
"Aku sudah mendengarnya beberapa kali... permainan ini, perintah yang disebut itu mutlak! Sebuah hukuman yang tidak bisa diubah sekecil apapun!"
"Ini hanyalah game jadi jangan meminta hal yang aneh-aneh." Kata Koizumi.
"Baiklah, Hinoka. Katakan saja perintahmu itu secepatnya."
"Maka dari itulah, aku... Hinoka akan memerintahkan kalian untuk menunggu sampai aku membawa sesuatu!" Hinoka bergegas menuju kopernya hanya untuk mengeluarkan alat komunikasi canggih yang ia dapatkan dari Shinobu.
Hinoka sempat mengintip semua angka tongkat mereka sampai ia hanya bisa tersenyum licik karena tahu harus memerintah apa kepada teman-temannya.
"Langsung saja! Nomor satu... tunjukkan dalam dalammu kepadaku...!" Seru Hinoka dengan ekspresi yang terlihat tidak sabar sampai nafasnya mulai bertambah berat seketika.
"E-Ehh!?"
"Perintah yang aku sebutkan adalah mutlak! Diam dan lakukan sekarang juga...!" Hinoka menunjuk Ako.
"Lakukan saja, Ako. Aturan adalah aturan." Kata Konomi yang meminta Ako untuk melakukannya agar permainan bisa berakhir lebih cepat.
"Sudah kuduga... setelah ini aku akan menjadikannya sebagai samsak tinju." Kata Koizumi.
"Diam, Sapizumi! Aku adalah Legenda yang memerintah kalian bawahanku... Fuhahaha!"
Ako memasang ekspresi yang terlihat sangat malu lalu ia perlahan-lahan mengangkat roknya dengan pipi yang memerah sampai Hinoka memasang ekspresi puas ketika melihatnya.
"Hohhhh~ warna yang indah ya... merah muda, Fuehehehe..."
"Kalau begitu, selanjutnya adalah nomor 4! Lepas bramu dan berikan padaku sekarang juga...!" Hinoka mengulurkan lengan kanannya kepada Konomi yang hanya bisa diam dengan pasrah.
"Hah... baiklah." Konomi melepaskan bra miliknya lalu ia memberikannya pada Hinoka yang langsung melihatnya dengan teliti.
"Hohhh~ hitam ya, cukup dewasa sekali, Konomi~ berbeda dengan Ako yang masih kenak-kanakan karena menggunakan merah muda." Sindir Hinoka.
"Oi...!!!" Ako mendengarnya dengan jelas.
Hinoka dapat melihat kedua sepupunya belum menerima perintah apapun darinya, ini adalah kesempatan yang baik untuk mencoba mencuci otak Koizumi dengan sesuatu yang ia suka.
"Fufufu~" Hinoka tersenyum selagi menjilat bibirnya sendiri sampai menyebabkan tubuh Koizumi merinding seketika.
"Oi, kalau kau ingin membalas dendam maka suruh saja aku mengangkat beban."
"Bukan sekedar balas dendam biasa kok." Hinoka menempati alat itu di atas meja sampai membentuk sebuah layar besar yang mengeluarkan earphone untuk dikenakan oleh Koizumi.
"Pakai."
"Hah... memangnya apa yang kau ingin tunjuk---" Koizumi memasang tatapan kaget ketika melihat layar sudah menunjukkan sesuatu yang vulgar sampai ia mencoba untuk menutup kedua matanya tetapi Hinoka menahannya.
"Tonton sampai habisnya~" Hinoka menyalakan video tersebut lalu membiarkan Koizumi memperhatikan layar sampai dirinya mencoba untuk menahan perasaan aneh yang muncul dalam tubuhnya.
"Ugghh... jadi sebesar itu...? Dimasuk--- Gah! Jangan sampai terbawa suasana Koizumi...!" Koizumi menampar wajahnya untuk menyadarkan dirinya agar ia tidak hilang kendali.
"Koneko."
"Siap!" Shinobu mengangkat lengan kanannya untuk menunjukkan kehormatan besar kepada Hinoka.
Ekor Shinobu yang bergerak sangat cepat sempat menarik perhatian Hinoka yang hanya bisa diam dengan pandangan tertuju kepada teman-temannya dan ekor Shinobu beberapa kali.
"Konomi, wajah mereka yang sudah menerima perintah masih bisa disuruh? Misalnya aku meminta Koneko untuk memeluk Ako?" Tanya Hinoka.
"Tentu saja."
"Hahahahaha!!!" Hinoka mulai tertawa terbahak-bahak sampai mengubah atmosfer ruangan merasakan sesuatu yang begitu buruk sampai mengenai firasat mereka.
"Ah... firasatku benar-benar buruk soal ini." Batin Ako.
"Koneko...! Gunakan ekormu..." Hinoka menunjuk mereka semua dengan ekspresi yang terlihat sangat tidak sabar untuk melihat ekspresi yang akan mereka perlihatkan.
"...untuk menyentuh ************ mereka semua!"
""Apa!?""
__ADS_1
"Roger...!" Shinobu mulai mendekati Ako yang berada tidak jauh darinya.
"Ga-Gawat... bagian bawahku sensitif karena melihat video sialan ini..." Batin Koizumi.
"Ako~ Ako~" Shinobu menggerakkan ekornya yang sudah siap untuk menyentuh ************ Ako.
"Ah... S-Silakan..." Ako menutup wajahnya lalu ia merasakan selangkangannya tersentuh oleh ekor Shinobu yang terasa begitu lembut dan menyebabkan kegelian.
"Hyah!" Ako mengeluarkan ******* kecil lalu ia melihat Shinobu melangkah menuju Konomi.
"U-Uwawa..." Konomi memalingkan wajahnya yang memerah lalu ia bisa melihat ekor Shinobu bergerak sangat cepat sampai mengenai selangkangannya juga.
"Kyah!!"
"Shinobu... jika kau tidak melakukan itu kepadaku maka aku akan memasakkan makanan favoritmu setiap hari!"
"Heh?!" Shinobu memasang ekspresi yang terlihat senang sampai kedua matanya bersinar cerah.
"Oi! Perintahku adalah mutlak! Jangan-jangan kau sudah basah hanya melihat video itu!?" Hinoka langsung mendatangi Koizumi agar ia mau menerima sentuhan ekor Shinobu yang berbulu emas itu.
"Koizu... jangan seperti itu, kau sudah melanggar aturannya." Kata Konomi.
"Sial... apa di permainan ini tidak bisa menyuap?!"
"Tidak ada kompromi maupun suapan dalam permainan perintah mutlak... terima apa yang kami rasakan dari ekor Shino, Koizu!"
"Peraturan adalah peraturan sepertinya... Maaf, Kakak." Shinobu menyentuh ************ Koizumi menggunakan ekornya sampai ia bisa merasakan sesuatu yang basah.
"Ehh?"
"Kyah...!" Koizumi langsung duduk lemas dan kakinya sedikit bergetar sampai ia mulai memasang ekspresi kesal kepada Hinoka yang melompat menuju kasur untuk tidur secepat mungkin sebelum dirinya terkena masalah.
Tidak lama kemudian, suara ketukan pintu terdengar sampai pandangan mereka tertuju kepada pintu tersebut yang langsung dibuka oleh Shinobu sampai dirinya dapat melihat Ophilia yang menunggu.
"Ahh, baguslah kalian masih bangun. Banyak sekali turis yang menyarankan sebuah tempat cocok untuk dijadikan sebagai pengambilan foto sebagai kenangan..."
***
Mereka semua mulai melangkah melewati banyak sekali bunga emas yang bersinar di malam hari, pancaran yang dilepaskan dari mahkota bunga itu memiliki cahaya melebihi lampu yang menyinari satu kota.
Beberapa menit kemudian, mereka semua dikejutkan dengan pandangan langit biru yang begitu indah karena penuh dengan bintang emas yang bersinar cerah salah satunya adalah pohon emas yang besarnya melebihi alam semesta apapun.
Ini pertama kalinya mereka dapat melihat pohon emas dengan sangat jelas dan indah sampai banyak sekali partikel cahaya yang berjalan begitu cepat mengelilingi pohon emas yang berada di atas langit.
"Whoa..."
"Indah sekali..."
"Sebuah pohon emas yang menandakan harapan besar..."
"...harapan yang akan dibawa oleh mereka untuk melanjutkan tekad para Legenda yang sudah gugur dalam mencatat sejarah."
"Semuanya berkelap-kelip..."
"Lautan... langit-langit... semuanya dipenuhi cahaya yang datang dari surga itu sendiri."
"Lautan sudah menerima cahaya surga secara maksimal." Shinobu mulai berbicara sampai pandangan mereka tertuju kepada dirinya yang melangkah ke depan lalu menyentuhnya.
Kedua lengan Shinobu bersinar cerah ketika menerima air lautan tersebut, mereka juga melakukan hal yang sama sampai cahaya dari dalam air tersebut menyebar sampai mengenai tubuh mereka semua.
Kebahagiaan tersebar seketika mereka mulai bermain dengan air surga tersebut sampai tubuh mereka terus menerima banyak sinar cahaya emas seolah-olah mereka merasa seperti dilindungi.
"Terima kasih..." Shinobu berterima kasih kepada langit-langit serta pohon emas yang saat ini ia lihat.
Pancaran sinarnya bertambah cerah sampai Shinobu langsung mengumpulkan mereka semua di atas lautan untuk mengambil foto kenangan liburan mereka dalam Sunshine Heaven.
"Dunia akan terus mengalami perubahan secara positif dan negatif ya..."
"...entah itu kekurangan atau penambahan, semuanya akan tetap sama seperti biasanya dengan evolusi baru."
__ADS_1
"Nostalgia yang akan terus terasa sampai akhir... kedamaian yang coba kita perjuangan mungkin terlihat jelas sekarang."
"Sebuah kedamaian yang dinantikan..."
"Kita sebagai bangsa Legenda harus tetap memperjuangkan kedamaian dan mencatat sejarah baru yang tidak ada batasnya karena semuanya akan dilanjutkan oleh generasi baru..."
"...melihat semua cahaya yang memberikan kita semua rasa positif besar."
"Mungkin sebentar lagi kedamaian abadi akan muncul..." Kata Shira.
"Kedamaian abadi!"
***
"Tidak ada yang namanya kedamaian abadi... itu hanya omong kosong semata, kau dapat melihatnya dari lapisan dunia bersama dengan singularitas yang berbeda bukan...?"
"Korrina Comi... aku melihat dirimu berhasil meraih 'akar' tersebut... kau tersedot ke dalamnya, kemana akar itu membawa dirimu?"
"Entahlah... aku tidak begitu mengingatnya, yang aku ingat hanyalah kedamaian abadi tidak akan pernah terjadi..."
"...semuanya tetap akan menerima masalah dan konflik yang berjalan secara tak terbatas atau mungkin bisa aku namakan sebagai 'Endless Cycle.'"
"Begitu ya... walaupun sudah memiliki kekuasaan dalam dunia lapisan ini, aku tetap tidak menerima pengetahuan apapun tentang singularitas yang lebih tinggi..."
"...terutama lagi akar itu tidak bisa aku sentuh, hanya saja konsep sihir yang sudah terhapus itu membuka gerbang kebebasan bagi para penduduk dari lapisan dan singularitas berbeda."
"Dan kau bilang mengembalikan Ragnarok adalah ide yang baik...? Menyebabkan seluruh populasi penduduk lapisan dan singularitas tidak akan mengubah Endless Cycle itu, kau mengerti?"
"Bukan itu yang aku inginkan, hanya saja... bukannya dunia lapisan layer ini tetap berada di bawah Touriverse...?"
"Apakah kau tidak ingin berbagi atau membaginya...? Seperti membelah setengahnya lalu membaginya dengan yang lain..."
"...Ragnarok tetap akan terjadi, Korrina. Kau bilang kedamaian abadi tidak akan pernah bisa digapai maka penghakiman sudah dekat sekali."
"Lagi pula lapisan layer di bawah Touriverse, seperti diriku yaitu seorang Dewa dalam lapisan ini." Pria itu melangkah mundur ke belakang untuk melihat seluruh alam semesta yang berbentuk kubus.
Kubus itu melambangkan alam semesta dengan jumlah yang tak terhitung, di dalamnya juga terdapat sesuatu hal yang tidak memiliki perbatasan apapun.
Hampir sama seperti Touriverse tetapi berada di lapisan lebih bawah dari Touriverse, semuanya dibatas dengan sesuatu yang mengabaikan apapun kecuali kemampuan yang cukup kuat untuk menghapus konsep tersebut.
Anastasia berhasil membuka gerbang kebebasan untuk seluruh lapisan dan singularitas sampai menyebabkan sejarah akan menyebar lebih luas lagi, "Sudah saatnya [Kountra] yang mengambil lapisan utama itu."
"Lapisan yang diduduki oleh Touriverse perlu diambil alih kembali oleh Kountraverse. Ini adalah yang ketiga kalinya..."
"...kali ini sejarah akan berubah, Korrina Comi."
"Dengan kekalahan Touriverse maka penghakiman yang sudah disediakan oleh Ragnarok bisa saja berbeda bagi mereka yang berhasil bertahan dan menang."
"Aku ingin Kountraverse dan Touriverse dapat terbagi secara setengah, tentunya bangsa Legenda akan coba untuk tinggal di alam semesta ini juga." Pria itu menoleh ke belakang lalu melihat Korrina yang menghilang entah kemana.
"Ragnarok tidak dapat bisa kau hindari, Korrina..."
"Gerbang penghakiman sudah terbuka karena konsep yang terhapus oleh kemampuan Eldritch yang bernama Eo'syl."
...
...
"Hah... Hah... Hah..."
"Apa yang dia coba pikirkan untuk mengembalikan Ragnarok..." Korrina berhasil melarikan diri dengan menggunakan Lenergynya untuk melakukan perpindahan menuju [Domain] yang berbeda.
"...membagi dunia yang berada di dalam lapisan satu dan dua menjadi setengah?"
"Bagaimana bisa dia menyebutnya setengah jika Ragnarok sendiri dapat memusnahkan seluruh penghuni dari lapisan dunia itu sendiri..."
"...bisa saja Touriverse dan Kountraverse turun ke dalam lapisan yang lebih bawah lagi sampai kita bisa saja di anggap sebagai fiksi untuk mereka..."
"...yang berada di atas lapisan itu sendiri."
__ADS_1