Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 733 - Teruslah Menjaga dirinya dari Dekat


__ADS_3

"T-Tidak mungkin... kamu juga ingin meninggalkan diriku sendirian...?" Tanya Haruka dengan tatapan yang terlihat begitu kaget.


"Ya... kekuatan Heaven di dalam diriku sudah hampir habis... itu artinya, aku akan menyusul Kak Honoka karena ia sempat berbicara kepada kita tentang Mama."


"Dia selalu saja di panggil oleh Mama sampai setiap kekuatan Heaven yang ia gunakan hanya akan memindahkan alam sadarnya menuju surga sampai Mama terus mengajak kita untuk pulang."


"Walaupun Kak Honoka mendapatkan kematian yang begitu menyakitkan karena sampai di siksa... aku coba sekuat mungkin untuk tetap menahan penyakit itu." Kou menyentuh dadanya sendiri.


"Rasanya sudah mulai terasa begitu menyakitkan di dalam hatiku bahkan aku sendiri... tidak tahu kapan akan bertahan dan bisa menjaga Koneko."


Haruka menatap Kou dengan tatapan yang terlihat putus asa bahwa ia sendiri bersikap seperti dulu sekali, sejak Kou masih kecil dan merasa kesakitan karena penyakitnya itu, tidak ada bantuan sama sekali.


Semua itu terbantu hanya satu hal yang tidak bertahan untuk selamanya, pilihan dan rencananya sudah habis sampai ia hanya bisa menundukkan kepalanya, merasa gagal kembali menjadi seorang Kakak.


Kou merasa biasa saja, tidak ada satu pun air mata yang mengalir deras karena ia menerima takdirnya sendiri, hanya saja ia merasa sangat khawatir untuk meninggalkan Koneko sendirian.


"Maaf ya, Kakak... sejak aku lahir, takdirku memang sudah gelap... semuanya dipenuhi dengan penderitaan dan kesakitan..."


"...tetapi aku sudah hidup dengan baik dan benar, kehidupan yang aku rasakan sejak kecil sampai sekarang terasa begitu menyenangkan." Kou tersenyum.


"Walaupun aku sejak kecil sudah menderita karena tidak bisa berbicara, melihat, dan mendengar... aku masih tetap melanjutkan kehidupan demi kalian..."


"...demi meneruskan tujuan dan mimpi yang Mama inginkan, melihat semuanya sudah terjadi begitu saja, itu artinya aku sudah selesai." Kou melihat keluar jendela.


"Hanya Koneko... satu-satunya keturunan yang akan melanjutkannya, semua tugasku sudah habis, sekarang tinggal Koneko untuk melanjutkan harapan kami..."


"...ketika aku pergi dalam waktu yang kurang di tentukan, aku hanya bisa berharap bahwa Koneko tidak menangis... menderita... depresi..."


"...aku ingin dirinya terus melanjutkan kehidupan sebagai seseorang yang selalu ia inginkan, yang dapat melakukan apapun secara mandiri."


"Mengandalkan dirinya sendiri demi memberikan dunia gelap ini sedikit kecerahan dari cahayanya, aku ingin dia memilih jalanan yang selalu ia inginkan agar dia bisa hidup dengan tenang."


"Ketenangan itu terus terganggu oleh bangsa kita sendiri, aku dan Koneko terus di anggap bermasalah sampai kita mungkin sudah di jadikan sebagai mangsa yang harus di cari dengan imbalan mahal."


Kou menarik nafas dalam-dalam lalu ia menghembuskan nya pelan karena dirinya hanya mengharapkan satu hal yaitu Koneko, semoga saja dia bisa hidup dengan benar.


"Sejak kecil, dia sudah memiliki mimpi untuk membantu mereka yang tidak dapat melindungi dirinya sendiri bahkan seseorang yang memiliki kekurangan juga ingin ia bantu..."


"...Koneko itu gadis yang kuat, sejak bayi dia juga terus berjuang untuk hidup walaupun tidak memiliki lengan, kaki, dan mata."


"Tangisannya hanya bisa di lihat oleh diriku dan Shuan, dia sudah tidak mau menangis sembarangan kecuali di hadapanku." Kou mulai meraih tangan Haruka lalu mengeratkan genggaman itu.


Kou bisa melihat Haruka meneteskan beberapa air mata, ia tidak bisa mengatakan apapun kecuali diam karena takdir seperti itu memang tidak bisa di hindari.


"Maaf ya, Kakak..." Kou mulai memeluk Haruka tetapi ia menerima pelukan yang begitu erat sampai tubuhnya terangkat oleh Haruka.


"... ...!" Kou terkejut ketika melihat Haruka terus mengerutkan pelukannya selagi melepaskan tangisan yang begitu keras.


Semua rasa sedih dan tangisan itu bisa Kou rasakan melalui pikirannya, semuanya terasa begitu menyedihkan sampai Haruka tidak bisa melakukan apapun kecuali menangis bahwa ia akan di tinggal lagi oleh adik terakhirnya.


Kou tersenyum pahit lalu mengelus kepala Haruka pelan-pelan, "Aku harap bisa bertemu dengan Kakak lagi di sisi lain..."


***


Terjadi sebuah keributan yang besar di pemakaman ketika beberapa Legenda melihat Shinobu yang memiliki ekor dan telinga kucing, melihatnya saja membuat mereka merasa takut dan kesal.


Seseorang langsung melempar batu ke arah Shinobu, ia secara refleks mencoba untuk menghalanginya tetapi Koizumi menangkap batu itu dengan cepat.


"Oi! Apa yang kamu lakukan melempar gadis kecil sebuah batu, hah?!" Tanya Koizumi dengan ekspresi kesal.


"Kau...!!! Bocah tengik...!!! Kenapa Legenda dalam pelatihan seperti dirimu membela seorang Neko Legenda!?" Tanya salah satu Legenda.

__ADS_1


"Neko Legenda adalah pembawa masalah...!!! Mereka satu-satunya Legenda yang sudah merugikan segalanya dengan menghancurkan dan membunuh apapun!"


"Ibu dan Ayahku mati tertindih oleh mereka...!!!"


"Untuk apa kalian mendekati Neko Legenda itu...!!!"


Semua Legenda itu terus mengeluarkan suara yang begitu keras, Koizumi terlihat kaget ketika melihat mereka semua memiliki dendam yang begitu besar kepada Neko Legenda.


"Tunggu...!!! Jangan-jangan dia itu anak dari Kou Comi...!!! Tangkap dia...!!! Imbalan yang kita dapatkan sebesar 10 juta Legend's Diamond!!!" Seorang Legenda mulai mendekati Koneko.


Koizumi tanpa memberi ampun langsung maju ke depan lalu menendang perut Legenda itu sampai terpental ke belakang, "Kenapa kalian menyebabkan banyak keributan di pemakaman untuk Legenda yang gugur!?"


Koizumi bisa melihat hampir semua Legenda itu berasal dari kerajaan yang berbeda, tidak ada satu pun Legenda yang tinggal di kerajaan Ghisaru datang untuk membela Shinobu.


Shinobu hanya bisa diam, menyesal karena jubah itu terbuka dari tubuhnya, ia dengan cepat mengambil jubahnya lalu mengenakannya untuk menutup kepalanya.


Baaggggg!!!


Satu batu yang di lempar dengan penuh kekuatan mengenai kening Shinobu sampai ia terjatuh, suara itu bisa di dengar oleh Koizumi, dengan cepat ia menendang wajah Legenda yang berhasil melempar batu ke arahnya.


"BRENGSEK!!!" Kedua mata Koizumi memancarkan cahaya merah, ia hampir saja membunuh Legenda itu tetapi seseorang mulai menghentikan keributan itu.


Hinoka, Konomi, dan Ako mulai melindungi Shinobu yang tadi pergi sendirian untuk mengambil jubah tadi sampai ia memiliki banyak celah di sekelilingnya tubuhnya.


Mereka tidak bisa bertarung dan melalukan pertahanan apapun, hanya Koizumi yang sudah di latih sejak kecil mencoba untuk menjaga jarak mereka dari Shinobu.


"Kalian semua berhenti keributan yang tidak pantas di pemakaman ini...!!!" Seru seorang penjaga makam yang memegang sebuah tombak besar untuk mengancam mereka.


Keributan itu berakhir seketika, Koizumi melepas Legenda yang hampir saja ia bunuh, dengan cepat ia mendekati Shinobu lalu terkejut ketika melihat keningnya terluka sampai mengeluarkan darah.


"Koneko, kamu baik-baik saja...?!"


Ekspresi Shinobu terlihat kesakitan tetapi ia tidak mengeluarkan sedikit pun air mata karena dirinya tidak mau menangis di hadapan siapa pun kecuali Kou, ia mulai menyentuh lengan Koizumi.


"Aku... baik-baik saja..." Shinobu terkekeh, senyumannya yang ia tunjukkan sempat membuat amarah Koizumi semakin terbakar.


Koizumi melihat ke belakang, mencoba untuk menghabisi Legenda yang melukai Shinobu tetapi Hinoka menghentikan dirinya dengan cepat sebelum ia melakukan keributan yang lebih besar.


Keributan itu berhasil di pisahkan oleh dua penjaga kuburan, mereka tidak memihak siapa pun kecuali menjaga kedamaian di pemakaman agar semua Legenda gugur itu bisa beristirahat dengan tenang.


"Mohon maafkan kami atas ketidaknyamanan tadi, bisa di bilang kami berasal dari kerajaan Ghisaru." Kata penjaga itu selagi menundukkan kepalanya


Penjaga yang lainnya melihat Shinobu sedang menyentuh keningnya yang berdarah, ekspresinya terlihat seperti menahan rasa sakit dari luka yang ia dapatkan dari lemparan batu.


"Adik kecil... ini..." Penjaga itu mengeluarkan sebuah sapu tangan lalu memberikannya kepada Shinobu.


Shinobu terlihat takut karena ia berpikir bahwa penjaga itu akan melukainya, untungnya Koizumi datang untuk mengambil sapu tangan itu agar ia bisa membersihkan darah di keningnya.


"Terima kasih, tanpa kalian... Koneko sudah pasti akan terluka lagi..." Kata Koizumi selagi mengusap kening Shinobu pelan-pelan.


"...sakit..." Kata Shinobu pelan.


"Tahan sebentar..."


"... ..." Melihat darah Shinobu yang lumayan banyak, Hinoka hanya bisa diam dengan kedua matanya yang terlihat mati karena ia melihat sesuatu yang mengingat traumanya.


Ia juga bahkan melihat sepupu kecilnya terluka seperti itu, Hinoka langsung mengepalkan tinjunya lalu menatap kedua penjaga itu.


"Terima kasih ya, kami akan pergi sekarang juga." Ucap Hinoka sehingga kedua penjaga itu mulai mengharapkan perjalanan yang selamat untuk mereka.


Beberapa menit kemudian, Shinobu kembali berjalan selagi menyentuh keningnya yang terasa kesakitan, melihatnya saja membuat mereka merasa bersalah karena dirinya tidak memiliki perlindungan apapun.

__ADS_1


"Maafkan kami, Koizumi... kami tidak begitu bisa bela diri sampai membiarkan Shinobu sendirian..." Ucap Konomi yang terlihat bersalah.


"Tidak apa-apa... semuanya salahku, aku seharusnya diam di sebelah Shinobu selagi menahan semua batu itu." Kata Koizumi yang sedang menggenggam tangan Shinobu.


"T-Tidak...!" Shinobu mulai berbicara seketika dengan suara yang ia naikkan.


"Semua itu... semua itu salahku... anuu... maafkan aku, tolong maafkan aku..." Shinobu berjalan ke depan lalu menghadapi mereka semua selagi menundukkan kepalanya.


"Seharusnya aku... aku tidak ikut... tidak... anu... aku... aku bersikap bodoh... pergi sendirian untuk mengambil jubah itu..."


"...aku sudah berjanji untuk tidak... menyusahkan siapa pun... tolong maafkan diriku... aku tidak bisa... membuat kalian khawatir seperti itu..." Shinobu menurunkan ekor dan telinganya.


Mereka hanya bisa tersenyum lalu mendekati Shinobu untuk memberikan dirinya pelukan bahwa ia tidak perlu merasa khawatir, tidak ada yang namanya kesusahan untuk seorang Legenda yang kesulitan.


"Kamu tidak pernah menyusahkan siapa pun kok." Hinoka memberikan Shinobu sebuah kecupan di kening.


"Kami akan melindungi dirimu..." Kata Konomi.


"I-Itu benar... Shinobu, tetaplah di dekat kami..." Kata Ako.


"Koneko, sebagai sepupu bagai kakak untukmu... aku akan membunuh mereka yang mencoba untuk melukai dirimu seperti itu." Ucap Koizumi dengan tatapan serius.


"Ehh... terima kasih... ehehehe..." Shinobu tersenyum lalu ia tertawa kecil sampai mengejutkan Koizumi seketika bahwa ia tidak menunjukkan ekspresi sedih.


Seketika perkataan Haruka mulai teringat oleh dirinya bahwa Shinobu sudah hampir sering di serang oleh beberapa Legenda, itu artinya dia sudah terbiasa merasakan semua penderitaan dan kesakitan yang mereka berikan.


Mereka semua kembali melanjutkan perjalanan menuju kerajaan Ghisaru, Koizumi hanya bisa diam, ia benar-benar menyesal untuk membiarkan Legenda yang melukai Shinobu kabur.


Seingatnya Hinoka sempat menghentikan dirinya untuk menendang punggung Legenda tadi sampai menembus dadanya, ia mulai menatap Hinoka.


"Hinoka..."


"Mmm?"


"Kenapa kamu menghentikan diriku?"


"Aku tidak ingin reputasimu hancur... biarkan mereka pergi dengan perangkap yang di pegang." Jawab Hinoka.


"Perangkap...?"


~Kerajaan Lezento~


"Aku baru saja menemukan seorang Neko Legenda...!!! Dia juga bahkan putri dari Kou Comi...!" Seru seorang Legenda yang berhasil melukai Shinobu, ia segera melapornya kepada seorang pemimpin pasukan.


"Pemimpin...! Oi, pemimpin...!" Seru Legenda itu yang mencoba untuk melapor, satu laporan saja sudah cukup untuk memberikan dirinya banyak berlian.


Jika laporan yang ia berikan salah maka hukuman dirinya dapatkan adalah penjara yang diberikan banyak tugas, ia melihat banyak sekali kesatria yang sedang berkumpul selagi menikmati bir mereka.


Tidak ada satu pun pemimpin kesatria yang ia lihat sehingga ia terpaksa harus masuk ke dalam ruangan Guild untuk menanyakan pemimpin yang belum ia ketahui sebelumnya.


"Legenda yang melukai Koneko... pakaian yang ia kenakan, sebentar lagi... sebentar lagi akan berubah menjadi ledakan yang menghapus dirinya tanpa sisa." Kata Hinoka.


"Sihir ledakanmu itu...?"


Legenda yang mencoba untuk masuk ke dalam ruangan tersebut tiba-tiba mencium bau menyengat seperti mesiu dari bajunya, ia memegang bajunya sampai tapaknya terasa panas seketika.


"A-Apa ini!?" Legenda itu melihat bajunya mengeluarkan asap sehingga tubuh bagian dalamnya terasa sakit seketika sampai ia menjerit keras.


"AAAAAHHHHHHHHH!!!"


BAAAMMMMMM!!!

__ADS_1


__ADS_2