Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 414 - Apapun untuk Poin


__ADS_3

Shuan menendang wajah seorang murid dari kelas 1-B dan ia berhasil memenangkan duel itu dengan hasil mendapatkan 100.000 poin dengan tambah 50.000 poin dari murid yang ia tantangan. Ia juga sempat melihat Rokuro dan Asriel yang memenangkan pertarungan mereka, semua ini sengaja mereka lakukan di ruang olahraga yang saat ini sedang sepi karena beberapa menit lagi mereka akan memasuki pelajaran yang selanjutnya.


Kekalahan murid itu membuat mereka terluka tetapi luka itu langsung disembuhkan oleh Shuan dengan memberi mereka sebuah botol berisi ramuan penyembuh yang ia dapatkan dari toko, setidaknya murid yang mereka tantang tidak menyimpan rasa dendam apapun tetapi merasa menyesal untuk bertemu dengan mereka di lorong olahraga karena Shuan selalu merampas kartu mereka menggunakan [Golden Earth] dimana planet emas itu akan menciptakan tumbuhan yang mengambil kartu mereka.


Otomatis murid yang dirampas kartu-nya akan melakukan apapun demi mendapatkannya, jika murid menghilang kartu itu sebanyak 3 kali maka mereka akan langsung dikeluarkan. Murid itu juga terlihat tertarik untuk melakukan mode duel bersama Shuan dan kedua temannya yang sudah berjanji untuk bekerja sama demi mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya. 


"Jika dipikirkan kembali, kita terlihat seperti seseorang yang mengganggu murid lain ya... bisa-bisa kita menarik perhatian angkatan kakak kelas kita yang kedua dan ketiga karena sikap busuk dirimu, Shuan." Asriel menatap Shuan datar yang saat ini sedang menghitung kartunya, mereka terpaksa harus pindah sebelum bertemu dengan angkatan paling atas.


"Tidak apa, setidaknya kita tidak akan melakukan ini setiap hari. Hanya sekarang saja untuk membiasakan diri dengan kehidupan di kota permohonan dan akademi permohonan ini, ras Cyber-Demon yang aku lawan tadi tidak bisa diremehkan begitu saja karena memiliki alat yang hampir memutuskan urat nadi-ku... untung saja aku berhasil menghajar-nya habis-habisan agar ia tidak bisa menggunakan kemampuan itu lagi." Kata Rokuro sambil menggerakkan lehernya yang terasa pegal karena ia lupa melakukan pemanasan sebelum bertarung.


"Untuk sekarang kita akhiri dulu saja... kebetulan hari ini kita mendapatkan 300.000 poin dari duel karena sudah mengalahkan tiga murid. Dua murid lagi maka kita akan mendapatkan streak dan keuntungan yang begitu besar." Shuan bersama kedua teman-nya berencana untuk pergi kembali ke dalam kelas sebelum bel berbunyi karena mereka tidak ingin terlambat, sekali saja terlambat selama satu detik maka mendapatkan pengurangan poin sebanyak 100.000.


***


Haruka saat ini baru saja menebak beberapa nama dan kekuatan seseorang berkat bantuan dari Kou yang bertemu dengan peserta asing, menggunakan kemampuan dari The Mind mampu meringankan pengumpulan poin bagi dirinya dan Haruka karena ia sendiri hanya ingin bekerja sama dengan Kou agar bisa melindunginya dari dekat sedangkan sisanya bisa diserahkan kepada yang lain, Mitsuki juga saat ini sedang memantau kartu-nya di sebelah Haruka.


"Apakah kamu tidak keberatan jika kau ikut bekerja sama, Haruka?"

__ADS_1


"Tentu tidak, nyaman kan dirimu sendiri ya... kita akan mengumpulkan poin dengan cara yang lebih mudah yaitu menebak nama dan kekuatan. Aku dengar terdapat sebuah gedung yang menjual informasi di kota ini, kita bisa mendapatkan informasi apapun dari orang itu tetapi aku masih belum ingin mengunjungi gedung itu... sendirian juga bukan pilihan yang tepat karena..." Haruka menempati kartu itu lalu ia memilih pilihan peta dimana ia sudah menandakan berbagai macam tempat berbahaya yang sudah dipenuhi dengan murid dari angkatan dua dan tiga.


"Titik merah itu menandakan tempat persembunyian atau rahasia dari angkatan dari atas kita... mereka sudah pasti lebih berpengalaman untuk mengalahkan sistem Solicitation ini tetapi menyingkirkan mereka satu per satu sepertinya akan membantu tetapi kita utamakan dengan mengalahkan angkatan yang sama terlebih dahulu... intinya, Mitsuki, kau membutuhkan Asriel untuk pergi ke kota karena di luar sana berbahaya jika kamu diketahui sebagai murid akademi ini." Kata Haruka sambil memakan roti lapis-nya, ia melanjutkan pekerjaannya untuk melihat-lihat peta itu.


"J-Jangan mengatakan hal memalukan seperti itu, Haruka... uhh..."


"Hahaha, maaf-maaf."


Di sisi lainnya terdapat Minami yang tidak sengaja masuk ke dalam lorong kelas-nya dan menabrak seorang Golem sampai ia terjatuh di atas lantai. Minami menutup kedua matanya sebentar untuk mengontrol amarah-nya lalu ia menoleh ke belakang dan melihat Golem itu bersama teman-temannya memperhatikan dirinya. Minami benar-benar harus waspada dengan sekitarnya karena ia dikenal sebagai anak dari sang juara generasi ketiga yaitu Megumi.


"Apakah seseorang menabrak dirimu...?"


"Entahlah, mungkin tidak sengaja tetapi aku ingat pagi tadi Golem yang menabrak diriku itu terus memperhatikan diriku bersama teman-temannya. Ini adalah resiko jika memiliki seorang Mama yang terkenal, hahaha, untuk sekarang aman saja karena kita tidak perlu mengurusi apapun yang berkaitan dengan kekerasan atau kita akan mendapatkan hukuman nanti." Minami naik ke atas tangga untuk duduk di kursi-nya, ia tidak lupa untuk melihat poin-nya yang masih bias dibilang banyak karena ia sudah berbelanja dengan irit dan bahkan mengumpulkan poin dengan memotret harta.


"Istirahat 30 menit lama juga ya... kita sempat untuk makan siang dan bahkan berbelanja." Minami memulai pembicaraan bersama Hana, Honoka, Lyazen, dan Marie. Menghabiskan sisa waktu tersisa dengan membicarakan hal-hal yang selalu dibicarakan oleh para gadis.


Bel waktu istirahat baru saja berakhir dan pelajaran di mulai, seperti biasanya terdapat sebagian murid yang akan memperhatikan dan sebagiannya akan menghabiskan waktu dengan hal yang tidak penting. Perilaku tidak disiplin mereka mempengaruhi pengurangan poin yang begitu cepat terutama bagi seseorang yang tidak fokus memperhatikan, tidur, mengobrol, dan bermain-main. Shuan memperhatikan apa yang Sakura katakan bahkan ia mencatat semua perkataannya, Asriel hanya bisa mendengar selagi membaca buku pelajaran tentang sejarah kuno.

__ADS_1


Rokuro awalnya terus menatap buku itu dengan pikiran yang lelah tetapi ia memaksa dirinya untuk memperhatikan karena Haruka baru saja memberitahu mereka semua sikap mereka akan nilai dan sekali saja melakukan hal yang buruk akan mendapatkan pengurangan poin, entah itu beberapa tetapi mereka tidak akan bisa menyadarinya. Haruka dan Kou memperhatikan dengan baik bahkan pelajaran yang saat ini sedangkan dijelaskan Sakura sudah mereka ketahui karena mereka sudah sering mempelajari tentang sejarah berbeda dengan kelas 1-C.


Mereka mendapatkan pembelajaran matematika, terpaksa harus memperhatikan dan mengerjakan soal jika tidak maka akan mendapatkan pengurangan poin bahkan jika soal yang dikerjakan salah saja maka mereka terpaksa harus membenarkannya jika tidak ingin mendapatkan pengurangan nilai. Minami hanya perlu menunggu yang lainnya menyelesaikan soal itu karena ia paling duluan untuk selesai, ia juga merasakan wali kelasnya memiliki sihir yang dapat membuat murid mengantuk, semua ini benar-benar ujian.


Bakuzen sudah tertidur beberapa kali tetapi Lyazen membangunkan dirinya dengan menepuk kepalanya dari belakang ketika guru itu terus memperhatikan Marie yang selalu menanyakan pertanyaan yang membingungkan, ia menggunakan kesempatan itu sebagai pengalihan bagi teman-temannya yang jatuh tertidur karena pelajaran matematik yang begitu membosankan.


Satu pelajaran menghabiskan waktu selama 1 jam, kelas 1-S mendapatkan pelajaran sejarah dan kekuatan sedangkan kelas 1-C mendapatkan pelajaran matematika dan sejarah. Sungguh ujian yang besar untuk kelas 1-C bahkan Honoka melanggar satu aturan, ia tertidur ketika pelajaran sejarah karena saking bosan-nya mendengar sejarah yang sudah pernah ia dengar sebelumnya.


"Sialan!!! Aku mendapatkan pengurangan poin 50.000 karena tertidur... agghhhh... ketat sekali sih..." Honoka menutup wajahnya dengan meja, hanya Hana yang menenangkan dirinya dengan sebuah elusan di kepala agar ia bisa merasa lebih bersemangat dari sebelumnya untuk terus melanjutkan tugasnya sebagai seorang pelajar.


"Tenang saja, Honoka, kau bisa tunjukkan guru itu bahwa kau sangat mahir dalam pelajaran sejarah. Aku yakin kau pasti akan mendapatkan 100!" Kata Marie, Honoka tersenyum dan merasa lebih bersemangat sekarang, perkataan Marie tadi baru saja di dengar oleh murid lain yang masih belum memperkenalkan diri mereka masing-masing karena masih merasa curiga dengan Minami dan yang lainnya, mereka juga sama-sama mencurigai murid-murid yang satu kelas itu.


"Sekolah ini benar-benar ketat ya... apapun itu, pasti berkaitan dengan poin dan poin. Mungkin poin itu adalah segalanya, sudah jelas sih karena generasi ke empat ini kita harus bertahan dengan menguasai sistem poin dan nilai jika tidak maka semuanya akan berakhir... kita akan pulang." Kata Lyazen sambil membereskan bukunya, sudah saatnya mereka pulang dan beristirahat di ruangan hotel mereka dan waktu tersisa mereka bisa digunakan untuk mengumpulkan poin dengan cara yang positif.


"Mari kita pulang." Lyazen mengajak mereka untuk pulang.


""Ayo!""

__ADS_1


__ADS_2