
"Apa yang kamu maksud soal berandalan itu? Aku tidak menyangka ibumu akan seperti itu..." Minami masih terlihat kebingungan, Legenda yang paling baik hati bisa bersikap berandalan seketika.
"Mama yang memberitahuku tetapi insiden yang terjadi sejak dulu bukan dia penyebabnya, hanya saja dia yang menjadi korban fitnah dan semacamnya..." Kata Kou.
"Jika mereka membenci Korrina maka kau juga sama, Kou. Kau bahkan mirip sekali dengannya..."
"Um... Rambut ibuku sejak itu pirang? Dan aku terlihat seperti versi kecilnya, semuanya akan berjalan aman kok." Jawab Kou lalu ia mengeluarkan bibit emas itu dan menunjukkan kepada Minami.
"Mau kembali bekerja?" Tanya Kou, Minami mengangguk lalu mengangkat tubuh Kou untuk melompat menuju daratan lalu menghampiri para Neko Legenda yang sedang beristirahat.
"Aku kembali membawa semua barang yang kita butuh kan." Minami mulai menghampiri lapangan luas lalu menanam bibit tersebut sehingga menumbuhkan bunga besar yang mengeluarkan beberapa bahan kebutuhan membangun.
Semua Neko Legenda itu tercengang ketika melihat banyak sekali barang dan bahan mulai berjatuhan, mereka bergegas kembali bekerja menggunakan semua barang dan bahan itu.
Minami tersenyum melihat bangsa Neko Legenda sangat pintar untuk membangun tempat tinggal karena insting semut dan lebah yang dapat menciptakan tempat tinggal sendiri.
Mereka juga bahkan melakukannya dengan usaha dan kerja yang keras sampai kepala pembangun mulai menghampiri Minami.
"Terima kasih karena sudah memberikan kami bahan-bahan untuk melanjutkan pembangunan itu, hanya butuh dua jam dan semuanya selesai, ibu alam."
"Ibu alam...?" Ungkap Kou, ia mulai melihat Minami benar-benar terlihat seperti ibu alam karena tekadnya untuk membantu bangsa Neko Legenda berubah dan beradaptasi.
"Siapa gadis kecil Legenda biasa yang kamu bawa ini? Ia tidak memiliki ekor dan telinganya..." Kepala pembangun itu mulai menatap Kou dengan tatapan waspada.
"Kamu tidak harus khawatir dengan Legenda biasa yang aku bawa ke sini, mereka semua baik-baik dan tentunya menyukai bangsa Neko Legenda juga." Kata Minami yang mulai mengelus kepala Kou.
"Ahh, jadi begitu... sepertinya aku masih merasa trauma sejak itu. Semua teman baik ibu alam adalah teman baikku juga, salam kenal, saya Meko." Kepala pembuangan itu mengulurkan lengannya pada Kou.
"Senang bisa bertemu dengan bangsa Neko Legenda lainnya, aku Kou..." Kou tersenyum lalu berjabat tangan dirinya, Meko tiba-tiba merasakan sesuatu yang tidak asing ketika melihat wajah dan tatapannya itu.
"Tunggu... kamu terlihat mirip dengan seseorang yang aku kenal sejak itu..."
"Ehh...? Yah, era sekarang banyak sekali orang yang pasti memiliki kesamaan? Bukannya begitu?" Tanya Kou kepada Minami.
"Dia adalah ratu Touriverse, karena bantuan dirinya tidak ada lagi yang namanya kerajaan atau bangsawan yang memimpin Legenda..."
"...bisa di bilang semua sudah ia urus dan sekarang takdir bangsa kita akan aman-aman saja berkat bantuan Kou. Hanya saja kita belum siap untuk menunjukkan Neko Island kepada seluruh alam semesta." Kata Minami.
"Ratu Touriverse...? Apa itu...?" Meko terlihat kebingungan dan Kou langsung menjelaskannya.
"Hmm... Jadi begitu, ternyata zaman sudah berubah begitu cepat ya, berbeda sekali dengan dulu yang dipenuhi kesusahan dan tekanan karena adanya bangsawan juga kerajaan." Kata Meko.
"Untuk sekarang, kamu tidak perlu mengingat masa lalu. Aku jamin semuanya akan aman-aman saja, intinya Minggu depan kita akan mempelajari tentang sesuatu."
Perkataan Minami membuat Meko mengangguk lalu ia kembali bekerja dan membangun, Kou menghela nafasnya lega karena ia hampir saja diketahui oleh seseorang.
"Sepertinya memang tidak aman untukmu di sini ya, Kou. Percuma saja kamu menyambar karena wajah dan tatapan itu..." Minami terkekeh pelan.
"Hahaha, tidak apa. Berandalan yang aku maksud itu nakal..." Jawab Kou, membuat Minami kebingungan.
"Heh? Maksudmu berandalan itu sama dengan nakal?"
"Iya, itu yang selalu Mamaku katakan padaku, jika aku nakal maka aku akan menjadi berandalan?" Tanya Kou, Minami langsung tertawa dan mengelus kepalanya, mungkin ia terlalu pikir lebih jauh dari arti berandalan itu.
"Tetapi aku sempat membacanya seperti buku, dia mengenal wajahku mirip dengan seseorang penjaga surga... kematian bangsa Neko Legenda bukanlah hal yang sia-sia bagi mereka."
__ADS_1
"Mereka sempat menikmati sesuatu yang begitu indah dan menyenangkan yaitu surga, di jaga ketat oleh Mamaku yang baru saja di angkat menjadi pemilik surga." Kou tersenyum kepada Minami lalu perhatiannya tertarik pada patung Kucing.
"Whoa! Apa tuh...!" Kou menunjuk patung besar di hadapannya.
"Itu sebuah patung kucing yang melambangkan kita semua, hanya di jadikan sebagai dekorasi dan tempat untuk menyiarkan sebuah pengumuman." Minami mulai menunjuk sebuah papan di sebelah patung itu.
"Papan ini juga menyediakan banyak pekerjaan yang begitu berbeda." Minami bisa melihat beberapa kertas yang sudah tertempel, Kou menatap semua itu lalu melihatnya satu per satu.
"Semuanya juga membutuhkan kebutuhan yang berbeda-beda, mau aku pesankan?" Tanya Kou.
"Tidak usah, aku tidak terlalu ingin mengandalkan dirimu... Aku juga harus bisa berusaha sendiri." Jawab Minami karena ia tidak ingin mengandalkan siapa pun dalam pekerjaan ini.
"Hehhh... Padahal kita teman, butuh uang juga? Aku ada banyak, mau?" Tanya Kou dengan senyuman polosnya.
"Tidak usah, aku tidak ingin mendapatkan penghasilan itu melainkan bagaimana cara mendapatkannya, kamu pasti mau membantuku bukan?" Tanya Minami.
"Tentu~ Sebelum itu biarkan aku memberimu 1 biliun Legend's Diamond..." Kata Kou sambil menyentuh kacanya.
"Jangan!!!"
***
Minami dan Kou saat ini berkeliaran di desa untuk melihat semua bangunan yang terlihat unik bahkan Kou sempat melihat banyak sekali lambang kucing dimana-mana.
"Sudah seperti desa besar ya... semua penduduk terlihat sangat senang dan menikmati kehidupan kedua mereka di Yuusuatouri." Kata Kou.
"Ya, aku juga senang mereka masih bisa bersenang-senang di kehidupan ini walaupun pernah merasakan sebuah penderitaan yang besar..." Minami melirik ke sebelah kanan dan Kou menghilang entah kemana.
"Kou...?!" Minami mulai panik ketika kehilangan dirinya, ia baru saja ingat bahwa tubuhnya sangat kecil dan gampang tersesat jika tidak diperhatikan sedikit pun.
"Kou...?" Minami mulai menatap toko yang ia lihat dan ternyata sebuah toko yang menjual madu alami, di ambil langsung dari lebah dan sarang itu.
"Minami, bolehkah aku mencoba madu itu?" Tanya Kou selagi menunjuk ke depan.
"Ya, boleh saja..." Sebelum Minami menjawab, Kou sudah masuk sambil melihat-lihat sekeliling, banyak sekali kandang lebah dan madu alami di dalam sebuah botol.
Minami mulai masuk ke dalam toko itu dan melihat sang pedagang mulai menundukkan kepalanya kepada Kou, "Selamat datang, ibu alam."
"Sepertinya Anda membawa seorang Legenda biasa..." Ucap sang pedagang selagi menatap Kou yang melihat-lihat semua madu itu.
"Ini benar-benar buruk... Neko Legenda memang memiliki dendam dan rasa waspada kepada Legenda biasa, aku harus bisa menjelaskannya sebelum terjadi permusuhan." Ungkap Minami yang mulai menceritakan Kou kepada pedagang itu.
"Ahh... temanmu ya. Kalau begitu selamat datang dan silakan coba-coba madunya."
"Madu kopi... Aku ingin coba madu kopi." Kou menunjuk sebuah botol yang memiliki tulisan 'Madu kopi' di atas rak.
"Madu kopi sepertinya tidak baik untukmu, nak. Madu itu hanya untuk mengatasi insomnia dan daya tahan tubuh..."
"Aku beli semuanya!" Kou merasa bersemangat ketika mendengar manfaat madu kopi dapat meningkatkan daya tubuhnya itu dan ia juga sudah pasti bisa tidur nyenyak dengan meminumnya.
"Semuanya?!"
"Ya... Berapa?"
Minami hanya bisa terkekeh pelan melihat Kou dan pedagang itu mulai membahas soal madu, sekarang sisanya ia tinggal mengurus soal makanan yang di sukai oleh bangsa Neko Legenda.
__ADS_1
Meko mulai mendatangi Minami hanya untuk melapor kepadanya soal restoran dan toko makanan lainnya, "Ibu alam..."
"Ya, kenapa?"
"Sepertinya koki Neko Legenda kami tidak mampu memasak sesuatu yang baru, bukannya di era seperti ini kita membutuhkan sesuatu yang baru?"
"Aku sendiri merasa cukup muak makan sesuatu yang mentah..." Ucap Meko, pikiran Minami langsung mengingat soal Arata, seorang koki yang ia anggap sebagai terbaik.
"Kalau begitu, aku akan mengurusnya sebentar lagi." Kata Minami, Meko berjalan pergi meninggalkan toko madu itu lalu ia menoleh kepada Kou yang saat ini sedang memegang botol madu yang besar.
"Kou, mau ikut?"
"Kemana?"
"Restoran Shimatsu." Ketika Minami berbicara seperti itu, mood Kou hancur seketika sehingga ekspresinya yang tadinya senang berubah menjadi kesal.
"Tidak mau... aku tidak ingin melihat Shuan di sana." Jawabnya.
"Kamu ternyata marah kepada adikku ya... kalau begitu menculik seorang koki mau?"
"Arata? Hm! Aku juga ingin dia membuat diriku sebuah hidangan lezat menggunakan madu kopi ini." Kou mulai memberikan botol madu itu kepada Minami dan ia mengubahnya menjadi bibit.
"Tunggu... sepertinya menculik Arata bukanlah ide yang baik karena aku sejak kecil pernah meminta sebuah hidangan kepadanya..."
"Aku bisa membuatnya tidur dengan pikiranku."
"Bukan itu masalahnya... Yah... terdengar cukup bodoh sih karena aku waktu itu masih kecil dan sangat menyukai makanan tikus, wajar sih karena aku kucing..." Minami mulai tersipu.
"Aku sempat meminta Arata untuk membuatkan diriku sebuah hidangan lezat dengan daging tikus..."
"...dia malah memasang wajah datar dan menepuk kepalaku. Jika aku menanyakannya lagi, mungkin dia akan marah besar karena harga diri koki tentang makanan aneh itu cukup mengerikan."
Kou bukannya tertawa melainkan ia menunjukkan ekspresi yang penasaran, "Hidangan tikus...? Apa itu...?"
"Makanan kesukaan kucing? Sebagian sih..."
"Wahhhh~ Terdengar enak! Aku ingin mencobanya juga, mungkin di campur madu akan jauh lebih lezat!" Jawab Kou dengan polosnya, membuat Minami tercengang ketika mendengarnya.
"Heh...? Uhh... culik Hana saja mau?" Minami mulai mengganti topik.
"Culik Hana!? Ayo!!!" Kou mulai menaiki punggung Minami dan ia seketika merasa Kou mengalami kadar gula yang meningkat karena bisa bersemangat seperti itu.
Minami dan Kou mengalami perpindahan begitu cepat lalu mereka muncul di sebelah restoran.
Mengintip melalui jendela dan ternyata restoran itu sedang sepi karena semua hidangan yang sudah habis
"Seperti biasanya, restoran ini tutup begitu cepat karena terlalu laku..." Minami mencoba untuk mencari Hana, ia sempat melihat Haruka, Rokuro, dan Shuan sedang membahas sesuatu.
"Uck..." Kou merasa kesal ketika melihat Shuan sedang berbicara dengan Haruka dan Rokuro.
"Itu Hana...!" Minami menunjuk Hana yang saat ini sedang berjalan keluar dari restoran, mengenakan pakaian pelayan.
Kou menatap Hana, membuat dirinya tidur menggunakan The Mind lalu Minami mengangkat tubuhnya dan menghilang tanpa jejak apapun.
"Hana sebelum itu..." Ophilia berjalan keluar, mencoba untuk berbicara dengan Hana tetapi ia sudah pergi.
__ADS_1
"...cepat sekali dia perginya."