Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 964 - Selamatkan para Warga


__ADS_3

"Huggghhh...!!!" Akang mulai batuk-batuk ketika menghirup gas yang menyengat tubuhnya, jantungnya berdetak sangat cepat sampai pembuluh darahnya mulai hilang kendali.


Konomi melihat harimau putih itu bergegas menuju arah Akang untuk menyingkirkan semua gas itu, tetapi sudah terlambat karena dirinya menghirup asap yang awalnya mengira bom asap biasa.


"Hampir saja aku mati di sana... untungnya kau terlalu fokus mendengarkan suara kehancuran meja yang dihancurkan oleh harimau itu, ditambah lagi suara asap..."


"...sebagian asap tidak dihasilkan oleh bom melainkan ramuan beracun yang menimbulkan banyak sekali asap, sekali kau menghirupnya maka semua fungsi organ di dalam tubuhmu akan menggila..."


"...semuanya akan terjatuh satu per satu sampai tidak ada yang dapat menyelamatkan dirimu, kau akan langsung bertemu dengan kematian itu sendiri..."


"...atau bisa kau bilang bahwa kau akan menjadi ruh yang selanjutnya." Konomi melangkah mendekati Akang yang sedang menutup hidup dan mulutnya tetapi darahnya terus keluar.


Konomi merebut boneka itu lalu ia merobeknya untuk mengambil helai rambut Hinoka yang langsung ia simpan di dalam sakunya agar Hinoka tidak menerima santet.


"Sial... dukun sepertiku... kalah hanya karena menghirup gas beracun yang sungguh mematikan..." Akang berbaring di atas lantai, menerima Kematiannya sampai Khodam berwujud harimau putih itu berbaring di sebelahnya juga.


"Kau adalah lawan yang kuat... tetapi daya tahan kami sebagai bangsa Legenda sangat kuat, membutuhkan banyak perlawanan untuk benar-benar membunuh kita."


"Lenergy... tidak sama seperti Mana, Lenergy adalah cadangan dalam segi apapun yang kita inginkan... serangan harimau tadi akan sangat mematikan untuk membunuh makhluk asing seperti iblis atau apapun itu..."


Konomi mengeluarkan botol berisi minyak yang ia tuangkan pada tubuh Akang lalu ia menyalakan sebuah korek untuk membakar tubuhnya sampai ia hanya bisa diam dan menerima kematiannya itu dengan tenang.


"Setidaknya... aku sudah berjuang..." Akang memejamkan kedua matanya lalu membiarkan Konomi pergi lalu menuangkan ruangan kantin itu dengan minyak yang langsung ia bakar menggunakan koreknya.


"Baiklah... aku tidak perlu mengkhawatirkan Manusia yang dapat menyerang menggunakan ruh." Konomi bergegas memeriksa setiap ruangan untuk mencari ruang pengendali.


***


Mitler memasang tatapan kesal ketika melihat semua rekaman kamera menunjukkan seluruh pasukan aliansi kalah telak, tidak satu pun dari mereka berhasil menjatuhkan musuhnya termasuk Koizumi yang sudah diserbu.


Diserbu dengan banyak sekali Manusia dengan bantuan obat terlarang untuk penyesuaian fisik dengan Legenda, tetapi hasilnya tetap sama bahwa mereka terbunuh oleh Koizumi yang sangat mahir bertarung tangan kosong tanpa menggunakan kekuatan apapun.


Pengalamannya sangat membantu dalam keadaan seperti ini sampai Mitler dapat melihat Koizumi hanya perlu melewati dua lorong lagi maka ia akan melihat pintu emas yang membawa dirinya langsung menuju ruangan itu.


"Apa yang harus lakukan sekarang...? Melarikan diri atau melawannya...?" Mitler mengeluarkan sebuah suntikan yang mengandung cairan Mana di dalamnya agar ia bisa menyesuaikan fisiknya dengan Koizumi.


"Hanya tersisa beberapa orang lagi yang dapat menahannya, aku bisa menyerahkan sisanya kepada mereka yang bisa dibilang sebagai pion yang sudah berubah menjadi menteri..." Mitler menyimpan kembali suntikan itu di dalamnya sakunya.


Koizumi terus maju ke depan lalu mengulurkan lengan kanannya ke depan untuk menahan semua tembakan peluru yang para tentara itu lakukan di hadapannya.


Setiap peluru yang menyentuh tapaknya langsung menyedot semua sumber Mana di dalamnya sampai ia mulai menyesuaikan tubuhnya dengan serangan Mana, mendapatkan resistensi yang cukup kuat untuk berjalan ke depan.

__ADS_1


Berjalan tanpa yang dinamakan perlindungan apapun karena semua peluru yang mengenai tubuhnya langsung hancur seketika, "Beritahu aku dimana Jenderal yang sudah melepaskan energi itu!?"


Koizumi mengerutkan dahinya ketika melihat beberapa tentara mulai menarik pin granat lalu maju ke arah dirinya dengan granat yang mereka pegang, "Apa yang kalian coba lakukan...?"


""BANZAAIIIII!!!""


Koizumi maju ke depan lalu ia menendang wajah salah satu tentara itu lalu menarik kakinya sampai melempar Manusia itu ke depan lalu menabrak banyak sekali tentara, granat yang dipegang itu langsung menyebabkan ledakan besar di depannya.


***


Abah terus tertekan dengan Hinoka yang terus melempar dirinya granat tanpa henti, Khodam yang menahan semua itu terlihat mulai rapuh sampai ia merasa bingung kenapa Akang mulai mengakhiri kehidupannya.


Tidak ada lagi benda tajam yang keluar dari tubuhnya, Hinoka sendiri sadar sampai rasa kesalnya bisa ia lampiaskan kepada Abah tanpa perlu mengkhawatirkan tubuhnya yang terus menerima banyak luka berbahaya.


Hinoka mengeluarkan Concussion granat lalu ia melemparnya ke arah Abah sampai melepaskan ledakan yang menghentikan pergerakannya seketika, "Si-Sial...!!!"


Badak itu langsung menabrak tubuh Hinoka sampai ia terpental ke belakang lalu menabrak tembok di belakangnya, Abah bangkit dari atas tanah selagi memegang lukanya lalu ia meminta Khodam itu untuk menyeruduk Hinoka secepat mungkin.


Hinoka mengeluarkan sebuah flashbang lalu ia dikejutkan dengan badak itu menyeruduk dirinya sampai perutnya tertusuk dengan tanduk bercula satu itu sampai mulutnya memuntahkan banyak darah.


"Hueeeggghhhhh...!!!" Muntahannya masih mengeluarkan beberapa jarum yang berada dalam tubuhnya, pandangannya mulai buram tetapi ia langsung melebarkan matanya ketika melihat seseorang yang tidak asing.


Konomi langsung mencekik leher Abah dari belakang sampai mengejutkan dirinya seketika, ia mulai memegang erat kepalanya lalu menghantamnya tepat di sebelah daratan sampai ia terjatuh di atas tanah.


"Sialan...! Berani-beraninya kau mengganggu...!" Abah mencoba untuk memanggil kembali Khodam itu tetapi Hinoka merapatkan giginya lalu memegang kepala Khodam itu lalu melemparnya dirinya ke lorong di sebelahnya.


"Hentikan ruh itu atau kau akan menerima racun ini...!" Ancam Konomi yang mulai memegang sebuah ramuan hijau berasap di dalamnya sampai Abah mencoba untuk memberontak.


Tetapi perutnya menerima injakan dari Konomi, "Sekali lagi kau tidak menyerah maka akan aku lepaskan asap hijau di dalam botol ini untuk membunuh dirimu dari dalam... hampir seperti santet!"


"Konomi!!! Biarkan aku membunuh si bangsat ini!!!" Teriak Hinoka keras yang langsung menarik kerah baju Abah lalu menghantam wajahnya beberapa kali sampai pergerakan dari tubuhnya terus berjalan cepat.


Khodam itu telah kembali tetapi Konomi mulai menahan dirinya dari depan dengan melempar sebuah ramuan beracun itu ke depan sampai ia bisa melihat keberadaan Khodam tersebut mulai menghilang sedikit demi sedikit.


"Buka mulutmu...!!!" Hinoka menghantam mulut Abah sampai rahangnya langsung hancur sampai mulutnya mulai terbuka lebar, Hinoka mengeluarkan sebuah granat lalu menciptakan sebuah lubang di bagian bawah granat tersebut.


Semua bubuk mesiu yang berada di dalamnya langsung masuk ke dalam mulutnya sampai Abah tidak bisa melakukan apapun kecuali memberontak menggunakan kedua kakinya yang terus menendang punggungnya tanpa tenaga sedikit pun.


"Konomi! Korek api...!" Perintah Hinoka sampai ia melihat dirinya melempar sebuah korek api yang sudah terbakar.


"Ini yang kau dapatkan karena sudah memasukkan banyak benda tajam kepada tubuhku...!!!" Hinoka menjatuhkan korek api itu ke dalam mulut Abah sehingga terjadi ledakan dahsyat yang menghancurkan tubuhnya tanpa sisa.

__ADS_1


Khodam yang sedang Konomi tahan mulai menghilang, perlahan-lahan tubuh Hinoka mulai kehilangan banyak darah sampai ia berlutut di atas tanah lalu memasang tatapan kesakitan karena Vile Energy.


"Nrgghh... karena kebanyakan menggunakan Lenergy... energi sihir milik Dark Elf itu... sangat sialan..." Hinoka memegang erat Kisetsu yang ia kenakan lalu membukanya hanya untuk melihat luka bakar yang membesar di bagian bahunya.


"Kamu memang terpaksa menggunakan Lenergy untuk memulihkan dirimu sendiri dari serangan santet itu ya?" Tanya Konomi dengan tatapan khawatir.


Dirinya segera mengeluarkan sebuah ramuan yang akan diberikan kepada Hinoka, tetapi ia langsung menolak karena mencoba untuk melawan luka itu dengan sesuatu yang lebih kuat hanya akan menyebabkan efeknya bertambah mengerikan.


"Tidak... aku harus menahannya, lebih baik kita sekarang bergegas menuju---" Hinoka dan Konomi langsung menoleh ke belakang ketika melihat suara ledakan besar.


Di sana terdapat banyak sekali manusia melarikan diri dari suara ledakan tadi, pakaian yang mereka kenakan juga terlihat seperti warga biasa tidak seperti apa yang dikenakan oleh seluruh pasukan aliansi.


"Hinoka! Itu tadi adalah warga biasa yang diculik oleh pemerintah, sepertinya mereka memang dipaksa untuk mengikuti aliansi itu." Konomi melihat salah satu tentara mencoba untuk menyerang para warga itu.


Tetapi untungnya Hinoka melesat maju lalu menabrak tentara itu yang tidak mengenakan pelindung apapun, kepalanya langsung hancur ketika menerima satu tembakan dari Konomi.


"Oi! Syukurlah kalian baik-baik saja!" Ucap Andrian yang melihat Konomi dan Hinoka terlihat baik-baik saja, tetapi untuk Hinoka sepertinya tidak karena ia masih memiliki banyak luka yang terus menjatuhkan banyak darah.


"Apa yang terjadi...?" Tanya Andrian kepada Hinoka.


"Para Dukun..."


"Dukun!?" Andrian memasang tatapan kaget, ternyata kekuatan mereka memang sudah cukup untuk mengacaukan tubuh Legenda seperti Hinoka saat ini yang penuh dengan darah dan nanah.


Tetapi yang lebih mengejutkannya lagi adalah dirinya masih hidup, pipinya penuh dengan lubang bahkan perutnya terlihat seperti memiliki luka kenang yang disebabkan oleh tanduk tetapi tidak terlihat.


"Kalau begitu, kau lebih baik beristirahat saja..." Kata Andrian yang melihat ke sebelah kanan, Aditya dan Wilhelm terus menghajar semua tentara yang mencoba untuk mengejar para warga.


"Kita perlu mengamankan semua warga itu ke dalam pesawat darurat... jangan sampai mereka terambil alih oleh pihak pasukan itu." Ucap Andrian selagi menghubungi Koizumi.


"Ya... aku sudah berada di dalam ruangan yang menunjukkan peta itu." Lapor Koizumi yang baru saja selesai membantai semua pasukan aliansi yang berada di dalam ruangan rapat.


"Kau berada di ruangan mana?" Tanya Koizumi.


"Ruangan 7-8."


"Ruangan pesawat darurat tidak jauh dari lokasi kalian... hanya perlu melewati beberapa lorong lagi sampai kalian masuk ke dalam lorong 9..."


"...di ruangan bagian 9-6, kalian akan menemukannya."


"Dimengerti!"

__ADS_1


__ADS_2