
"Koneko akan melakukan semua syaratnya demi bisa mengembalikan sepupu yang sangat dicintai." Kata Shinobu sampai pria itu mulai menatap dirinya dengan kedua mata yang tertutup.
"Hmmm... sangat sulit... semuanya terganggu karena sikapnya itu... sungguh gadis yang tak tahu tata Krama, apakah pantas untuk melanjutkan kehidupannya di alam ini..."
"Alam...?" Tanya Koizumi yang penasaran soal alam mereka, Shinobu dan pria tua itu terus membahasnya sampai Shinobu langsung menatap Koizumi untuk menjelaskan perbedaan rumit antar dua alam.
"Touriverse sangat amat luas... bukan sejarah saja yang menjelaskannya tetapi itu adalah sebuah fakta bahwa dunia kita memang tidak memiliki batasan apapun."
"Semua kemungkinan dan kemustahilan bisa menjadi kenyataan, dua alam kita terpisah dengan yang namanya [Alam Gaib], berbeda dengan Palouce dimana kediaman Astral berada di semesta itu."
"Alam Gaib hanya cocok untuk makhluk Astral yang sakti dan kuno... seperti Abah satu ini yang sudah tinggal sejak kapan, bah?" Tanya Shinobu kepada pria tua itu yang mulai mengangguk.
"Sudah lama sekali, nak... sejak kerajaan masih ada... lama sekali... Abah tidak menyangka akan melihat... dunia baru... yang lebih luas karena kamu, nak."
"Alam Gaib tidak terikat dengan yang namanya ruang dan waktu, tidak ada yang bisa masuk ke dalam kecuali Astral sakti... atau makhluk halus Indonesia yang berasal dari zaman kerajaan kuno."
Mereka memasang tatapan kaget ketika mengetahui alam gaib ternyata memiliki hukum dan konsep yang berbeda sampai mereka duduk di hadapan pria tua itu.
"Permisi, Abah... boleh saya tanya ada apa saja di dalam alam tersebut?" Tanya Konomi.
"Hmm... sulit dijelaskan, nak... bukannya tadi ingin membahas... soal gadis yang lancang itu?" Tanya pria tersebut yang kembali melirik kepada Shinobu.
"Anu... bagaimana menjelaskannya ya... tunggu ya, bah, saya akan jelaskan secara rinci kepada teman dan sepupuku yang paling tua." Kata Shinobu yang langsung menatap mereka semua.
"Anggap saja seperti ruang hampa... tidak ada apapun di sana jika kalian mencoba untuk masuk... esensi mereka dan keberadaannya hanya bisa dirasakan oleh orang sakti..."
"...seperti kehidupan biasa di dalamnya, Koneko melihatnya secara langsung dalam sebuah mimpi." Jawab Shinobu yang kembali menatap pria itu.
"Mimpi...? Itu artinya tidak begitu akurat?"
"Mimpi Koneko hanya sebuah cuplikan dari kemungkinan yang akan terjadi... suatu saat nanti mungkin aku akan berkunjung jika Abah memperbolehkan."
"Tentu saja, nak... datang saja, berkunjung..." Pria itu mengangguk lalu kembali mendengarkan perkataan Shinobu yang akan melakukan apapun demi bisa menyelamatkan Hinoka.
"Kami semua ingin meminta maaf sebesar-besarnya dengan perilaku yang Kak Hinoka lakukan..."
"...berikanlah dia kesempatan untuk bisa mengubah dirinya menjadi sesosok wanita yang sopan santun ketika sudah besar nanti agar ia bisa berhenti berbicara sembarangan."
"Benar... bisa saya urus tenang itu... kalau begitu, adik ingin bernegosiasi seperti apa...? Sebutkan... saya akan tentukan..." Kata pria tua itu sampai Shinobu mulai memegang dagunya.
"... ..." Shinobu berpikir dengan sangat kritis agar syarat ini bisa menjadi sebuah keuntungan untuk kedua belah pihak, jika merugikan satu sama lain maka itu hasilnya akan sangat buruk.
"Keuntungan... antar dua pihak... tidak ada yang mendapatkan... kerugian dari satu sama lain..."
"...arwah... alam gaib... Astral... nyawa... esensial... jika aku mati... maka aku bisa mengetahuinya..." Shinobu langsung menatap kedua teman dan sepupunya yang memasang tatapan khawatir karena tidak tahu dia akan mengikuti syarat apa.
"Abah, apakah tahu soal bangsa Legenda?" Tanya Shinobu.
__ADS_1
"Tentu... bangsaku tahu... semuanya tahu... tentang kemajuan yang akan terjadi..."
"Kalau begitu... Abah tahu soal bangsa Legenda memiliki tipenya masing-masing? Seperti saya yang memiliki ekor dan telinga kucing ini." Kata Shinobu sambil menggerakkan ekor serta kedua telinganya.
"Ya... saya tahu... konon katanya... bangsa seperti adik... memiliki nyawa melebihi satu bukan...?"
Shinobu memasang tatapan kaget lalu ia tersenyum serius karena makhluk Astral Indonesia memang tidak bisa diremehkan begitu saja, ketiga temannya juga ikut kaget ketika pria itu mengetahui Shinobu memiliki nyawa lebih dari satu.
"Shinobu, apakah kamu yakin soal ini?" Tanya Koizumi.
"Aku tidak takut yang namanya mati atau nyawa... semua ini... hanya diputuskan oleh pengetahuanku." Jawab Shinobu dengan senyuman serius.
"Aku menjual nyawaku... bayarannya adalah kepulangan dari Hinoka!" Kata Shinobu sampai pria itu mulai tersenyum lalu mengangguk karena tertarik dengan ras setengah Astral sepertinya.
"Kalau begitu... itu masih belum cukup... dia sudah mengganggu banyak sekali bangsaku... bukan hanya Hinoka yang diincar melainkan sisa dari temanmu ini..."
"...jumlah kalian bisa di bilang... lima... kalau begitu aku akan membeli lima nyawamu lalu dibayar dengan kepulangan Hinoka serta keselamatan temanmu yang lain."
"Nobu..." Ketika Ako mencoba untuk berbicara, Shinobu langsung mengangkat lengannya bahwa ia tidak merasa keberatan sama sekali, untuk sekarang ia tidak memandang yang namanya jumlah.
"Aku terima. Ambil lah, lima nyawa yang aku punya..." Shinobu mengangguk lalu tersenyum polos sampai pria tua itu tertawa lalu menepuk punggungnya.
"Kau memang menarik, nak... aku harap... suatu saat nanti... kau mau berkunjung..."
"Tentu, dengan senang hati." Shinobu mengangguk lalu ia menatap mereka semua untuk tetap tenang dan menunggu sampai Hinoka pulang dari alam itu.
"Nobu...!" Ako mendekati tubuh Shinobu lalu ia menyentuh pipinya yang terasa begitu dingin sampai ia tidak bisa merasakan apapun di dalamnya.
"Seperti cawan yang kosong..." Kata Ako sampai ia bisa melihat tubuh pria tua itu bergerak sampai kepalanya menatap Konomi dan Koizumi yang mencoba untuk waspada.
"Malam-malam seperti ini... kalian memang berani datang dan mengganggu makhluk halus ya..." Pria itu perlahan-lahan bangkit dari atas tanah lalu ia mundur ke belakang.
"Tu-Tunggu... itu artinya kamu bukan makhluk seperti mereka...?" Tanya Konomi.
"Tentu saja tidak... aku hanya sudah berteman dengan makhluk halus di gunung ini, mereka bisa menggunakan tubuhku ini untuk melihat dunia luar..."
"Rambut merah itu..." Pria itu langsung mengerutkan dahinya ketika melihat Koizumi, ia mengingat seseorang yang memiliki warna rambut sama seperti dirinya.
"Entah aku mengingatnya atau tidak... kau mirip dengan seseorang yang pernah datang menuju kediamanku... hanya untuk mencari tahu cara Santet demi bisa menghentikan iblis..."
"Santet...? Iblis...?" Koizumi memasang tatapan bingung sampai pria itu menggelengkan kepalanya lalu duduk di sebelah pohon besar selagi menunggu kedatangan Hinoka.
"Nak... aku peringatkan sekali lagi... jangan sesekali melawan... makhluk halus--- tidak, makhluk yang kalian sebut Astral itu... dengan tindakan yang tidak sopan dan pantas..."
"...sekali saja mengganggu... membuat mereka kesal dan dendam... terpengaruh dengan rasa kebencian maka yang kalian dapatkan adalah... alam gaib... sebagai tempat terakhir..."
"...kalian tidak... akan bisa melihat apapun di sana... merasakan saja tidak bisa... semuanya gelap... memiliki hukum dan konsep berbeda..."
__ADS_1
"Dunia sudah berubah cukup lama ya... aku kira kedamaian akan tetap bertahan ketika dia menjadi Ratu yang memegang semua kekuasaan di alam semesta..."
"Ratu...? Apakah yang kamu maksud adalah Kou Comi?" Tanya Koizumi.
"Tidak... yang satunya lagi... aku melupakan nama---"
Mereka semua langsung merasakan kedatangan yang begitu jelas, Hinoka terjatuh dari atas pohon sampai ia mendarat tepat di belakang mereka dengan kedua tapaknya yang terus menutup kedua matanya.
"Hentikan...!!! Tolong...!!! Siapa pun...!!! Tolooonngggg...!!!"
Hinoka mengeluarkan suara yang begitu keras sampai ia terus melepaskan teriakan histeris, merasa trauma dengan apa yang ia rasakan sebelumnya sampai matanya terus mengeluarkan banyak air mata.
"Ahhhhhh...!"
"Oi! Hinoka! Hei, bodoh...!" Koizumi mencoba untuk menyadari Hinoka dengan menyentuh kedua pipinya tetapi Hinoka langsung menggerakkan kedua lengannya ke depan.
"Menjauh...!!! Tidak...!!! Jangan mendekati aku...!!! Mamaaaaa...!!!" Teriak Hinoka keras sampai mencoba untuk memanggil ibunya tetapi Koizumi langsung memegang erat kedua lengannya.
"Oi! Ini aku...!" Seru Koizumi sampai Hinoka membuka kedua matanya yang penuh dengan air mata lalu memasang tatapan penuh rasa bersyukur ketika melihat Koizumi.
"Koizumi...!!! Koizumi...!!! KOIZUMIII!!! HWEEEEHHHHH...!!!" Hinoka langsung memeluk Koizumi begitu erat sampai ia sempat tercekik, ia merasa bersalah ketika mengetahui ketakutan dan kesedihan yang Hinoka rasakan saat ini.
"Hahhh... dasar cengeng..." Koizumi mengeratkan pelukannya, dan berpikir bahwa alam yang dimaksud Shinobu tadi sepertinya berbahaya jika Hinoka bisa berubah menjadi cengeng seperti ini sampai teriakan tadi.
Hampir sama seperti teriakan yang terdengar sebelum dihantam dengan kematian, dengan menenangkan dirinya Koizumi menghela nafasnya lalu ia memberikan kecupan di pipi Hinoka.
"HWEEEEHHHHH...!!! Bibir...! Aku ketakutan...!!! Koizumi...!!!" Hinoka semakin mengeratkan pelukannya sampai Koizumi memasang tatapan kaget dengan pipi yang memerah tetapi ia tidak memiliki pilihan lain.
"Ini yang terakhir, kau dengar!? Hinosapi cengeng...!" Koizumi memberikan kecupan cepat di bibir Hinoka lalu ia menepuk tengkuknya yang cukup untuk memisahkan Hinoka agar ia bisa berhenti menangis.
Koizumi mengangkat tubuh Hinoka lalu ia menatap pria tua yang sedang melakukan meditasi itu, "Bagaimana dengan Shinobu...?"
"Negosiasi kalian berhasil... membutuhkan waktu untuk gadis kucing itu kembali... bawa saja tubuhnya, amankan di tenda..."
"...keselamatan kalian sudah berada di tangan dirinya, semua makhluk halus akan beristirahat dengan tenang." Kata pria tua yang melanjutkan meditasinya.
"Ako, angkat dia." Kata Koizumi.
"Heh!? Aku?!"
"Cepatlah." Kata Konomi.
"Ba-Baiklah..." Ako mendekati tubuh Shinobu lalu ia mengangkatnya sampai wajahnya begitu dekat dengannya.
"Ke-Kecil sekali... dia sangat ringan! Aku mencium aroma pagi hari di rambut dan tubuhnya...!" Kata Ako yang terlihat kaget ketika tidak sengaja mencium bau Shinobu seperti matahari di pagi hari.
"Dengan ini... kita bisa tidur dengan nyenyak... sudah..."
__ADS_1
"...jaga sikap kalian masing-masing."