
"Ophilia, ke sini nak." Panggil Valance, Ophilia yang sedang duduk sendirian di atas kursi mulai menghampiri ibunya yang mengajak dirinya menuju ruangan yang sangat luas, dipenuhi dengan dewa agung.
Semua dewa dan dewi itu saat ini berdiri tepat di hadapan makhluk sihir yang berada di dalam tabung, mereka semua sangat mengantisipasi kelahiran era baru untuk kemunculan makhluk sihir.
Makhluk sihir yang dapat di jadikan sebagai sumber kekuatan dan penjaga untuk wilayah sihir, sebagian dari mereka tentunya memiliki pola pikiran berbeda dan salah satu dari mereka ingin menjadikan makhluk sihir sebagai tumbal untuk kehancuran.
Kirua dan Valance dengan bodohnya tetap mempercayai mereka semua karena ia sudah mendapatkan banyakan imbalan dan rasa hormat dari mereka, soal makhluk sihir juga itu tujuannya.
"Banyak sekali orang, ibu... mereka tinggi dan besar." Ucap Ophilia yang mulai menggenggam erat tangan Valance karena ia tidak ingin tersesat.
"Ya, itu benar, semua orang itu bukan orang jahat bagi kita kok... mereka tidak akan menyakiti siapa pun, tenang saja." Valance mengusap kepalanya lalu ia mengajak Ophilia mengunjungi tabung yang berisi Phoenix kecil di dalamnya.
Ophilia mendekati tabung itu lalu ia menyentuh tabung tersebut dengan tatapan yang terlihat kaget, ia tidak menyangka akan melihat sesuatu yang begitu indah.
"Imut sekali..." Ophilia menoleh ke bawah dan ia melihat nama makhluk sihir itu sebagai [Neo-Phoenix].
"Ophilia, karena sudah mau menjadi gadis yang baik dan menurut, Papa ingin memberikan makhluk kecil itu kepadamu ketika sudah jadi." Kata Kirua yang baru saja datang untuk menemui putrinya.
"Maafkan kami karena sering meninggalkan dirimu, kamu pasti kesepian menghabiskan waktu di dalam rumah dan akademi ya...? Tanpa menceritakan sedikit cerita kepada kami." Kirua mengelus kepalanya.
"Tidak apa, Papa. Papa dan Mama sangat sibuk dalam mengurusi pekerjaannya, Ophilia hanya bisa diam dan bermain dengan sahabat Ophilia." Ophilia tersenyum lembut.
"Syukurlah jika kamu memiliki teman, baiklah... Papa tinggal sebentar ya, silakan kamu berkenalan dengan Phoenix." Kirua memberi Ophilia sebuah kecupan di kening lalu ia berjalan pergi.
Ophilia juga melihat Valance memeluk dirinya lalu ia berjalan pergi meninggalkan Ophilia sendirian selagi memperhatikan tabung itu, kebetulan punggung mengenai sebuah bola yang cukup basah.
"Mmm...?" Ophilia menoleh ke belakang dan melihat anak kecil yang memiliki telinga runcing dengan warna rambut hijau yang begitu panjang.
"Ahh, maaf, kakak... sepertinya aku tidak sengaja melempar bola ini terlalu jauh." Ucap anak laki-laki itu yang mulai mengambil sebuah bola, Ophilia bisa melihat bola itu terbentuk dari darah.
"Tidak apa-apa... sungguh langka juga untuk melihat sesama anak kecil di ruangan yang dipenuhi orang dewasa." Ophilia terkekeh dan laki-laki itu mulai melirik ke sebuah tabung yang lumayan besar dengan seekor naga di dalamnya.
"Aku sebenarnya tidak berniat untuk datang tetapi Ayahku memaksaku, tetapi ketika aku datang..."
"Aku tidak menyangka akan melihat naga sebesar itu walaupun belum sepenuhnya sadar menjadi bayi." Laki-laki itu menunjuk tabung besar itu.
Ophilia bisa melihat ukuran tabung itu jauh lebih besar dari tabung yang lainnya bahkan ia sampai melihat tabung itu di kelilingi oleh beberapa Dewa dan Dewi untuk menganalisisnya.
Ophilia ingin berteman dengan laki-laki itu tetapi sepertinya ia tidak memiliki niat atau kebetulan untuk memperkenalkan dirinya.
"Karena aku kesepian tidak memiliki teman, bagaimana jika ikut denganku sebentar untuk melihat makhluk sihir yang jauh lebih unik?" Tanya laki-laki itu yang mulai berjalan pergi menuju pojok ruangan.
Ophilia tidak memiliki pilihan lain selain mengikutinya, ia terus berjalan maju dan melewati beberapa dewa yang terus menghalangi jalannya.
Sebagian dari mereka memberi Ophilia jalan dan sebagiannya menabrak dirinya karena terlalu menghalang.
__ADS_1
Ophilia melihat laki-laki itu berdiri tepat di hadapannya selagi menatap tabung besar di depannya, Ophilia berhenti berjalan dan dirinya langsung kaget ketika melihat tabung itu terisi oleh seorang gadis kecil.
"Ahh...!!!" Ophilia mengeluarkan teriakan kecil lalu ia maju ke depan sampai menjatuhkan laki-laki itu, ia mulai menghantam tabung tersebut beberapa kali.
Mencoba untuk membebaskan gadis kecil di dalamnya tetapi bel darurat mulai berbunyi sampai setiap tabung langsung di selimuti dengan besi yang tidak dapat Ophilia lawan sekali.
"Oi, apa yang kau lakukan, bocah!?" Seorang pria dengan rambut pirang maju ke depan lalu menjatuhkan Ophilia dan menjauhkan dirinya dari tabung itu.
"Jangan coba-coba untuk melepaskan masa depan kita di dalam! Dia terlalu bahaya untuk di lepaskan...!!!" Seru pria itu sehingga Ophilia merasa kesal dan mencoba untuk melawan tetapi Kirua menghentikannya.
"Mohon maaf perbuatan putriku ini..." Kirua membantu Ophilia berdiri.
"Papa, dia.... dia... di dalam tabung itu..." Ophilia menatap pria yang tadinya menjatuhkannya, ia melebarkan kedua matanya sampai membuat Ophilia tertidur dan melupakan kejadian sebelumnya.
"Ophilia...?"
"Oi...!"
"Ophilia...!!!"
***
Ophilia melebarkan kedua matanya lalu ia duduk di atas kasur dengan nafas berat yang ia keluarkan beberapa kali, "Hah...! Hah...! Hah...!"
"Mimpi...?" Ophilia menutup wajahnya, mencoba untuk mengontrol pernafasannya yang hilang kendali karena rasa takut yang ia rasakan ketika merasakan mimpi tadi.
"...gadis itu... di dalam tabung... laki-laki dengan rambut hijau...?" Ophilia menggelengkan kepalanya lalu ia menatap Arata yang tertidur dengan damai.
"Arata..." Ophilia memeluk Arata dari belakang lalu ia memejamkan kedua matanya untuk kembali tidur.
***
Pagi hari, di gedung Co. Corp, Kou baru saja mendapatkan banyak panggilan dari bangsa Iblis dan peringat Tech bahwa terjadi sesuatu yang sangat darurat soal masalah kehancuran dan kebutuhan.
Kou bangun secepat mungkin dengan wajah yang terlihat lelah karena ia belum mendapatkan cukup tidur, ia mengambil jas putihnya lalu mengenakannya selagi menghampiri ruang kerjanya.
"Tech... lapor." Kata Kou sambil menguap.
"Sepertinya Anda masih mengantuk, nyonya. Lebih baik mementingkan kesehatanmu di bandingkan darurat ini, biarkan aku mengurusi tugas itu." Ucap Tech yang bisa melihat raut wajah Kou.
"Tidak, aku harus berusaha..." Kou menempati wajahnya di atas meja dengan tatapan lelah lalu ia beristirahat sebentar.
"...beri aku sepuluh menit saja." Kou langsung tertidur dan Tech mulai mengganti posisinya dalam mengurusi semua masalah juga kebutuhan.
Semua informasi penting yang ia dapatkan akan langsung di berikan kepada Kou ketika ia sudah bangun, satu jam telah berlalu dan Kou membuka kedua matanya karena lengannya merasakan sensasi dingin.
__ADS_1
Kou menoleh ke sebelah kanan dan melihat secangkir madu dengan es batu di dalamnya, ia mengambilnya lalu meminum sampai habis.
"Baiklah... kembali bekerja!" Seru Kou selagi menepuk kedua pipinya beberapa kali.
"Nyonya, sepertinya masalah darurat yang kita dapat bukan masalah darurat biasa melainkan berkaitan sesuatu dengan kehancuran sebuah planet di Zuusuatouri." Peringat Tech.
Kou langsung kaget ketika mendengarnya, "Kehancuran planet...? Siapa yang menyebabkan kehancuran itu?"
"Menurut saksi, mereka hanya bisa melihat sesuatu yang melayang di atas langit, warnanya hijau dan sebagian dari mereka beropini bahwa planet itu hancur karena di tabrak oleh asteroid."
Kou memegang dagunya dan ia mulai bangkit dari atas kursi, mencoba untuk memperbaiki masalah darurat itu dengan meminta Tech untuk melepaskan bala bantuan bagi bangsa Iblis.
Tech melaksanakan perintahnya secara langsung sedangkan Kou mulai merasa khawatir seketika mendengar masalah darurat yang berkaitan dengan kehancuran planet, ini pertama kalinya ia mendengar darurat seperti itu.
"... ..." Kou maju ke depan dan melihat pemandangan melalui jendela besar di hadapannya, ia tidak sengaja menoleh kepada sebuah kabin.
Kabin itu terlihat begitu tua bahkan Kou tidak pernah mengunjunginya dalam waktu yang lama, "Ehh...?"
Pandangan Kou melihat sesuatu yang tidak asing, sebuah gumpalan hitam yang mengelilingi kabin itu, melihatnya saja langsung membuat Kou berjalan pergi menuju lift untuk melihat gumpalan itu dari dekat.
"Selamat pagi, Kou..." Shuan baru saja bangun dan ia melihat Kou berlari melewati dirinya.
"Loh...?" Shuan menoleh ke belakang, melihat istrinya yang bergerak begitu rusuh seperti di kejar oleh waktu.
Beberapa menit kemudian, Kou berada di belakang halamannya, ia melompati pagar dan melihat gumpalan itu masih mengelilingi kabin.
Dengan cepat ia menghancurkannya menggunakan tangannya sampai gumpalan itu meletus seperti gelembung dan menjatuhkan sebuah daging juga sampel darah.
Kou mengambil daging itu dan penciumannya langsung di serang dengan aroma bangkai, "Hwek... apa ini...?"
Shuan mendarat di belakang Kou dengan tatapan yang terlihat bingung, "Kou, kau sedang apa?"
"Ahh... Shuan, bisakah kamu menganalisis ini untukku menggunakan indramu?" Tanya Kou yang mulai memberikan daging itu kepada Shuan sampai ia bisa mengendusnya dari jauh.
"Bau sekali... daging ini mengandung banyak kekuatan dan energi sihir yang begitu murni di dalamnya sampai aku merasakan sesuatu yang berbeda, bukan sihir biasa..."
"...sihir yang belum pernah aku ketahui sebelumnya." Shuan melihat darah di atas daratan lalu ia mulai menyentuhnya sampai ia bisa merasakan darah itu masih baru.
"Daging dan darah ini masih baru, tidak heran di dalamnya masih terkandung banyak kekuatan dan energi sihir.... Anehnya, baunya itu loh." Ucap Shuan, ia melihat Kou masuk ke dalam kabin untuk mengambil sebuah plastik.
"Ini..." Kou membuka plastik itu lebar dan Shuan mulai memasukkan daging tersebut.
"...aku akan menganalisisnya sebentar. Jika kamu tadi baru saja mengatakan baru dan masih segar, mungkin aku dapat menemukan sebuah misteri." Kou mulai melompat-lompat selagi berjalan pergi menuju gedung itu.
"Kekuatan dan energi sihir itu..." Shuan menatap kedua lengannya yang di selimuti dengan garis merah.
__ADS_1
"...membangkitkan sesuatu di dalam diriku."
"... kewaspadaan."