Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 962 - Serangan tanpa Harus Menyentuh


__ADS_3

"A-Aaahhhhhhhh...!!!" Hinoka menjerit keras ketika mengetahui sebuah pisau tajam mengangkat pada tenggorokannya, ia mencoba untuk melakukan sesuatu seperti menyentuh lehernya sendiri dengan satu jari.


"Sebentar lagi kau akan kehabisan darah, pisau yang menyangkut dalam lehermu itu tidak akan memberikan kesempatan apapun untuk bisa menyelamatkan dirimu..."


"...sayang sekali, aku mengharap sesuatu yang lebih besar dari bangsa yang lahir dengan kesaktian tersendiri. Bertahan menerima santet mematikan itu bukanlah hal yang biasa." Abah menghabiskan rokoknya.


"Brengsek... siapa pun... hentikan seseorang yang sedang melukai diriku dari jauh, aku dengar Dukun memang bisa menyerang tanpa menyentuh hanya dengan mengumpulkan sesuatu dariku..."


"...hampir seperti yang Shinobu lakukan sejak itu, menciptakan buku yang menyebalkan seluruh orang ketika membacanya bunuh diri... ilmu hitam yang sangat mengerikan." Batin Hinoka.


"Apakah aku... Idol Hinoka akan dipermalukan seperti ini...? Hanya terbunuh dengan banyak senjata tajam yang masuk dari dalam tubuhku lalu keluar secara paksa bersamaan dengan darah-darahku...!?"


"Kerusakan ini... semakin lama hanya memberikan kedua kakiku kehilangan tenaganya sampai aku tidak bergerak... sial..." Hinoka terus menekan lehernya agar pisau itu tidak merobek lehernya.


"Aku masih memiliki banyak Lenergy untuk menyatukan kembali luka yang robek karena senjata tajam...!!! Lakukan atau mati...!!!" Hinoka langsung memegang lehernya dan mengeluarkan pisau itu secara paksa sampai lehernya mengeluarkan banyak darah.


Lehernya langsung ia tutup dengan tapak kirinya yang bersinar merah dengan kandungan Lenergy untuk menahan pendarahan di bagian lehernya, "Pergerakan seperti itu..."


"...dia memang gegabah, ternyata Legenda masih bisa hidup walaupun urat nadi di lehernya sudah robek, apakah kehidupan mereka memang tergantung kepada Lenergy?" Batin Abah.


"Sungguh makhluk yang sakti... sayang sekali kalian semua adalah musuh bagi kami umat Manusia yang terus direndahkan layaknya seperti hewan..."


"...ketika kami berhasil memusnahkan semua bangsa Legenda maka Manusia lah yang akan menggantikan kalian semua dengan mencatat kembali segala sejarah yang ada lalu mendapatkan gelar Legenda."


"Dia menggunakan tapak kirinya untuk menutup leher itu... mungkin di situlah dia memang masih bisa bertahan berkat bantuan sumber energi yang bernama Lenergy itu."


"Aku harus berhati-hati ketika mendekatinya... Dukun satu itu yang bernama Akang, aku harap dirinya bisa mengakhiri kehidupan gadis berbahaya ini---" Abah melebarkan matanya.


"Hyaahhhh...!!!" Hinoka menggigit pin flashbang lalu ia melemparnya ke depan sehingga ledakan yang dihasilkan mampu menyebabkan silau yang begitu kuat termasuk menyebabkan Abah mengalami gangguan di bagian kedua telinganya.


"Sekarang aku akan menunjukkan kemampuan yang sangat mematikan..." Hinoka mulai melakukan kuda-kuda bertarungnya selagi memperhatikan Abah yang sedang menutup kedua matanya.


"Khodam masih melindungi diriku." Abah perlu menunggu satu menit untuk kembali melihat dengan jelas, setelah satu menit telah terlewati ia langsung membuka kedua matanya dimana pandangannya memperlihatkan dirinya ruangan yang berputar.


"Tunggu..." Abah menyadari sesuatu yang janggal, Hinoka menghilang seketika di hadapannya sampai ia sadar bahwa kemampuan terkuat yang Hinoka maksud adalah [melarikan diri] untuk mencari Dukun yang menyantet dirinya.


"Sial... ternyata dia melarikan diri---" Abah menaikkan kedua alisnya ketika melihat sebuah asap muncul di ruangan sebelah kanan dan kiri sampai ia diberikan banyak perangkap oleh Hinoka.

__ADS_1


"Dia mencoba untuk menjebak diriku ya... percuma saja mau melepaskan bom asap itu, Khodam dapat mencari dimana lokasimu yang sebenarnya!" Seru Abah sampai badak di sebelahnya mulai maju lalu memeriksa kedua lorong di sebelah kanan dan kiri.


Badak itu mulai memberikan Abah tanda bahwa Hinoka melarikan diri menuju lorong di sebelah kanan, ia segera bergegas maju menggunakan tongkat yang ia pegang di tangan kirinya karena cara jalannya terlihat pincang.


Menggunakan Khodam secara maksimal dengan menjalankan kontrak, ia terpaksa harus mengorbankan kaki kanannya agar Khodam jenis pelindung itu mampu melindungi dirinya dari Hinoka.


Khodam itu diberikan tugas oleh Abah untuk terus mengikuti Hinoka yang saat ini sedang melarikan diri selagi menutup luka di lehernya, "Aku bisa merasakannya..."


"...mau itu kau menggunakan serangan spiritual atau mistis, aku bisa merasakan keberadaannya karena sering bersama dengan Koneko yang memiliki keberadaan sama juga." Batin Hinoka.


"Sekarang aku hanya perlu menyingkirkan seseorang yang menyerang diriku dari jauh... kedua Dukun ini tidak akan aku berikan uang dinamakan ampunan sedikit pun."


"Aku membagi sumber Lenergy... memfokuskan Lenergy tersebut kepada kedua kakiku agar bisa bergerak dengan baik..."


"...leherku juga masih terjaga aman dengan Lenergy yang terus menyatukan luka robek itu..." Hinoka menoleh ke belakang, melihat badak itu mengejar dirinya hanya untuk melacaknya agar Abah bisa mengikutinya.


Abah yang terus mengejar dirinya terus memperhatikan sudut pandangan badak yang mengejar dirinya sampai ia tidak menyadari bom tempel yang memiliki laser merah di puncak itu untuk mendeteksi pergerakan musuh.


Hinoka melarikan diri karena dia sudah mengetahui bagaimana cara menembus pertahanan Khodam itu, melihat badak tersebut mengejar dirinya untuk melacak, itu artinya Abah tidak memiliki perlindungan apapun.


Sampai ia tidak tahu bahwa salah satu dari tembok itu sudah ditempel dengan bom yang akan aktif ketika seseorang melewatinya, "Ternyata melarikan diri bukanlah hal yang buruk..."


Bom kali ini berbeda, dia memasukkan banyak sekali Lenergy di dalamnya dan juga karena Hinoka sudah terluka cukup parah serta berhasil bertahan dari kematian maka keefektifan Legend's Boost akan terasa lebih kuat dan berbahaya.


"Narrggghhh...!!!" Abah terjatuh di atas tanah, kehilangan lengan kanannya yang sudah hancur sampai mengeluarkan banyak darah.


Khodam di belakang Hinoka mulai terlihat tidak jelas hampir seperti pudar, Hinoka bergegas kembali menuju arah Abah lalu ia menarik pin sebuah granat dan melemparnya ke arah Abah yang sedang menutup luka di bagian kanannya.


Ledakan granat itu berhasil ditahan oleh Khodam Abah yang masih bertahan, Hinoka memasang tatapan kesal sehingga ia mulai memasukkan tangannya ke dalam tas pinggang untuk menyentuh berbagai macam granat di dalamnya.


"Aku terjatuh dalam jebakan itu... aku terlalu fokus berada dalam sudut pandang badak itu sampai tidak melihat granat tempel itu di tembok..." Batin Abah.


"... ...!" Hinoka melebarkan matanya ketika melihat sebuah granat yang cocok untuk ia gunakan, rencana yang sama kemungkinan tidak akan bekerja tetapi ia masih memiliki beberapa granat dengan varian berbeda.


"Concussion..." Hinoka mengingat perkataan Andrian bahwa granat tersebut dapat menghentikan pergerakan musuh, tetapi ia mulai merasa kesulitan ketika melihat Khodam itu berada di depan Abah.


Terus melindungi dirinya sampai Hinoka mencoba untuk mengeluarkan granat asap lainnya agar bisa melarikan diri lalu memasang perangkap tertentu, "Baiklah..."

__ADS_1


"Hugghhh...!!!" Hinoka melebarkan matanya sampai pipi kanannya langsung dipenuhi lubang karena dukun yang bernama Akang berhasil menyantet dirinya lagi sampai ia mengeluarkan banyak jarum tajam melalui mulut dan pipinya.


"Hah... Hah... Hah..." Hinoka berlutut di atas tanah, setiap pernafasan yang ia lakukan meneteskan banyak sekali darah sampai menodai lantai yang bersih itu dengan darahnya sendiri.


"Seberapa lama kau bisa bertahan ketika tubuhmu saat ini bagaikan boneka yang digunakan oleh Dukun? Darahmu yang sudah kehilangan banyak..."


"...hanya akan memberikan dirimu kelemahan atas tubuhmu itu, kemungkinan besar tubuhmu akan berubah menjadi mayat duluan sebelum kau mati."


"Akang... kenapa dia lama sekali membunuh gadis satu ini? Proses Santet yang dirasakan oleh gadis satu ini terlihat begitu lambat..." Batin Abah.


Hinoka merapatkan giginya lalu kedua matanya mulai memerah karena melihat terlalu banyak darah sampai mengingatkan traumanya kepada Ibunya.


"SIAAALAAAAANNN...!!!" Teriak Hinoka keras.


***


Konomi berdiri tepat di hadapan Dukun yang bernama Akang itu, ia saat ini tertekan karena kedatangan dirinya yang terlihat begitu curiga ketika melihat Dukun itu terus duduk selagi memegang sebuah boneka.


Boneka itu juga sudah ditusuk dengan banyak sekali jarum, ruangan di hadapannya terlihat begitu jauh karena bisa dibilang sebagai kantin untuk seluruh pasukan aliansi di dalamnya.


"Sejauh itu... melihat dari penampilannya dan tentunya harimau putih di sebelahnya itu... dia Manusia yang menjalani kontrak dengan Astral...?" Batin Konomi.


"Aku mendengar sebuah langkah..." Ucap Akang, kedua matanya tertutup dengan sarung hitam karena ia memang buta, dirinya bisa memiliki Khodam berbentuk harimau putih itu dengan mengorbankan penglihatannya.


Tetapi karena pendengarannya sangat tajam berkat bantuan Khodam maka dirinya hanya perlu mendengar pergerakan yang akan di lakukan oleh Konomi, "... ..."


"Selamat datang... Anda cukup hebat juga sebagai seorang gadis untuk bisa melewati banyak sekali tentara yang bersenjata mematikan." Akang mulai berbicara, membiarkan Konomi mengeluarkan ramuan itu.


Konomi melempar satu botol kosong ke arah barat lalu Akang mendapatkan reaksi sampai Khodam harimau putih itu langsung menghancurkan botol itu sekali serangan.


"Ternyata benar... walaupun buta, dia bisa mendeteksi pergerakan dengan suara... mungkin aku sudah menjatuhkan tumbal pertama yang tidak bisa di deteksi sama sekali." Batin Konomi.


"Sekarang aku tahu... suara terjatuhnya botol... majulah, gadis... harimau itu sudah kelaparan dan membutuhkan makanan selezat dirimu."


Konomi mengingat perkataan Koizumi seketika untuk memusnahkan musuh apapun yang ia lihat karena kemungkinan besar mereka bisa saja menjadi seseorang yang cukup menyebalkan dalam menekan mereka semua di dalam pesawat itu.


"Baiklah..." Konomi mengeluarkan senapan mesin lalu ia membidik kepala Akang menggunakan senapan itu tetapi harimau putih itu langsung menghalang jalannya.

__ADS_1


"Hampir seperti penjaga ya..."


__ADS_2