Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 418 - Kesakitan tidak Memiliki Arti Apapun


__ADS_3

Masalah Minami dan Honoka bertambah lebih sulit dari sebelumnya sekarang, mereka harus mengalahkan kedua murid dari kelas 1B itu tetapi rintangan lain telah muncul dimana Hazel menggunakan sihir batu-nya agar bisa menjaga jarak gunung sampah itu dengan posisi tempat persembunyian Minami.


Lumayan jauh bisa dibilang 100 meter dan mereka harus mendekat karena sihir mereka tidak akan bisa mengenai sasaran dari jauh seperti itu karena menyerang dari jauh hanya akan menarik perhatian mereka berdua.


"Apakah kita harus berpencar?"


"Begitulah, Golden Minami tidak bisa bertahan dalam waktu yang lama jika berada di jarak yang begitu jauh... kita tidak bisa menggunakan umpan apapun tetapi sihir realita yang kau miliki pasti bisa menipu mereka 'kan?" Tanya Minami dan Honoka mengangguk.


Mereka tersenyum kepada satu sama lain lalu menepuk tinju untuk melakukan misi mereka yang memiliki kesulitan besar, setidaknya mereka bisa mengetahui kemampuan seseorang dari inti semesta asing.


Hazel dan Ronaku masih mengawasi sekitar bahkan hanya tersisa satu Golden Minami yang harus mereka lawan, jika Golden Minami itu mampu dikalahkan oleh mereka maka sudah saatnya untuk bergerak.


Honoka sempat untuk memperbesar kaca teropong-nya itu untuk melihat lebih dekat lagi tentang Cyber-Demon, wajah di sebelah-nya bahkan terbuat dari alat dan ia bisa melihat matanya itu tertutup dengan kaca hijau yang mengandung X-ray dimana ia bisa melihat apapun secara tembus pandang.


"Sial... aku mengerti sekarang, itulah alasan kenapa dia mengetahui kita berada, Minami. Sepertinya melepaskan Golden Minami adalah ide yang cukup baik."


"Ada apa...?"


"Ronaku memiliki kaca X-ray yang terpasang di mata kirinya, itu artinya ia bisa melihat apapun secara tembus pandang termasuk diri kita sendiri... setahu-ku Cyber-Demon itu adalah ras yang cukup canggih persoalan teknologi.


"Hampir mirip seperti manusia dan malaikat tetapi lebih mementingkan diri sendiri untuk pertempuran. Aku yakin kaca itu juga dapat mendeteksi detak jantung dan suhu hangat kita... dia tidak memperhatikan ke arah lain karena terlalu fokus membantu Hazel."


Penjelasan Honoka terdengar cukup masuk akal, sepertinya sulit juga karena mereka lebih mahir dalam bertarung dari jarak yang jauh, lebih seram-nya lagi jika mereka sudah berada di jarak yang begitu jauh karena serangan batu Hazel itu hampir setara dengan kecepatan senapan sniper tetapi mereka masih bisa melihat dan menghindar untuk sementara. 


"Tidak buruk juga permainan pengecut mereka tetapi semuanya bisa dibilang sebagai kecerdasan dan strategi karena tujuan akademi permohonan memang seperti itu sehingga melarang untuk terbang dan melakukan sihir perpindahan."


"Mereka benar-benar harus menggunakan otak, pikiran, rencana, dan strategi untuk bisa mendekati mereka."


Honoka tidak ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi karena pukul tengah malam nanti akan terdapat pengecekan ruangan, jika seorang murid tidak sedang berada di kamar maka mereka akan mendapatkan pelanggaran pengurangan poin yang begitu besar.


Honoka menyempatkan waktu untuk memikirkan sebuah rencana dan Minami juga melakukan hal yang sama, ia sudah berpikir untuk menjadi umpan dengan melepaskan beberapa hewan emas lebih banyak lagi.


"Honoka, bagaimana jika aku melepaskan beberapa hewan emas ke arah mereka jika Golden Minami-ku sudah kalah?"


"Pemikiran yang tidak buruk, Minami, kita pancing saja mereka agar kemampuan yang mereka sembunyikan bisa terlihat lebih jelas lagi... setiap kemampuan pasti akan memiliki teknik yang berbeda jadi kita harus memeriksa-nya terlebih dahulu."


"Itu benar... kita harus menggunakan semua kekuatan yang kita miliki untuk menerobos pertahanan mereka saja! Terobos saja lah!" Seru Minami.

__ADS_1


Honoka mengangguk lalu ia menunggu aba-aba untuk menyuruh dirinya melepaskan hewan emas itu, Honoka meneropong Golden Minami yang baru saja terkena serangan batu yang melepaskan ledakan besar sehingga ia sudah menghilang begitu saja menjadi partikel cahaya.


"Kita gunakan rencana ini..." Honoka mulai membisiki Minami.


"....itu..."


"....ini..."


"Aku mengerti, baiklah!"


"Semoga beruntung, kucing imutku." Honoka menyentuh dagu Minami sampai membuat dirinya ketakutan.


"T-Tolong lepas..."


"Golden Nature!!!" Seru Minami keras sehingga ia mengejutkan mereka semua dengan melepaskan semua hewan emas yang berbeda-beda.


Semua hewan itu mulai bergerak menuju arah Hazel dengan kecepatan cahaya tetapi ia dapat menyerang mereka dengan akurat, kecepatan serangan batu-nya itu sama bahkan sampai berhasil mengalahkan salah satu dari mereka.


Ia juga sudah memasang berbagai macam perangkap seperti duri batu dan ledakan dari bubuk mesiu yang ditanam oleh Ronaku.


Rencana yang baru saja diberitahu oleh Honoka membuat Minami yakin bahwa ia sudah merasa tidak sabar untuk menghajar mereka satu per satu.


Hazel dan Ronaku langsung menyerang mereka semua dengan cara yang sama tetapi Hazel menciptakan beberapa meriam yang terbuat dari batu dan semua meriam itu melepaskan batu besar yang terbelah menjadi beberapa bagian kecil.


Terjadi ledakan di medan perang itu dan para penduduk tidak bisa mendengar suara itu karena Ronaku sempat menggunakan alat-nya untuk menyaring semua serangan ledakan itu agar tidak ada yang bisa mengganggu pertarungan sengit mereka.


Minami melihat seluruh hewan emas-nya mulai menghilang karena hancur terkena ledakan dari batu itu sedangkan Honoka mulai menggunakan sihir realita untuk mengubah udara menjadi baja dan besi agar bisa menahan serangan mereka.


"Sial... apa yang mereka rencanakan sekarang...?" Tanya Ronaku.


"Hati-hati... kita saat ini sedang berada di situasi yang berat. Rencana mereka sepertinya membuat kita lengah dan bingung tetapi kita bisa mengalahkan mereka karena semua wilayah ini adalah kekuasaan kita."


"Rencana Honoka Comi tidak akan bisa berhasil karena rencana Comi akan kita kalahkan, kita akan mencatat sebuah sejarah!!!" Seru Hazel.


Tubuh Golem-nya mulai membesar dan menciptakan beberapa senapan yang terbuat dari batu untuk melepaskan semua batu tajam itu, lebih tajam dari apapun bahkan bisa menghancurkan tubuh dan organ bagian dalam secara langsung.


"Baiklah, Honoka... aku serahkan penyerangan kepada dirimu..." Minami sudah siap untuk menerima serangan apapun dari mereka.

__ADS_1


Ia mulai mendekati mereka dengan kecepatan cahayanya sehingga ia menginjak sebuah ledakan tetapi berhasil menghindarinya dengan melompat ke sebelah kanan.


Hazel sepertinya fokus kepada Minami sedangkan Honoka terus diperhatikan oleh kamera pengawas yang dimiliki oleh Ronaku.


Mata Hazel dan Ronaku memakai lensa yang sama dan lensa itu mampu menunjukkan letak musuh terutama Ronaku mulai menandai Honoka yang saat ini sedang tertahan oleh meriam batu dan perangkap ledakan itu jadi ia tidak bisa menyerang atau mendekati mereka.


Hanya Minami saja yang dapat mendekat karena refleks yang ia miliki sebagai hewan apapun, ia bisa melihat Hazel dan Ronaku bekerja sama untuk menyerang dirinya dari jauh.


Beberapa meriam dan bahkan Hazel melepaskan batu runcing yang besar ke arah Minami tetapi ia mulai berhenti dan menerima semua serangan itu.


Hasilnya tubuh Minami berubah menjadi cahaya sedangkan yang asli muncul di sebelah kiri dengan ekspresi yang terlihat kesal karena mereka semua benar-benar menyebalkan.


Ia juga bisa merasakan ledakan tepat di belakangnya itu. Ledakan yang mereka ciptakan, anehnya tidak mampu menarik perhatian para penduduk, itu yang ia pikirkan.


"Pasti sesuatu yang berkaitan dengan alat ciptaan Cyber-Demon ya... brengsek...! Memang anjing...!" Honoka bisa melihat Minami yang siap siaga menjadi umpan.


Setidaknya rasa sakit yang ia rasakan tidak seburuk dengan pengalaman mendapatkan kematian untuk selama-lamanya jadi Minami cukup berani untuk menerima semua kesakitan itu.


Honoka mulai melihat mereka yang berkeringat karena kesulitan oleh umpan yang digunakan oleh Minami, setidaknya ia masih memiliki tenaga dan Lenergy untuk digunakan.


Honoka mencoba untuk mendekat tetapi banyak sekali perangkap yang menghalang dirinya bahkan sebuah duri tajam hampir saja menusuk seluruh tubuhnya.


Ia sempat menghindar dan mengubah daratan di bawahnya menjadi air agar ia bisa masuk ke dalam untuk berlindung.


Semua perangkap ledakan yang itu sengaja ia injak menggunakan semua batu yang ia ciptakan melalui angin agar ia bisa bergerak dengan bebas tanpa harus ditekan.


Minami melihat semua meriam itu menyerang secara bersamaan, ia menggunakan tubuh cahaya lagi dan berhasil menghindari semua serangan itu tetapi daratan yang ia injak tiba-tiba meledak bahkan melepaskan batu tajam yang menusuk-nusuk tubuh Minami.


Menyebabkan tubuhnya terluka fatal bahkan ia sampai berlutut di atas tanah dengan tatapan yang terlihat mati.


Mereka mampu mendeteksi detak jantung Minami yang mendadak berhenti, sebagian anggota tubuhnya bahkan sudah hancur karena menerima ledakan yang cukup besar dari batu-batu itu.


"Detak jantung-nya berhenti...!!! Kita berhasil, Ronaku!!!"


"Kita berhasil membunuh Minami tanpa diketahui oleh siapapun, kita baru saja mencatat sebuah sejarah yang hebat untuk mengalahkan anak dari Shiratori Shira...! Lemah sekali!"


"...sekarang giliran Honoka!"

__ADS_1


__ADS_2