Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 34 - Akhiri Ilusi Ini!


__ADS_3

Darah Akina dan Korrina mulai berjatuhan di daratan sehingga menciptakan genangan air yang dipenuhi darah, Akina membulatkan kedua matanya dan mulai melemah karena sebuah pedang yang menusuk perutnya dengan sangat dalam sehingga ujung dari pedang itu menyentuh dahi Korrina yang sedang berada di ambang kematian.


Penglihatan Korrina mulai perlahan-lahan buram, darahnya juga mulai habis karena jantungnya yang hancur, Akina baru saja sadar bahwa Korrina yang ia lawan adalah yang asli karena ini pertama kalinya Akina melihat Korrina tiba-tiba meneteskan air matanya beberapa kali, "Aku... Aku adalah Korrina yang asli... Suamiku adalah Alvin Ghifari... Seorang Dewa Crimson yang saat ini telah di hukum oleh dewa agung Crimson... Seharusnya... Kau sadar... Semua yang kau lihat ini hanyalah ilusi---"


Tiba-tiba ujung pedang itu langsung menancap kepala Korrina dengan sangat dalam sehingga kehidupan Korrina sudah berakhir ketika pedang itu menusuk dahi Korrina sehingga ujung pedang itu menembus masuk otaknya, "K... Korrina...!" Akina langsung menangis ketika ia tidak bisa lagi merasakan keberadaan Korrina, bahkan Lenergy milik Korrina tidak bisa ia rasakan karena dia sudah mati.


"Hahaha, dasar malaikat bodoh. Kapan kau akan belajar dari kesalahan yang kau buat, hah?" Tanya seorang gadis Legenda yang berada di belakang Akina selagi memegang pedang yang dilumuri oleh banyak sekali darah, Akina mulai menunjukkan ekspresi yang terlihat kesal lalu ia melirik ke belakang dimana ia menatap wajah gadis itu, "Sione..." Akina mengenalnya karena dia adalah gadis yang sangat bersosial sehingga ia mengenal semua peserta dan kakak kelas di akademi tersebut. Sione adalah gadis yang memiliki ilusi kuat bernama Illusion of Trickery dimana ia mampu menciptakan kejadian yang mustahil dan bahkan menciptakan seseorang-pun dia bisa.


"Yo, Akina... Sepertinya kau adalah peserta dari kelas tiga yang sangat bodoh ternyata." Ucap Sione yang mulai mendorong Akina ke depan dengan menendang bekas luka tusuknya, "HUEEGGHHH!!!" Akina terpental ke depan dan tergeletak di atas tanah, Sione bergerak ke depan dengan menginjak kepala Korrina lalu berjalan ke depan selagi menjilat darah yang ada di pedang itu, "Illusion of Weapons's Trickery!" Sione mulai menciptakan sebuah tombak ilusi dan tombak itu terlihat sama persis dengan tombak castitas.


Sione bergerak ke depan lalu ia mulai mengayunkan tombak itu beberapa kali, Akina mulai menghindari semua serangan itu dan beruntungnya ia berhasil menghindari semua serangan Sione, tetapi luka perutnya meneteskan beberapa darah dan membuat Akina meringis kesakitan, "Hah... Hah... Hah..." Akina mulai menghalang luka itu dengan telapak tangan kirinya, tujuannya saat ini adalah bertahan hidup dan menunggu seseorang datang.


Itu tidak mudah bagi Akina karena ia baru saja membuat Korrina terbunuh,  ia meneteskan beberapa air mata selagi menghindari semua serangan Sione, "Hiks... Korrina... Maaf..." Sione langsung menebas wajah Akina sehingga ia terdorong ke belakang dan terjatuh di atas tanah dengan tubuh yang lemas.


"Akina, kau berada di kondisi yang buruk saat ini, sudah saatnya kau menggunakan sihir Time Rewind. Kau bilang sihir itu akan kau gunakan di saat-saat sulit seperti ini bukan?" Tiba-tiba Akina mendengar suara seorang gadis di dalam pikirannya, gadis itu bernama Hikari dan Hikari adalah seseorang yang mewakili kekuatan dari Seven Heavenly Virtues.


"Dengan menggunakan sihir itu juga... Kau pasti akan bisa menyelamatkan Korrina yang sudah mati itu!!! Lakukan, Akina!!!"


Akina mulai mengeluarkan dorongan besar di sekitar Sione sehingga membuatnya terdorong ke belakang, "A-Apa...?" Sione menatap ke depan lalu ia melihat kedua mata Akina yang berubah menjadi hijau dan berlambang waktu, "HAAAARRRRRRGGGGGGHHHHHHHHHHHHHHH!!!" Teriak Akina keras sehingga Sione langsung melihat sekitar dimana semuanya seperti bergerak mundur termasuk dengan semua kehancuran yang disebabkan oleh Sione.


Sione juga melihat bahwa Korrina mulai meregenerasi dan daratan yang dipenuhi darah mulai melayang sehingga masuk ke kembali ke dalam tubuh Akina dan Korrina, "T-Tidak mungkin...!" Akina memiliki sihir waktu berjenis Time Rewind dimana ia bisa mengembalikan waktu selama sepuluh menit saja, tetapi ia akan dibatasi menggunakan sihir itu selama satu tahun.


SWOOOOOSSSHHHH!!!


Semuanya telah kembali di sepuluh menit yang lalu, Sione menatap Korrina dan Akina yang sedang menatap Sione dengan ekspresi mematikan mereka, "Aku tahu kau memiliki kekuatan atau sihir yang aneh." Korrina tersenyum serius.


"Sudah waktunya aku menendang bokong kau, Sione!" Akina memanggil tombak castitas-nya lalu ia memutar tombak tersebut, Korrina mengangguk dan ia sepertinya tidak mau ikut bertarung karena ia ingin melihat cara Akina bertarung.


"Akina...! Kubunuh kau...!" Sione langsung mengeluarkan dorongan yang besar sehingga mampu membuat poni rambut Akina bergerak. Sione langsung mengeluarkan satu pedang emas di tangan kanannya. "Kau meniru Excalibur ya...? Senjata yang cukup Legenda, sihir tiruan-mu itu mengingatkanku kepada Kakak-ku." Akina mulai bersiap untuk menyerang Sione. Korrina baru saja mendapatkan informasi tentang Arata dimana ia bisa meniru sesuatu.


Mereka berdua langsung bergerak menuju arah satu sama lain, Korrina tidak lupa untuk memasang ilusi ruangan juga agar mereka tidak dengan sengaja membuat akademi itu hancur, mereka langsung mengayunkan senjata mereka dengan kecepatan yang melampaui suara. Akina mencoba untuk menusuk anggota tubuh Akina tetapi ia tidak bisa karena cara berpedang Sione yang memilih untuk bertahan lalu menyerang, Sione terlihat seperti berhati-hati ketika melawan Akina. Akina langsung menambahkan tenaga serangannya sehingga ia langsung menyerang pedang Akina dengan tombaknya tanpa henti.


CLAAAAANG!!! CLAAAAANG!!!


Sione terdorong mundur dan mulai terpojoki karena serangan Akina yang bertubi-tubi. Akina menancapkan tombaknya tepat di atas tanah lalu ia melompat menuju arah Sione dan ia langsung menendang wajah Sione dengan kaki kanannya, tetapi Sione menahan tendangan itu dengan pedangnya.


BAMMMMMMM!!!


Tanah yang Sione injak retak karena injakan dari kedua telapak kakinya yang terasa kasar. Sione mendorong kaki Akina mundur lalu ia menendangnya, tetapi Akina melompat ke kiri lalu ia mengambil tombaknya dan ia mulai mengayunkan tombaknya lagi menuju arah Sione, dengan cepat Sione berhasil menghindari serangan Akina dengan melompat mundur selagi memutarkan tombaknya.


Tetapi Akina bergerak dengan cepat sehingga ia langsung menusuk perut Sione cukup dalam. *ZLASH!* Tusukan itu mampu mendorong Sione mundur ke belakang. "Sepertinya pertahanan-mu meningkat karena kau mengubah cara bertarungmu menggunakan tombak tersebut..."


"Yah... Begitulah, cara bertarungku itu macam-macam jadi aku tidak akan melakukan hal yang sama." Akina langsung meningkatkan aura silvernya sehingga itu membuat Sione lengah karena Akina sekarang berada tepat di belakangnya selagi mencoba untuk menusuk kepalanya menggunakan tombaknya. Mata kiri Sione sempat melirik ke belakang dan ia langsung menghindari serangan tusukan dari tombak itu. *SWOOSH*


Tombak itu langsung mengeluarkan dorongan dan gelombang shockwave yang sangat besar sehingga mampu membelah awan menjadi dua karena dorongannya. "Aku akan membunuh-mu." Akina langsung menebas punggung Sione dengan sangat cepat sehingga ia terpental ke depan.


Sione mulai berpikir cepat, pedangnya telah tertancap di atas tanah. Sione langsung mendorong dirinya sendiri ke atas langit menggunakan kedua telapak tangannya yang meluncurkan gelombang angin. Sione berputar lalu ia menciptakan sebuah busur. "RAPID ELECTROLYZE JAVELIN!!" Sione melepaskan panah kilat emas yang berjumlah banyak menuju Akina


"Chastity of Heavenly Strike!!!" Akina langsung menggerakkan tombaknya dengan sangat cepat seperti memutar-nya 360 derajat lalu Sione tidak bisa melihat kedua tangan Akina yang bergerak sangat cepat. Semua tombak itu mampu menangkis seluruh sihir panah yang Sione luncurkan. *BAMMM* Sione mendarat di depan Akina dengan wajah yang terlihat frustasi. "Kenapa kau mencoba untuk menyingkirkan Korrina?" Tanya Akina dengan ia menunjuk-nya menggunakan tombaknya. 


"Tidak banyak, tapi yang terpenting adalah Korrina harus disingkirkan jika tidak maka dia akan memenangkan turnamen ini lagi, turnamen ini tidak membutuhkan pemenang yang sama." Jawab Sione. "Dimengerti, kau majulah duluan, kau tidak sadar bahwa saingan Tournament of Solicitation saat ini ketat semua." Ucap Akina dengan nada yang terdengar kesal.


"Aku akan membunuh-mu langsung dengan satu serangan sihir..." Akina memutarkan tombaknya sehingga  tombak itu langsung bersinar cerah berwarna putih. Akina mulai memasukkan beberapa Lenergy ke dalam senjata itu. "Haaaaaa...!!!"


"Semua sihir atau serangan apapun yang akan kau gunakan itu tidak akan mempan kepadaku." Sione mulai menunjuk Akina dengan kedua lengannya lalu jari-jari mulai membuat sebuah segitiga. "Aku memiliki sihir pertahanan yang mampu menghentikan segala serangan-mu."


"Chastity..." Tiba-tiba Akina mencoba untuk meluncurkan gelombang cahaya putih melalui tombak-nya yang bernama Chastity Requiem Release. Aura Sione yang berwarna ungu mulai muncul dan bahkan membesar sehingga membuat dorongan di sekitar mereka. "Requiem..." Akina memutar tombak-nya dan tombak itu langsung bersinar cerah sekali, ia langsung berada di posisi untuk melempar tombak-nya menuju arah Sione. Kedua mata Sione langsung berubah menjadi warna ungu cerah "Trickery..."

__ADS_1


"RELEASE!!!" Akina melempar tombak-nya yang telah diberikan semua kekuatan yang sihir Chastity Requeim serap, tombak itu melesat cepat menuju arah Sione, tombak itu bergerak dengan sangat cepat... Bisa jadi Sione tidak sempat untuk mengeluarkan sihirnya. *SWOOSSH* Sione mulai tersenyum lebar. "...Endless Protection!!!"


BAMMMMMMMMM!!!


Tiba-tiba sebuah tembok besar yang berwarna ungu cerah mulai muncul tepat di depan Sione, tembok itu langsung menahan serangan Akina dengan sempurna sehingga tombak Akina tidak mampu membuat tembok itu retak. "Semuanya berakhir disini sekarang juga, Akina. TRICKERY REFLECTION!" Tembok itu bersinar lalu tombak yang mencoba menembus tembok milik Sione langsung terbang kembali menuju arah Akina dengan kecepatan penuh.


"Ahhh---" *SWOOSH* Kecepatan itu dapat membuat Akina dan Korrina terkejut, Akina tidak sempat menghindar dan Korrina tidak sempat untuk menyelamatkannya. Perut Akina telah tertusuk dengan tombak-nya sendiri. "Ah-ahhh... Guuugghhh!!!" Akina langsung memuntahkan darahnya yang cukup banyak lalu ia mulai berlutut di atas tanah dengan kondisi yang terluka, "Cih..." Akina mulai menunjuk luka tusuk-nya menggunakan kedua jarinya lalu ia perlahan-lahan mulai meregenerasi.


"Korrina, aku serahkan sisanya kepadamu!!!" Teriak Akina dengan nada yang lemah sehingga ia langsung menghilang tombak kemurniannya. Korrina lari menghampiri Sione dengan sangat cepat. "KAU AKAN MEMBAYARNYA...!!!" Kedua mata Korrina langsung berubah menjadi warna silver dan kedua tinjunya mulai terlindungi oleh api sacred berwarna biru muda. "SACRED... GRUDLESS STRIKE!!!" Korrina menghantam tembok yang menghalangi Sione dengan sangat keras.


BAMMMMMMMMMM!!!


Tembok itu langsung hancur dan mampu membuat mereka berdua terpental mundur ke belakang. Aura putih Korrina mulai muncul dan bahkan membesar, "Shinsei-no-muramasa!!!" Korrina mulai memanggil katana-nya yang dilumuri dengan api-api sacred biru tua, "Aku akan menebas-mu menjadi daging-daging kecil!" Kedua pupil Korrina mulai terbakar dengan api biru tua.


"Cih... Sialan! Anggota keluarga Comi sepertimu seharusnya dibasmi, Korrina!!! Hanya nona Sabrina-lah yang pantas untuk memiliki ilusi dan kecerdasan yang jauh lebih unggul darimu!" Teriak Sione dengan sangat kesal, Korrina bisa merasakan kekuatan dan pertahanan-nya meningkat karena kedua matanya yang ungu cerah itu. "Trickery Adaptation!" Ternyata Sione menggunakan sihir yang mampu meningkatkan kekuatan dan pertahanan-nya menggunakan sihir ilusinya yang mampu meniru atribut seseorang yaitu atribut Korrina sendiri, "Yang palsu rumornya akan selalu menang bukan...? Aku akan tunjukkan bahwa semua itu salah!"


"Menghabiskan waktu saja... Level yang aku berada saat ini adalah level dimana aku telah mencapai kekuatan dimana aku mampu mengalahkan para dewa dan dewi...!" Korrina mulai menatap Sione dengan tatapan yang sangat tajam.


"Ohh... Omongan yang cukup kuat, tunjukkanlah semua kekuatan yang keluar dari mulutmu itu." Ucap Sione dengan wajah yang terlihat serius. Korrina mulai melakukan kuda-kuda berpedangnya dan ia tersenyum sinis karena ia tidak sabar untuk mengalahkan Sione secepatnya dan ia sudah memiliki tujuan untuk membunuhnya karena sudah menipu banyak orang. Mereka berdua langsung terbang ke atas, Sione menunjuk Korrina dan ia langsung mengeluarkan sihir Rapid Electrolyze Javelin  lagi, tetapi Korrina dengan cepat langsung menghindari sihir itu dengan sangat mudah.


Korrina bergerak mundur dan menghindari semua panah-panah itu yang berjumlah cukup banyak, ia berencana untuk bertahan saat ini dan dia akan menyerang ketika ia melihat celah yang pas untuk ia serang. Korrina dengan cepat langsung menangkis semua panah itu menggunakan katana-nya dengan cara mengeluarkan katana itu dari sarung-nya lalu memasukkan-nya lagi.


BAMMMMMMMMM!!!


Aura silver Korrina langsung membesar, Sione bergerak menuju arahnya dengan sangat cepat. Kedua mata Korrina langsung bersinar cerah, mereka berdua mulai langsung saling mengadu senjata mereka mulai dari pedang kegelapan yang Sione pegang saat ini karena pedang Excalibur yang palsu itu tidak terlalu kuat, pedang dan katana mereka yang teradu mampu membuat awan di sekitar mereka terdorong sampai hilang.


Korrina menebas wajah Sione dengan sangat cepat. *SLASH* Sione menyerangnya balik dengan mencoba untuk menebas wajahnya, tetapi Korrina bergerak cukup cepat sehingga serangan dari pedang itu melewati wajahnya. *SWOOSH* Korrina langsung menebas perutnya beberapa kali lalu ia melanjutkan kombinasi itu dengan menghantam sarung katana yang ia pegang ke perut Sione sehingga membuat Sione memuntahkan darah yang cukup banyak. *BAMM!* Setelah itu Sione berhasil menebas perutnya, Korrina berputar 360° lalu ia menendang wajah Sione dengan sangat keras dan ia melanjutkan serangan itu dengan menghantam wajah Sione menggunakan sarung biru-nya *BAMM!*


Tendangan itu mampu membuat Sione terjatuh di atas tanah dan membuat daratan retak sehingga membuat sebuah lubang yang besar di tanah tersebut. Korrina melayang di atas lalu ia mengangkat katana dan sarung katana-nya dan ia langsung memfokuskan Lenergy-nya menjadi satu dan saat itu terjadi, sirkuit sihir mulai muncul di belakang punggung Korrina, Sebuah bola besar berwarna biru muda muncul di ujung katana dan sarung-nya. "HAAAAAAAAAAA....!!!! SACRED BURNING METEORITE!!!" Korrina langsung mengayunkan katana dan sarungnya beberapa kali sehingga membuat bola energi itu melesat menuju arah Sione sehingga bola api sacred itu langsung pecah dan mengeluarkan gelombang sacred kecil yang berjumlah sangat banyak.


Ketika Sione menatap ke atas, seluruh tubuhnya sudah terkena oleh sihir milik Korrina. *BAMM!!!* "UAAAAGGGGHHHHHH!!! SIALAN...!!! GRRRR...!!! TRICKERY WALL OF PERFECTION!!!" Sione langsung mengeluarkan sihir ungu cerah-nya sehingga aura-aura ungunya langsung membuat tembok besar di atasnya yang mampu melindunginya dari semua sihir yang Korrina luncurkan. Korrina tidak berhenti karena ia bisa merasa bahwa ia masih memiliki banyak Lenergy karena sirkuit sihirnya.


*SWOOSSH!!!* Secara bersamaan mereka muncul tepat di atas langit selagi mengayun senjata mereka ke arah satu sama lain. Kedua mata Korrina bersinar dan ia mampu menangkis pedang Sione lalu ia menyerangnya dengan menebas wajahnya dengan sangat cepat. *SLASH!* Tebasan itu mampu membuat Sione kesal sehingga ia menendang perut Korrina dengan kedua kakinya, *BAM!* Korrina terdorong mundur lalu ia menatap Sione dengan tatapan yang terlihat tajam. *SWOOSH!* Sione muncul tepat di belakangnya, tetapi Korrina dengan cepat berputar lalu menebas wajah Sione lagi. *SLASH!* Tebasan itu langsung mendorongnya mundur, Korrina langsung mencoba untuk mengeluarkan sihir lainnya di katananya dan Sione langsung mengikutinya dengan mencoba untuk mengeluarkan sihir di mulutnya. "SACRED POWER BALL!!!" Korrina melemparkan bola energi berwarna biru muda yang di lapisi dengan aura silver melalui katana-nya, bola sihir itu melesat menuju arah Sione. "TRICKERY TOXIC BREATH!!!" Sione melepaskan asap emas di mulutnya menuju sihir milik Korrina.


Sihir mereka langsung teradu sehingga sihir mereka berdua langsung meledak. *BAMM!* Mereka muncul di atas selagi mengayunkan senjata mereka ke arah satu sama lain, tetapi Korrina dengan cepat langsung menendang kedua tangannya dan ia melanjutkan tendangan itu dengan menusuk perut Sione secara bertubi-tubi dengan menggunakan katana serta sarungnya. *BAM! BAM! BAM!* Sione berhasil menyerang balik dengan menendang-nya mundur, tetapi Korrina bergerak maju dengan menendang wajah Sione dengan sangat keras sehingga ia terdorong mundur. *BAM!* Terdapat banyak sekali luka tebasan dan tusuk diseluruh tubuh Sione, perlahan-lahan ia mulai menyembuhkan luka-luka tersebut.


Sione langsung mulai merasa sangat amat kesal, seluruh auranya mulai membesar seperti api yang bergejolak tinggi. "GRRR... TRICKERY TRANSFORMATION!!!" Seluruh tubuh Sione langsung bersinar ungu cerah sehingga bajunya terbakar oleh auranya sendiri dan menunjukkan pakaian dalamnya, Korrina bisa melihat bahwa itu adalah wujud tipuan dari Legenda yang bernama Ultra Power Legenda dan wujud itu mampu membuat kekuatan bertambah di setiap detik-nya dan tidak ada batasnya, ia bisa merasakan pertahanan-nya semakin tebal juga. Perut otot Sione langsung membesar. "Cih..." Korrina mulai menjilat katananya yang dilumuri darah lalu ia mengangkat katana-nya ke atas sehingga katana itu dilumuri dengan api sacred yang lebih panas dari sebelumnya.


BAMMMM!!!


Korrina bergerak menuju arah Sione lalu ia menebas wajah Sione dengan sangat cepat. *SLASH!* Tebasan itu tidak membuat Sione terdorong dan bahkan ia tidak merasakan apapun dari tebasan tadi, Sione dengan cepat menyerang balik, ia menarik lengan kanannya lalu ia melempar Korrina menuju arah daratan. *SWOOSH!* Sione muncul tepat di depan Korrina lalu ia menusuk dadanya dengan sangat dalam. *BAMM!* "Uaaagghhh...!!!" Dengan tusukan tadi, Korrina langsung memuntahkan darahnya dari mulutnya dan ia secepatnya langsung menyembuhkan luka tusuk itu, Sione tidak berhenti karena ia langsung memegang wajahnya lalu ia melemparnya ke atas langit.


*SWOOSSH* Sione muncul tepat di depan Korrina dan mereka mulai saling mengayunkan senjata mereka ke arah satu sama lain. Dan sejak kejadian itu, perut Akina mulai perlahan-lahan teregenerasi karena bantuan dari sihir kesuciannya, "Aku... Aku tidak cukup kuat untuk melawan ilusi-nya, bahkan jika kami bekerja sama, aku yakin ilusi yang dimiliki Sione sangatlah kuat." Ucap Akina dengan wajah yang terlihat kesal, Hikari tiba-tiba mulai memperingati Akina dan menyemangati-nya, "Kau harus percaya kepada sihir dan kekuatanmu sendiri... Kau juga harus percaya kepada Korrina, karena sihir kalian itu sangatlah cocok untuk dijadikan sebagai bahan kerja sama!" Ucap Hikari yang sedang berbicara di dalam kepalanya.


Akina langsung merasa percaya diri karena ucapan Hikari. Ia bangkit lalu ia melepas bajunya yang sudah setengahnya robek, untungnya Akina masih memakai baju yang tipis dan mampu membuatnya bergerak lebih cepat. Auranya mulai membesar seperti aura milik Korrina saat ini, aura mereka memiliki warna yang sama. "Aku... Terbakar penuh semangat untuk membunuhnya." Akina mulai memanggil tombak Chastity dan Charity, ia mulai memegang erat kedua tombak itu, Korrina langsung terpental menuju arah Akina, tetapi Akina menangkapnya lalu mereka berdua mendarat bersama di atas tanah.


"Akina...?" Korrina langsung terkejut bahwa Akina telah kembali dan siap untuk bertarung, Akina menurunkan Korrina lalu ia memeluknya dengan sangat erat. "Aku kira kau akan mati..." Ucap Korrina sehingga membuat Akina terkejut, pelukannya itu terasa sangat nyaman sehingga Akina mulai terasa seperti dipeluk oleh ibu-nya sendiri. Akina tertawa, "Ahahaha! Saat ini kita tidak memiliki waktu untuk berpelukan." Jawab Akina.


"Oh, maaf." Korrina berhenti memeluk Akina lalu ia menatap Sione yang sedang melayang di atas langit. "Pertahanan-nya dan kekuatannya cukup meningkat, sepertinya pertarungan ini akan berjalan "


"Kita bersama pasti bisa ketika kita bertarung bersama dan mempercayai sihir kita sendiri." Akina memegang tangan kanan Korrina lalu aura mereka langsung membesar dan bahkan menggabung menjadi satu, aura silver yang bersinar cerah, "Akina...?" Tanya Korrina dengan ia menatap Akina yang sedang memejamkan kedua matanya. Beberapa saat kemudian, Akina langsung membuka kedua matanya dengan sangat lebar dan Korrina bisa melihat bahwa kedua matanya telah berubah menjadi warna silver. "Lenergy-mu meningkat tanpa ada batasan sedikitpun" Korrina langsung terkejut melihat itu karena Akina terlihat sangat serius sekarang.


"Ayo, Korrina." Ucap Akina dengan ia langsung melakukan kuda-kudanya dalam bertarung dengan dua tombak yang ia pegang, Korrina mengangguk dan ia langsung menunjukan senyuman lebarnya, ia mulai melakukan kuda-kuda berpedangnya.


SWOOOSSSH!!!


Mereka berdua langsung bergerak maju menuju arah Sione dengan sangat cepat sehingga ia tidak melihat tebasan yang Akina kerahkan, tebasan itu mengenai wajah Sione. *SLASH!* Tebasan itu dilanjutkan dengan Korrina yang langsung menebas dagunya dengan sangat cepat. *SLASH!* Dan yang terakhir Akina dan Korrina langsung menebas perutnya bersamaan dengan cara bertubi-tubi. *SLASH! SLASH! SLASH!*

__ADS_1


Korrina bergerak laju menuju arah Sione lalu ia menebas wajahnya dengan sangat cepat sehingga ia terpental ke atas langit. *SLASH!* Akina muncul di depannya lalu ia menebas puncak kepalanya dengan kedua tombaknya. *SLASH! SLASH!* Tebasan tersebut langsung membuat Sione terpelanting menuju daratan.


BAAMMM!!!


Sione bangkit kembali dengan rautan wajah yang kesal dan luka-lukanya mulai kembali pulih, dengan cepat ia langsung mengeluarkan sihir Trickery Toxic Breath-nya lagi menuju arah mereka berdua tanpa henti. Mereka berdua langsung menghindari semua sihir itu dengan kecepatan yang setara dengan suara. *SWOOSH*


Korrina sudah mulai merasa kesal melihatnya masih terus mengeluarkan sihirnya, ia langsung mengangkat kedua senjatanya lalu ia meluncurkan sihir-nya yang bernama Sacred Burning Meteorite lagi menuju arah Sione, dengan itu Sione langsung berhenti sehingga ia mulai menghindari semua sihir milik Korrina. Sione bergerak menuju arah Korrina, tetapi Akina bergerak menujunya dengan kecepatan yang sama. Senjata yang mereka pegang langsung terhalangi oleh aura mereka masing-masing, dan setelah itulah... Senjata mereka yang dahsyat langsung teradu dengan satu hantaman sehingga Sione sempat menebas mata kirinya dengan tepat sasaran sampai itu memberi bekas luka yang tidak akan bisa disembuhkan. "UGH...!!!" Mata kiri Akina langsung berdarah dan beruntungnya ia masih bisa melihat menggunakan mata kirinya.


BAMMMMMMMMM!!!


Hantaman tersebut mampu membuat dorongan, shockwave, dan guncangan yang sangat amat besar sehingga tanah-tanah yang mereka injak mulai retak. Hantaman tadi juga memiliki guncangan yang sangat besar sehingga mampu membuat daratan mengeluarkan lava yang sangat panas. Sione dan Akina mendarat di atas daratan, Sione menatap Akina dengan tatapan yang sangat kesal tetapi Akina menatapnya dengan tatapan yang terlihat tenang sekarang. "Sial... Kau mampu bermain kasar juga." Akina menutup mata kirinya karena mata kirinya sedang mengeluarkan darah yang cukup banyak dan sihir penyembuhan miliknya tidak berguna sama sekali.


"GAAAAHHH!!!" Sione langsung bergerak maju menuju arah Akina lalu ia mengayunkan pedangnya tanpa henti, tetapi Akina berhasil menangkis semua serangan itu dengan kedua tombaknya. Setelah ia menangkisnya, Akina berputar 620° lalu ia menebas perut Sione menggunakan kedua tombak yang ia pegang. *SLASH!!!* "UOOOGGGGGGGHHH!!!" Tebasan itu langsung membuatnya terpental mundur. *SWOOSH!* Korrina muncul tepat di depan Sione lalu ia menebas dadanya dengan sangat cepat menggunakan katana-nya. *SLASH!* Sione terpental mundur lagi sehingga memuntahkan banyak sekali darah, lalu Korrina mendarat di atas tanah yang terasa panas. "Serahkan ini kepadaku."


"Ya." Akina mengangguk, kedua senjata Korrina langsung mengeluarkan dua Sacred Power Ball. "Sacred Power Rush." Korrina langsung bergerak menuju arah Sione yang sedang memegang dadanya yang baru saja tertusuk oleh Korrina. Sione menatap Korrina lalu ia mulai merasa kesal sehingga mulutnya langsung meluncurkan sihir Trickery Toxic Breath lagi menuju arah Korrina.


Korrina mulai menunjukkan wajah yang terlihat sangat serius, ia melompat ke depan selagi berputar dan menghindari semua asap ungu itu, ia tiba di belakang Sione tanpa dirinya menyadari bahwa Korrina sedang berada di belakangnya selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat mematikan. Korrina dengan cepat langsung melempar kedua sihirnya menuju arah Sione dengan sangat cepat sehingga Sione sempat melirik ke belakang tetapi tidak sempat menghindari sihir-sihir itu. *BAMMM!!!*


Kedua sihir itu mengenainya sehingga mampu mengeluarkan asap abu yang cukup besar. "Haaaaaa...!!!" Kedua senjata Korrina langsung bersinar warna silver, ia menunjuk Sione dan ia langsung mengayunkan kedua senjatanya sehingga meluncurkan beberapa gelombang tebasan biru tua yang melesat menuju arah Sione. *BAM! BAM! BAM!* Sione mulai merasakan kesakitan yang sangat dahsyat karena terkena gelombang tebasan-tebasan itu. "GUUUOGGGGHHHHHHH!!!" Katana Korrina mulai terlumuri dengan partikel putih serta cahaya putih, ia menunjuk katana-nya ke arah Sione selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat mematikan. "Ini semua yang aku punya... SHINSEI... NO... VANISH!!!" Korrina meluncurkan gelombang tebas yang berpartikel putih menuju arah Sione dengan sangat cepat.


BAMMMMMMMM!!! SWOOOOOSSH!!!


Gelombang tebasan itu mampu membuat ledakan yang cukup besar sehingga semua asap-asap yang menghalangi seluruh tubuh Sione langsung terserap oleh bola energi itu. Korrina langsung terdiam dan menatap ledakan yang berada di depannya. "... ..."


Akina muncul di sebelah Korrina dengan wajah yang serius. "Serahkan sisanya kepadaku sekarang." Sione langsung meledakkan dirinya dengan sangat besar sehingga ia mulai mengamuk, ia terlihat masih bertahan sampai sekarang. "AAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!"


Sione bergerak menghampiri Akina, Akina dengan cepat menendang wajahnya, tetapi Sione menahannya. Akina berputar lalu ia menebas wajah Sione dengan cara bertubi-tubi. *SLASH! SLASH! SLASH!* Sione terpental mundur, tiba-tiba dua buah bola energi yang besar muncul di kedua tangannya. "TRICKERY CATASTROPHE!!!" Sione melempar kedua bola energi besar yang berwarna ungu itu menuju arah Akina.


Seluruh tubuh Akina langsung bersinar warna silver, "'CHASTITY PROTECTION REQUIEM!!!" Tubuh Akina mampu menyerap gelombang tersebut, ia bergerak ke kiri dan berhasil menebas wajah Sione beberapa kali. *SWOOSH!* Dengan cepat Akina bergerak maju menuju Sione lalu ia menusuk wajahnya dengan sangat dalam. *BAM!* Sione terpental mundur lalu ia menembakkan panah-panah berwarna ungu menuju arah Akina, tetapi Akina menghindari semua sihir itu dengan menginjak semua panah tersebut. *SWOOSH!* Akina muncul tepat di depannya lalu ia mulai menebas dan menusuknya tanpa henti sehingga Sione tidak bisa menyerangnya balik.


Akina terus menebas wajahnya tanpa henti. *SLASH! SLASH! SLASH!* Tombak Chariy Akina mulai bersinar warna silver. "CHARITY CATASTROPHE BLOW..!!!" Akina menusuk erut Sione dengan tombak Charity-nya yang bersinar cerah sehingga perutnya langsung mengeluarkan darah yang banyak sekali. *BAM!* Akina berputar ke belakang lalu ia mendarat di atas tanah.


"Ini serangan terakhirku." Aura Akina mulai membesar, ia langsung bergerak menuju arah Sione dengan kecepatan yang melebihi kecepatan suara. "GRAAHHHH!!!" Sione menebas kepala Akina, tetapi ia menangkis pedang tersebut dengan kedua tombaknya. *BAM!* Senjata Sione dan kedua tombak Akina yang teradu mulai mengeluarkan guncangan besar yang mampu menghancurkan daratan yang mereka injak. Akina menendangnya mundur lalu ia terbang menghampirinya. "HAAAHHHGG!!!" Akina menusuk perutnya lagi dengan kedua tombaknya yang bersinar sehingga Sione langsung memuntahkan darah yang sangat banyak. *BAM!* "GUUUUUGGHHH!"


Akina menusuk perutnya lagi dengan sangat dalam. *ZLASH!* Sione terpental mundur dan Akina masih belum selesai, ia muncul tepat di depan Sione lalu ia menebas perutnya lagi tanpa henti. Sione mulai terjebak di aura silver milik Akina.  "HAHHHHHH!!! CHARITY'S DOMAIN CAGE" Akina mengangkatnya ke atas sehingga Sione langsung melayang di atas berkat aura milik Akina.


Akina mulai melompat mundur dan ia mulai menarik nafasnya dalam-dalam. "Fuhhh..." Korrina dari belakang sedang menatapnya, ia tersenyum sehingga kedua matanya kembali seperti semula. Akina menghilangkan tombak Charity-nya lalu ia mulai menggerakkan tangan kirinya ke belakang sehingga sebuah bola energi kecil muncul di tangan kirinya dan mulai perlahan membesar.


"Virtues..." Akina mulai mengisi energi sihirnya untuk mengeluarkan gelombang sihir yang bernama Virtues Holic Release yang terkuat, sihir gelombang yang ia kumpulkan dari semua makhluk yang bersikap baik, Sione langsung ketakutan melihat itu karena ia tidak bisa bergerak, ia terjebak di dalam aura milik Akina. "Holic...!!!" Akina mengeluarkan dorongan yang besar di sekitarnya. Korrina menghampiri Akina lalu ia meraba punggungnya sehingga sihirnya langsung membesar. "Korrina...?" Akina melirik ke belakang.


"Lakukanlah!" Ucap Korrina dengan wajah yang terlihat serius. Akina mulai tersenyum. "RELEASE!!!" Teriak Akina dan Korrina bersamaan, Akina meluncurkan gelombang yang sangat amat besar menuju arah Sione sehingga Sione langsung menatap gelombang itu dengan tatapan pasrah. "Apa-apaan ini... Ini bukan rencananya..."


BAMMMMMMMMMMMM!!!


Gelombang itu membawa Sione menuju ke luar angkasa sehingga sihir Akina meledak di luar angkasa dengan sangat dahsyat dan tidak menjaminkan bahwa Sione masih hidup, ia benar-benar telah mati menjadi partikel kecil. "Hah... Hah... Hah..." Akina mulai kelelahan, kedua matanya kembali seperti semua lalu ia berlutut di atas tanah dengan wajah yang lelah. "Hahh... Hah... Hah..." Korrina mulai berlutut di belakangnya lalu ia mulai menepuk punggungnya. "Kerja bagus!"


Korrina mulai mengembalikan mereka ke taman akademi, Korrina membantu Akina berdiri dan ia mulai perlahan-lahan memulihkan kembali kondisi mereka berdua, "Kenapa mereka semua yang memiliki sihir ilusi selalu saja membenci dan ingin menyingkirkanmu, Korrina?" Tanya Akina penasaran.


"Mereka hanya iri terhadap bakat hebatku, aku adalah putri kedua dari keluarga Comi dan kecerdasanku mampu melampui kakak dan adikku, bahkan aku memiliki ilusi yang jauh lebih kuat dan hebat dari mereka juga." Korrina menyilangkan kedua lengannya, "Kita harus melakukan cara yang sama juga, kita sudah menyingkirkan Sione, soal peraturan kita bisa urus nanti karena aku tahu bahwa Morgan pasti mengerti dengan situasi yang kita hadapi saat ini. Kita harus menyingkirkan Sabrina dan Katrina sebelum dia melakukan sesuatu yang lebih buruk lagi." Ucap Korrina, Akina mengangguk.


"Sepertinya tidak banyak peserta yang terkena tipuan dari Sabrina dan Katrina, aku hanya khawatir terhadap kakakku saja sih. Rencana mereka masih belum seratus persen terjalani sebelum mereka benar-benar menyangka bahwa kaulah yang melakukan semua ini, Korrina."


"Ayo! Kita secepatnya mengakhiri semua konflik dan permasalahan aneh ini, mari kita bergegas bertemu dengan Shira dan kelas tiga lainnya untuk melaporkan tentang kelas empat yang terus bermacam-macam bersama kelas kita. Kita berdua bisa menghentikan rencana mereka dengan mudah." Korrina mengulurkan lengan kanannya kepada Akina, Akina tersenyum lalu ia mengulurkan lengan kirinya ke arah tangan kanan Akina, "Hm! Mari kita lakukan, kita bisa menghentikan mereka semua!"


ZLASSSHHH!!!


Tiba-tiba Korrina menusuk dada Akina menggunakan telapak tangan kanannya yang dilumuri dengan aura sacred, aura sacred itu berbentuk seperti pedang yang sangat tajam, beruntungnya tusukan pedang itu meleset mengenai jantung milik Akina yang terlindungi dengan kekuatan dari Seven Heavenly Virtues, "GAHHH...!!!" Akina memuntahkan darah banyak sekali melalui mulutnya serta dengan dadanya yang mulai meneteskan beberapa darah suci, "Ini menjadi yang kelima kau tertipu dengan ilusi kami semua." Korrina berubah menjadi Katrina lalu ia tersenyum sinis karena Akina memanglah gadis yang bodoh karena mudah mempercayai seseorang.

__ADS_1


"Sepertinya aku berhasil meniru perbuatan dan tingkah laku kakak-ku yang bernama Korrina itu" Katrina menarik keluar tangan kanannya lalu ia mendorongnya mundur sehingga Akina tergeletak di atas tanah, "Kau juga baru saja membantuku menyingkirkan Sione." Katrina mulai menjilat bibirnya.


"Kau sangatlah berguna, terima kasih, Akina." Katrina tersenyum sinis.


__ADS_2