
"Dukun? Apa itu?" Tanya Ako.
"Hohhh...!!!" Shinobu melebarkan kedua matanya karena dukun yang dimaksud oleh Adit mungkin bisa ia sangkut pautkan kepada seorang pria tua yang pernah ia temui bersama teman-temannya di gunung Lawu.
"Apakah penampilan mereka itu terlihat begitu misterius dan menakutkan...?!" Tanya Shinobu dengan tatapan terbinar-binar karena ia menyukai sesuatu yang penuh misteri bersangkut paut pada Astral.
"Ya... penampilan mereka penuh dengan kehitaman, intinya mereka adalah Manusia yang sudah melakukan banyak ritual dengan makhluk halus sampai menjadi teman sejati."
"Jangan sekali-kali berurusan dengan mereka... semua kemampuan dan kekuatan yang mereka pegang berkaitan dengan penuh misteri karena berkaitan dengan makhluk halus itu sendiri." Peringat Indera.
"Seperti yang kau lihat, Shino... mayat yang kau pegang itu tidak memiliki luka serangan apapun tetapi di dalam tubuhnya aku yakin sudah hancur karena serangan para Dukun yang sudah bergerak."
"Mereka bisa dikatakan sebagai Manusia sakti yang mampu membunuh tanpa harus menyentuh, hanya membutuhkan beberapa persyaratan dan ya... orang itu akan mati dengan kemampuan yang dinamakan Santet."
Ako dan Yuffie memasang tatapan terkejut ketika mendengarnya, bisa di bilang Dukun ini sangatlah berbahaya tetapi untuk Shinobu ia terlihat sangat tertarik karena pernah mendengar sejarah penyerangan Rxeonal sejak itu.
"Itu artinya mereka memang berada di sisi kita ya~ uwahh~ Koneko sangat menyukai sejarah yang menceritakan para Dukun berhasil menyantet banyak sekali Giblis..."
"...kalau tidak salah Nenek Korrina mengenal seorang Dukun, aku memang harus mencarinya untuk bisa mengakhiri kebodohan yang dilakukan oleh para aliansi itu." Shinobu mulai lompat-lompat.
"Nobu... kamu baik-baik saja...? Bukannya Dukun terdengar sangat berbahaya jika bisa membunuh tanpa harus menyentuh..."
"Tetapi itu sudah menjadi bukti bahwa mereka memang hebat, kemampuan Santet itu katanya bukan hanya menyebabkan seseorang menerima serangan jantung..."
"...mereka juga dapat memberikan penyakit yang tidak bisa disembuhkan dan bahkan memasukkan benda tajam ke dalam tubuh mereka semua!" Kata Shinobu yang berbicara tepat di hadapan Ako.
"Uhh... i-iya... kalau kamu suka maka aku juga harus menyukainya."
"Ako, Koneko sayang Ako!" Shinobu memeluk Ako erat lalu memberinya sebuah kecupan, setelah itu ia kembali mendekati Indera dan Adit untuk memegang erat tangan mereka.
"Nobu... jangan seenaknya menyerang seperti itu dong..." Kata Ako yang mulai tersipu merah tetapi ia sekarang langsung memasang tatapan mematikan kepada Indera dan Adit yang perhatiannya berhasil tertarik oleh Shinobu.
"Jelaskan lebih banyak lagi...! Apa yang dapat dukun lakukan...?! Karena Koneko sudah berteman dekat dengan makhluk astral yang menduduki dunia Gaib maka tidak ada masalah."
Adit dan Indera memasang tatapan bingung seketika sampai mereka bisa merasakan hawa membunuh yang begitu kuat di belakang Shinobu, "Dit, lu bisa merasakan apa yang gue rasakan?"
"Sepertinya kita sedang diawasi... entah itu siapa tetapi insting yang aku miliki dapat mendeteksi kecemburuan." Jawab Adit yang mulai menatap Shinobu dengan tatapan serius.
"Kalau begitu, kau ingin tahu tentang apa saja dari Dukun? Intinya mereka saja sudah bisa dibilang kuat tanpa menggunakan Mana karena apa yang mereka punya katanya [Spiritual Astral Energy]."
"Hanya orang tertentu yang membuka Indra ke enam dapat memperoleh hal seperti itu sampai mereka juga dapat bertahan dengan berteman lama bersama para makhluk gaib..."
"...semakin hubungan seseorang dengan makhluk gaib ketat maka semakin sakti orang itu... dia juga mungkin bisa menerima banyak perlindungan dari makhluk gaib."
__ADS_1
"Maupun itu dijadikan sebagai serangan atau pertahanan, Dukun dapat melakukannya... itulah kenapa mereka sangatlah dibutuhkan dalam keadaan seperti ini."
"Mereka hanya bergerak ketika situasi sudah bertambah buruk... mungkin sekarang adalah kejayaan untuk kita negara Indonesia."
Shinobu terus mengangguk, rasa penasarannya semakin memuncak sampai ia tidak bisa berkata-kata lagi melainkan terus melompat seperti anak kecil untuk memeriksa langsung dukun itu lalu memintanya melatih dirinya agar bisa menguasai ilmu gaib dan ilmu hitam yang pernah ia pelajari.
"Kalau begitu... sudah ditentukan, Koneko ingin mempelajarinya." Shinobu tersenyum polos lalu ia menoleh ke belakang untuk melihat Yuffie dan Ako yang memasang tatapan bingung.
"Kita masih memiliki satu hari penuh untuk mengikuti upacara perkumpulan para presiden..."
"...pada saat hari itu maka kedamaian akan muncul untuk umat Manusia, kita bisa menangkap para aliansi itu untuk menanyakan soal konsep yang sudah musnah."
"Baiklah, karena penyerangan sudah berakhir di Indonesia... aku serahkan sisanya kepada kalian semua." Shinobu melepaskan pembakaran melalui kedua kakinya sampai ia mulai melayang di atas langit.
"Ehh? Kamu ingin kemana, Nobu?"
"Jangan-jangan kau memang ingin mempelajari ilmu yang dimiliki oleh para Dukun itu...? Tetapi karena kau adalah setengah Astral maka semua makhluk halus itu..."
"Ya, Koneko sudah berjanji akan bertemu dengan mereka lagi..."
"...tidak salah, seseorang yang sudah membantu Kak Hinoka keluar dari dunia gaib adalah seorang dukun yang dirasuki sejak itu, kemungkinan besar Dukun itu yang sudah membantu Nenek Korrina."
"Hanya satu hari saja... Koneko akan berjuang!"
Itu artinya ia sedang dalam perjalanan menuju gunung itu, Ako dan yang lainnya hanya bisa diam ketika melihat Shinobu pergi begitu saja.
"Dia memang termotivasi dalam segala bentuk apapun soal kekuatan dan resolusi untuk melawan balik konsep sihir yang sudah hilang ini..."
"...sungguh gadis yang cerdik." Yuffie terkekeh.
"Itulah Nobu yang aku kenal."
***
Shinobu melangkah menuju pohon keramat yang begitu besar di hadapannya, sesuai dengan prediksi yang ia pikirkan sebelumnya ternyata ia memang bertemu dengan Dukun itu yang sedang menyalakan lilin.
"Ahh... ternyata kau memang memutuskan untuk datang..."
"...hahaha... sungguh gadis yang menarik... ternyata kita saling tertarik menuju satu sama lain." Dukun itu menatap Shinobu dengan sebuah senyuman serius, ia dapat melihat dari wajah Shinobu dan rambutnya itu terlihat mirip dengan seseorang.
"Jika saja Nenekmu tidak takut dengan pocong maka dia sudah pasti... akan menguasai ilmu hitam dan gaib lainnya... terutama lagi melakukan santet."
"Dukun Sakti... berikan aku cara untuk bisa masuk ke dalam dunia gaib, aku ingin berlatih di sana!" Ucap Shinobu dengan tatapan serius, dukun itu bernama Sakti atau bisa dibilang dukun yang pernah membantu para Legenda ketika melawan Giblis.
__ADS_1
"Tentu... tekadmu sangatlah besar... kau sudah berteman dengan banyak arwah yang sudah mati maka itu akan menjadi mudah untuk masuk." Jawab Sakti.
"Koneko... akan berjuang! Untuk mengakhiri kemusnahan konsep itu!"
***
Hinoka menggunakan mayat lainnya sebagai perisai yang menahan semua peluru Abah, setelah itu ia berhasil mendekat dan melancarkan satu pukulan yang tertahan oleh objek tak terlihat.
"Apa yang...?!" Hinoka langsung menerima satu pukulan di bagian perutnya oleh Abah sampai pukulan itu terasa seperti memberikan dua serangan yang mengenai perutnya.
Tetapi satu serangan itu tidak dapat ia lihat sama sekali dan efek serangannya terasa lebih menyakitkan dari sebelumnya, Abah memutar tubuh Hinoka sampai berhasil merebut granat yang coba ia tarik pinnya lagi.
Abah melancarkan satu pukulan ke depan tetapi Hinoka berhasil menghindari, tetapi perutnya tetap terasa seperti menerima tabrakan entah dari mana sampai mendorong dirinya ke belakang.
"Oi... apa yang kau lakukan, brengsek? Fisik yang kau gunakan ketika melawanku terlihat biasa saja, tetapi serangan yang kau lakukan padaku cukup berbahaya." Hinoka mulai mengusap darah di bagian mulutnya.
"Aku sudah menghindari beberapa serangannya tetapi tubuhku tetap menerima serangan seperti tabrakan yang begitu kuat... entah apa yang kau lakukan tadi, aku akan membalasnya!!!"
Hinoka melesat maju menuju arah Abah yang mengeluarkan sebuah Keris lalu melemparnya ke arah Hinoka, tetapi ia berhasil melepaskan ledakan kepada dirinya sendiri sampai Keris itu melesat.
Hinoka sempat merasakan embusan angin yang kuat di sebelah kirinya sampai meninggalkan luka tebas kecil di bagian pipinya, "Apakah semacam ilusi...? Dari namanya saja aku sudah tahu bahwa dia Manusia Indonesia."
Hinoka mulai menangkis semua serangan yang dilakukan oleh Abah sampai ia mengeluarkan Keris lainnya, semua serangan itu berhasil Hinoka tahan sampai ia terpaksa memperkuat fisiknya dengan Lenergy.
Fisiknya berhasil menahan serangan yang disebabkan oleh tabrakan tadi, kali ini hanya fokus menangkis dan menghindari semua serangan yang dilakukan oleh Abah.
Hinoka lebih memilih untuk mengandalkan pertahanan sekarang, semua serangan yang dilakukan oleh Abah berhasil ia tangkis kembali menggunakan kedua tapaknya bahkan pandangan Hinoka sempat tertuju pada keris yang Abah pegang.
Abah melakukan atraksi kecil yaitu dengan melempar keris itu ke atas lalu mengambilnya lagi hanya untuk mencoba menebas dirinya tetapi gagal karena refleks Hinoka yang begitu sempurna karena sering menari.
Setelah menghindari semua serangan itu sampai membuat Abah kelelahan, Hinoka yang sedang menunduk mengangkat kepalanya lalu melancarkan satu tamparan yang begitu keras sampai mendorongnya mundur.
"Pertahanan tak kasat mata itu menghilang..." Batin Hinoka, ia bisa melihat pipi Abah meninggal bekas tamparannya itu yang mengandung Lenergy.
Hinoka melompat ke atas lalu melakukan sebuah putaran yang dilanjut dengan tendangan, serangan yang ia lakukan selanjutnya adalah melancarkan tendangan lututnya sampai menyebabkan Abah memuntahkan banyak darah.
"Hahhhhh!!!" Hinoka mengepalkan tinju kanannya cukup keras, ia mencoba untuk menghantam wajah Abah tetapi pergerakan berhenti seketika.
"Hughhh...!?" Hinoka mengembungkan kedua pipinya seketika lalu ia mundur beberapa langkah selagi memegang lehernya sendiri.
"Hoeeggghhhh...!!!" Hinoka langsung memuntahkan banyak sekali paku dari dalam mulutnya, ia langsung berlutut di atas tanah dan memuntahkan semua paku itu.
"Sepertinya dia memang berhasil untuk menyantet dirimu..."
__ADS_1
"A-Apa...?"