Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 437 - Pasar Gelap


__ADS_3

"Mengincar Kou...!? Siapa yang berani mengincar Kou, SIALAN!!!" Shuan mulai mengamuk dengan menghancurkan semua tembok tempat persembunyian itu.


Mereka sontak kaget ketika melihat ekspresi Shuan yang tadinya terlihat tenang sekarang penuh dengan amarah bahkan ia bisa merasakan dosa amarah yang begitu kuat di dalam tubuhnya, efek dari Neko's Rage seolah-olah aktif ketika Asriel mengatakan Kou yang sedang diincar.


"Oi, Shuan, tenangkan dirimu, kenapa kau malah mengamuk seperti itu? Kou saat ini aman bersama Haruka, tahan dulu..." Kata Rokuro.


mereka berdua bisa melihat kedua mata Shuan yang dipenuhi dengan warna merah perlahan-lahan kembali seperti semula karena ia sudah berjanji akan membunuh siapa pun yang mencoba untuk melukai atau mendekati dirinya.


Ia merasa lebih tenang dan lelah sekarang karena ingin segera pulang tetapi tujuan mereka harus tetap dilanjutkan.


"Apakah kau sudah merasa lebih tenang sekarang...?" Tanya Asriel.


"Ya, maaf, sesuatu buruk yang dikaitkan langsung dengan Kou pasti akan membuat diriku seperti itu."


"Mungkin karena aku pernah melukai dirinya sejak itu sampai aku tidak ingin ia dilukai atau didekati oleh siapa pun, aku akan membunuh mereka..." Shuan menutup wajahnya menggunakan kedua tapaknya lalu ia mencari kursi untuk beristirahat sebentar.


"Bisakah kalian lanjutkan...? Aku membutuhkan sedikit istirahat sepertinya..." Kata Shuan, Rokuro dan Asriel mengangguk lalu melanjutkan tujuan sampingan mereka untuk menggali lebih dalam lagi tentang rencana angkatan tiga.


Mereka tidak mendapatkan informasi yang begitu penting, semuanya dipenuhi dengan rumus matematik untuk menghitung poin sampai minggu terakhir.


Sayangnya mereka semua sudah kalah dan poin hanya dipindahkan ke kartu identitas miliki ketiga Legenda itu. Rokuro mulai memasuki ruangan lainnya sendirian dan ia hanya bisa melihat kasur dan benda lainnya yang tidak berguna.


Asriel membuka setiap laci yang ia lihat dan semua laci itu berisi informasi penting tentang setiap murid dari angkatan tiga yang sudah gugur, sebagiannya menyerah dan diancam.


Membacanya saja membuat Asriel yakin bahwa angkatan ketiga itu terlalu naif dan percaya bahwa mereka dapat menguasai sistem poin, padahal sistem tersebut tidak bisa selalu membawa mereka menuju puncak kemenangan.


Contohnya kelas bagian empat, mereka terpaksa harus mengikuti ujian besar-besaran jika saja gagal di ujian itu maka beberapa murid akan dikeluarkan.


Semua kertas informasi itu langsung Asriel gulung menjadi kertas kecil dan ia menyimpannya di dalam saku, ia melihat Rokuro yang sedang memegang beberapa alat yang memiliki tanda seru.


"Apakah ini alat ilegal yang mereka gunakan untuk memaksa murid-murid masuk mode duel?" Tanya Rokuro.


Asriel memastikan benda tersebut dan ternyata benar, ia mengambil alat itu yang memiliki bentuk seperti layar dan layar itu mulai mengeluarkan beberapa pilihan yang dapat mereka lakukan seperti memaksa kartu identitas untuk memasuki mode duel dan bahkan mereka dikejutkan dengan dunia pertempuran yang bernama [Mana Battlefield].


Di tempat itu mereka dapat bertarung tanpa diketahui oleh siapa pun bahkan mereka juga bisa melanggar tata tertib, Asriel mulai mengingat Giga melakukan hal yang sama kepada dirinya.


Dunia Mana Battlefield sangat berbeda dan dipenuhi dengan kekacauan karena sudah menjadi bekas pertarungan oleh murid lainnya.

__ADS_1


"Alat seperti ini berbahaya dan menguntungkan dalam waktu yang bersamaan, berbahaya karena dapat membunuh seseorang dengan diam... untung karena dapat memaksa seseorang untuk bertarung jadi kita bisa mendapatkan keuntungan dari poin."


"Dengan memaksa seorang murid untuk masuk ke dalam mode duel, itu artinya mereka terpaksa harus bertarung dan di saat itulah kelicikan bisa digunakan yaitu membunuh mereka dan menyembunyikan mayat mereka, seluruh guru bahkan Morgan tidak akan pernah mengetahuinya..."


"...aku benar-benar benci soal alat ilegal, aku ingin jujur. Lumayan menyesal juga ikut akademi permohonan ini yang sangat ketat dan dipenuhi dengan peraturan yang bertentangan dengan harga diri kita sebagai seorang Legenda."


"Kita terpaksa harus melakukan tindakan licik untuk bisa menang dan bertahan sampai akhir. Sekali saja aku ingin memukul wajah Morgan dan guru lainnya karena akademi ini sama saja dengan istilah..."


"...bertahan hidup sampai akhir, yang licik menang sedangkan yang bodoh akan mati, bagaimana menurutmu, Asriel?"


"Aku juga berpikir sama denganmu tetapi semua ini sudah terjadi, apa yang sudah dilakukan setidaknya selesaikan sampai akhir saja. Kita semua sudah janji untuk ikut demi menyelamatkan Kou bukan?"


"Kita juga memiliki kesempatan untuk mendapatkan tiga permohonan..." Asriel mengambil alat tersebut menyimpannya di dalam sakunya untuk ia teliti nanti.


Mereka baru saja selesai memeriksa tempat persembunyian itu dan Asriel mengambil beberapa foto di dalam tempat persembunyian itu terutama bagian luar untuk dilaporkan kepada Morgan agar ia bersama kedua temannya bisa mendapatkan poin tambahan karena mengetahui tempat ilegal angkatan ketiga.


Setelah itu Rokuro langsung menghancurkannya karena tempat persembunyian seperti itu tidak dibutuhkan lagi.


"Kita akan bertahan sampai minggu ke depan dengan semua poin yang kita dapatkan dari laporan itu tetapi aku benar-benar membenci dengan kepala akademi."


"Siapa tahu Morgan bisa saja menjadi musuh yang sebenarnya..."


"Jangan berpikir negatif dulu, intinya kita harus bertahan saja dulu dan melihat apa yang akan terjadi dengan kota dan akademi di bulan kedua atau selanjutnya..."


"...sesuatu yang sudah terjadi lebih baik terus laksanakan saja, bukannya kau bilang begitu tadi, Asriel?" Kata Shuan.


"Tetap saja, nyawa semua orang itu penting loh. Walaupun kita sebagai ras Legenda dilarang memberi ampun kepada seorang pembunuh."


"Semua nyawa itu penting dan aku yakin nyawa itu disayangi oleh orang lain kecuali dirinya..."


Mereka baru saja melewati Grust, Eldamon, dan Bergord yang membeku dan tidak bisa melarikan diri karena ketiga murid angkatan tiga itu akan dilaporkan kepada Morgan.


Mereka sebentar lagi akan tiba di pasar gelap itu, tidak ada gejala aneh yang terjadi karena Shuan sudah memeriksanya dengan melepaskan elang emas.


Semua murid sepertinya melarikan diri karena serangan yang dilakukan oleh Grust, ketiga murid itu percuma saja melarikan diri karena mereka sudah memilih pilihan untuk mengundurkan diri.


Pasar gelap itu berada di dalam rumah yang kecil bahkan sampai diselimuti dengan sihir segel lainnya, Shuan masuk duluan dan ia dikejutkan dengan ras Golem yang sedang menunggu kedatangan pelanggan lainnya.

__ADS_1


Golem itu tercengang ketika melihat pelanggan baru yang berasal dari angkatan satu, ia juga tahu bahwa mereka bertiga baru saja selesai bertarung.


"Selamat datang di pasar gelap, murid angkatan satu. Sepertinya kalian sudah menguasai wilayah ini ya sampai tidak ada lagi murid angkatan tiga yang tersisa.


Sebagian dari mereka berubah menjadi bakteri dan sebagiannya menyatakan mengundurkan diri." Golem itu mulai merobek foto di papan tulisnya dan Shuan sempat melihat foto itu memperlihatkan wajah Eldamon.


"Tunggu dulu... kenapa kau merobek foto itu?"


"Pelanggan yang sudah gugur wajib untuk dirobek fotonya karena mereka tidak akan bisa lagi menjadi pelanggan setia di pasar gelap ini, mungkin kalian selanjutnya yang akan menjadi pelanggan---"


""Tidak, terima kasih.""


"Kalian angkatan ketiga yang cukup keras kepala ya, apa urusan kalian untuk datang ke tempat ini? Jika tidak ingin membeli barangku maka akan aku tendang kalian dan melarang kalian untuk datang lagi, silakan dipilih-pilih..."


"...banyak alat yang dapat membantu kalian untuk bisa menguasai sistem poin bahkan alat untuk membantu kalian mendapatkan nilai bagus juga ada tetapi risiko bisa kalian tanggung---"


Shuan tiba-tiba melompat kepada Golem itu lalu menjatuhkan dirinya di atas lantai sehingga Asriel menciptakan tembok es untuk menyelimuti pasar gelap itu agar tidak ada yang bisa masuk.


"Ini perampokan!!! Tolong---" Mulutnya mulai tertutup dengan rantai yang Rokuro ciptakan, rencana mereka untuk menghancurkan pasar gelap ternyata berhasil karena mereka ingin mendapatkan informasi yang keluar melalui mulut pemilik pasar gelap itu.


Golem itu tidak bisa melakukan apa pun karena dirinya yang sudah di tahan, seluruh tenaga dan kekuatan yang dimiliki Golem itu habis diserap oleh Rokuro jadi ia terpaksa harus mengatakan informasi yang mereka inginkan sebelum ketiga Legenda itu menyiksa dirinya.


Shuan menghantam wajahnya lalu meminta Rokuro untuk membiarkan Golem itu berbicara sekarang.


"Tidak ada yang bisa menyelamatkan dirimu sekarang... pasar gelap ini akan kami hancurkan demi keadilan untuk seluruh angkatan ke satu, tidak ada lagi angkatan ketiga yang dapat menguasai sistem poin dengan cara yang ilegal."


"Kau akan kami tangkap, dengan satu syarat kau ingin memberikan informasi penting kepada kami soal kota permohonan ini."


"To-Tolong...! Jangan lakukan apa pun kepada diriku...! Aku memiliki satu istri dan dua anak, Legenda! Aku... aku akan berbicara, sumpah!!!"


Golem itu mengangguk dan Shuan untuk sekarang mempercayai dirinya, semoga saja informasi yang mereka dapatkan penting karena mereka ingin mengetahui rencana Morgan.


"Kau pasti mengenal Morgan, jika dia bersama seluruh bawahannya tidak memeriksa seluruh kota maka Morgan mengizinkan pasar gelap ini untuk ada di kota permohonan..."


"...tetapi ia akan dengan senang hati menyingkirkan pasar gelap jika salah satu dari murid akademi itu melaporkannya, sekarang..."


"...apa yang Morgan rencanakan?!"

__ADS_1


__ADS_2