirinya terharu.


"Hmmm... Ibu senang bisa mendengarnya dari-mu, nak..." Jawab Shuri.


"Sepertinya seseorang yang bersama ibu bisa saja menjadi seseorang yang dapat menyelamatkan dunia ini dari segala konflik dan kehancuran yang muncul... Menghembuskan nafas terakhir-ku... Dekat dengan dirimu sudah bisa disebut sebagai akhir kehidupan yang bahagia untuk-ku... Ibu mempercayai dirimu yang pasti bisa menjadi seseorang Legenda yang legendaris dan bermakna...!"


"Ibu senang... Ibu merasa sangat senang..." Shuri mulai menghembuskan nafas kedua-nya dan ketika ia mencoba untuk menghembuskan nafas terakhirnya, ia segera memerintah Shira untuk segera merubah dirinya menjadi partikel cahaya agar ia bisa selalu ada di dalam hati Shira untuk menemani-nya.


"Sepertinya kutukan itu sebentar lagi akan menginjak tingkat sempurna dimana aku sudah tidak bisa lagi mengontrol diriku... Selama ini apa yang aku ingin katakan kepada dirimu adalah permintaan maaf... Maaf karena sudah menjadi seorang ibu yang buruk sampai membuat dirimu menjadi orang yang selalu sendiri..." Shuri tersenyum lembut, ia bisa merasakan tubuh Shira yang gemetar.


"Ketika ibu melihat-mu dirimu yang tinggal di dunia ini... Kau terlihat berbeda... Kau bukan lagi Shira yang selalu berpikir negatif dan mengunci diri di kamar, semua orang disekitar-mu benar-benar telah mengubah dirimu menjadi seseorang yang berbeda... Kau sekarang menjadi seseorang yang mampu mengubah hidup orang lain dan memberi mereka semangat untuk terus berjuang..."


"...Sepertinya permintaan terakhir ibu adalah untuk bisa melihat sejauh apa perkembangan dirimu dan ternyata kau sudah berkembang cukup jauh... Ibu senang.... Tetapi perkembangan selanjutnya... Ibu... sudah tidak bisa lagi... melihatnya..." Tubuh Shuri mulai diselimuti dengan kegelapan dimana ia sebentar lagi akan benar-benar dikendalikan sepenuh oleh seorang iblis yang ada di dalam dirinya.


"Sekarang cepat... ubah ibu..." Ketika Shuri mengatakan itu, Shira mulai bergetar karena ia tidak ingin mengubah dirinya menjadi partikel emas, itu artinya Shira-lah yang membunuh dirinya.

__ADS_1


"Saat ini... hatiku penuh dengan rasa ikhlas dan syukur... Terima kasih. Membunuh sesuatu... itu... tidak selalu salah... jika kau... ingin menyelamatkan mereka..."


"Kamu tidak punya... banyak... kenangan menyenangkan... bersama ibu bukan...? Aku akan memberikan... kenangan menyenangkan itu... dengan memberimu... seluruh kekuatan terakhir-ku..." Shuri segera melepaskan seluruh kekuatan terakhirnya yang ada di dalam tubuhnya lalu ia memberikannya kepada Shira.


"Ya... Terima kasih..." Shira meneteskan air matanya, "Kenangan ini... tidak akan... pernah aku lupakan, ibu. Ibu memang-lah ibu yang sangat terbaik bagiku, aku senang untuk bisa menjadi anakmu."


"Shira... mulai detik ini... kalau kau... tersesat dalam... kegelapan... ikutilah cahaya... di dalam... hatimu... dan tapakilah... jalan cahaya... tolong selamatkan..." Tubuh Shuri mulai gemetar, dia menghela nafas panjang mencoba untuk tidak menghembuskan nafas terakhirnya sebelum benar-benar meninggalkan Shira. Air mata yang bercahaya jatuh dan membasahi pipi-nya.


"...dunia ini." Dua tanduk tajam muncul di atas kepala-nya dan Shira segera mengubah dirinya menjadi partikel-partikel emas lalu setelah itu ia segera menyerap-nya sampai habis dimana ia menangis tersedu-sedu untuk terakhir kalinya.


***


~Kamitouri - Goddess of Sacred's Palace~


Korrina melangkah maju melewati beberapa pilar berwarna biru tua dengan api biru muda di puncak pilar tersebut. Beberapa pasukan suci mulai menyambut dirinya dengan beberapa serangan tetapi Korrina segera mengeluarkan keris-nya lalu ia muncul di belakang mereka semua dengan hasil seluruh pasukan itu mengalami luka pendarahan di dalam tubuh mereka.


""Uagggghhhh...!!!"" Seluruh pasukan itu langsung terbantai dengan serangan dimana mereka tidak dapat melihatnya, bahkan kedua adik dan kakak Korrina sempat terkejut ketika melihat kemampuan hebat tersebut.


"A-Apa itu...?" Tanya Sabrina sehingga ia melihat Korrina mulai berada di hadapan-nya dengan tatapan yang sangat mematikan.


"Sudah lama tidak bertemu..." Ucap Korrina pelan dimana ia langsung segera berhadapan dengan Ibu-nya yang sedang berdiri untuk menunggu kedatangannya, pakaian Sabrina dan Katrina mulai robek dan terbakar habis menyebabkan mereka berdua terjatuh di atas tanah karena serangan yang tidak terlihat itu.


"Aku akhirnya bisa berhadapan dengan dirimu lagi, Ibu..." Korrina berlutut di depan ibu-nya hingga ia langsung terkejut.

__ADS_1


"Korrina...?"


__ADS_2