
Lucia melepaskan suhu es yang begitu dingin melalui bilah pedangnya tetapi Koizumi berhasil menunduk lalu menghantam wajahnya tetapi pukulannya tidak mampu mengenai wajahnya karena tertahan dengan es batu yang muncul di pipinya.
Pukulan Koizumi menempel dengan es batu itu sampai ia langsung menarik keluar belatinya lalu memutuskan tangannya sampai Lucia mengangkat kedua alisnya.
"Kau nekat sekali ya, memutuskan lenganmu seperti itu." Lucia melihat Koizumi yang langsung mengeluarkan jam pasir, tangannya yang lurus langsung kembali menempel kepada dirinya.
"Aku memegang konsep waktu diriku sendiri, sepertinya kau terlalu sibuk denganmu." Koizumi menunjuk Konomi yang berhasil menyentuh Grimoire tersebut lalu melepaskan dorongan besar sampai terpental ke depan.
Grimoire itu terpental menuju lautan yang langsung membeku menjadi es batu dan kristal, suhu ekstrem yang mereka rasakan mulai menghilang seketika.
Lucia mulai menunjuk ke depan untuk menciptakan berbagai macam objek seperti tangan dan tembok yang mencoba untuk membawa Grimoire itu kembali tetapi Konomi melawannya dengan mengayunkan tombak itu.
Lucia langsung menahannya menggunakan payungnya sehingga Koizumi memiliki kesempatan yang cocok untuk bergerak menuju Grimoire tersebut demi merebutnya.
"Tidak secepat itu... jumlah kalian masih belum cukup untuk menekan seorang kandidat." Lucia membelah lautan es itu menjadi dua sampai menjatuhkan Koizumi.
Waktu mulai melompat sampai Lucia memasang tatapan serius ketika melihat Koizumi berhasil lepas dari perangkap itu karena ia menggunakan waktu untuk mengecoh dirinya.
"Kau melihat kemana!?" Konomi mengayunkan tombaknya yang berhasil menebas pipi Lucia sampai mengeluarkan darah.
Lucia hanya bisa tersenyum lalu ia mengubah suhu dingin di sekitarnya menjadi sebuah serangan objek yang menghantam perut Konomi sampai memunculkan kristal es di punggungnya.
"Ughhh...!"
Konomi tersenyum serius lalu ia melawan balik dengan memanipulasi es yang berada di punggungnya sampai kristal itu memanjang lalu mengenai bahu Lucia.
"Kau ternyata memiliki kuasa terhadap es ya." Lucia mencoba untuk menarik sesuatu menggunakan tapak kirinya sampai menyebabkan Koizumi tergelincir karena kristal es yang injak mulai meleleh sampai licin.
Konomi terus menahan Lucia dengan mengayunkan tombak yang dari jarak dekat tetapi Lucia berhasil menahannya menggunakan payungnya selagi menggunakan matanya untuk mengubah suhu dingin menjadi objek yang menyerang Koizumi.
Koizumi terus fokus dengan terbang ke depan tanpa memedulikan Sheer Cold yang dilepas oleh buku sihir itu, dengan menghancurkannya saja sudah cukup untuk memberi dirinya kepuasan menghajar Lucia.
Namun, dirinya terus melihat banyak sekali tantangan karena es batu dan kristal yang berbentuk tajam sampai meteor menyerang dirinya tanpa henti sampai ia secara refleks menyerang menggunakan belati itu.
Belatinya tidak dapat dibekukan karena mendapatkan perlindungan dari sihir Greed yang menyerap suhu dingin yang dapat membekukan belatinya.
Grimoire itu terus bergerak maju ke depan karena lantai yang licin, buku itu terus berputar sampai mengeluarkan banyak sekali suhu dingin yang berbentuk kabur sehingga mengganggu indera perasa Lenergy untuk dirinya.
"Sialan...!!!" Koizumi melepaskan gelombang Crimson melalui tapak kirinya yang mendorong dirinya masuk ke dalam kabut tersebut sehingga sihirnya ikut membeku menjadi kristal merah tetapi ia sudah masuk ke dalam kabut itu.
Lucia menghantam wajah Konomi lalu menebas bahunya sampai bekas tebasan itu langsung membeku dan memberikan efek kesakitan yang cukup parah, "Nrrgghhh!"
Lucia mencoba untuk melakukan perpindahan menggunakan sihir esnya dimana ia dapat berpindah menuju tempat yang bersuhu dingin atau memiliki es di sana.
Tetapi Konomi berhasil menghentikan dirinya dengan menarik kakinya sampai tangan Lucia yang sudah membeku langsung pecah sehingga tubuhnya langsung tertarik oleh Konomi yang melemparnya menuju daratan.
Lucia berhasil mendarat dengan semangat ketika ia membeku tubuhnya, mencoba untuk berpindah tetapi Konomi berhasil memecahkan semua kristal itu menggunakan Railgun yang sudah diberi sihir Greed.
Lucia berhasil menahannya menggunakan payungnya itu, matanya tetap fokus ke dalam kabul yang begitu tipis untuk pandangannya sampai ia melihat Koizumi yang terus tertekan dengan rintangan es batu dan kristal.
Konomi mulai membakar bilah tombak itu sampai berhasil melelehkan semua es tersebut, ia juga berhasil menyentuh tongkat besi payung tersebut lalu mengangkat tombaknya sampai melempar payung itu ke belakang.
Lucia untuk pertama kalinya memasang tatapan kaget ketika melihat Konomi berhasil memisahkan dirinya dengan payung kesayangan itu, sekarang ia menerima banyak sekali tusukan dari tombak tersebut.
Kedua lengannya yang sudah dibekukan dengan kristal es tetap menembus karena sihir Greed yang Koizumi berikan agar ia bisa menetralkan sihir es Lucia yang sangat kuat menjadi es biasa.
Konomi juga tidak memiliki kesulitan untuk menggunakan sihir api dan melakukan serangan apapun tanpa membeku atau berubah menjadi es, tusukan bilah itu berhasil menembus pipi es batu Lucia sampai mengeluarkan cairan merah yang membeku.
__ADS_1
Lucia langsung melebarkan matanya sampai kedua pupilnya memancarkan cahaya biru muda yang begitu cerah sehingga mengeluarkan dorongan suhu yang berhasil mendorong Konomi ke belakang.
Tubuhnya membeku dengan kristal es yang dingin tetapi ia berhasil memanipulasi kembali es itu sampai berhasil bebas, ia juga melihat Lucia mengeluarkan sebuah kipas melalui kedua matanya.
"Dengan nama dewa Asper! Berikan aku kedinginan es untuk membekukan mereka yang mencoba untuk merebut hartamu..." Kata Lucia dimana suaranya menggema sampai menciptakan kristal es di sekeliling Koizumi dan Konomi.
Kedua kipas itu langsung memunculkan lambang es serta mata yang berkedip-kedip, Lucia hanya perlu mengipas menggunakan kedua kipasnya itu sampai melepaskan badai salju yang mementalkan Konomi sampai menabrak Koizumi.
Koizumi sudah menyentuh Grimoire itu tanpa membeku tetapi ketika Lucia menggunakan kipasnya untuk melepaskan badai besar, tubuh mereka membeku tetapi kristal itu hancur ketika mereka menabrak daratan.
Serpihan dari kristal itu menusuk kulit dan sebagiannya merobek, "Lenergynya sulit aku rasakan, Koizumi... dia menggunakan God Lenergy sekarang...!"
"Brengsek, aku sudah dekat padahal...!" Koizumi menjentikkan jarinya sampai ia menghentikan waktu lalu melepaskan beberapa tebasan gelombang Crimson.
Waktu kembali berjalan, Konomi bergegas menuju buku sihir itu sedangkan Lucia melihat serangan Koizumi yang mendekat, semua suhu itu berhasil membekukannya sampai serangan Koizumi menjadi propertinya sekarang.
"Aku akan mengembalikannya, Koizumi!" Lucia mengipas ke depan sampai serangan itu melesat kepadanya tetapi ia berhasil menghancurkannya.
Lucia muncul di sebelah Grimoire itu menggunakan sihir perlindungan suhu dinginnya, ia mencoba untuk meraih kembali buku sihir itu tetapi Konomi menabraknya sampai ia terjatuh ke belakang.
Tubuh Konomi mulai membeku tetapi ia secepatnya bertindak dengan melelehkan es itu menggunakan sihir api yang sudah diberikan efek Greed oleh Koizumi yang sudah bisa menetralkan suhu dingin dan sihirnya itu.
Konomi mencoba untuk menahan Lucia tetapi wajahnya menerima satu hantaman menggunakan sikut sampai ia terdorong ke belakang dengan kepala yang membeku.
Lucia mencoba untuk merebut buku itu kembali tetapi Koizumi melompati waktu lalu berhasil menyambut wajahnya dengan sebuah pukulan, Lucia menyerang balik dengan mencoba untuk mengipas.
Koizumi langsung melawan dengan melepaskan semua Lenergy melalui tapak kirinya sampai mendorong badai itu ke belakang dan mengenai tubuh Lucia yang sudah kebal dengan hal tersebut.
Koizumi mengayunkan belatinya beberapa kali sampai ia menarik aura Crimson yang berada di dalamnya yang membentuk objek hampir sama seperti belatinya agar ia bisa menyerang Lucia menggunakan kedua belati itu.
Lucia menahan semua serangan itu menggunakannya kipasnya selagi memasang tatapan serius, rambutnya mulai melayang sampai berubah menjadi putih, kipas yang Lucia ayunkan berhasil Koizumi tahan.
Koizumi terlempar ke belakang dengan tubuh yang membeku, ia mulai menyentuh daratan es yang sangar dingin itu dengan tatapan yang terlihat kesakitan karena es yang terasa seperti menusuk dirinya.
Konomi berhasil menendang wajah Lucia yang menggagalkan dirinya untuk mengambil Grimoire itu, ia mulai mengayunkan tombak itu beberapa kali tetapi Lucia berhasil menahannya.
"Dengan tambahan kekuatan dari Dewa Asper... kalian bukan apa-apanya!" Lucia membentuk suhu dingin di sekitarnya menjadi objek yang menghantam perut Konomi sampai menghentikan pergerakan itu.
Kedua kipas langsung diayunkan sampai mementalkan Konomi ke belakang cukup jauh dengan tubuh bagian bawah yang dilapisi oleh kristal, ditambah lagi kedua pemberontak itu tidak bisa melawan.
Lucia memasang tatapan tenang lagi sekarang, ia mengambil Grimoire tersebut sampai melayang tepat di hadapannya sampai terbuka lebar dengan halaman yang ikut terbuka, halaman demi halaman.
"Dengan membaca mantra halaman dua ratus empat... aku menjatuhkan badai salju yang dapat membeku planet ini untuk selama-lamanya!" Seru Lucia yang menyebut mantra d halaman 204.
...
...
Grimoire di hadapan Lucia menghilang seketika sampai menunjukkan objek seperti jam pasir yang sudah menghabiskan semua pasirnya di bagian atas sampai ke bawah.
"... ...!?" Lucia memasang tatapan kaget seketika sehingga ia merasakan ledakan aura besar di belakangnya, ia melihat Koizumi memegang buku tersebut dengan tato Greed yang bersinar cerah.
"Dengan ketenangan dari es... lelehkan semua es yang beku... pecahkan semua kristal yang beku... termasuk dengan menghancurkan Grimoire of Ice!" Kata Koizumi yang berhasil membaca halaman terakhir.
"Apa...!?" Lucia mencoba untuk melepaskan badai besar ke depan tetapi Grimoire itu melepaskan dorongan besar yang membekukan tubuh Koizumi dan Lucia beserta semua hal yang ada di planet itu.
Grimoire of Ice langsung terbuka lebar dengan cahaya biru muda yang terpancar, sangat cerah sampai buku tersebut mulai berputar cukup cepat sampai menyerap semua suhu dingin.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, semua halaman dalam buku itu mulai robek satu per satu sampai mengubah keseluruhan dari buku itu menjadi kristal es yang pecah menjadi kepingan kecil.
Dengan akhiran yaitu ledakan besar, ledakan yang menghilangkan semua es serta kristal yang sudah menyelimuti planet itu sampai Koizumi berhasil bebas lalu melihat Lucia dengan tatapan serius.
"Walaupun aku seorang pemberontak karena keturunan Shimatsu, jangan kau lupakan sesuatu dariku... darah Comi yang memberiku kecerdasan dalam pertarungan!" Tunjuk Koizumi.
"Dengan strategi yang diciptakan oleh Konomi dengan mengulur waktu... kau sampai terbodohi seperti itu!" Koizumi menghentikan waktu lalu maju ke depan, serangan yang ia lakukan langsung membeku.
"Ckk...!" Ketika waktu kembali berjalan, Lucia membeku tubuhnya dan menghilang begitu saja karena jika Grimoire itu sudah hancur maka kekuatannya akan berkurang.
"Melarikan diri seperti pengecut, setidaknya kami berhasil menyelesaikan tugas Grimoire itu." Koizumi melempar belati itu ke atas sampai mendarat kembali ke dalam sarungnya.
Konomi mendarat di sebelah Koizumi lalu memberinya sebuah kepalan pukulan sampai ia mulai memukul tinju Konomi karena sudah melakukan strategi yang baik.
"Untungnya aku sempat membekukan Grimoire itu menggunakan Greed yang berhasil menyerap es yang sama dengan Lucia..."
"...es itu membekukan Grimoire yang asli sampai aku menggunakan mata kiriku yang mengandung kemampuan waktu berkaitan dengan Replay untuk menciptakan objek yang sama dengan Grimoire."
"Sebelumnya kita sudah bertarung dengan Lucia sampai mataku merekam semuanya sampai meniru Grimoire itu yang dijadikan sebagai objek untuk menipu dirinya."
"Kau memang hebat, Koizumi."
"Kau juga sama... jika kau tidak menahannya terus maka aku akan ketahuan, untungnya dia terus memperhatikan dirimu." Kata Koizumi.
"Kita hanya perlu menyingkirkan Grimoire yang lain." Koizumi melayang ke atas langit sampai Konomi langsung mengikutinya.
***
Beval baru saja tiba di kuil yang sudah hancur karena ledakan matahari kecil yang Shinobu ciptakan, ia memasang tatapan serius karena sudah menebak semua ini akan terjadi.
Beval melompat masuk ke dalam lubang yang masih terbakar itu lalu melihat tubuh gosong, tubuh itu milik Keith yang masih hidup berkat kemampuan angin yang menciptakan anggota tubuhnya itu.
"Hurgghhh...!!!" Keith meringis kesakitan, apa yang ia rasakan saat ini adalah kesakitan pengkhianatan yang diberikan oleh Shinobu, rasanya sangat menyakitkan.
Pikirannya hanya dipenuhi kebencian dan tentunya rasa ingin balas dendam kepada Shinobu lalu memberikan dirinya hal yang pantas, kematian saja tidak cukup karena ia harus menyiksa dirinya habis-habisan.
Beval menyembuhkan Keith dengan melepaskan angin melalui kedua tapaknya sampai ia membawanya ke tempat yang lebih aman yaitu bangunan kepercayaan dipenuhi pendeta.
Semua pendeta itu bekerja sama untuk menyembuhkan dirinya sampai memberikan dirinya tubuh tambahan dari angin sampai operasi itu berlangsung selama satu jam dan Keith sudah kembali.
Ia masih berbaring di atas kasur dengan kedua mata yang terbuka, ekspresi terlihat sangat kesal sampai dirinya melihat Beval datang menghampiri dirinya.
"Aku senang kau masih---"
"DIMANA SHINOBU KONEKO!?" Seru Keith yang langsung mencengkeram kerah baju Beval, menyebabkan getaran besar di dalam ruangan itu karena angin yang terlepas dari tubuhnya.
"Dia melarikan diri... dengan Grimoire of Wind yang sudah kau hancurkan karena terkena tipu olehnya."
"SHINOBU..."
"...KONEKOOOOOOOO!!!"
***
"Selamat tahun baru~" Kata Shinobu.
...
__ADS_1
...