
"K-Kita berhasil...?" Tanya Asriel yang terlihat kelelahan karena bertarung melawan Ancient Legenda sepertinya terasa begitu sulit.
Melihat tubuh Regulus yang tidak memiliki sisa apapun membuat mereka sedikit yakin bahwa akar kehidupannya itu sudah hancur, Hana duduk di atas tanah untuk mengumpulkan nafasnya.
"Kita berhasil, Shuan." Rokuro memukul pelan lengan Shuan sampai ia bisa melihat dirinya merasa begitu lega bahwa takdir Neko Legenda telah selamat dari ancaman Kaisar yang sangat membenci ras seperti Neko Legenda.
"Kita menang... tetapi dengan hasil apa?" Tanya Shuan yang mulai melihat sekeliling, pulau Neko Island telah sepenuhnya hancur sampai semua sisa itu berjatuhan di tempat yang berbeda.
Tidak ada lautan yang tersisa juga karena Hana menggunakan semua itu untuk menghentikan Regulus, Shuan berjalan ke depan dan melihat patung Minami yang hanya menyisakan kepalanya saja.
"Kakak..." Sebuah kenangan yang begitu mendalam telah hilang karena ancaman Regulus yang menghancurkan pulau dan sebagian dari bangsa Neko Legenda.
Ia mengingat bahwa pulau itu adalah tempat dimana ia melamar Kou untuk menikahi dirinya, banyak sekali kenangan yang tidak mudah untuk di lupakan sampai Rokuro berdiri di sebelahnya.
"Banyak sekali kenangan yang terjadi di pulau ini... aku juga melamar Haruka di pulau itu, sungguh waktu-waktu yang terasa begitu damai." Rokuro mulai berbicara selagi menepuk punggung Shuan.
"Aku hanya merasa bersalah saja melihat usaha yang Kakak lakukan hancur begitu saja ketika ia tidak ada..." Shuan mengepalkan kedua tinjunya lalu ia menghembuskan nafasnya pelan.
"Aku sudah berencana untuk membawa Shinobu ke sini tetapi waktu mengatakan tidak... terlambat sudah, ia tidak bisa melihat kenangan yang begitu indah di sini."
"Setidaknya kita berhasil menghentikan Kaisar sialan itu... rasanya cukup melegakan memberontak dan berhasil mengalahkan raja yang tidak mau diam."
"Ya... aku harap semua Neko Legenda yang terbunuh itu bisa menikmati kehidupan di surga, mereka baru saja hidup dan sudah gugur lagi." Shuan berjalan pergi meninggalkan patung yang sudah hancur itu.
"... ...!" Rokuro melebarkan matanya ketika sebuah petir mulai menyambar punggungnya sampai meledakkan dadanya itu, Shuan memuntahkan banyak darah sampai terjatuh di atas tanah.
Satu nyawa telah hilang lagi sampai Hana dan Asriel bisa merasakan aliran listrik yang terasa lebih kuat sekarang, dengan cepat mereka terbang ke atas karena melihat daratan mulai mengeluarkan petir yang hampir saja membunuh mereka.
"D-Dia masih hidup...!?" Tanya Hana dengan tatapan kesal sampai ia bisa melihat daratan dipenuhi dengan aliran listrik yang mampu membentuk sihir petir.
Petir itu membentuk tubuh Regulus yang saat ini sedang tersenyum jahat, dirinya berada di tingkat keabadian yang berbeda jika tubuhnya hancur seperti tadi, untungnya akar kehidupan itu membantunya untuk hidup kembali.
"Itu saja...?" Regulus melepaskan petir yang begitu besar di atas daratan sampai menyebabkan langit-langit berubah menjadi hitam, petir suci mulai bermunculan di atas langit itu.
"Aku masih belum mengerti tentang akar kehidupan itu...!!! Bagaimana caranya!?" Rokuro mengerutkan dahinya kesal.
Shuan yang baru saja hidup kembali mulai mundur ke belakang sampai punggungnya tidak sengaja menabrak sesuatu, ia melirik ke belakang dan melihat Regulus dengan wujud gorilanya itu.
"A-Apa...? Yang ini... wajahnya sama juga..." Ucap Shuan dengan nada yang ketakutan karena keberadaan mereka sudah tidak bisa di rasakan lagi.
Rokuro bisa melihat satu Regulus di belakang Shuan, dan satunya lagi berada di atas daratan sedang melepaskan lebih banyak petir yang mulai menyambar daratan sampai hancur.
"Jangan-jangan dia juga bisa menciptakan klon!?" Hana mulai berbicara sehingga perut Shuan menerima satu tendangan yang mampu mengalirkan semua listrik itu ke dalam tubuhnya.
Listrik itu langsung memecahkan semua organ di dalamnya satu per satu sampai ia kehilangan satu nyawa lagi, menyisakan 3 sampai ia mulai merasa sangat kesal lalu melepaskan beberapa Golden Neutron ke atas langit.
Semua petir itu mulai memindahkan Golden Neutron tersebut ke atas langit, Regulus menerima banyak sekali rasa sakit yang begitu dahsyat sampai kekuatannya sudah pasti akan melonjak lebih tinggi karena Legend's Boost.
Shuan mulai di siksa oleh Regulus yang berada di atas langit dengan memukulnya beberapa kali sampai aliran listrik terus merasuki tubuhnya, dan memecahkan semua organ tubuhnya satu per satu.
Shuan telah kehilangan banyak nyawa sampai menyisakan yang terakhir, ia terjatuh di atas tanah dengan tubuh yang dipenuhi luka sehingga ia sendiri sadar bahwa dirinya hanya sebuah kegagalan di situasi apapun.
"Jika Kakak di sini... ia sudah pasti akan menyelesaikan sesuatu... tidak sepertiku, aku tidak layak... sebagai keturunan Shiratori yang gagal... aku tidak bisa memaksakan tubuh ini untuk tetap maju..." Shuan berbicara dengan pelan.
"Hahahahahaha!!!" Kedua Regulus itu mulai tertawa terbahak-bahak melihat bangsa Neko Legenda seperti Shuan ternyata tidak memiliki kegunaan apapun kecuali memulihkan seseorang.
"Sialan... mereka berdua sama kuatnya... bagaimana bisa...?" Tanya Shuan yang menghapus darah di mulutnya.
"Dua Regulus abadi...!? Ini yang dinamakan mimpi buruk...!!!" Seru Asriel dengan tatapan muak, ia bisa melihat Shuan terus di siksa oleh kedua Regulus itu dengan bermain sepak bola.
Rokuro dan Asriel menatap satu sama lain, dengan cepat Asriel mengamuk sampai melepaskan kekuatan penuh lalu ia mengubah kedua Regulus itu menjadi es kristal yang membekukan wilayah di sekelilingnya.
Suhu juga bertambah semakin ekstrem sampai ia menyebabkan badai salju yang begitu dahsyat, ia mulai menendang Shuan ke arah yang aman karena Regulus hanya mengarah kepada Neko Legenda terlebih dahulu.
Rokuro mengangkat sabitnya ke atas, mengumpulkan kekuatan dan Lenergy yang lebih besar agar bisa melepaskan satu gelombang tebas yang dapat menghancurkan seluruh tubuhnya itu lalu membawanya ke dalam celah dimensi.
Asriel terus menciptakan gunung es di hadapannya dimana kedua Regulus itu terjebak di dalamnya sampai tidak bisa melakukan apapun, Rokuro maju ke depan lalu ia mengayunkan sabitnya tenaga penuh.
Gelombang tebasan itu berhasil menghancurkan gunung itu menjadi kepingan kecil bahkan menciptakan celah dimensi yang begitu luas sampai menghisap apapun di sekitarnya.
Asriel mulai membekukan kedua kakinya bersama seluruh temannya agar tidak tertarik ke dalam celah itu sampai kedua sisa tubuh Regulus yang membeku bisa masuk ke dalam celah itu.
__ADS_1
Rokuro menjentikkan jarinya sampai celah itu tertutup rapat, Rokuro berlutut di atas tanah karena ia baru saja menghabiskan banyak tenaga untuk mengumpulkan kekuatan yang besar melalui seluruh penghuni yang berada di Touriverse.
"Hah... Hah... Hah..."
Setengah planet Legenia mengalami kehancuran yang begitu dahsyat karena pertarungan yang di sebabkan oleh mereka semua.
Di sisi lainnya pasukan Legenda dari berbagai macam kerajaan sedang kesulitan mengurusi Beast Neko Legenda yang mengamuk.
Mereka awalnya berpikir serangan tadi sudah jauh lebih dari cukup karena menjebak Regulus di dalam sebuah dimensi yang Rokuro tebas tetapi mereka salah karena..
ZBASSHHH! ZBAAASH! ZBAAASH!
Sambaran petir suci mulai bermunculan di atas langit, dan mengarahkan menuju daratan sampai menciptakan ledakan kecil yang bercahaya, mereka semua tercengang ketika melihat Regulus muncul dari ledakan itu.
Hana mulai berpikir bahwa sambaran petir itu memiliki kaitan yang begitu besar dengan akar kehidupannya karena Regulus saat ini berada di tingkatan abadi yang begitu aneh.
Sambaran petir itu terus memunculkan Regulus yang berjumlah banyak sekali sampai mereka semua tercengang sampai merasa ketakutan karena tidak bisa mengatakan apapun lagi.
"Hahhh!?" Asriel tercengang ketika jumlah Regulus sekarang bertambah menjadi sepuluh sampai tubuh mereka merinding seketika.
"Ya-Yang... yang benar saja sialan...!!!" Rokuro merapatkan giginya kesal melihat jumlah Regulus bertambah semakin banyak, dan kekuatan mereka sama kuatnya.
"Kenapa dia bisa memperbanyak dirinya lagi!? Apakah ini kemampuan misterius untuk elemen listrik...!?" Tanya Shuan yang tidak bisa berkata-kata lagi.
Keputusasaan menjadi berlipat ganda melihat jumlah Regulus bertambah lebih banyak, satu saja sudah cukup sulit untuk di kalahkan, dan sekarang dengan jumlah seperti itu, ia pasti bisa menaklukkan apapun dalam sekejap.
Semua Regulus itu mulai bergerak ke arah mereka semua dengan melangkah pelan-pelan, "Seorang Kaisar tidak akan bisa di hindari... bersiaplah untuk menerima hukuman yang lebih menyakitkan..."
Shuan mulai mengikat tubuh Asriel dan Rokuro dengan akar emasnya lalu ia melirik kepada Hana yang sudah siap untuk melarikan diri.
Dengan cepat mereka langsung melarikan diri dari wilayah itu karena mereka mulai berpikir bahwa langit hitam yang terus mengeluarkan banyak petir itu adalah keuntungan baginya.
Mereka terus terbang cukup jauh, dan mendarat tepat di atas gunung sampai Hana sempat melihat satu Beast Neko Legenda yang sedang mengamuk sampai menghancurkan salah satu kerajaan lalu berperang dengan semua pasukannya.
"Ini gawat... mereka semua... ketakutan mereka membangkitkan amarah yang tidak bisa di kendali..." Ucap Hana dengan pelan.
"Percuma saja jika kita lari...! Kerajaan Ghisaru bisa saja mengalami masalah yang lebih buruk karena kita baru saja menarik rajanya..." Kata Rokuro.
"Tidak... lebih baik kita melarikan diri saja agar ia bisa menyerang kerajaan lain." Shuan baru saja mengatakan sesuatu yang begitu pengecut sampai Rokuro dan Asriel langsung menatapnya.
"Kenapa Legenda seperti dirimu dapat berbicara hal memalukan...? Bukannya kau keturunan Shiratori, seharusnya kita melawan mereka sampai akhir." Kata Rokuro dengan tatapan kecewa.
"Jika kita mati maka situasi hanya akan semakin buruk... semua orang tua dan bahkan anak-anak kita mengharapkan kita untuk pulang dengan selamat!!!" Seru Shuan keras.
"Kalian tidak akan bisa lari dan bersembunyi... Hukum Kaisar itu mutlak, dan kami tentunya akan menghabiskan kalian terlebih dahulu sebelum melanjutkan hukuman kepada Legenda lainnya."
Mereka semua tercengang ketika mendengar suara Regulus yang menggema, semua Regulus itu muncul dari arah yang berbeda, dan jumlah mereka bertambah lebih banyak lagi dari sebelumnya.
"Apakah kalian berniat untuk membuang harga diri Legenda dengan melarikan diri...? Rasa kecewaku bertambah semakin berat melihat masa depan..." Kata Regulus.
Hana tercengang ketika melihat Regulus mulai berada di sekelilingnya, mereka semua terasa seperti di kepung oleh jumlah Regulus yang bertambah banyak.
Setiap sambaran petir yang muncul sampai mengenai daratan akan memunculkan Regulus lainnya, ia akan terus memperbanyak setiap petir itu menyambar menuju daratan.
"Jumlah mereka bertambah semakin banyak lagi...! Si brengsek itu...!!!" Shuan mengepalkan kedua tinjunya.
"Mau pergi melarikan diri atau tidak, silakan pergi dan itu terserah kalian! Tapi kemanapun kalian pergi aku takkan berhenti mengejar kalian!" Regulus tersenyum jahat.
"Seorang Kaisar tidak akan bisa di hindarkan!!! Aku akan selalu berada dimana-mana untuk memberikan hukuman dan penyiksaan bagi mereka yang tidak tunduk di hadapanku...!"
"Kalian sudah melarang banyak sekali peraturan yang aku buat di kerajaan Legetsu... dengan semua pelanggaran itu maka kalian tidak akan pernah bisa bebas." Regulus bersama seluruh pasukannya mulai tertawa terbahak-bahak.
Semua Regulus itu mulai mendarat di atas gunung yang sama sampai mereka mulai mendekati mereka semua dengan langkah yang pelan, Regulus berjumlah cukup banyak sampai mereka juga sempat melihat pasukan lainnya yang berada di atas langit mulai melayang mendekat.
"Lebih baik kalian menyerah dan biarkan aku membunuh kalian dengan tanganku." Tawar Regulus.
"... ...." Rokuro terdiam seketika, pikirannya mulai mengingat Haruka dan Koizumi sampai ia bisa melihat dengan jelas wajah bahagia mereka di saat keadaan damai.
"Oi, pengecut." Rokuro menatap Shuan.
"Aku akan tinggal di sini, aku akan melawan mereka sampai akhir. Kalian sebaiknya kembali dan berharap agar sebuah keajaiban datang..." Kata Rokuro.
__ADS_1
"Kau bicara apa, Rokuro!?" Tanya Hana dengan tatapan kaget karena perkataan tadi terdengar seperti pengorbanan diri.
"Rokuro..." Shuan mengepalkan kedua tinjunya lalu ia melangkah maju sampai berdiri tepat di sebelahnya dengan tatapan kesal.
"Kalau begitu aku juga sama..." Ucap Shuan dimana pikirannya mulai mengingat Kou dan Shinobu, ia harus tetap bertarung sebagai Legenda pemberontak sampai akhir.
"Jika kalian tinggal maka aku juga sama... kita bertiga adalah teman yang dekat sejak akademi permohonan bukan?" Asriel berdiri di sebelah Rokuro dengan mengingat kembali Mitsuki dan kedua anak kembarnya.
"Tidak mungkin..." Hana sendiri tidak bisa memilih tetapi ia bisa melihat Rokuro menatap dirinya dengan tatapan yang khawatir.
"Untuk sekarang... kamu tidak boleh melakukan tindakan seperti ini, Kakak. Kehidupanmu masih panjang, kamu masih belum memenuhi permintaan Minami dan Honoka bukan?"
"Minami... H-Honoka...?" Hana melihat Shuan mulai menunjuk ke depan sampai tubuhnya memancarkan sinar emas.
"Jika aku tidak selamat... tolong jaga Haruka dan Koizumi, Kakak. Katakanlah aku menyayangi mereka sampai akhir hayat hidupku." Kata Rokuro.
"Aku juga... sampaikan maaf ku dan kasih sayangku kepada Kou dan Shinobu." Ucap Shuan yang terlihat seperti menahan diri.
"Lebih baik kamu pergi, Hana. Sampaikan harapan terakhir kami semua kepada keluarga kami... katakan kepada Mitsuki dan kedua anakku bahwa aku harus melakukannya demi masa depan..."
"Setidaknya cari keajaiban itu sampai kita menahannya, Hana!" Seru Shuan sampai ia menggunakan sihir cahaya untuk memindahkan Hana ke suatu tempat yang lebih aman.
Hana telah pergi meninggalkan ketiga Legenda pemberani itu untuk tetap bertarung ketika keadaan sedang buruk, semua Regulus itu hanya bisa tertawa terbahak-bahak.
"Setidaknya aku menghormati harga diri kalian sebagai Legenda yang masih di jaga sampai akhir... tetap bertarung sampai kau menyelesaikan masalah itu..."
"...seberapa kuat musuh yang kalian hadapi, Legenda layak seperti kalian masih tetap ingin bertarung sampai mati. Legends Never Dies..." Ucap Regulus yang baru saja memberikan rasa hormatnya ke sesama ras.
Walaupun mereka itu seorang pendosa dan pemberontak, harga diri Legenda tetaplah harga diri, mereka harus bisa menjaganya sampai akhir sampai Regulus sendiri cukup terkesan melihatnya.
"Baiklah, Shuan... apakah kau memiliki rencana?" Tanya Asriel.
"Jelas tidak ada... Rokuro mungkin memiliki satu rencana karena ia yang pertama menyatakannya..."
Ketiga Legenda itu menatap ke depan, melihat pasukan yang dipenuhi Regulus mulai mendekat sampai nyawa mereka tergantung waktu dari hitungan detik sebelum pertarungan berat sebelah di mulai.
"Mengamuk lah sampai kau mati, jelas?" Kata Rokuro sampai Asriel dan Shuan mengerti dengan rencana hebat itu.
"Jadi begitu ya... aku menyukainya." Jawab Shuan dengan menunjukkan senyuman ikhlas bahwa kematian itu memang sudah dekat.
"Aku tidak pernah mengira kalau akhir hidupku akan jadi seperti ini..." Shuan mulai berbicara lagi.
"Bagiku sih tidak masalah... Setidaknya aku bisa melihat orang yang paling menyebalkan mati." Rokuro terkekeh, perkataannya itu mengandung rasa penuh kehormatan kepada kedua temannya.
"Walaupun kalian brengsek dan menyebalkan... kalian berdua tetaplah temanku yang terbaik... terima kasih karena sudah mau berjuang bersama!" Kata Shuan.
"Ini adalah pertarungan terakhir kita sebagai teman dekat bukan? Sebagai tiga petarung yang bekerja sama demi menyelesaikan masalah..."
""Itu benar.""
Rokuro mulai memukul pelan bahu kanan Shuan sampai ia menatap wajahnya, "Sekesal dan sebenci apapun diriku kepadamu... kau tetaplah sahabatku yang bodoh, pengecut, dan keras kepala."
"Tetapi, rasa hormatku tetap tumbuh untukmu sampai kau memang yang terhebat di antara kita, Shiratori Shuan. Kita sudah mengalami banyak hal bersama sejak di akademi itu ya..."
"...sudah saatnya untuk menutup buku, aku akan menemui dirimu di sisi yang lain, Shiratori Shuan." Rokuro tersenyum lalu ia menatap Asriel.
"Kau juga, jenius... tanpa strategi dan rencanamu maka kita semua sudah pasti akan gagal menjadi seorang Legenda di akademi itu." Rokuro tersenyum.
"Ya, kalian memang tidak tergantikan... terima kasih karena sudah mau menjadi teman." Asriel sempat menundukkan kepalanya sampai membuat Shuan terdiam seketika.
Tubuhnya yang saat ini dipenuhi dengan kutukan Crimson adalah tanda yang cukup tepat baginya, "Pilihan ini sepertinya yang terbaik untuk kehidupanku..."
"...mari kita melakukannya bersama, teman-teman. Mengamuk di pertarungan terakhir kita sebagai Legenda yang layak!" Seru Shuan dengan semangat yang terbakar di dalam tubuhnya.
""HAAAHHHH!!!"" Mereka bertiga melesat bersama ke depan, menghadapi pertarungan terakhir mereka sebagai Legenda yang layak.
Sebelum mereka melancarkan satu serangan, ketiga Legenda itu sempat mengeluarkan perkataan yang mendalam untuk bangsa Legenda yang akan menghadapi kematian itu.
Dan itu adalah...
""LEGENDS NEVER DIES!!!""
__ADS_1