Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 569 - Bahagia Bersama! Menderita Bersama!


__ADS_3

"Aku menahan semua penyakit dan kutukan itu sendiri... aku tidak ingin merepotkan dan membuat seseorang menderita karena itu..." Kou masih berbicara dengan air matanya yang terus berjatuhan.


"Kamu seenaknya mengambil sesuatu yang membuatku menderita dan menerimanya begitu saja... permohonan itu buruk, permohonan yang membuatku sangat khawatir soalmu..."


Shuan merasa sangat bersalah ketika melihat Kou terus menangis seperti itu, perasaannya terlalu murni ingin membantu dan tidak ingin merepotkan siapa pun kecuali dirinya sendiri.


Semua beban dan penderitaan yang ia rasakan sudah ia tanggung dengan penuh usaha dan kerja keras tetapi Shuan malah mengambilnya tanpa izin apapun.


Menyebabkan Kou merasa sangat khawatir sampai pikirannya terus dipenuhi dengan penderitaan yang semakin tinggi soal kehilangan sesuatu yang begitu berharga bagi dirinya.


Karena sering kehilangan banyak teman dan seseorang yang ia sayangi, Kou merasa trauma ketika mengingatnya lagi bahkan ia tidak ingin kehilangan Shuan karena kutukan yang sudah ia terima sekarang.


Ayahnya, ibunya, dan mungkin suatu saat Shuan sendiri bisa saja meninggalkan Kou untuk selama-lamanya, semakin lama Kou tidak ingin mengandalkan siapa pun dan mempercayai siapa pun kecuali kedua kakaknya yang juga tidak akan selalu bersama dengannya.


Shuan terus mendengar perkataan negatif Kou, dia terlihat begitu pesimis ketika mengetahui permohonannya, apa yang ia inginkan selama ini hanyalah kasih sayang dan seseorang yang mau mendampinginya.


Shuan mengepalkan kedua tinjunya, mencoba untuk menghancurkan takdir dan kutukan milik Kou, mencoba untuk membuat gadis sekecil dirinya bahagia untuk selama-lamanya.


"Aku tidak mau kehilangan siapa pun... aku tidak mau kehilangan seseorang yang aku sangat cintai... tidak lagi... aku muak..." Kou terus melepaskan perasaan lelahnya soal kehilangan seseorang.


"Aku tidak ingin kehilangan dirimu... tidak... tidak...!" Kou terus membantah seperti anak kecil yang ingin melakukan sesuatu tetapi selalu di larang.


Tubuh Shuan terbakar dengan rasa tegang, hatinya bahkan di tusuk beberapa kali oleh pedang dan ia menyadari satu hal bahwa tujuan dan keinginannya untuk melihat Kou tersenyum telah gagal.


Sekarang ia mengalami kesedihan yang sangat besar, semua rasa sedih, kesakitan, dan depresinya terasa lalu bercampur aduk di dalam pikirannya, tidak tahu harus apa selain menangis keras.


Shuan mencoba melakukan sesuatu untuk dirinya, "Kou Comi!"


"Hiks..." Kou masih menangis tetapi ia menerima sebuah pelukan hangat dari Shuan, pelukan itu bertambah semakin erat sampai membuat Kou merasa tenang sedikit demi sedikit.


"S-Shuan..." Mendengar Kou mengatakan nama Shuan membuat jantungnya berdetak begitu cepat.


Shuan merasa terbiasa memeluknya dan mendengar namanya keluar melalui mulutnya tetapi perasaan yang ia rasakan terasa begitu baru dan berbeda.


"Aku ingin Kou terus memanggilku selama seumur hidup... lebih baik lagi dengan senyumannya itu..." Ungkap Shuan, ia mulai bertanya-tanya apakah Kou terus memanggil namanya di dalam hatinya itu.


"Aku ingin Kou terus mengatakan namaku... sambil menunjukkan senyumannya itu."


"Akan lebih baik lagi jika dia mau jujur dan melepaskan semua kesedihan itu di hadapanku agar ia bisa merasa lebih tenang dengan melampiaskan semua itu..."


Shuan semakin mengeratkan pelukannya lalu ia mulai berbisik tepat di telinganya, "Menikahlah denganku, Kou..."


Shuan berhasil mengumpulkan semua keberaniannya hanya untuk mengatakan kata yang mampu membuat kesedihan Kou berhenti seketika, wajahnya bertambah semakin merah dan air matanya masih mengalir deras.


Shuan merasakan tubuh Kou bergetar seketika, Kou menatap Shuan lalu ia tersenyum, "H-Hm..."


Kou menjawabnya dengan tubuh yang membuka, tidak bisa mengatakan apapun karena ia tidak menyangka Shuan akan langsung melamar dirinya, itu artinya pernikahan yang akan datang terdapat dua.


Kou langsung menggelengkan kepalanya begitu cepat, mencoba untuk menghapus rasa sedih yang masih tertata di wajahnya, Shuan mulai mengelus kepalanya.


"Kutukan dan lambang Crimson yang aku terima darimu tidak akan memberikan diriku efek buruk apapun..."


"Hanya saja aku ingin kau tahu bahwa kutukan ini adalah simbol cintamu kepadaku..."

__ADS_1


"Kutukan apapun itu tidak akan bisa menghentikan diriku yang akan terus bangkit dan mencoba untuk melawannya. Aku akan melakukannya tanpa harus berputus asa atau menyerah..."


"...intinya, Kou, aku mengambil kutukan ini sebagai simbol cinta... sebagai kewajiban diriku untuk melindungimu dan senyuman itu." Shuan memeluknya semakin erat.


"T-Tapi... kutukan itu akan membuat dirimu mengalami banyak kesakitan dan demam sepertiku." Ucap Kou yang terlihat masih panik.


Shuan tersenyum lalu ia mengelus kepalanya lagi dan lagi, mencoba untuk memenangkan rasa panik dan khawatir yang berlebih.


Shuan merasa senang ketika melihat Kou ingin melampiaskan semua rasa sedih itu di hadapannya, melihatnya saja membuat Shuan bertambah semangat dan termotivasi untuk melakukan apapun demi melindunginya.


Menjaganya juga adalah tugas yang begitu penting untuknya sampai ia ingin menjadi seorang bapak rumah tangga agar tidak meninggalkan Kou sendiri ketika sedang bekerja.


Walaupun dari luar terlihat seperti anak kecil tetapi di dalamnya terdapat rasa tanggung jawab dan sikap yang tidak ingin merepotkan siapa pun melainkan menginginkan membantu mereka semua untuk merasakan kehidupan yang bahagia.


Sikap polos dan lembutnya membuat Kou semakin menjadi seorang gadis yang wajib untuk di lindungi, "Takdir atau kutukan apapun itu, aku akan tetap menjadi Legenda yang kuat dan pantas untuk mengalahkan kedua hal itu."


Shuan mengeratkan pelukannya sambil membisikan semua katanya itu tepat di sebelah telinga Kou.


"T-Tapi... rasanya mustahil... menantang kutukan dan takdir seperti itu... lepaskan aku, Shuan..."


"Aku tidak akan melepaskan dirimu, tidak akan untuk selama-lamanya."


"Siapa pun yang mencoba untuk menghentikan diriku, Kakakmu... teman temanmu... orang tuamu... polisi..."


"Aku akan melawan, apapun yang terjadi, aku akan membuat dirimu menjadi istri yang dapat merahasiakan kebahagiaan untuk selamanya, Kou."


Kou terkejut ketika mendengar, "Um..."


"Aku berjanji untuk bertanggung jawab dan menjaga dirimu bukan...?"


"Kamu membiarkan diriku melakukan apapun untukmu bahkan aku hanya bisa menyembuhkan kutukan itu dengan mengambilnya, jadi aku sendiri harus bertanggung jawab tentang itu."


"Hiks... Mmm... Hmm..."


"Aku memberikan dirimu apa pun yang aku dapat berikan..."


"Tapi aku membuatmu menunggu dalam waktu yang sangat lama..." Shuan memegang dagu Kou lalu mengangkat kepalanya agar ia bisa menatap wajah sedihnya itu.


Shuan menatap kedua matanya yang dipenuhi dengan air mata yang terus berjatuhan, "Itulah kenapa... aku tidak akan pernah meninggalkanmu dan membiarkanmu pergi sampai kau mau menikah denganku."


"A-Ahh... Mmm..." Air mata mengalir keluar lagi, kali ini memiliki makna yang berbeda bahkan Shuan bisa melihat beberapa cahaya melalui air mata Kou yang baru saja keluar.


"Makna namamu benar-benar menunjukkan dirimu... cahaya... kebahagiaan... dan kedamaian... semua itu akan aku kabulkan..." Ucap Shuan, membuat Kou menutup wajahnya di dada Shuan.


Menahan tangisan lainnya, Kou melirik ke atas dan kembali menatap wajah Shuan.


"Tolong..." Suaranya terdengar begitu kecil dan lembut, Shuan mendengarnya dengan jelas.


"...tolong buatlah aku mempercayai dirimu... suamiku..." Shuan sontak kaget ketika mendengar Kou memanggil dirinya sendiri sebagai seorang suami yang mengartikan lamarannya tadi telah di terima.


"Maksudmu..."


Kou langsung memandang arah lain dengan pipi yang memerah, melihatnya saja membuat Shuan merasa yakin bahwa ia telah berhasil untuk memenuhi tujuannya dalam menikahi dirinya.

__ADS_1


"Kou..."


Kou menatap Shuan dengan tatapan yang terlihat tenang sekarang, cahaya yang berada di atas langit sempat memancarkan wajah Kou sehingga Shuan bisa melihat jelas harapan yang ia inginkan dari wajahnya.


Shuan menundukkan kepalanya, mencoba untuk memberinya sebuah kecupan tetapi tinggi Kou terlalu pendek sampai ia terpaksa harus berlutut.


Kou menghentikan dirinya dengan memegang bajunya erat, "Maafkan aku karena memiliki tubuh kecil seperti ini... awalnya aku bermimpi untuk memiliki tubuh dan tinggi yang sama seperti kedua Kakakku."


"Agar suatu hari nanti aku dapat menunjukkan diriku sebagai gadis yang dewasa..."


"Tidak... tubuh kecilmu ini sudah dari cukup, aku sangat menyukainya." Shuan tersenyum, membuat Kou tersipu lalu ia mulai jinjit untuk melakukan kecupan pertama di bibirnya.


Shuan terkejut ketika melihat Kou berusaha untuk meninggikan tubuhnya dengan melakukan sebuah jinjitan, ciuman itu berakhir seketika kaki Kou merasa lemah.


"Kou..." Shuan tersenyum lalu ia menepuk kepalanya beberapa kali, Kou langsung memeluk erat lengan Shuan sambil menyadarkan kepalanya.


"Aku mencintaimu..."


"Aku mencintaimu, suamiku..." Kou tersenyum lebar.


"Kou Comi..." Mendengar Kou mengatakan sesuatu yang membuat dirinya bersemangat, Shuan bisa melihat tatapan lembutnya dan senyuman manisnya itu.


Ia tahu harus apa selanjutnya, tanpa menghabiskan waktu lainnya Shuan berlutut lalu memberinya sebuah ciuman lagi sampai mengejutkan Kou.


Shuan mulai berhenti mencium dirinya dan ia bisa melihat Kou tersenyum, "...hm."


"Aku mencintaimu, Shuan..." Kou menarik lengan kanan Shuan lalu memberinya beberapa kecupan.


"...suamiku." Shuan bisa saja meledak penuh dengan rasa bahagia ketika mendengar Kou mengatakannya penuh dengan rasa ceria bahkan tidak ada yang bisa menghentikan dirinya sekarang.


"Pftt... Hehehe... Hahahahaha~" Kou mulai tertawa, Shuan terlihat bingung ketika Kou melepaskan tawa yang terdengar bahagia.


"Aku bisa merasakannya...! Semangat yang kamu berikan sangat besar! Rasanya hebat...!" Ucap Kou dengan suara yang keras.


Sekarang sudah saatnya untuk mengeluarkan kotak merah itu agar ia bisa menyatakan semua ini telah resmi bahwa ia akan menikahi Kou dan menjadikan dirinya sebagai milik Shuan sepenuhnya.


Shuan mulai berlutut lalu ia mengeluarkan kotak merah yang terbuka lebar, menunjukkan cincin merah sampai membuat Kou tersenyum.


Shuan mengambil cincin tersebut lalu menatap Kou, "Kou Comi..."


"Y-Y-Ya...?"


Dengan tatapan serius, Shuan mengangkat lengan kiri Kou setinggi pundaknya, keheningan mulai muncul dan pipi Kou mulai memerah.


"Ini adalah bukti bahwa aku akan menjadikan dirimu sebagai Istriku, semuanya telah resmi bahwa kau milikku..."


Kou mengangguk, setelah melihat anggukan itu Shuan langsung memasukkan cincin tersebut ke dalam jari manisnya.


Semua rencana lamaran Shuan mengalami keberhasilan yang besar, Shuan tidak membutuhkan penonton melainkan senyuman yang Kou tunjukkan setelah menerima cincin tersebut.


Shuan bangkit lalu ia memberinya pelukan lainnya sampai ia sempat melihat Korrina berdiri tepat di belakang Kou dengan sebuah senyuman.


Setelah itu ia menghilang begitu saja, bersatu dengan cahaya sampai membuat Shuan bingung seketika karena itu tadi terasa seperti ilusi belaka.

__ADS_1


"Mari kembali."


"Hm~"


__ADS_2