Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 584 - Penyangkalan, Kemarahan, Mengharapkan, Depresi, dan Penerimaan


__ADS_3

Methode dan Shou muncul di sebuah tempat aman, Arisu berhasil memindahkan kedua saudaranya ke tempat yang sangat jauh agar mereka bisa menghindari ancaman dari Zoiru yang terlalu kuat untuk mereka hadapi.


"Ugghh... apa yang terjadi... apa yang terjadi dengan Kakak...?" Tanya Shou, mencoba untuk bangkit tetapi tidak bisa karena tubuhnya yang menerima banyak kerusakan.


Methode mulai memulihkan tubuh Shou lalu ia bangkit dari atas tanah dengan tatapan yang terlihat kesal, air mata mengalir keluar melalui kedua matanya bahwa ia mengetahui apa yang terjadi dengan adiknya.


"... ..." Methode menghapus air matanya lalu ia menatap tajam ke depan, ia sempat melihat sihir area itu yang dapat ia lihat karena sudah membiasakan diri ketika berada di dalamnya.


Methode tidak melihat apapun kecuali aura dan ia juga tidak dapat mencari Zoiru.


Semuanya terasa hilang seketika dan ia tidak dapat melacak Arisu kembali, hanya kekuatan Zoiru saja yang ia sempat rasakan sebentar.


Takdir telah bertambah buruk baginya ketika mengetahui masalah satu ini cukup besar dan menyulitkan bahkan Arisu yang memiliki kekuatan Omni-Saint bukan apa-apanya bagi Zoiru.


Melihat semua ini terjadi, Methode hanya memiliki satu cara dan resolusi yang dapat mengurusnya, ia tidak ingin melapornya kepada keluarga atau teman-temannya karena mereka bisa saja mati kapan pun.


Methode mengepalkan kedua tinjunya, merasa kesal dan tidak menerima fakta bahwa Arisu baru saja bersikap egois sampai memindahkan dirinya bersama Shou ke tempat yang lebih aman.


Methode mencoba untuk kembali menuju sihir area itu tetapi ia sadar, Arisu memindahkan dirinya bersama Shou dengan alasan jelas bahwa mereka perlu mencari resolusi untuk menghentikan Zoiru.


Semuanya masih sempat tetapi Methode merasakan keberadaan yang persis dengan Zoiru yaitu sihir Oath, sebagian dari planet di Yuusuatouri palsu menghilang begitu saja tanpa sebuah peringatan.


"Ini adalah batas waktu yang terakhir ya...? Arisu pernah membicarakannya denganku, hal palsu tidak akan bisa bertahan lama..."


"...batasan waktunya sudah berhenti dan kiamat telah di mulai untuk Yuusuatouri palsu." Kata Methode dengan tatapan yang terlihat sedih, ia tidak tahu harus apa sekarang.


Ia tidak ingin mencoba melakukan pergerakan atau tindakan yang dapat menarik perhatian Zoiru.


Shou bangkit dengan tatapan kesal, ia baru saja menyadarinya bahwa ia tidak dapat merasakan apapun di dalam sihir area itu kecuali Bamushi dan Zoiru yang sedang melakukan sesuatu.


Arisu menghilang seketika tanpa jejak yang mengartikan dia sudah mati, keberadaan dan juga esensi yang coba Shou rasakan tidak dapat ia temukan dimana-mana, semuanya hilang tanpa sebab sampai ia mencoba berpikir positif.


"Sialan...! Semua ini pasti bohong...! Ilusi belaka yang selalu Kak Arisu gunakan...!!! Hanya mimpi, aku tahu ini mimpi...!" Shou mulai tidak menerimanya, ia mencoba untuk melukai dirinya sendiri agar ia bisa bangun.


Lengan kanannya sempat ia tusuk menggunakan rantai tajamnya tetapi ia tidak mau bangun, semua yang ia rasakan dan lihat adalah kebenaran yang tidak dapat ia terima begitu saja.


"Ayo kita kembali, Kak Methode...! Mari kita lawan Zoiru bersama-sama agar bisa menghentikan dirinya...!" Kata Shou sambil menatap Methode yang terlihat diam karena sedang berpikir.


"Kenapa kau diam saja, Kakak!? Ayo cepat...!!! Mari kita tendang si dewa agung sialan itu...!!!" Jerit Shou, ia masih tidak menerima soal keberadaan dan esensi Arisu yang menghilang


"Jangan biarkan aku pergi sendiri dan melawan si brengsek itu...!!!"


"Terjadi beberapa saat ketika kita di pindahkan, Arisu bertarung dengan semua kekuatan dan kemampuan untuk mengulur waktu agar kita bisa melarikan diri..."

__ADS_1


"...percuma saja jika kita kembali karena Zoiru pasti akan membunuh kita tanpa memberi rasa belas kasihan."


"Kita terlambat... bukan istilah terlambat jika kita tidak dapat melakukan apapun, aku ingin membantu Arisu tadi tetapi tekanan dan dorongan yang di berikan Zoiru..."


"...mampu melukai diriku sampai aku hanya bisa diam, jika aku maju maka salah satu anggota atau organ tubuhku akan hancur karena Zoiru." Methode mengepalkan kedua tinjunya.


"Kita tidak bisa melakukan apapun... takdir akhir kita sudah dekat, Yuusuatouri palsu tidak akan bisa selamat berurusan dengan masalah yang kita cegah sejak itu..."


"...masalah yang asli jauh lebih mengerikan, Zoiru dan Bamushigaru, kedua kombinasi itu sudah cukup mengerikan karena kita sempat mengalami kesulitan melawannya."


Methode terus berpikir, pikirannya menyediakan banyak pilihan yang cukup berisiko karena ia sendiri tidak tahu harus apa, melapor kepada Shinra akan menyebabkan semuanya berakhir begitu saja.


Methode mengetahui jelas tentang Zoiru asli bahwa ia tidak ingin melibatkan masalah atau kehancuran melainkan ia berkeliaran hanya untuk mencari makanan dan camilan.


Tujuannya terdengar biasa baginya tetapi bagi Methode, semua itu terdengar berbahaya karena apapun bentuknya, Bamushi dapat memakan apapun terutama planet dan alam semesta jika ia suka.


"Bagaimana bisa Omni-Saint seperti Kakak kalah begitu saja...? Aku mengetahui jelas bahwa ia berhasil menandingi cucu dari sang pencipta..."


"...tetapi ketika melawan Zoiru, semua itu terasa mustahil, apakah Zoiru sendiri sang dewa agung dengan kekuatan yang melampaui sang pencipta itu sendiri?" Ungkap Methode dengan tatapan putus asa.


"Ini semua salahku, Shou, sebagai seorang Kakak aku hanya bisa melihat adikku mengurusi masalah seperti ini..."


"...untuk sekarang mari kita melarikan diri dan mencoba untuk memperingati semua orang agar tetap waspada dengan Zoiru dan Bamushi."


"Kita tidak bisa diam atau melanjutkan pertarungan, Legenda juga bisa mengerti kapan harus mundur...!"


"A-Apa yang kamu katakan, Kakak...? Kak Arisu pasti memiliki rencana, dia tentunya akan kembali dan memberitahu kita rencana yang sudah di rancang sejak awal." Shou menyangkal.


"Seperti biasanya, kemampuan perpindahan Kak Arisu memakan waktu yang lama..." Shou menunjuk ke arah barat dimana ia masih bisa melihat sihir area itu.


"Dia akan kembali jika kita tetap diam di posisi ini... atau lebih baik lagi datang menghampiri sihir area itu kembali untuk menemuinya."


"Sudah cukup, Shou! Terlalu berbahaya jika kita tetap diam seperti ini, kita harus memberitahu yang lain...!"


"Jika kita tidak dapat mengalahkan Zoiru maka harapan hanya bisa kita andalkan kepada Yuusuatouri asli dan seluruh keluarga kita untuk bekerja sama."


"Apa yang kamu katakan, Kak Methode..."


"...KATA SAMPAH APA YANG BARU SAJA KAU KELUARKAN!?" Shou merasa amarah melonjak di tubuhnya ketika mendengar jawaban Methode.


"Jika dewa brengsek itu datang dan memunculkan keberadaannya di hadapan kita, aku akan membunuhnya di tempat ini...!!! Sekarang juga...!!!"


"Jika dia berada dekat dengan kita, aku akan langsung menghadapinya dan melawannya...!!!"

__ADS_1


"Kita harus pergi, Shou." Methode tetap mengajak Shou untuk pergi karena ia tidak merasakan harapan atau kemungkinan apapun untuk melawan Zoiru.


"Apa yang kau katakan!?" Shou lepas kendali dan ia mulai memegang erat kerah baju Methode lalu menatap wajahnya dengan tatapan kesal karena ia mengharapkan Methode mau kembali ke dalam area sihir itu.


"Kau hanya bertingkah seperti pengecut saja...! Kita sebagai Shiratori seharusnya tidak pernah menyerah dalam menghadapi musuh apapun...!!! Tidak ada yang mustahil jika kita terus mencoba...!!!"


"Ayo kembali...!!! Ayo kita bertarung...!!! Lepaskan semua yang kita miliki untuk mengakhiri kehidupan dewa sialan itu...!!!"


Methode mulai memegang erat kedua lengannya, "Sudah cukup, Shou... Kita keturunan Shiratori juga memiliki akal."


"Jika kita datang kembali maka itu sama saja dengan pilihan kita untuk melakukan bunuh diri." Ketika Methode mengatakan hal itu, Shou berhenti seketika karena ia merasakan tubuhnya hangat seketika.


Matahari yang berada di atas langit mulai menyinari tubuh Shou sehingga ia sempat melihat cahaya yang berbentuk Arisu di belakangnya sedang memeluk dirinya.


"Kak... Arisu..."


Methode menepuk bahu Shou lalu ia berjalan pergi untuk mencari keberadaan keluarganya agar bisa melakukan perpindahan cepat.


"Apakah kita harus meninggalkan Kak Arisu di dalam area sihir itu...?!" Shou mulai menangis, merasa depresi bahwa Arisu sudah tidak ada, ia sudah meninggalkan dunia ini.


"Apakah kita akan meninggalkan Kak Arisu sendirian...?! Dia pasti kesepian...!" Shou terus menangis seperti anak kecil yang tidak dapat menerima apapun sekarang.


"Aku tidak ingin meninggalkan Kakak di sana sendiriaaaaaan...!!!" Jerit Shou.


Methode meneteskan beberapa air mata dengan kedua matanya yang terlihat mati karena ia sudah muak mengurusi masalah atau konflik apapun.


"Sudah saatnya untuk pergi... jika kita terus berada di tempat ini maka Zoiru bisa saja akan melakukan pergerakan selanjutnya." Methode mengepalkan kedua tinjunya dengan kasar sampai berdarah.


"Kita masih bisa mencegah masalah itu tanpa harus mendatanginya, kita harus memperingati dan mengumpulkan mereka...!"


"Ayo." Methode sudah menemukan semua keberadaan keluarga dan temannya untuk memberitahu soal kedatangan Zoiru, ia juga mencoba untuk memilih kata yang benar.


Methode tidak mau mengejutkan mereka semua secara tiba-tiba, Shou di belakang Methode masih tetap menangis dengan mengeluarkan teriakan sampai ia mencoba untuk menarik lengan Methode.


"Kakak---" Shou tidak sengaja menendang rantainya sampai ia terjatuh di atas tanah.


Kejatuhannya mampu memunculkan rasa penerimaan soal Arisu di dalam dirinya sehingga ia terus menangis sampai menciptakan genangan air yang besar di daratan.


"AAAAAAAHHHHHHHHHHHHH...!!!" Jerit Shou selagi menghantam daratan beberapa kali.


"Hiks... HWAAAAHHHHHHHHH...!!!"


Methode berhenti berjalan lalu ia melirik ke belakang dan melihat adiknya terus menangis karena kehilangan anggota keluarga yang sangat ia sayangi sejak kecil.

__ADS_1


"Shou..."


__ADS_2