
Zoiru dan Edgar mendarat di atas gunung yang memiliki duri tajam di sekelilingnya, ia sempat melihat beberapa iblis lewat dan menjaga tempat tertentu.
"Aku tidak menyangka Zuusuatouri akan memiliki banyak sekali esensi yang begitu lezat..." Zoiru memanggil Bamushi keluar melalui tubuhnya lalu ia memintanya untuk memeriksa setiap tempat dan wilayah di Zuusuatouri.
"Di saat-saat seperti ini kau perlu mencari mangsa?" Tanya Edgar selagi mencari sumber energi sihir melalui pikirannya.
"Kenapa kau mengaturku?" Zoiru menatap Edgar sehingga ia langsung terlihat ketakutan ketika melihat tatapannya itu yang terlihat biasa saja tetapi Edgar merasakan kehausan terhadap kekuatan.
"Tidak... hanya saja... kau bilang sejak awal tidak ingin menarik banyak perhatian bukan? Jika kau terus memakan banyak mangsa maka semua orang bisa saja mengetahui masalah."
"Mereka yang mencoba untuk melaporkan akan berada di dalam perut Bamushi, Indra penciumannya dapat mendeteksi bahaya juga peringatannya... tidak ada yang harus kau takuti." Kata Zoiru.
"Aku mengerti... maaf karena sudah mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak aku katakan." Ucap Edgar, mencoba untuk bermain aman dengan Zoiru karena ia tidak ingin menerima siksaannya.
Sebagian dari dewa agung mengetahui betapa mengerikannya Zoiru bahkan mereka semua tidak ingin berurusan dengan dirinya yang berdarah dingin.
Dia dapat menyiksa siapa pun selama seumur hidup berkat kemampuan Oath nya dan Edgar pernah merasakannya ketika ia mencoba untuk membuat dirinya kesal.
"Lakukan dengan cepat, Edgar. Iblis memiliki penciuman kuat terhadap keberadaan yang berbeda, kita sebagai dewa agung berkeliaran di Zuusuatouri bukan ide yang baik." Kata Zoiru.
Edgar mengangguk lalu ia mulai mencabut jarinya untuk mengeluarkan darah, semua darah itu ia gunakan untuk menggambar sebuah lambang sihir Eternal.
"Setiap kuil sihir sepertinya memiliki tempat persembunyian sendiri, sebagiannya harus di munculkan dengan ritual seperti ini..."
"...cukup menyebalkan, kita juga tidak tahu apa isi dari kuil itu karena sudah lama tidak melihatnya." Edgar mulai menjelaskan dan kuil yang di maksud oleh Zenzaku menarik perhatian Zoiru seketika.
"Memangnya siapa yang beraninya membangkitkan kuil di era baru seperti ini? Bisa saja dewa agung lainnya atau mungkin para mortal mencoba untuk menyempurnakan sihir mereka di dalam kuil itu..."
"...bukan hanya itu saja tetapi setiap kuil memiliki ruangan kuno yang memiliki banyak tulisan berbeda di setiap ruangan, tulisan itu adalah mantra dan sihir yang dapat di pelajari."
"Dengan usaha, semuanya pasti bisa di lakukan dan kuil itu sendiri sangat cocok untuk di jadikan sebagai tempat latihan. Sayang sekali, si sialan Zenzaku itu malah menghancurkannya." Zoiru menyilangkan kedua lengannya.
"Kuil sihir juga katanya memiliki sumber dan inti sihir paling besar bahkan bisa menciptakan buku sihir itu..." Edgar mulai menaikkan seluruh energi sihirnya untuk membakar lambang yang baru saja selesai ia gambar.
"Ya... sudah lama sekali aku tidak melihat kuil sihir sejak itu, mungkin aku akan mencari Temple of Oath karena itu juga sebagian dari rencanaku." Zoiru mundur beberapa langkah.
Edgar mengangkat kedua lengannya sehingga ia berhasil mengeluarkan kuil besar yang muncul melalui lambang Eternal, kuil itu melayang ke atas langit lalu berputar di atasnya.
Edgar tersenyum jahat ketika melihat kuil itu terlihat seperti baru, "Ternyata benar... kuil Eternal masih berada di tempat biasanya."
"Aku juga tidak menyangka bentuknya akan terlihat semakin indah seperti ini, mungkin kita harus berterima kasih kepada Neko Legenda yang sudah mengembalikannya." Kata Edgar.
"Shiratori Minami ya... dia cukup membantu beberapa pihak, mungkin dia sendiri memiliki alasan." Jawab Zoiru yang mulai melayang ke atas tetapi punggungnya menerima beberapa serangan dari bangsa Iblis.
Zoiru dan Edgar menoleh ke belakang, mereka semua cukup terkesan melihat pasukan iblis berkumpul hanya untuk menyerang penyusup seperti mereka berdua.
__ADS_1
"Lihat apa yang baru saja aku katakan tadi, Edgar? Kuil terkadang bisa menjadi sumber perhatian terutama kuil yang melayang di atas langit." Zoiru mendarat di atas tanah bersama Edgar.
"Bunuh?"
"Ya... mereka cocok di jadikan hidangan pembuka untuk Bamushi."
"Ahh... ternyata masih ada hidangan utama ya di semesta ini?"
"Tentu saja, semuanya pasti akan memiliki pembukaan, hidangan juga!" Zoiru maju ke depan lalu ia menabrak seluruh pasukan Iblis itu sampai tubuh mereka hancur menjadi kepingan kecil.
***
"Sekali lagi... maaf karena sudah merepotkan kalian berdua. Beberapa minggu yang lalu kalian menikah, itu artinya kalian mungkin sekarang sedang menjalani bulan madu." Kata Arata sambil memperhatikan Ophilia yang tertidur.
"Kita tidak membutuhkan hal seperti itu, Ayah. Kami hanya melanjutkan kehidupan seperti biasanya..." Kata Rokuro, ia menatap Haruka yang terlihat malu.
"Rokuro, beritahu dia..." Haruka mulai menarik-narik baju Rokuro.
Rokuro mengerti apa yang ia maksud dan dia sendiri belum begitu siap untuk memberitahunya kepada Arata tetapi di situasi yang cukup sedih baginya, mungkin ia akan memberi berita yang baik.
"Ayah."
"Apa?"
"Sebenarnya kami sudah melakukan bulan madu sebelum menikah." Kata Rokuro, Arata langsung menatap Rokuro dengan tatapan kaget dan bingung.
"Ya, istriku sudah hamil." Kata Rokuro dengan tatapan yang terlihat gugup, Arata langsung menunjukkan ekspresi yang terlihat sangat senang.
"Benarkah!? Cucu pertamaku...!?" Arata bangkit dari atas kursi lalu ia menatap Haruka, ia langsung mengangguk pelan dengan tatapan malu.
"Berita seperti ini harus aku laporkan kepada Ophilia setelah ia bangun, dia pasti akan merasa sangat senang ketika mendengarnya!" Jawab Arata tatapan yang terlihat bersemangat karena menantikan kedatangan cucunya.
"Arata... Rokuro... Hana..." Terdengar suara Ophilia di dalam ruangan itu, mereka otomatis menghampiri kasur untuk melihat Ophilia.
Ophilia membuka kedua matanya lalu ia melihat Arata, Rokuro, dan Haruka yang menatap dirinya dengan tatapan bersyukur karena Ophilia akhirnya bisa bangun.
"Ophilia, apakah kamu baik-baik saja?!" Tanya Arata, Ophilia mulai tersenyum karena ia sendiri merasa cukup baikkan ketika beristirahat selama berjam-jam sambil tidur.
Ophilia mencoba untuk duduk tetapi Haruka menghentikan dirinya, "Ibu masih dalam proses pemulihan, untuk sekarang jangan bergerak dulu."
"Tidak apa-apa, aku sekarang merasa bugar." Kata Ophilia, ia mulai mencabut semua selang itu lalu duduk di atas kursi dengan tatapan yang terlihat bingung.
"Ini rumah sakit ya...?" Tanya Ophilia.
"Tidak, ibu berada di rumahmu sendiri. Kakek dan Nenek saat ini sedang bekerja di ruangan sebelah untuk melakukan eksperimen." Kata Rokuro.
__ADS_1
"Ohh begitu ya..." Ophilia turun dari atas kasur lalu ia melakukan sedikit pemanasan untuk memanaskan tubuhnya yang sudah pulih sepenuhnya.
"Astaga, maaf untuk membuat kalian semua khawatir. Mungkin karena efek dari kelelahan bekerja, aku sampai pingsan segala." Ophilia terkekeh pelan dan ia menerima sebuah pelukan dari Arata.
"Sepertinya itu bukan demam biasa, Ophilia. Ibu dan Ayahmu bilang bahwa lambang Phoenix di belakang punggungmu itu akan hilang yang mengartikan seekor makhluk sihir akan lepas..."
Ketika Arata memberitahu berita seperti itu, Ophilia langsung kaget karena ia tidak ingin di jadikan sebagai wadah untuk menyegel semua makhluk sihir itu.
"Tidak... jika mereka ingin menjadikan diriku sebagai wadah segel... mungkin aku tidak bisa menahannya lagi." Kata Ophilia sambil mengusap lengannya sendiri.
"Ada apa...?"
"Sejak kecil aku mengalami kendala besar terhadap sihirku, aku sendiri bahkan tidak bisa mengeluarkan sihir apapun kecuali melakukan pemanggilan terhadap makhluk sihir replika."
Haruka mengerti apa yang dia maksud karena ia sendiri sempat melihat Ophilia bertarung sejak konflik Zangetsu, ia mampu melepaskan beberapa makhluk sihir yang bertahan sebentar.
"Semua makhluk sihir yang aku keluarkan itu bisa di sebut sebagai Spirits of Phoenix... Phoenix sendiri adalah ibu bagi seluruh makhluk sihir..."
"...hanya dia yang dapat menghentikan dirinya tetapi Phoenix berada di dalam tubuhku." Kata Ophilia yang mulai mengeluarkan sebuah bulu Phoenix.
"Terus... apa yang harus kita lakukan sekarang? Apakah semua makhluk sihir itu akan lepas...?" Tanya Rokuro.
"Sudah jutaan tahun mereka di kunci, mungkin sebagiannya sudah punah dan berubah menjadi tulang Phoenix."
"Tetapi melihat segelku hancur, kita harus mencari tahu makhluk sihir apa yang lepas. Semoga saja yang jinak karena jika ganas maka akan terjadi kerusakan." Ucap Ophilia, ia berjalan pergi menuju ruangan sebelah.
Ophilia membuka pintu ruangan itu dan ia bisa melihat kedua orang tuanya sudah melakukan tes DNA terhadap pegasus yang pernah ia temukan sejak jutaan tahun yang lalu.
"Ibu, Ayah, apakah yang harus kita lakukan sekarang...? Segelku sudah hilang dan aku tidak ingin lagi menjadi wadah segel..." Ucap Ophilia dengan tatapan serius.
"Kami tahu, nak, itu lah kenapa kami bertahun-tahun mencoba untuk menciptakan makhluk sihir yang menyelamatkan Ayah sejak itu." Kata Kirua sambil meneliti partikel putih.
Ophilia melebarkan kedua matanya, jantungnya berdetak cepat bahkan ia sendiri tidak menyangka kedua orang tuannya akan mengatakan makhluk mitologi yang bernama Pegasus itu.
"Pegasus...? Jangan-jangan gabungan makhluk mitologi dan sihir yang kalian maksud...?" Tanya Ophilia.
"Ya, satu-satunya cara untuk menghapus semua makhluk sihir itu adalah menggunakan kemampuan dari Pegasus." Kata Valance, ia melihat wajah Ophilia yang terlihat kaget.
"Ada apa, nak? Kamu terlihat takut... kami tidak akan menjadikan dirimu sebagai bahan cobaan atau apapun itu, kami tidak ingin melibatkan dirimu lagi." Kata Valance yang mulai memeluk erat Ophilia.
"Pegasus... dia sudah tidak ada... dia pergi jauh..." Kata Ophilia pelan, tidak ada yang bisa mendengarnya.
"Kamu mengatakan sesuatu?" Tanya Valance.
"T-Tidak..." Ophilia mulai terkekeh lalu ia menatap Haruka.
__ADS_1
"Mmm...?" Haruka memiringkan kepalanya.
"Seharusnya dia tahu siapa Pegasus itu..."