Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 788 - Menuju Yuutouri untuk Menghentikan Pemerintah


__ADS_3

"... ..." Shinobu membaca buku sendirian di dalam kelasnya dengan perhatian rendah di sekelilingnya, mereka semua entah kenapa tidak mau mengganggu dirinya lagi.


Rumor mengatakan bahwa mereka yang mengganggu dirinya akan cenderung mengalami mental dan emosi yang berubah drastis sampai pikiran mereka dipenuhi penderitaan, bunuh diri, serta saling membunuh.


Intinya berubah menjadi gila, Shinobu terus menikmati buku itu selagi membaca dengan senyuman lebar bahwa ia sampai menatap semua teman kelasnya lalu tersenyum malu.


Dirinya kembali membaca buku itu, buku yang berisi tentang alkemis karena ia sendiri masih membutuhkan banyak pelajaran untuk menguasai kemampuan alkimia yang di campur dengan daun serta sinar matahari.


"Selamat siang, putri kecil."


"Tech, apakah kamu sudah memodifikasi itu?" Tanya Shinobu.


"Sebentar lagi selesai, mungkin tidak bisa digunakan terlalu lama tetapi cukup untuk membantu kalian pergi menuju semesta selanjutnya."


"Kecepatan kalian bisa dibilang akan menghabiskan waktu yang lama untuk sampai ke semesta sebelah, sekitar satu jam."


"Baiklah, terima kasih." Shinobu terkekeh karena ia sendiri tidak merasa begitu kesepian asalkan Tech berada di sisinya.


Beberapa menit kemudian, semua guru yang mengajar kelas berbeda telah memberikan berbagai macam misi kepada setiap pemberontak untuk mulai bergerak karena saat ini para kerajaan dan pemerintah mulai melakukan sesuatu buruk.


Intinya masalah mereka adalah masalah mereka sendiri, berbeda dengan Shinobu bersama timnya yang mendapatkan tugas untuk mengunjungi Yuutouri yang dipenuhi dengan kekacauan.


"SELAMAT SIANG!!!" Teriak Hinoka keras yang mendobrak pintu cukup keras sampai mengejutkan tiga orang di dalam ruangan tersebut.


"Jangan berisik." Koizumi menyentil kening Hinoka.


"Te-he~"


Hinoka melebarkan matanya, mereka bertiga seketika merasakan bahaya yang mendekat bahkan cahaya merah terlepas dari kedua matanya sehingga Hinoka menghilang seketika lalu muncul di belakang Shinobu dan memeluknya erat.


"Koneko~ Aaaahhhhh~ Kamu imut sekali, Koneko~ Aku mencintaimu, sepupu kecilku...!" Hinoka mengeratkan pelukannya sampai membuat Shinobu panik.


"Eeeppppp...!!! Kak Koizumi...!" Shinobu mulai mengadu kepada Koizumi sehingga kening Hinoka menerima sentilan yang mampu mendorong dirinya sampai jatuh.


"Jangan ganggu, Shinobu. Kau masih sayang nyawa bukan?" Tanya Koizumi.


"Buuuuu... mengganggu saja!"


Hinoka mengalihkan pandangannya kepada Ako seketika sampai ia secara refleks terlihat ketakutan sampai memegang erat tangan Shinobu.


"Ako... kamu tidak jauh berbeda dengan Shinobu, hehehe..." Hinoka kembali bangkit selagi menatap Ako, tatapan itu juga bahkan menakut-nakuti Shinobu sampai ia melarikan diri kepada Koizumi.


Hinoka mencoba untuk menangkap Ako tetapi keningnya menerima dua sentilan dari Konomi dan Koizumi, ""Hentikan.""


"Buuuu..."


***


"Pesawat luar angkasa?" Konomi memiringkan kepalanya ketika mendengar kata-kata seperti itu.


Koizumi mengangguk lalu ia mengeluarkan sebuah kertas besar yang berbentuk seperti peta, ia menempatinya di atas meja besar itu lalu membukanya lebar sampai mereka dikejutkan dengan desain yang terlihat aneh.


"W-Wah keren... terlihat seperti naga berbentuk besi... apakah ini masa depan yang seharusnya terjadi untuk kita?" Tanya Ako.


"Tidak, Legenda tidak membutuhkan alat seperti ini... hanya manusia saja karena Mana mereka dapat bekerja sama dengan baik bersamaan teknologi serta alat tempur seperti ini."


"Lihatlah sendiri, tank juga bahkan sampai dimodifikasi untuk bisa terbang menuju luar angkasa untuk bertempur serta menghancurkan berbagai macam planet."


"Kalau tidak salah... aku dengar pemerintah yang bukan berasal dari negara bumi mengancam planet Bumi untuk memberikan uang agar bisa memberikan senjata rahasia mereka."


"Kasus manusia memang tidak jauh dari uang, pemerintah yang membosankan..." Hinoka menguap selagi menatap gambar itu.


"Macam-macam desainnya... terlihat begitu keren, aku yakin semuanya mahal dan mengandung banyak kekuatan hebat." Kata Konomi sampai ia melihat Shinobu dengan ekspresi bersemangat.


"Umm... Shinobu?" Ako melihat kedua mata Shinobu terbinar-binar karena ia ingin mengunjungi Yuutouri untuk menganalisis semua teknologi dan material langka yang mereka simpan.

__ADS_1


"I-Ini hebat sekali...! Aku... selama ini Koneko selalu ingin melihat semua ini dalam jarak yang dekat... apalagi material, teknologi, sistem, dan semua buku-buku yang mereka simpan."


Shinobu mulai membicarakan tentang teknologi dan ilmu pengetahuan sampai mereka hanya bisa diam kecuali Ako yang menjawabnya karena mereka berdua sama-sama kutu buku yang ingin mengetahui hal baru.


"B-Begitu ya... aku senang untukmu, Shinobu." Koizumi terkekeh pelan karena ia sendiri tidak begitu menyukainya.


Shinobu mengenakan kacamatanya lalu ia menyentuhnya sampai lensa kacamata mulai menunjukkan berbagai macam alat tempur manusia yang dapat di gunakan dalam luar angkasa.


"Anuu... kalau tidak salah setiap pesawat ini bisa dibilang pesawat tempur luar angkasa tetapi aneh juga melihat tank bisa terbang ke atas langit sampai mengunjungi luar angkasa..."


"...tank saja sudah cukup mengerikan... jika bisa terbang ke luar angkasa maka tembakannya bisa saja menyebabkan kehancuran besar..."


Shinobu meminta Tech untuk mencarikan rekaman tentang teknologi manusia, seingatnya ia pernah meminta Tech untuk pergi mengunjungi setiap alam semesta agar bisa merekam berbagai macam penemuan dan teknologi.


Tech menemukannya lalu ia menyalakan rekaman tersebut sampai mereka sempat melihat sebuah gambaran tentang perang di luar angkasa menggunakan kendaraan luar angkasa.


Sebagian dari Manusia juga menggunakan peralatan seperti zirah luar angkasa, Koizumi terkejut ketika melihat lambang Co. Corp di punggung zirah tersebut.


"Tunggu dulu... Shinobu, kalau tidak salah zirah itu..."


"Hm, Mama yang membuatnya... beliau menjualnya kepada bangsa Manusia dulu, sejak aku belum lahir juga..."


"Begitu ya... ternyata mereka juga sudah menciptakan versi replika sampai melupakan lambang dari Co. Corp untuk di hapus..."


"...seharusnya zirah seperti itu tidak di pakai untuk perbuatan tercela seperti ini, apa mungkin pemerintah manusia luar angkasa menguasai semua barang impor dari Comi's Corporation?" Koizumi memegang dagunya.


"Tank ini juga memiliki lambang Comi's Corporation..." Kata Ako sambil menunjuk salah satu tank sehingga mereka semua terkejut.


"Maaf... sepertinya benar... Mama dulu memberikan semua peralatan dan kendaraan itu sebagai perlindungan..."


"...kemungkinan besar pemerintah itu berhasil membelinya dengan uang... Manusia tidak berkuasa jika uang kecil bahkan lebih buruknya kekuatan mereka sendiri adalah uang."


"Jadi begitu ya... aku mengerti kenapa reputasi Comi bisa hancur, kemungkinan besar bangsa Manusia ini sempat mengunjungi negara lain dengan peralatan Co. Corp itu sampai mereka mengiri bahwa kita di balik semua ini."


"Shinobu... sabar ya..." Ako mengelus kepala Shinobu.


"Mm... aku tidak begitu keberatan kok, memang salah sih... Anu... setidaknya masih bisa di ubah."


"Aku ingin merebut kembali semua itu... Manusia tidak aman jika di berikan keuntungan, mereka sangat rakus." Kata Shinobu sampai ia mematikan kacamatanya.


"Kalau begitu... mari kita ledakan semua itu satu per satu!" Hinoka tersenyum serius karena ia tidak sabar untuk meledakkan semua alat mereka dengan mengubahnya menjadi ledakan.


"Selama ada si bodoh ini, kita tidak melihat masalah rumit apapun. Hanya perlu menghancurkan Manusia yang menjalankan pemerintah itu maka kita selesai." Kata Koizumi.


"Ingat saja ya... jangan sampai kita menyebabkan kesalahpahaman dengan Manusia yang tinggal dalam negara bumi, mereka sangat sensitif sampai mengajak perang adalah solusinya."


"Manusia juga bisa di bilang harus berbahaya... julukan mereka yang di namakan sebagai pengguna Mana, mereka memiliki kemampuan serta kekuatan unik mereka tersendiri."


"Kapan pemberontakan kita akan di mulai?" Tanya Konomi.


"Jumlah mereka banyak sekali, tetapi aku sendiri tidak keberatan jika kita berlima saja yang melakukan pemberontakan itu."


"Pemberontak lain juga akan ikut, hanya saja tim mereka berbeda serta kita perlu merancang strategi..." Koizumi menghela nafasnya lalu menatap Shinobu.


"Shinobu, aku yakin kamu memiliki sebuah strategi untuk melakukan semua ini hanya dengan jumlah kecil ini..."


"...kita tidak bisa mempercayai pemberontak lain yang tidak menerima dirimu, kepercayaan yang bisa kau berikan hanya kepada kami saja." Kata Koizumi.


"Kepercayaan..."


"Baiklah, semuanya. Kita harus bisa menyelesaikan pemberontakan ini tanpa menyebabkan masalah lainnya, kita harus merebut kembali hak cipta Co. Corp."


"Aku tidak ingin bangsa Manusia menggunakan peralatan milik Tante Kou untuk dikenakan sebagai kekuasaan dalam semesta lain, namaku bersama kedua sepupuku bisa saja tercoreng lagi."


""Baik!""

__ADS_1


***


"Timing yang pas... fufufu... apakah kalian pikir pemberontakan akan berjalan mudah dan selancar itu...?"


"Sungguh gadis-gadis kecil yang imut... mereka dapat menjadi koleksi baik jika berakhir begitu cepat, aku tidak ingin menunggu mereka membesar."


Penyihir itu mulai menyentuh kawah tersebut lalu mengeluarkan asap yang menunjukkan gambaran dari pemimpin pemerintah itu, ia mulai memancarkan cahaya ungu melalui kedua matanya.


"Sebabkan lebih banyak kekacauan... fufufu... buatlah eksperimen ini bertambah lebih cepat... aku yakin bantuan akan datang..."


"...tunggu saja... nikmatilah..." Penyihir itu menjentikkan jarinya sampai Legenda di belakangnya terbang ke atas langit lalu pergi meninggalkan planet Legenia.


"... ..." Penyihir tersebut menjilat bibirnya sendiri lalu ia menoleh ke belakang, melihat sebuah kristal ungu besar yang berputar pelan.


"Masih membutuhkan banyak kekacauan... serapan kristal ini... kristal yang akan membuat diriku merasakan kenikmatan lebih besar."


"Fufufu... bangsaku sendiri... bagaimana rasanya jika kembali ke masa kuno ya... tanpa sihir... kemampuan... hanya sekedar fisik." Penyihir itu mulai membuka jurnal Shinobu lalu mempelajarinya lagi.


"Aku yakin koleksiku akan bertambah sekarang..."


"...tunggu saja."


"Tetapi, aku ingin bermain dengan boneka kecilku itu... sungguh imut sekali." Penyihir itu mengambil sebuah boneka kecil yang berbentuk seperti Hinoka.


"Malang sekali ya... tidak ada ibu... hanya ada trauma yang mengingat dirimu, mungkin aku bisa menjadi ibumu."


"Shizukaze Hinoka."


...


...


"Hehehe, Mama, tunggu aku...!" Hinoka terus mengejar Honoka yang lari ke depan tanpa melihat ke belakang atau menjawab putrinya sendiri.


"Kamu harus bisa menjalaninya sendirian..."


"....kutukan itu... kau harus bisa mengendalikannya, trauma itu adalah kutukanmu..."


"...Hinoka, kamu bisa kan?"


Hinoka menghentikan pergerakannya dengan kedua mata yang terbuka lebar ketika melihat Honoka bersandar di balik pohon dengan sebagian anggota tubuh hilang serta darah yang mengalir deras.


Aroma yang ia hirup terasa jelas seperti melati sampai kedua pupilnya berubah menjadi merah darah sampai air mata yang mengalir keluar berubah menjadi darah seketika.


"Mama...!!!"


"Mama..."


"MAMAAAAAAGGGGHHHH!!!"


...


...


"Hahhhh...!" Hinoka terbangun dari mimpi yang sangat buruk, setelah itu ia mulai menyentuh kepalanya yang terasa begitu berat.


Tubuhnya dipenuhi keringat karena mimpi tadi cukup mengerikan, setiap ia bermimpi itu maka dirinya akan hilang kendali, untungnya sekarang ia dapat menenangkan dirinya dengan tidak melanjutkan tidurnya.


"Ugh..." Hinoka menggigit bibirnya keras sampai berdarah karena di mimpinya tadi, ketika ia melihat Honoka.


Hinoka tidak sadar bahwa dirinya sudah mengubah salah satu planet di Yuusuatouri menjadi ledakan dahsyat sampai ia tadi terbangun karena gempa yang di sebabkan karena ledakan itu.


Dalam mimpinya yang begitu buruk tentang Honoka, ia selalu saja tidak sengaja mengubah apapun menjadi ledakan sampai tidak ada sedikit pun kendali.


"Terjadi... lagi ya...?"

__ADS_1


__ADS_2