
"Tadi itu cukup menyenangkan ya?" Konomi terkekeh melihat Hinoka saat ini sedang mengusap keningnya yang memerah karena menerima sentilan penuh tenaga dari Koizumi.
"Akan lebih menyenangkan jika sepupuku ini dapat mengetahui monster itu lebih awal." Hinoka menghela nafasnya lalu ia menatap Shinobu yang sedang tertawa kecil.
"Sudah aku bilang untuk tidak membahas seperti itu lagi...! Bagaimana jika kau berada di posisiku?! Kau pasti akan sulit mempercayainya bukan...!" Seru Koizumi.
"Kau hanya memiliki sisi lembut kepada Koneko sedangkan untukku hanya sentilan."
"Sisi lembut apanya?! Aku tidak bermaksud seperti itu... bukan artinya aku bersikap baik hanya untuk Koneko saja..." Koizumi menatap arah lain selagi menyilangkan kedua lengannya.
"Fufufu... ternyata kamu memang menyayangi diriku ya~" Hinoka mulai memeluk Koizumi dari belakang sampai mengejutkan dirinya.
"Lepaskan!"
Mereka semua mulai saling membagikan rasa kebahagiaan yang di rasakan, Haruka dan Kou hanya bisa melihat dengan sebuah senyuman yang terpasang bahwa anak-anak seperti mereka masih terjaga dengan baik soal kebahagiaan.
Semoga saja masa kecil itu bisa terus maju sampai mereka menginjak umur remaja, melanjutkan kehidupan sebagai Legenda yang sudah pasti akan menghadapi rasa kepahitan dalam kehidupan yang begitu kejam di era kerajaan.
Perut Ako mulai bersuara, "... ...!!!"
Ako langsung bersembunyi di belakang Konomi sampai Hinoka menyadari dirinya merasa lapar, "Itu adalah sebuah tanda...! Mari kita pergi ke restoran Shimatsu!"
"Kita memang sudah berencana seperti itu bukan...?" Tanya Konomi.
"Biasa, sepupu bodohku ini memang pelupa." Koizumi berjalan keluar dari ruangan itu untuk pergi keluar, menghirup udara segar agar ia bisa memperbaiki rasa kekalahannya lagi.
"Te-he~ Maaf-maaf~ jika perutku kosong maka aku tidak bisa berpikir dengan baik." Hinoka menepuk kepalanya pelan lalu mereka semua meninggalkan dirinya sendirian.
"Oi! Tunggu! Jangan tinggalkan aku sendirian...!!!" Hinoka mulai mengikuti mereka semua dari belakang tetapi ia melihat Shinobu mulai mengambil satu jurnal yang ia tulis menggunakan bulu dengan tinta.
Shinobu mulai menulis semua pengalaman yang cukup menyenangkan bersama teman dan sepupunya, ia menulis semuanya di buku jurnal harian sedangkan ia juga menulisnya di jurnal kehidupan.
Permainan tadi memberi dirinya pelajaran bahwa rasa percaya tidak bisa bertahan cukup lama bahkan setiap orang serius dan tegas pasti akan memiliki sisi yang lembut.
"Beres..." Shinobu tersenyum lalu ia menutup jurnal hariannya dan mengambil jurnal kehidupan untuk di bawa ke restoran itu karena siapa tahu ia akan menemukan sesuatu yang pantas untuk di tulis.
"Kamu sedang apa, Koneko~?" Hinoka mulai menyapa Shinobu dari belakang sehingga melompat kaget seperti kucing yang dikejutkan dari belakang.
"Eeekkkk...!" Shinobu menoleh ke belakang lalu ia memegang erat jurnalnya karena ia tidak menunjukkannya terlebih dahulu sebelum ia menyelesaikan jilid yang ketiga ini.
"Hehehe~ Aku tidak akan merebutnya kok... ayo, kita makan banyak-banyak!" Hinoka mengulurkan lengan kanannya kepada Shinobu.
"Mmm...!" Shinobu mengangguk lalu ia meraih tangan Hinoka dan mengikutinya dirinya pergi menuju tangga yang membawa mereka menuju ruang kabin.
"Uwahh... Koneko sudah tidak malu lagi?!" Hinoka tersenyum lebar melihat sepupunya yang paling kecil tidak merasa malu dan ketakutan lagi ketika meraih tangannya.
"Mm..." Shinobu mengangguk lalu tersenyum sehingga ia melihat Koizumi mendekat.
"Hinoka, jangan menakut-nakuti Koneko..." Koizumi bisa melihat Hinoka memiliki niat buruk untuk membuat Shinobu takut kembali.
"Tidak kok, hanya saja... lihat!" Hinoka mulai menunjukkan tangan Shinobu yang berhasil ia pegang, melihatnya saja membuat Koizumi iri sehingga dirinya langsung meraih tangan Shinobu yang lain.
"Apa yang kamu lakukan, Koizumi?! Aku sudah menggenggam tangannya duluan, buuuu..."
"Koneko mu adalah Koneko ku juga. Dia tetap sepupuku, kau harus bisa membaginya!" Jawab Koizumi dengan tatapan serius.
"Koneko adalah---"
"Koneko kita, titik, atau aku sentil!" Koizumi menunjukkan jarinya yang siap untuk menyentil Hinoka sehingga ia mulai tertawa.
"Hahahahaha~"
"Kenapa kamu malah tertawa?"
__ADS_1
"Tidak~ Cukup menyenangkan untuk bisa menghabiskan waktu bersama seperti ini ya... rasanya cukup hebat, bisa bermain dengan kalian." Hinoka menatap mereka semua.
Koizumi hanya bisa diam ketika mendengar perkataan Hinoka seperti itu, kemungkinan besar ia mulai mengingat masa-masa yang cukup trauma sejak melihat Honoka dipenuhi dengan darah.
"Hinoka, apakah kamu akan mencoba tantangan lain seperti memesan hidangan pedas? Kalau tidak salah restoran itu mengadakan diskon." Konomi mulai berbicara dengan Hinoka.
"Ehh? Diskon?" Haruka menatap Konomi dengan tatapan yang terlihat bingung.
"Apakah Kakak juga tidak mengetahui tentang diskonnya...? Kalau tidak salah, jika seseorang mampu menyelesaikan lima hidangan paling pedas maka dia bisa mendapatkan kartu makan sepuasnya."
"Khusus yang menyukai hidangan pedas sih, apalagi seseorang pernah menang tetapi ia tidak pernah kembali karena perlu operasi usus dan dirinya menghabiskan waktu berjam-jam di toilet."
Perkataan Konomi mengejutkan mereka semua, "Hah?! Tantangan seperti itu cukup berbahaya."
"Kakek memikirkan apa sih..." Ungkap Koizumi.
"Wah, wah, terdengar cukup menarik. Sayang sekali, aku tidak menyukai makanan yang begitu pedas." Haruka menghela nafasnya.
"Lebih baik makan sesuatu yang seimbang di bandingkan pedang yang berlebihan, kau dengar tadi bukan...? Operasi dan toilet berjam-jam...!" Kata Kou.
"Aku ingin mencobanya!!!" Hinoka mengacungkan lengannya sampai mengejutkan mereka semua.
"Heh?! Kau yakin...?!" Koizumi terkejut ketika melihat Hinoka tanpa segan langsung ingin mencoba tantangan tersebut.
"Hinoka.... tetapi kamu masih kecil, perutmu pasti tidak bisa menahannya." Kata Kou.
"Aku lahir untuk ini, mencoba semua hidangan pedas yang dapat membuat diriku puas...! Apalagi jika aku berhasil maka..."
"...semua hidangan Shimatsu bisa aku borong!" Seru Hinoka dengan bibir yang berliur sampai ia tidak sabar untuk mencobanya.
"K-Kak Hinoka... apakah semuanya akan berjalan dengan baik...? Aku tidak mau usus itu---"
"Tenang saja~ aku adalah seorang Legenda yang menyukai sihir ledakan, itu artinya rasa pedas tidak ada jauhnya dengan ledakan milikku!"
"Percayalah kepadaku! Te-he~"
Koizumi memasang tatapan datar, sebenarnya ia ingin mengikuti tantangan itu tetapi dirinya hanya lebih tertarik dengan kentang goreng bahkan ia juga sudah mendapatkan akses makanan gratis.
"Kalau begitu, ayo-ayo! Jangan menghabiskan waktu lebih lama lagi!" Hinoka berjalan pergi meninggalkan kabin itu sendirian karena dirinya tidak sabar untuk mencoba tantangan pedas.
"Dia ternyata memang tergila-gila dengan makanan yang berkaitan cabai ya..." Konomi menghela nafasnya.
"Aku sedikit kha--- merasa tidak tenang jika dia ingin membahayakan hidupnya di mulai dari sekarang dengan mencoba untuk merusak ususnya itu." Koizumi mengatakannya dengan nada sedikit khawatir.
"Kalian pergi duluan saja, kami akan menyusul." Kata Haruka sehingga para anak-anak mulai mengangguk lalu berjalan pergi meninggalkan ruangan bawah tanah itu.
"Koneko... tunggu sebentar..." Kou mencoba untuk memanggil Shinobu tetapi suaranya yang begitu kecil dan serak tidak dapat di dengar oleh dirinya.
"Koneko!" Panggil Haruka yang mencoba untuk membantu Kou, untungnya ia berada di sebelahnya dan bisa mendengar suaranya.
Shinobu dan Koizumi berhenti berjalan lalu mereka menoleh ke belakang, melihat Kou mulai mengajak Shinobu sebentar ke kamarnya karena ia membutuhkan sesuatu untuk bisa pergi dengan aman.
Kou membuka lemarinya lalu ia mengambil sebuah jubah emas yang dapat menghalangi kepala dan ekornya itu agar tidak ada satu pun Legenda yang tahu bahwa Shinobu adalah salah satu Neko Legenda yang hidup.
"Koneko, pakai ini ya? Setiap kamu keluar, jubah ini akan menghalanginya dirimu dari segala kesalahpahaman." Kata Kou.
"Mmm!" Shinobu mulai memakai jubah itu sendirian sampai ia kesulitan untuk mengenakannya tetapi Kou membantu dirinya.
"Jangan sampai kamu melepasnya di hadapan Legenda yang asing ya..." Kou mengelus kepala Shinobu lalu ia memberikannya sebuah kecupan di kening.
"Mm! Aku pergi dulu, Mama..." Shinobu berjalan keluar dari kamarnya untuk mengikuti Koizumi karena ia bisa di bilang penjaga bagi dirinya.
Haruka melihat Shinobu yang mengenakan jubahnya pergi bersama seluruh temannya, "Era semakin hancur ya... rasanya usaha Minami yang mencoba untuk membawa nama Neko Legenda hancur begitu saja."
__ADS_1
"Ya... sejak pulau Neko Island hancur, semua Neko Legenda mengamuk sampai menghancurkan apapun yang mereka lihat, bisa di bilang mereka semua sudah tidak mempercayai Legenda..."
"...dan Legenda itu sendiri sudah menganggap diriku bersama Koneko termasuk Neko Legenda juga sebagai masalah dan musuh, jika saja Shinobu di lihat oleh beberapa Legenda asing maka dia akan mendapat masalah."
"Uhugh...!" Kou mulai batuk-batuk sampai membuat Haruka khawatir seketika, ia tidak ikut dengan mereka semua karena Kou membutuhkan waktu bersamanya.
"Kou... kamu ingin berbicara denganku kan? Lakukan sekarang juga." Ucap Haruka yang mengambil segelas air minum untuk Kou.
"Ohh, soal itu..."
***
Shinobu yang sedang berjalan bersama teman dan sepupunya sempat melewati kuburan dimana mereka bisa melihat Hinoka yang sedang berlutut di hadapan batu nisan bertulisan Honoka.
"Aku kira dia sudah sampai di restoran itu tetapi sepertinya... Hinoka tidak pernah melupakan sebuah harapan untuk Ibunya." Kata Konomi yang mulai masuk ke dalam pemakaman itu untuk menemui kuburan Asriel.
"Koneko, mau mengunjungi Ayahmu?" Tanya Koizumi kepada Shinobu karena ia sendiri ingin mencabut beberapa tumbuhan mati di kuburan ayahnya sendiri.
"Ayo..." Koizumi berjalan mendekati kuburan Shuan untuk mencabut beberapa tanaman mati lalu memberikan kelopak bunga yang ia temukan.
Mereka semua melakukan hal yang sama untuk keluarga mereka yang sudah gugur, semuanya mengharapkan banyak hal kepada Legenda yang gugur untuk bisa beristirahat dan menikmati kehidupan baru di atas sana.
"Baiklah, mari kita pergi." Kata Koizumi karena ia tidak ingin mereka merasakan kesedihan karena sudah di tinggal oleh orang tua yang sangat mereka sayangi.
"Ahhhh~ Laparnya~" Hinoka mulai merentangkan kedua lengannya ke atas.
"Kamu benar-benar ingin mencoba makanan pedas itu?" Tanya Konomi.
"Tentu saja... jika kalian ingin ikut juga maka ayo kita lakukan bersamaan, mungkin akan terasa lebih menyenangkan." Hinoka terkekeh sampai mereka hanya bisa diam.
"Aku mungkin... ingin memesan manisan saja... makanan asin dan pedas... rasanya cukup tidak enak..." Kata Ako.
"Kita sama ya..." Shinobu menatap Ako dengan sebuah senyuman kecil sehingga ia melihat Ako menjawabnya dengan senyuman tetapi ia langsung bersembunyi di balik Koizumi.
"Aku akan memesan kentang goreng, tidak perlu makanan yang begitu berlebihan karena kita sebagai perempuan perlu memperhatikan pola makanan itu." Ucap Koizumi.
"Aku setuju dengan Koizumi..." Konomi mengangguk.
Terdengar suara embusan angin yang begitu cepat sampai rambut mereka mulai terkena dengan angin itu lalu bergerak bahkan jubah yang Shinobu kenakan sampai terbuka lalu terjatuh karena talinya yang terlepas.
"... ...!" Shinobu terkejut ketika melihatnya bahkan di waktu yang kurang tepat, terdapat beberapa Legenda yang sedang menjaga kuburan dan memberikan bunga kepada setiap kuburan.
Mereka semua sempat melihat Shinobu yang memiliki rambut emas dengan telinga yang cukup mencolok, melihatnya saja membuat mereka langsung panik dan merasa takut.
""Ne-Neko Legenda!!!""
***
"Sepertinya... sejak kematian dari Shiratori Shuan, dia tidak membawa pergi kutukan itu."
Perkataan Kou langsung membuat Haruka khawatir seketika karena ia tahu apa yang dirinya maksud, "Permohonan yang di lakukan oleh Shuan hanya memindahkan kutukan itu kepada dirinya sendiri."
"Sejak ia gugur... kutukan atau penyakit Crimson tidak akan pernah bisa hilang bahkan kau perlu menguasainya, seperti yang Kakak lakukan."
Kou memegang erat kerah bajunya, "Aku hanya ingin bisa menikmati kehidupan terakhirku untuk melihat Shinobu menjadi seorang Legenda..."
"..Legenda yang dapat melindungi dirinya sendiri agar ia bisa menjaga diri dari segala masalah dan bahaya yang mencoba untuk mengganggu dirinya."
"Aku sudah merasa sakit-sakit... bahkan penyakitku sebentar lagi akan muncul seperti demam dan lain-lainnya." Kou menurunkan kerah baju itu sampai Haruka tercengang ketika melihat lambang Crimson yang begitu besar di dadanya.
"Aku akan kembali seperti itu... sejak Kakak lumpuh, menderita karena kutukan dan penyakit itu sampai waktu kehidupanku terbatas."
"Tetapi sekarang penyakit itu bertambah parah di tubuh Shuan sampai berpindah kepada diriku... aku tidak yakin bisa bertahan lama... satu atau dua bulan saja..."
__ADS_1
"...aku sudah pasti akan mati."